PPTQ Al Muanawiyah memberikan apresiasi hafalan santri Al Muanawiyah melalui pemberian syahadah hafalan Al-Qur’an. Pemberian syahadah berlangsung pada Selasa, 8 September 2026, menjelang masa perpulangan santri.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi penutupan program pembelajaran tahun 2025/2026. Momen ini menjadi bentuk penghargaan bagi santri yang telah menyelesaikan target tasmi’ selama mengikuti pembelajaran di pondok pesantren.
22 Santri Menerima Syahadah Hafalan
Sekitar 22 santri menerima syahadah hafalan Al-Qur’an dalam kegiatan tersebut. Syahadah diberikan kepada santri yang telah menyelesaikan tasmi’ dengan target kelipatan lima juz. Tasmi’ menjadi salah satu bagian penting dalam proses menghafal Al-Qur’an. Melalui tasmi’, santri memperdengarkan hafalannya secara langsung setelah menyelesaikan target tertentu.
Menariknya, beberapa santri menerima lebih dari satu syahadah. Sebagian mendapatkan dua hingga tiga syahadah karena telah menyelesaikan tasmi’ kelipatan lima juz lebih dari satu kali. Capaian tersebut menunjukkan kesungguhan santri dalam menambah sekaligus menjaga hafalan Al-Qur’an. Setiap syahadah menjadi catatan atas proses panjang yang mereka jalani selama berada di PPTQ Al Muanawiyah.
Sebagian santri penerima syahadah pada penutupan program tahun ajaran 2025/2026
Syahadah Menjadi Bentuk Apresiasi dan Motivasi
Pengasuh PPTQ Al Muanawiyah, Ustadz Amar, menjelaskan bahwa pemberian syahadah bukan sekadar penghargaan atas jumlah hafalan. Menurutnya, apresiasi juga penting untuk menjaga semangat para santri dalam melanjutkan proses menghafal Al-Qur’an.
Pemberian syahadah menjadi salah satu bentuk apresiasi hafalan santri Al Muanawiyah sekaligus motivasi agar mereka terus meningkatkan kualitas dan konsistensi hafalan.
“InsyaAllah liburan nanti ada award untuk setoran terbanyak dan konsisten tiap bulannya,” ujar Ustadz Amar.
Rencana tersebut menjadi bentuk apresiasi lanjutan bagi santri yang aktif menyetorkan hafalan. Konsistensi setoran selama masa belajar maupun liburan diharapkan tetap terjaga.
Menjaga Hafalan Tidak Berhenti pada Target
Menghafal Al-Qur’an tidak hanya berkaitan dengan menyelesaikan jumlah juz. Santri juga perlu menjaga hafalan melalui murojaah dan setoran secara rutin. Karena itu, capaian tasmi’ menjadi salah satu indikator proses yang telah dilalui santri. Semakin banyak target yang terselesaikan, semakin banyak pula kesempatan santri untuk menguji kekuatan hafalannya.
Pemberian syahadah menjelang perpulangan juga memberikan pengalaman positif bagi santri. Mereka dapat melihat hasil dari usaha yang telah dilakukan selama satu tahun pembelajaran. Lebih dari sekadar selembar penghargaan, syahadah menjadi pengingat agar santri terus menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an. Semangat tersebut diharapkan tetap berlanjut meskipun kegiatan pembelajaran di pondok telah memasuki masa libur.
Menumbuhkan Generasi Penghafal Al-Qur’an
PPTQ Al Muanawiyah terus mendorong santri untuk membangun kebiasaan menghafal dan menjaga Al-Qur’an secara konsisten. Lingkungan pondok juga menjadi ruang bagi santri untuk belajar, melakukan murojaah, serta mengembangkan kedisiplinan dalam beribadah.
Pemberian syahadah menjadi salah satu cara untuk menghargai proses tersebut. Dengan apresiasi yang tepat, santri harapannya semakin termotivasi untuk meningkatkan hafalan dan menjaga ayat-ayat Al-Qur’an yang telah mereka pelajari.
Bagi orang tua yang ingin memberikan pendidikan Al-Qur’an sekaligus lingkungan pesantren bagi putrinya, PPTQ Al Muanawiyah dapat menjadi pilihan.
Larangan bermalas-malasan dalam Islam menjadi pengingat bahwa seorang Muslim perlu menggunakan waktu dan kemampuannya dengan baik. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjalani hidup tanpa tujuan, menunda kewajiban, atau membiarkan kemampuan yang dimiliki tanpa usaha. Sebaliknya, seorang Muslim perlu berusaha menjalankan kewajiban dan mengambil bagian dalam berbagai kebaikan.
Rasa malas dapat muncul dalam berbagai bentuk. Seseorang mungkin menunda shalat, enggan belajar, tidak menyelesaikan tanggung jawab, atau terus menunda pekerjaan yang sebenarnya dapat ia lakukan. Jika terus dibiarkan, kebiasaan tersebut dapat menghalangi seseorang untuk berkembang dan mencapai tujuan yang baik.
Karena itu, larangan bermalas-malasan dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan duniawi. Sifat malas juga dapat memengaruhi ibadah, perjuangan, pendidikan, dan tanggung jawab seorang Muslim dalam kehidupan sehari-hari.
Islam Mengajarkan Umatnya untuk Bersiap dan Bertindak
Salah satu gambaran tentang bahaya sifat malas terdapat dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 71–72:
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, lalu berangkatlah berkelompok-kelompok atau berangkatlah bersama-sama. Sesungguhnya di antara kamu ada orang yang benar-benar sangat berlambat-lambat. Maka, jika kamu ditimpa musibah, dia berkata, ‘Sungguh, Allah telah memberi nikmat kepadaku karena aku tidak ikut bersama mereka.’”
Ayat tersebut berbicara dalam konteks kesiapan dan perjuangan. Namun, ayat ini juga memberikan pelajaran bahwa seorang Muslim tidak seharusnya terus mencari alasan untuk menghindari tanggung jawab. Ketika seseorang memiliki kewajiban yang perlu ia jalankan, ia perlu menyiapkan diri dan mengambil tindakan.
Laman Republika menjelaskan bahwa sifat malas dapat menghalangi seseorang dalam mencapai tujuan dan menjalankan perjuangan. Dalam penjelasan terhadap ayat tersebut, sikap berlambat-lambat digambarkan sebagai bentuk keengganan untuk menjalankan tugas yang semestinya dilakukan.
Rasulullah ﷺ Memohon Perlindungan dari Sifat Malas
Larangan bermalas-malasan dalam Islam juga terlihat dari doa Rasulullah ﷺ. Nabi Muhammad ﷺ bahkan memohon perlindungan kepada Allah dari kelemahan dan kemalasan.
Bermalas-malasan adalah sesuatu yang terlarang dalam Islam (foto: freepik)
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ berdoa:
Artinya, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa susah dan sedih, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan kikir, serta dari lilitan utang dan tekanan manusia.” (HR. Bukhari).
Doa tersebut menunjukkan bahwa kemalasan bukan sifat yang seharusnya dipelihara. Sifat malas dapat membuat seseorang tidak menggunakan kemampuan yang sebenarnya telah Allah berikan kepadanya. Oleh karena itu, seorang Muslim dapat menjadikan doa ini sebagai pengingat untuk terus memperbaiki diri.
Kemalasan juga sering berkaitan dengan kebiasaan menunda. Seseorang mungkin memiliki kemampuan untuk belajar, tetapi terus menunggu waktu yang dianggap sempurna. Padahal, perubahan sering kali dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Sifat Malas Dapat Mengganggu Ibadah
Rasa malas tidak hanya memengaruhi pekerjaan dan pendidikan. Sifat ini juga dapat mengganggu hubungan seorang Muslim dengan Allah. Seseorang dapat merasa berat untuk berwudhu, menunda shalat, atau enggan membaca dan mempelajari Al-Qur’an.
Padahal, ibadah membutuhkan kesungguhan dan pembiasaan. Semakin seseorang menuruti rasa malas, semakin sulit pula ia membangun kebiasaan baik. Sebaliknya, ketika seseorang berusaha melawan rasa malas dengan tindakan sederhana, ia dapat membangun kedisiplinan secara perlahan.
Misalnya, seseorang yang merasa berat membaca Al-Qur’an dapat memulai dengan beberapa ayat setiap hari. Santri yang kesulitan memulai hafalan dapat menentukan target kecil terlebih dahulu. Langkah sederhana tersebut lebih baik daripada terus menunggu motivasi datang tanpa melakukan apa pun.
Islam Mendorong Muslim untuk Menggunakan Waktu dengan Baik
Waktu merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Setiap orang memiliki kesempatan yang terbatas untuk belajar, beramal, dan memperbaiki diri. Karena itu, seorang Muslim perlu belajar mengelola waktunya agar tidak habis untuk kegiatan yang tidak memberikan manfaat.
Namun, menghindari sifat malas tidak berarti seseorang harus bekerja tanpa istirahat. Tubuh tetap memiliki hak untuk beristirahat. Yang perlu dihindari adalah kebiasaan membiarkan rasa malas menguasai diri hingga seseorang meninggalkan kewajiban atau menyia-nyiakan banyak kesempatan.
Seorang Muslim dapat membagi waktunya antara ibadah, belajar, bekerja, keluarga, dan istirahat. Dengan pengaturan yang baik, seseorang dapat memenuhi kebutuhan tubuh sekaligus menjalankan tanggung jawab. Keseimbangan tersebut membantu seseorang menjadi lebih konsisten dalam menjalani kehidupan.
Cara Melawan Rasa Malas dalam Kehidupan Sehari-hari
Melawan rasa malas tidak selalu membutuhkan perubahan besar dalam waktu singkat. Seseorang dapat memulai dari kebiasaan kecil yang realistis. Misalnya, menyelesaikan satu tugas sebelum membuka media sosial atau menentukan waktu khusus untuk belajar dan membaca Al-Qur’an.
Selain itu, seseorang perlu mengingat kembali tujuan dari aktivitas yang ia lakukan. Ketika seorang pelajar memahami tujuan belajarnya, ia memiliki alasan yang lebih kuat untuk tetap berusaha. Begitu pula seorang santri yang mengingat tujuan menghafalkan Al-Qur’an dapat menjadikan tujuan tersebut sebagai motivasi ketika rasa malas muncul.
Doa juga menjadi bagian penting dalam melawan kelemahan diri. Seorang Muslim tidak hanya mengandalkan kekuatan pribadi, tetapi juga memohon pertolongan kepada Allah. Oleh sebab itu, doa Rasulullah ﷺ untuk berlindung dari kelemahan dan kemalasan dapat terus diamalkan.
Larangan Bermalas-malasan dalam Islam sebagai Pengingat untuk Terus Berusaha
Larangan bermalas-malasan dalam Islam mengajarkan bahwa seorang Muslim perlu memiliki semangat untuk menjalankan tanggung jawab dan melakukan kebaikan. Rasa malas memang dapat muncul pada siapa saja. Namun, seseorang perlu belajar untuk tidak membiarkan rasa tersebut menguasai keputusan dan kebiasaannya.
Islam mengajarkan umatnya untuk berusaha sambil tetap menyadari keterbatasan diri. Seorang Muslim dapat beristirahat ketika membutuhkan istirahat, tetapi ia juga perlu kembali bergerak ketika memiliki kewajiban. Dengan cara ini, seseorang dapat menjalani kehidupan secara lebih seimbang.
Pada akhirnya, melawan rasa malas dapat kita mulai dari satu langkah sederhana. Bangun dan menunaikan shalat, menyelesaikan tugas yang tertunda, membaca beberapa ayat Al-Qur’an, atau memulai pekerjaan yang selama ini tertunda dapat menjadi langkah awal. Dari kebiasaan kecil yang kita lakukan secara konsisten, seseorang dapat membangun kehidupan yang lebih disiplin dan produktif.
Agar tidur bernilai ibadah, seorang Muslim tidak hanya memandang tidur sebagai waktu untuk melepas lelah. Istirahat juga dapat menjadi sarana untuk memulihkan tenaga agar seseorang mampu kembali menjalankan ibadah dan aktivitas yang bermanfaat. Oleh karena itu, niat dan tujuan seseorang ketika tidur memiliki peran penting dalam menentukan nilai dari aktivitas tersebut.
Dalam Islam, seseorang dapat mengarahkan aktivitas sehari-hari kepada tujuan yang baik. Tidur memang termasuk kebutuhan manusia, tetapi seorang Muslim dapat menjadikannya sebagai sarana untuk menjaga kekuatan tubuh. Karena itu, agar tidur bernilai ibadah, seseorang perlu menghubungkan waktu istirahatnya dengan ketaatan kepada Allah.
Lalu, bagaimana cara menjadikan tidur sebagai aktivitas yang memiliki nilai ibadah? Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan berdasarkan penjelasan mengenai tidur yang bernilai ibadah serta tuntunan dalam Islam.
1. Niatkan Tidur untuk Memulihkan Tenaga
Langkah pertama agar tidur bernilai ibadah adalah memperbaiki niat. Seseorang dapat tidur dengan tujuan memulihkan tenaga agar mampu kembali menjalankan shalat, belajar, bekerja, menghafalkan Al-Qur’an, atau melaksanakan tanggung jawab lainnya. Dengan niat tersebut, tidur tidak hanya menjadi waktu untuk berhenti dari aktivitas, tetapi juga menjadi persiapan untuk melakukan kebaikan.
Misalnya, seseorang memilih tidur lebih awal agar dapat bangun untuk shalat Subuh. Seorang santri juga dapat beristirahat agar tubuhnya kembali segar untuk menghafalkan dan murojaah Al-Qur’an pada keesokan hari. Demikian pula seseorang yang bekerja dapat tidur secukupnya agar mampu menjalankan pekerjaannya dengan baik sebagai bagian dari tanggung jawab yang harus ia tunaikan.
Niat tersebut memberikan arah pada waktu istirahat. Tidur bukan lagi sekadar aktivitas untuk mencari kenyamanan, tetapi menjadi sarana untuk menjaga kemampuan dalam menjalankan kewajiban. Karena itu, seorang Muslim dapat mengharap kebaikan dari aktivitas tidur ketika ia memiliki tujuan yang baik.
2. Tidur untuk Mempersiapkan Diri Beribadah
Tidur juga dapat menjadi bagian dari persiapan seseorang untuk menjalankan ibadah. Tubuh yang lelah membutuhkan istirahat agar kembali memiliki tenaga. Oleh sebab itu, seseorang dapat tidur dengan niat mempersiapkan diri untuk menjalankan ketaatan kepada Allah.
Artinya: “Barang siapa mendatangi tempat tidurnya dengan niat akan bangun untuk shalat malam, lalu ia tertidur hingga pagi karena rasa kantuk mengalahkannya, maka dicatat baginya apa yang ia niatkan. Tidurnya menjadi sedekah baginya dari Rabb-nya.”
Hadis tersebut menunjukkan pentingnya niat dalam kehidupan seorang Muslim. Seseorang yang benar-benar berniat bangun untuk beribadah, tetapi kemudian tertidur karena rasa kantuk mengalahkannya, tetap memperoleh ganjaran sesuai dengan niatnya. Oleh karena itu, tidur dapat menjadi bagian dari persiapan menuju ibadah ketika seseorang menggunakannya untuk memulihkan tenaga.
Seseorang dapat menerapkan hal ini dengan tidur lebih awal agar mampu bangun untuk shalat Subuh atau qiyamul lail. Ia juga dapat beristirahat agar tubuhnya kembali kuat untuk belajar, bekerja, menghafalkan Al-Qur’an, dan menjalankan berbagai kewajiban lainnya. Dengan demikian, waktu tidur memiliki tujuan yang lebih baik daripada sekadar menghabiskan waktu.
Agar tidur bernilai ibadah, kita meniatkan agar dapat bangun shalat tahajud (foto: Gemini AI)
3. Tidur untuk Mendukung Aktivitas yang Bernilai Kebaikan
Tidur tidak selalu berarti berhenti dari aktivitas yang bermanfaat. Istirahat justru dapat membantu seseorang memulihkan tenaga agar mampu kembali melakukan berbagai kebaikan. Karena itu, seorang Muslim dapat menjadikan tidur sebagai bagian dari upaya menjaga kekuatan untuk beramal.
Artinya: “Sungguh, aku benar-benar mengharapkan pahala dari tidurku sebagaimana aku mengharapkan pahala dari bangunku.”
Perkataan Mu’adz bin Jabal tersebut menunjukkan bahwa seorang Muslim dapat mengharap pahala dari aktivitas tidur ketika ia menghubungkannya dengan tujuan yang baik. Tidur memberikan kesempatan kepada tubuh untuk beristirahat dan memulihkan tenaga. Setelah itu, seseorang dapat menggunakan kembali tenaganya untuk menjalankan ibadah dan tanggung jawab.
Misalnya, seorang pelajar tidur cukup agar dapat belajar dengan baik pada keesokan hari. Seorang santri dapat beristirahat agar memiliki tenaga untuk menghafalkan dan mengulang Al-Qur’an. Seseorang juga dapat tidur untuk memulihkan kekuatan sebelum bekerja dan menunaikan kewajiban kepada keluarga.
4. Jangan Menjadikan Tidur sebagai Alasan untuk Bermalas-malasan
Memahami bahwa tidur dapat memiliki nilai ibadah bukan berarti seseorang bebas tidur sepanjang waktu. Islam tetap mengajarkan umatnya untuk menggunakan waktu dengan baik dan menjalankan kewajibannya. Karena itu, seseorang tidak dapat menjadikan niat sebagai alasan untuk meninggalkan shalat atau tanggung jawab lainnya.
Seseorang, misalnya, tidak seharusnya sengaja tidur sepanjang hari hingga melewatkan kewajiban. Ia juga tidak boleh membiarkan waktu istirahat membuatnya lalai terhadap shalat atau tugas yang harus diselesaikan. Tidur seharusnya membantu seseorang menjalani kehidupan dengan lebih baik, bukan menjauhkannya dari berbagai bentuk ketaatan.
Karena itu, seseorang perlu menjaga keseimbangan antara bekerja, beribadah, dan beristirahat. Tubuh memang memiliki hak untuk memperoleh waktu tidur yang cukup. Namun, seseorang juga perlu menggunakan tenaga yang telah pulih untuk kembali menjalankan berbagai kewajiban dan aktivitas yang bermanfaat. Sehingga Muslim dapat senantiasa produktif sepanjang harinya.
5. Tidur Secukupnya agar Tidak Mengganggu Ibadah
Setiap orang memiliki kebutuhan istirahat yang berbeda. Namun, seorang Muslim tetap perlu mengatur waktu tidur agar tidak mengganggu kewajibannya. Kebiasaan tidur yang baik dapat membantu seseorang menjaga keseimbangan antara kebutuhan tubuh dan aktivitas sehari-hari.
Seseorang dapat mengatur waktu tidur agar tidak melewatkan shalat Subuh. Ia juga dapat menghindari kebiasaan begadang tanpa keperluan yang jelas apabila hal tersebut membuatnya sulit bangun dan beraktivitas. Pengaturan seperti ini membantu seseorang menjadikan tidur sebagai sarana untuk menjaga kekuatan, bukan sebagai penyebab munculnya kelalaian.
Dengan demikian, agar tidur bernilai ibadah, seseorang perlu memahami tujuan dari waktu istirahatnya. Ia tidur untuk menjaga tubuh agar mampu menjalankan ketaatan dan tanggung jawab. Ketika tidur justru membuat seseorang meninggalkan kewajiban, ia perlu memperbaiki pola dan kebiasaannya.
6. Lengkapi dengan Adab Sebelum Tidur
Niat yang baik dapat menjadi dasar untuk menjadikan tidur lebih bermakna. Selain itu, seorang Muslim juga dapat melengkapi waktu istirahat dengan berbagai adab yang diajarkan dalam Islam. Kebiasaan tersebut membantu seseorang menutup aktivitas hariannya dengan mengingat Allah.
Beberapa adab tidur yang dapat diamalkan antara lain berwudhu sebelum tidur, membaca doa, serta memperbanyak dzikir. Seseorang juga dapat membaca Ayat Kursi dan surah-surah perlindungan sebelum beristirahat. Selain itu, Rasulullah ﷺ menganjurkan umatnya untuk memulai tidur dengan posisi miring ke sebelah kanan.
Kebiasaan tersebut membuat waktu tidur tidak dimulai dalam keadaan lalai. Sebaliknya, seorang Muslim dapat menutup hari dengan doa dan mengingat Allah. Dengan demikian, niat yang baik dapat berjalan bersama dengan adab tidur yang sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.
7. Gunakan Waktu Setelah Bangun untuk Melakukan Kebaikan
Tidur yang bertujuan memulihkan tenaga tentu perlu terlihat dalam aktivitas setelah seseorang bangun. Seseorang yang beristirahat agar kuat beribadah perlu berusaha menggunakan tenaganya untuk menjalankan tujuan tersebut. Karena itu, aktivitas setelah tidur juga dapat memperkuat makna dari niat yang telah ia tanamkan sebelumnya.
Seorang Muslim dapat memulai hari dengan shalat dan aktivitas yang bermanfaat. Seorang pelajar dapat menggunakan tenaganya untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Sementara itu, seorang santri dapat melanjutkan aktivitasnya dalam menghafalkan Al-Qur’an, mengikuti pembelajaran, dan menjalankan kegiatan pesantren.
Hal tersebut menunjukkan hubungan antara tidur dan aktivitas setelahnya. Istirahat memberikan tenaga, sedangkan tenaga tersebut kembali digunakan untuk melakukan kebaikan. Dengan pola seperti ini, tidur menjadi bagian dari kehidupan seorang Muslim yang memiliki arah dan tujuan.
Agar tidur bernilai ibadah, seseorang dapat memulai dengan memperbaiki niat. Tidurlah untuk memulihkan tenaga agar mampu menjalankan shalat, belajar, bekerja, menghafalkan Al-Qur’an, serta menunaikan berbagai tanggung jawab. Setelah itu, lengkapi waktu istirahat dengan adab dan doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ.
Tidur memang merupakan kebutuhan tubuh, tetapi seorang Muslim dapat memberikan tujuan yang lebih baik pada aktivitas tersebut. Dengan niat yang benar, istirahat dapat menjadi sarana untuk menjaga kekuatan dalam menjalankan ketaatan. Namun, seseorang tetap perlu menjaga keseimbangan agar tidur tidak membuatnya meninggalkan kewajiban.
Pada akhirnya, agar tidur bernilai ibadah, seseorang perlu melihat tidur sebagai sarana, bukan tujuan akhir. Waktu istirahat membantu tubuh memulihkan tenaga, kemudian tenaga tersebut digunakan kembali untuk beribadah dan melakukan kebaikan. Dengan cara inilah, aktivitas sederhana seperti tidur dapat menjadi bagian dari upaya seorang Muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Seminar Creator Digital Al Muanawiyah menjadi salah satu upaya PPTQ Al Muanawiyah dalam meningkatkan kapasitas santri di bidang media digital. Kegiatan ini menghadirkan Saiful Mualimin dari Jawa Pos Media Televisi (JTV) sebagai pemateri. Melalui seminar ini, santri memperoleh pengetahuan dasar tentang pengambilan gambar sekaligus memahami peran media sosial dalam menyebarkan konten positif.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Senin, 7 September 2026 di Aula PPTQ Al Muanawiyah. Para peserta mengikuti pemaparan materi, praktik pengambilan gambar, serta diskusi mengenai pengelolaan media sosial. Dengan demikian, Seminar Creator Digital Al Muanawiyah tidak hanya memberikan teori, tetapi juga membuka kesempatan bagi santri untuk mencoba keterampilan baru secara langsung.
Mengenal Teknik Pengambilan Gambar yang Menarik
Dalam pemaparannya, Saiful Mualimin memperkenalkan berbagai teknik dasar pengambilan gambar. Santri belajar mengenal beberapa jenis pengambilan gambar, seperti long shot, close up, dan teknik lainnya yang dapat digunakan dalam proses dokumentasi maupun pembuatan konten.
Praktik teknik pengambilan gambar
Menurut Saiful, teknik pengambilan gambar perlu dipelajari agar dokumentasi mampu menarik perhatian orang yang melihatnya. Pemilihan sudut dan jenis gambar juga dapat membantu membangun suasana dalam sebuah pemberitaan kegiatan. Karena itu, dokumentasi tidak hanya berfungsi sebagai bukti bahwa sebuah kegiatan telah berlangsung, tetapi juga dapat membantu menyampaikan cerita kepada audiens.
Materi tersebut kemudian dilanjutkan dengan sesi praktik. Salah satu santri mendapat kesempatan untuk mencoba menggunakan handycam secara langsung. Dengan arahan dari Saiful, santri dapat mengenal cara menggunakan alat sekaligus menerapkan teknik yang telah dipelajari.
Santri Belajar Mengoptimalkan Media Sosial
Selain membahas teknik visual, Seminar Creator Digital Al Muanawiyah juga mengangkat pentingnya pengelolaan media sosial. Saiful memberikan arahan mengenai langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan jangkauan konten media sosial PPTQ Al Muanawiyah.
Salah satu hal yang mendapat perhatian adalah interaksi audiens. Menurut Saiful, komentar memiliki peran penting dalam meningkatkan aktivitas pada sebuah unggahan. Interaksi yang baik dapat membantu memperluas jangkauan konten dan mendorong lebih banyak orang untuk menemukan informasi yang dibagikan.
Pembahasan ini memberikan pemahaman kepada santri bahwa membuat konten tidak berhenti setelah proses pengambilan dan pengunggahan. Kreator juga perlu memahami bagaimana audiens berinteraksi dengan konten yang mereka lihat. Dengan begitu, media sosial dapat menjadi sarana komunikasi yang lebih efektif.
Menggunakan Media Digital untuk Menyebarkan Kebaikan
Di tengah perkembangan media sosial yang semakin cepat, Saiful juga mengingatkan peserta tentang pentingnya niat dalam membuat konten. Ia berpesan agar kegiatan produksi konten diniatkan untuk menyebarkan kebaikan kepada masyarakat.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah merekam kegiatan seseorang ketika menghafalkan Al-Qur’an. Konten tersebut dapat menjadi sarana untuk memperlihatkan aktivitas positif kepada masyarakat. Namun, Saiful juga mengingatkan bahwa kreator dapat menambahkan unsur cerita agar audiens lebih tertarik untuk melihat dan mengikuti konten tersebut.
Pesan tersebut sejalan dengan tujuan pendidikan di PPTQ Al Muanawiyah. Santri tidak hanya belajar menggunakan teknologi, tetapi juga perlu memahami nilai dan tujuan dari penggunaannya. Media digital dapat menjadi sarana dakwah apabila seseorang mampu memanfaatkannya untuk menyebarkan pesan yang baik.
Suasana dalam seminar creator digital Al Muanawiyah
Santri Penghafal Al-Qur’an dan Dakwah di Era Digital
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas santri dalam menghadapi perkembangan media digital. Ke depan, keterampilan tersebut harapannya dapat membantu santri turut meramaikan media sosial dengan konten-konten positif dan bermanfaat.
Santri penghafal Al-Qur’an memiliki potensi besar untuk mengambil bagian dalam dakwah di era digital. Mereka tidak hanya dapat menyampaikan nilai-nilai Al-Qur’an melalui interaksi langsung, tetapi juga melalui konten yang dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
Melalui keterampilan produksi konten, dokumentasi, dan pengelolaan media sosial, santri dapat belajar mengemas pesan positif dengan cara yang lebih menarik. Dengan demikian, dakwah Al-Qur’an dapat hadir dalam berbagai bentuk yang sesuai dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.
Meningkatkan Kapasitas Santri melalui Keterampilan Digital
Seminar Creator Digital Al Muanawiyah menjadi bagian dari upaya lembaga untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih luas kepada santri. Keterampilan digital kini menjadi salah satu kemampuan yang penting untuk dipahami oleh generasi muda. Namun, keterampilan tersebut perlu berjalan bersama tanggung jawab dan nilai yang baik.
Melalui kegiatan ini, santri belajar bahwa teknologi dapat menjadi alat untuk menghasilkan manfaat. Teknik pengambilan gambar dapat membantu mereka membuat dokumentasi yang lebih menarik. Sementara itu, pemahaman tentang media sosial dapat membantu mereka menyampaikan pesan kepada audiens yang lebih luas.
Ke depan, keterampilan tersebut harapannya dapat menjadi salah satu bekal santri dalam menyebarkan kebaikan. Santri dapat mengambil peran sebagai generasi yang tidak hanya aktif menggunakan media sosial, tetapi juga mampu mengisi ruang digital dengan konten yang bermanfaat.
Bersama Al Muanawiyah, Belajar dan Berkembang untuk Masa Depan
Pendidikan tidak hanya berlangsung melalui pembelajaran di dalam kelas. Santri juga membutuhkan pengalaman dan keterampilan yang dapat membantu mereka menghadapi perkembangan zaman. Oleh karena itu, PPTQ Al Muanawiyah terus berupaya membuka ruang belajar melalui berbagai kegiatan yang mendukung pengembangan potensi santri.
Seminar Creator Digital Al Muanawiyah menjadi salah satu langkah untuk membekali santri dengan kemampuan yang relevan di era digital. Harapannya, para santri dapat memanfaatkan keterampilan tersebut untuk berkarya, menyebarkan kebaikan, dan turut mengambil peran dalam dakwah Al-Qur’an di media sosial.
Ingin putri Anda mendapatkan pendidikan yang memadukan pembelajaran Al-Qur’an, pendidikan formal, pembinaan karakter, serta pengembangan keterampilan masa kini? Daftarkan putri Anda di PPTQ Al Muanawiyah dan jadilah bagian dari lingkungan pendidikan yang mendorong santri untuk terus belajar dan berkembang. Daftar sekarang melalui WhatsApp admin kami!
Cara membedakan iler najis atau tidak menjadi pertanyaan penting bagi sebagian Muslim, terutama ketika bangun tidur dan menemukan air liur pada bantal atau pakaian. Banyak orang langsung menganggap iler sebagai najis karena cairan tersebut keluar saat seseorang tidak sadar. Padahal, fikih memberikan penjelasan yang lebih rinci dan tidak menetapkan semua iler sebagai najis.
Pada dasarnya, air liur yang berasal dari mulut memiliki hukum suci. Namun, ulama memberikan penjelasan berbeda apabila cairan yang keluar dari mulut ternyata berasal dari dalam perut. Karena itu, untuk memahami cara membedakan iler najis atau tidak, seseorang perlu memperhatikan asal cairan dan kondisi yang menyertainya.
Lalu, apa yang perlu diperhatikan ketika menemukan iler setelah tidur? Berikut penjelasannya.
1. Perhatikan Hukum Asal Air Liur
Langkah pertama dalam memahami cara membedakan iler najis atau tidak adalah mengetahui hukum asal air liur. Air liur yang berasal dari mulut pada dasarnya memiliki status suci. Oleh sebab itu, ludah biasa tidak membuat pakaian, bantal, atau benda lain menjadi najis.
Tidur juga tidak otomatis mengubah air liur menjadi najis. Seseorang yang bangun dan menemukan bekas iler tidak perlu langsung menganggap tempat tidurnya terkena najis. Selama tidak terdapat tanda yang menunjukkan asal cairan dari dalam perut, hukum asal kesuciannya tetap berlaku.
Penjelasan ini penting agar seseorang tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Dalam masalah thaharah, seorang Muslim tidak perlu menganggap sesuatu sebagai najis tanpa alasan yang jelas. Sikap tersebut membantu seseorang menjalankan ibadah tanpa terbebani oleh keraguan yang berlebihan.
2. Kenali Kemungkinan Cairan Berasal dari Dalam Perut
Iler dapat memiliki hukum yang berbeda apabila seseorang mengetahui bahwa cairan tersebut berasal dari dalam perut atau lambung. Cairan dari dalam perut tidak termasuk air liur biasa. Karena itu, asal cairan menjadi bagian penting dalam menentukan statusnya.
Dalam pembahasan fikih yang dirujuk dalam artikel Arina.id, ulama memberikan perhatian pada ciri cairan yang kemungkinan berasal dari perut. Cairan tersebut dapat memiliki bau bacin atau tidak sedap dan menunjukkan warna kekuningan. Ciri tersebut membantu seseorang membedakan kondisi yang perlu diperhatikan dari air liur biasa.
Namun, seseorang tidak seharusnya menetapkan najis hanya berdasarkan satu dugaan. Bau atau warna dapat menjadi petunjuk, tetapi seseorang tetap perlu melihat kondisi secara menyeluruh. Prinsip utamanya adalah adanya pengetahuan atau keyakinan bahwa cairan tersebut memang berasal dari dalam perut.
3. Jangan Langsung Menganggap Iler Berwarna sebagai Najis
Sebagian orang mungkin menemukan iler dengan warna yang sedikit berbeda dari air liur biasa. Kondisi tersebut dapat menimbulkan pertanyaan dan membuat seseorang merasa ragu. Namun, perubahan warna saja tidak selalu cukup untuk menetapkan suatu cairan sebagai najis.
Dalam pembahasan cara membedakan iler najis atau tidak, seseorang perlu memperhatikan apakah terdapat alasan yang kuat untuk menghubungkan cairan tersebut dengan isi perut. Jika ia tidak mengetahui asalnya dan hanya melihat perubahan warna, ia tidak perlu langsung mengubah hukum asalnya. Air liur tetap memiliki status suci selama tidak ada dasar yang jelas untuk menyatakan sebaliknya.
Sikap ini penting agar seseorang tidak mudah terjebak dalam waswas. Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga kesucian, tetapi tidak meminta seseorang mencari-cari kemungkinan najis tanpa dasar. Karena itu, keraguan tidak perlu selalu berakhir dengan kesimpulan bahwa sesuatu itu najis.
Ilustrasi tidur (foto: freepik)
4. Jika Ragu, Kembalikan pada Hukum Asalnya
Bagaimana jika seseorang sama sekali tidak mengetahui asal iler tersebut? Misalnya, ia bangun tidur dan menemukan cairan pada bantal, tetapi tidak dapat memastikan apakah cairan itu berasal dari mulut atau dari dalam perut. Dalam keadaan seperti ini, seseorang dapat kembali kepada hukum asal air liur, yaitu suci.
Keraguan tidak otomatis mengubah sesuatu yang suci menjadi najis. Seseorang tidak perlu mencuci seluruh bantal, selimut, atau pakaian hanya karena membayangkan kemungkinan yang belum tentu terjadi. Ia dapat tetap menggunakan benda tersebut selama tidak memiliki keyakinan yang jelas tentang adanya najis.
Prinsip ini membuat penerapan thaharah menjadi lebih mudah dalam kehidupan sehari-hari. Seorang Muslim tetap menjaga kebersihan, tetapi ia tidak membebani diri dengan dugaan yang berlebihan. Dengan begitu, ia dapat menjalankan ibadah dengan lebih tenang.
5. Perhatikan Perbedaan antara Yakin dan Dugaan
Cara berikutnya untuk menentukan cara membedakan iler najis atau tidak adalah membedakan antara keyakinan dan dugaan. Keyakinan berarti seseorang memiliki dasar yang jelas mengenai asal cairan tersebut. Sementara itu, dugaan hanya muncul karena seseorang merasa khawatir atau melihat kemungkinan tertentu.
Jika seseorang yakin cairan berasal dari dalam perut, ia perlu memperlakukan cairan tersebut sesuai hukum najis. Sebaliknya, jika ia hanya menduga tanpa mengetahui asalnya, ia tidak perlu langsung menganggapnya najis. Perbedaan ini sangat penting dalam pembahasan kesucian.
Seorang Muslim juga perlu menghindari kebiasaan memeriksa setiap benda secara berlebihan. Sikap seperti itu justru dapat menimbulkan kesulitan dan waswas. Syariat memberikan batas yang jelas agar umat Islam dapat menjalankan ibadah dengan kemudahan.
Apakah Pakaian yang Terkena Iler Bisa Digunakan untuk Shalat?
Pakaian yang terkena air liur biasa tetap dapat digunakan untuk shalat karena air liur memiliki hukum suci. Seseorang tidak perlu mencuci bagian pakaian tersebut hanya karena terkena iler saat tidur. Tidur juga tidak menjadi alasan untuk mengubah hukum kesucian air liur.
Namun, seseorang perlu menyucikan bagian pakaian apabila ia benar-benar mengetahui bahwa cairan tersebut berasal dari dalam perut dan memiliki status najis. Dalam kondisi ini, ia memiliki dasar yang jelas untuk melakukan penyucian. Karena itu, hukum pakaian bergantung pada status cairan yang mengenainya.
Jika seseorang masih ragu, ia tidak perlu mempersulit diri. Ia dapat kembali kepada hukum asal kesucian. Prinsip tersebut membantu seseorang membedakan antara kewajiban menjaga najis dan keraguan yang tidak memiliki dasar kuat.
Kesimpulan
Cara membedakan iler najis atau tidak berawal dari memahami hukum asal air liur. Air liur yang berasal dari mulut memiliki hukum suci, termasuk ketika keluar saat seseorang tidur. Oleh karena itu, seseorang tidak perlu langsung menganggap setiap iler sebagai najis.
Seseorang perlu memberikan perhatian lebih apabila terdapat alasan kuat bahwa cairan tersebut berasal dari dalam perut. Bau bacin atau tidak sedap serta warna kekuningan dapat menjadi beberapa petunjuk yang disebutkan dalam pembahasan fikih. Namun, seseorang tetap perlu berhati-hati dan tidak menetapkan najis hanya berdasarkan dugaan semata.
Apabila seseorang tidak mengetahui asal iler tersebut, ia dapat kembali kepada hukum asalnya, yaitu suci. Pemahaman ini membantu seorang Muslim menjaga kesucian untuk beribadah tanpa terjebak dalam rasa waswas. Dengan demikian, seseorang dapat menerapkan hukum thaharah secara lebih tepat dan proporsional.
Hukum iler orang tidur sering menjadi pertanyaan, terutama ketika air liur tersebut mengenai bantal, pakaian, atau perlengkapan ibadah. Sebagian orang langsung menganggap iler yang keluar saat tidur sebagai najis. Padahal, fikih memberikan penjelasan yang lebih rinci dengan melihat asal cairan tersebut.
Pada dasarnya, hukum iler orang tidur tidak selalu najis. Air liur yang berasal dari mulut memiliki hukum suci. Namun, jika seseorang mengetahui bahwa cairan tersebut berasal dari dalam perut, maka hukumnya dapat berbeda.
Lantas, bagaimana cara memahami hukum air liur yang keluar ketika tidur? Berikut penjelasannya berdasarkan pembahasan fikih mengenai kesucian dan kenajisan air liur.
Hukum Asal Air Liur adalah Suci
Air liur merupakan cairan yang keluar dari mulut manusia. Dalam hukum asalnya, air liur termasuk benda suci. Karena itu, seseorang tidak perlu mencuci pakaian atau benda yang terkena ludah biasa.
Hal ini juga berlaku ketika seseorang menemukan air liur pada bantal setelah bangun tidur. Tidur tidak serta-merta mengubah status air liur menjadi najis. Seorang Muslim tetap dapat menganggap cairan tersebut suci selama tidak menemukan alasan yang jelas untuk menyatakan sebaliknya.
Namun, ulama membedakan air liur biasa dengan cairan yang keluar dari dalam perut. Cairan dari perut memiliki hukum yang berbeda karena berkaitan dengan isi lambung. Oleh sebab itu, asal cairan menjadi hal penting dalam menentukan hukum iler orang tidur.
Kapan Iler Orang Tidur Menjadi Najis?
Iler dapat menjadi najis apabila seseorang mengetahui bahwa cairan tersebut berasal dari dalam perut atau lambung. Dalam keadaan ini, seseorang tidak lagi memperlakukannya sebagai air liur biasa. Karena itu, ia perlu memperhatikan kondisi cairan yang keluar.
Beberapa pembahasan fikih menyebutkan tanda yang dapat mengarah pada cairan dari dalam perut. Cairan tersebut dapat memiliki bau bacin atau tidak sedap dan terkadang menunjukkan warna kekuningan. Meski demikian, seseorang tidak seharusnya langsung menghukumi setiap cairan berbau atau berwarna sebagai najis.
Seorang Muslim perlu memiliki dasar yang cukup sebelum menetapkan suatu benda sebagai najis. Dugaan semata tidak cukup untuk mengubah hukum asal sesuatu yang suci. Oleh karena itu, seseorang sebaiknya tidak terburu-buru hanya karena merasa ragu.
Tidur (Foto: Freepik)
Jika Ragu, Iler Tetap Dihukumi Suci
Seseorang mungkin bangun tidur dan menemukan iler di bantal atau pakaiannya. Namun, ia tidak selalu mengetahui dari mana cairan tersebut berasal. Dalam kondisi seperti ini, seseorang tidak perlu mencari kemungkinan yang belum tentu terjadi.
Fikih memberikan kemudahan dengan mempertahankan hukum asal suatu benda ketika tidak ada bukti yang jelas. Jika seseorang tidak mengetahui apakah iler tersebut berasal dari mulut atau dari dalam perut, ia dapat menganggapnya sebagai cairan suci. Dengan demikian, keraguan tidak otomatis menjadikan iler sebagai najis.
Pemahaman ini juga membantu seseorang menghindari sikap berlebihan dalam menjaga kesucian. Islam mengajarkan kebersihan, tetapi Islam juga tidak menghendaki kesulitan yang muncul karena dugaan. Karena itu, seseorang tidak perlu mencuci seluruh perlengkapan tidur hanya karena menemukan air liur setelah bangun.
Apakah Pakaian yang Terkena Iler Bisa Digunakan untuk Shalat?
Pakaian yang terkena iler tetap dapat digunakan untuk shalat apabila cairan tersebut berasal dari air liur biasa. Seseorang tidak wajib mencuci pakaian hanya karena menemukan bekas iler di bagian tertentu. Selama ia tidak mengetahui adanya najis, pakaian tersebut tetap memiliki status suci.
Situasinya berbeda apabila seseorang benar-benar mengetahui bahwa cairan tersebut berasal dari dalam perut. Dalam keadaan tersebut, ia perlu membersihkan bagian pakaian yang terkena sebelum menggunakannya untuk shalat. Langkah ini dilakukan karena seseorang telah memiliki dasar yang jelas mengenai status cairan tersebut.
Oleh sebab itu, seseorang perlu membedakan antara yakin dan ragu. Ketika ia yakin terdapat najis, ia perlu menyucikannya. Namun, ketika ia hanya memiliki dugaan tanpa bukti yang jelas, ia tidak perlu memperlakukan benda tersebut sebagai najis.
Jangan Mudah Menganggap Sesuatu sebagai Najis
Pembahasan thaharah mengajarkan seorang Muslim untuk menjaga kebersihan sekaligus memahami hukum Islam secara benar. Ketika seseorang melihat najis yang jelas, ia tentu harus membersihkannya. Namun, ia tidak perlu mencari-cari najis pada sesuatu yang pada asalnya suci.
Dalam persoalan air liur, hukum asalnya adalah suci. Seseorang baru perlu mempertimbangkan hukum lain ketika ia mengetahui bahwa cairan tersebut berasal dari dalam perut. Prinsip ini membuat seseorang dapat menjalankan aturan agama tanpa menambah kesulitan bagi dirinya sendiri.
Sikap tersebut juga membantu menghindari waswas dalam masalah kesucian. Seseorang dapat menjaga kebersihan dengan baik tanpa terus mempertanyakan setiap cairan yang ditemukan di pakaian atau tempat tidur. Dengan pemahaman yang tepat, ia dapat menjalankan ibadah dengan lebih tenang.
Kesimpulan
Hukum iler orang tidur pada dasarnya adalah suci apabila cairan tersebut berasal dari air liur biasa. Tidur tidak membuat air liur berubah menjadi najis. Karena itu, seseorang tidak perlu langsung mencuci pakaian atau bantal yang terkena iler.
Iler dapat memiliki hukum najis ketika seseorang mengetahui bahwa cairan tersebut berasal dari dalam perut atau lambung. Beberapa ciri, seperti bau bacin atau warna kekuningan, dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan dalam pembahasan fikih. Namun, seseorang tetap perlu menghindari sikap terburu-buru dalam menentukan status suatu cairan.
Jika seseorang tidak mengetahui asal iler tersebut, ia dapat kembali kepada hukum asalnya, yaitu suci. Dengan memahami perbedaan antara keyakinan dan keraguan, seorang Muslim dapat menjaga kesucian untuk beribadah tanpa terjebak dalam waswas atau mempersulit diri.
Memilih lingkungan pendidikan yang tepat menjadi salah satu pertimbangan penting bagi orang tua. Kelebihan Pondok Al Muanawiyah terletak pada konsep pendidikan yang tidak hanya berfokus pada hafalan Al-Qur’an, tetapi juga memadukan pendidikan formal, ilmu agama, pembinaan karakter, dan pengembangan keterampilan.
Pondok Tahfidz Putri Al Muanawiyah Jombang hadir sebagai lembaga pendidikan Islam berbasis tahfidzul Qur’an. Lembaga ini berkomitmen membentuk generasi muslimah penghafal Al-Qur’an yang berakhlak mulia, berilmu, cerdas, kreatif, dan siap menghadapi masa depan.
Dengan konsep pendidikan yang terintegrasi, Al Muanawiyah menjadi salah satu pilihan bagi orang tua yang ingin memberikan pendidikan Islam sekaligus bekal kehidupan kepada putrinya.
1. Fokus pada Program Tahfidz Al-Qur’an
Salah satu kelebihan Pondok Al Muanawiyah adalah fokusnya dalam mendampingi santri mempelajari dan menghafalkan Al-Qur’an secara terarah.
Program tahfidz dijalankan secara intensif, bertahap, dan konsisten. Santri tidak hanya menambah hafalan, tetapi juga menjalani program setoran dan murojaah secara rutin.
Kebiasaan tersebut membantu santri menjaga hafalan yang telah diperoleh. Selain itu, proses belajar yang konsisten dapat melatih kedisiplinan dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Tahfidz menjadi bagian penting dalam pendidikan Al Muanawiyah. Namun, pendidikan santri tidak berhenti pada pencapaian hafalan saja.
2. Pendidikan Formal SMP dan MA Qur’an
Al Muanawiyah memadukan pendidikan tahfidz dengan pendidikan formal. Santri dapat mengikuti pendidikan pada jenjang SMP dan MA Qur’an sambil tetap menjalankan program pembelajaran Al-Qur’an. Konsep pendidikan terintegrasi ini membantu santri memperoleh ilmu akademik dan pendidikan Islam dalam satu lingkungan.
Dengan demikian, orang tua tidak perlu memandang pendidikan formal dan pendidikan agama sebagai dua hal yang harus dipisahkan. Keduanya dapat berjalan bersama sesuai kebutuhan perkembangan santri.
Potret kegiatan saat upacara Agustus di sekolah Al Muanawiyah Jombang
3. Setoran dan Murojaah Intensif
Menghafal Al-Qur’an membutuhkan proses yang berkelanjutan. Karena itu, Al Muanawiyah menjalankan program setoran dan murojaah secara intensif.
Santri memperoleh kesempatan untuk menambah hafalan sekaligus mengulang hafalan sebelumnya. Kegiatan tersebut penting karena hafalan membutuhkan penjagaan dan pengulangan secara rutin. Melalui pembiasaan ini, santri belajar menjalankan proses secara disiplin. Mereka juga belajar bahwa keberhasilan tidak hanya datang dari kemampuan, tetapi juga dari konsistensi.
4. Pembinaan Akhlak dan Karakter Muslimah
Pendidikan di pondok pesantren tidak hanya berbicara tentang pengetahuan. Akhlak dan karakter juga menjadi bagian penting dalam pembentukan seorang muslimah.
Al Muanawiyah memberikan perhatian pada pembinaan akhlak agar santri tumbuh menjadi pribadi yang memiliki nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan pesantren membantu santri belajar hidup bersama, menghormati guru, menjaga adab, serta bertanggung jawab terhadap diri sendiri.
Oleh sebab itu, kelebihan Pondok Al Muanawiyah tidak hanya terletak pada program belajarnya, tetapi juga pada upaya membangun karakter santri melalui kehidupan dan pembiasaan sehari-hari.
5. Lingkungan Khusus Putri yang Aman dan Kondusif
Al Muanawiyah merupakan pondok tahfidz khusus putri. Lingkungan pendidikan tersebut dirancang untuk mendukung proses belajar dan perkembangan muslimah.
Santri dapat belajar dalam suasana yang aman, nyaman, dan kondusif. Selain itu, lingkungan khusus putri memungkinkan pembinaan disesuaikan dengan kebutuhan pendidikan seorang muslimah. Pembentukan karakter, adab, dan pemahaman agama dapat menjadi bagian dari proses pendidikan sehari-hari.
6. Ilmu Agama yang Lebih Lengkap
Selain tahfidz Al-Qur’an, santri juga mempelajari berbagai bidang ilmu agama. Pembelajaran mencakup tajwid, fashohah, bahasa Arab, akhlak, nahwu, shorof, dan keislaman. Bekal tersebut membantu santri tidak hanya membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga memperluas pemahaman mereka terhadap ilmu-ilmu Islam. Pembelajaran bahasa Arab juga menjadi salah satu bekal penting dalam memahami berbagai sumber keislaman.
7. Melek Teknologi dan Pengembangan Keterampilan
Pendidikan saat ini terus berkembang. Karena itu, Al Muanawiyah juga memberikan perhatian pada keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman. Santri memperoleh kesempatan untuk mengenal teknologi dan berbagai bidang kreatif, seperti IT, multimedia, desain grafis, coding, dan AI.
Pendekatan ini membantu santri mempersiapkan diri menghadapi perkembangan dunia yang semakin cepat. Namun, penggunaan teknologi tetap perlu berjalan bersama nilai dan tanggung jawab.
8. Beragam Program Ekstrakurikuler
Pengembangan potensi santri tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Al Muanawiyah menyediakan berbagai kegiatan ekstrakurikuler untuk membantu santri mengenali minat dan mengasah kemampuan. Beberapa bidang yang tersedia meliputi tahfidz, pramuka, multimedia, desain grafis, serta coding dan AI. Melalui kegiatan tersebut, santri dapat memperoleh pengalaman baru dan mengembangkan kreativitas.
9. Lingkungan Belajar yang Asri
Suasana belajar juga dapat mendukung kenyamanan santri. Al Muanawiyah menghadirkan lingkungan yang asri dan mendukung proses pendidikan. Lingkungan yang nyaman membantu santri menjalani aktivitas belajar, ibadah, dan kehidupan pesantren dengan lebih baik. Pendidikan bukan hanya tentang apa yang dipelajari, tetapi juga tentang lingkungan yang membentuk kebiasaan seseorang setiap hari.
10. Pendidikan Berkualitas dengan Biaya Bersahabat
Al Muanawiyah berkomitmen memberikan pendidikan berkualitas dengan biaya yang bersahabat. Program pendidikan mencakup pembelajaran formal, pendidikan agama, tahfidz, pembinaan karakter, serta pengembangan keterampilan. Dengan konsep tersebut, orang tua dapat memberikan kesempatan kepada putrinya untuk memperoleh pendidikan yang lebih menyeluruh.
Bersama Al-Qur’an, Menjadi Generasi Terbaik
Berbagai kelebihan Pondok Al Muanawiyah menunjukkan bahwa pendidikan santri tidak hanya diarahkan pada satu bidang. Tahfidz Al-Qur’an tetap menjadi bagian penting, tetapi pendidikan formal, ilmu agama, akhlak, teknologi, dan keterampilan juga mendapat perhatian.
Melalui pendidikan yang terintegrasi, Al Muanawiyah ingin mendampingi santri untuk tumbuh menjadi muslimah yang berilmu, berakhlak, kreatif, dan siap menghadapi masa depan.
Ingin putri Anda belajar dalam lingkungan pendidikan Islam yang memadukan Al-Qur’an, pendidikan formal, pembinaan akhlak, dan pengembangan keterampilan? Daftarkan putri Anda di PPTQ Al Muanawiyah Jombang dan jadilah bagian dari perjalanan membentuk generasi Qur’ani yang berprestasi.
Banyak orang mencari tahu posisi tidur yang terbaik agar dapat beristirahat dengan nyaman. Dalam Islam, Rasulullah ﷺ juga memberikan tuntunan mengenai posisi ketika seorang Muslim hendak tidur.
Salah satu posisi yang dianjurkan adalah tidur dengan menghadap atau berbaring ke sebelah kanan. Anjuran tersebut tercantum dalam beberapa hadis Nabi ﷺ. Karena itu, tidur miring ke kanan menjadi salah satu sunnah yang dapat diamalkan sebelum memejamkan mata.
Lalu, mengapa Islam menganjurkan posisi tersebut? Berikut penjelasannya.
Rasulullah ﷺ Menganjurkan Tidur Miring ke Kanan
Anjuran tidur menghadap ke kanan terdapat dalam hadis yang diriwayatkan dari Al-Bara’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah ﷺ bersabda:
Artinya, “Apabila engkau mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah seperti wudhu untuk shalat, kemudian berbaringlah di atas sisi kananmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menjadi dasar anjuran tidur dengan posisi miring ke kanan. Oleh karena itu, ketika membahas posisi tidur yang terbaik berdasarkan tuntunan Rasulullah ﷺ, posisi ini menjadi salah satu sunnah yang dapat dilakukan. Anjuran tersebut juga menunjukkan bahwa Islam memberikan perhatian terhadap adab dalam aktivitas sehari-hari, termasuk ketika seseorang akan beristirahat.
Tidur menghadap ke kanan berarti seseorang memulai tidurnya dengan berbaring pada sisi tubuh sebelah kanan. Dalam posisi ini, bagian kanan tubuh berada di bawah. Sementara itu, seseorang dapat meletakkan kepala di atas bantal dengan posisi yang nyaman.
Namun, anjuran ini tidak berarti seseorang harus mempertahankan posisi yang sama sepanjang malam. Ketika tidur, manusia tentu dapat bergerak dan berubah posisi tanpa disadari. Karena itu, sunnah tersebut berkaitan dengan cara seseorang memulai waktu tidurnya. Seorang Muslim dapat memulai tidur dengan posisi miring ke kanan sebagai bentuk mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.
Posisi tidur yang terbaik adalah menghadap kanan (foto: freepik.com)
Anjuran tidur ke kanan bersumber dari tuntunan Rasulullah ﷺ. Bagi seorang Muslim, mengikuti sunnah menjadi alasan utama untuk mengamalkan posisi tersebut. Oleh sebab itu, seseorang tidak perlu menunggu penjelasan ilmiah terlebih dahulu untuk menjalankan sunnah. Ketika sebuah amalan memiliki dasar dari Rasulullah ﷺ, seorang Muslim dapat berusaha mengamalkannya sebagai bentuk ketaatan.
Meski demikian, banyak orang sering menghubungkan posisi tidur dengan berbagai manfaat kesehatan. Pembahasan tersebut perlu disikapi secara hati-hati karena kondisi tubuh setiap orang berbeda. Artikel tentang tuntunan tidur ke kanan lebih tepat menempatkan sunnah sebagai dasar utama. Sementara itu, pertimbangan medis dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing individu.
Bagaimana dengan Tidur Miring ke Kiri?
Tidur miring ke kiri bukan berarti seseorang melakukan dosa. Manusia dapat berubah posisi ketika tidur, termasuk berbaring ke sebelah kiri. Perbedaan utama terletak pada tuntunan ketika memulai tidur. Rasulullah ﷺ menganjurkan umatnya untuk berbaring di sisi kanan.
Karena itu, seseorang dapat membiasakan diri memulai tidur ke kanan. Namun, ia tidak perlu merasa bersalah ketika kemudian berubah posisi saat tertidur. Sikap seperti ini membantu kita memahami sunnah secara proporsional. Tujuannya bukan untuk membuat waktu tidur menjadi sulit, melainkan untuk membiasakan diri mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari.
Bagaimana dengan Tidur Tengkurap?
Selain memberikan tuntunan tentang tidur miring ke kanan, terdapat pula riwayat yang membahas tidur tengkurap. Dalam salah hadits riwayat Abu Hurairah, Rasulullah SAW melihat seorang laki-laki tidur tengkurap atau bertumpu pada perut dan bersabda:
“Tidur seperti ini (tengkurap) tidak disukai oleh Allah Swt.” (HR. At-Tirmidzi)
Oleh karena itu, sebagian ulama menganjurkan umat Islam untuk menghindari tidur tengkurap, terutama ketika seseorang sengaja memulai tidurnya dengan posisi tersebut. Menurut medis, tidur tengkurap juga menyebabkan beberapa permasalahan kesehatan seperti nyeri leher, nyeri punggung, dan meninggal mendadak pada bayi.
Cara Membiasakan Tidur Sesuai Sunnah
Membiasakan posisi tidur yang terbaik menurut tuntunan Rasulullah ﷺ dapat dimulai dengan langkah sederhana.
Selesaikan aktivitas sebelum tidur dan persiapkan diri untuk beristirahat.
Kemudian, berwudhulah sebagaimana wudhu untuk shalat jika memungkinkan. Setelah itu, periksa tempat tidur dan pastikan tempat tersebut bersih.
Selanjutnya, bacalah doa dan dzikir sebelum tidur. Seorang Muslim juga dