Riya’ pada Penghafal Al-Qur’an dan Cara Menjaga Keikhlasan

Riya’ pada Penghafal Al-Qur’an dan Cara Menjaga Keikhlasan

Riya’ pada penghafal Al-Qur’an menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian dalam perjalanan menghafal. Riya’ berkaitan dengan keinginan seseorang untuk memperoleh perhatian dan pujian manusia melalui amal yang seharusnya ia tujukan kepada Allah. Karena itu, penghafal Al-Qur’an perlu menjaga niat sejak mulai menghafal hingga menjalani berbagai aktivitas yang berkaitan dengan hafalannya.

Menghafal Al-Qur’an merupakan ibadah yang mulia. Namun, kemuliaan sebuah amal tidak hanya bergantung pada bentuk amalnya, tetapi juga pada niat yang menyertainya. Seseorang dapat melakukan amal yang terlihat baik, tetapi tetap perlu memeriksa tujuan di balik amal tersebut.

Apa Itu Riya’?

Secara umum, riya’ berarti melakukan atau menampakkan amal agar orang lain melihatnya dan memberikan pujian. Tafsir Al-Qur’an menjelaskan bahwa istilah riya’ dalam Al-Qur’an berkaitan dengan sikap seseorang yang melakukan amal demi memperoleh perhatian manusia. Al-Qur’an juga menggunakan istilah tersebut dalam konteks orang yang beribadah tetapi mengharapkan penilaian manusia.

Salah satu ayat yang membahas riya’ terdapat dalam Surah Al-Ma’un. Allah SWT berfirman:

الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

“Orang-orang yang berbuat riya.” (QS. Al-Ma’un: 6).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa seorang Muslim perlu berhati-hati terhadap niat ketika melakukan amal. Perhatian manusia memang dapat membuat seseorang merasa senang, tetapi seorang hamba seharusnya mengutamakan penilaian Allah. Karena itu, menjaga keikhlasan menjadi bagian penting dalam setiap ibadah.

gambar pria bersembunyi di dalam kantong kertas ilustrasimnejaga hati dari riya pada penghafal Al-Qur'an
Riya’ adalah menunjukkan amal agar dipuji manusia lain (foto: freepik.com)

Bagaimana Riya’ Bisa Muncul pada Penghafal Al-Qur’an?

Riya’ pada penghafal Al-Qur’an tidak selalu muncul dalam bentuk yang mudah terlihat. Seseorang mungkin mulai menghafal dengan niat yang baik, tetapi kemudian merasa senang ketika orang lain memuji jumlah hafalannya. Ia bisa mulai mengejar pengakuan karena mendapatkan julukan tertentu atau merasa lebih unggul daripada orang lain.

Misalnya, seseorang merasa bangga ketika orang lain mengetahui bahwa ia sudah menghafal beberapa juz. Perasaan bangga tersebut perlu ia evaluasi, terutama jika pujian manusia mulai menjadi tujuan utama. Penghafal perlu bertanya kepada dirinya sendiri apakah ia tetap ingin menghafal ketika tidak ada seorang pun yang mengetahui prosesnya.

Riya’ juga dapat muncul ketika seseorang sengaja menampilkan kemampuan membaca atau menghafal Al-Qur’an agar mendapatkan pujian. Namun, kita tidak boleh mudah menuduh orang lain riya’ hanya berdasarkan apa yang terlihat. Hanya Allah yang mengetahui isi hati seseorang, sehingga pembahasan tentang riya’ sebaiknya menjadi sarana untuk mengoreksi diri.

Baca juga: Dosa Melupakan Hafalan Al-Qur’an: Apa Hukumnya?

Menghafal Al-Qur’an Harus Berangkat dari Niat yang Ikhlas

Keikhlasan menjadi fondasi penting dalam menghafal Al-Qur’an. Seorang santri sebaiknya memulai hafalan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah, mempelajari kalam-Nya, dan berusaha mengamalkannya. Dengan niat tersebut, proses menghafal tidak hanya mengejar jumlah ayat atau juz yang berhasil masuk dalam ingatan.

Niat juga perlu diperiksa secara berkala. Perjalanan tahfidz berlangsung cukup panjang sehingga kondisi hati dapat berubah dari waktu ke waktu. Ketika seseorang mendapatkan pujian, ia perlu kembali mengingat tujuan awalnya agar penghargaan manusia tidak mengambil tempat yang seharusnya hanya untuk Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut mengingatkan bahwa niat memiliki kedudukan penting dalam amal. Karena itu, penghafal Al-Qur’an tidak cukup hanya memperhatikan kelancaran hafalan. Ia juga perlu menjaga hati agar proses tersebut tetap menjadi ibadah yang ia tujukan kepada Allah.

Jangan Menjadikan Hafalan sebagai Alat Mencari Pujian

Hafalan Al-Qur’an merupakan nikmat yang patut disyukuri. Namun, seseorang perlu berhati-hati ketika nikmat tersebut mulai menjadi sumber kesombongan. Jumlah hafalan yang banyak tidak otomatis membuat seseorang lebih mulia di hadapan manusia, terlebih jika ia menggunakan hafalannya untuk mencari pengakuan.

Penghafal juga perlu memahami bahwa kemampuan menghafal merupakan karunia Allah. Kemampuan mengingat ayat, kelancaran membaca, dan kesempatan belajar semuanya hadir melalui pertolongan-Nya. Kesadaran tersebut membantu seseorang tetap rendah hati ketika orang lain memberikan apresiasi.

Karena itu, jangan menjadikan hafalan sebagai identitas untuk membandingkan diri dengan orang lain. Lebih baik gunakan hafalan sebagai jalan untuk memperbaiki akhlak dan meningkatkan ketaatan. Semakin banyak ayat yang seseorang hafalkan, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memahami dan mengamalkannya.

Riya’ Berbeda dengan Menerima Pujian

Tidak semua rasa senang ketika seseorang mendapat pujian otomatis berarti riya’. Seseorang dapat merasa bahagia ketika orang lain menghargai usahanya tanpa menjadikan pujian tersebut sebagai tujuan utama. Yang perlu mendapat perhatian ialah kondisi ketika seseorang melakukan amal terutama agar manusia melihat dan memujinya.

Misalnya, seorang santri menyelesaikan hafalan dengan sungguh-sungguh lalu keluarganya memberikan apresiasi. Ia boleh merasa bahagia atas dukungan tersebut. Namun, ia tetap perlu menjaga niat agar apresiasi itu tidak berubah menjadi alasan utama untuk menghafal.

Perbedaan ini penting agar penghafal tidak terus-menerus mencurigai dirinya sendiri. Rasa khawatir terhadap riya’ seharusnya mendorong muhasabah, bukan membuat seseorang berhenti beramal. Selama seseorang terus berusaha memperbaiki niat, ia dapat melanjutkan proses belajar dan menghafal dengan penuh harapan.

Cara Menjaga Diri dari Riya’ saat Menghafal

Penghafal Al-Qur’an dapat melakukan beberapa langkah untuk menjaga keikhlasan. Pertama, memperbarui niat sebelum memulai hafalan dan ketika menyelesaikan target. Kedua, menyisihkan waktu untuk beribadah dan membaca Al-Qur’an tanpa perlu menunjukkan aktivitas tersebut kepada orang lain.

Ketiga, mengingat bahwa penilaian Allah jauh lebih penting daripada penilaian manusia. Pujian manusia bisa berubah dengan cepat, sedangkan Allah mengetahui amal dan niat seorang hamba. Kesadaran tersebut dapat membantu penghafal tetap rendah hati ketika orang lain mengetahui pencapaiannya.

Keempat, menghubungkan hafalan dengan amal nyata. Ketika seseorang memahami ayat yang ia hafalkan lalu berusaha menerapkannya dalam kehidupan, hafalan tersebut tidak berhenti sebagai pencapaian pribadi. Al-Qur’an perlahan membentuk cara berpikir, ucapan, dan perilakunya.

Lingkungan Tahfidz Juga Perlu Membentuk Akhlak

Pendidikan tahfidz sebaiknya tidak hanya mengejar jumlah hafalan. Santri juga membutuhkan pembinaan akhlak agar hafalan yang mereka miliki memberikan pengaruh positif dalam kehidupan. Karena itu, lingkungan belajar perlu mendorong santri untuk menjaga niat, rendah hati, dan mengamalkan ilmu.

PPTQ Al Muanawiyah Jombang mengembangkan pendidikan Al-Qur’an bagi santri putri dengan memadukan program tahfidz dan pembelajaran ilmu keislaman. Santri tidak hanya berusaha menambah hafalan, tetapi juga belajar memahami kandungan Al-Qur’an dan membiasakan diri mengamalkannya. Lingkungan tersebut diharapkan membantu santri menjadikan hafalan sebagai bekal untuk memperbaiki diri.

Jika Anda ingin putri Anda belajar menghafal Al-Qur’an sekaligus membangun akhlak dan kebiasaan belajar agama, PPTQ Al Muanawiyah dapat menjadi salah satu pilihan. Kenali program pendidikannya dan segera daftar Al Muanawiyah untuk memulai perjalanan belajar Al-Qur’an dalam lingkungan yang mendukung.

Hubungi admin pendaftaran sekarang untuk amankan kuotanya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *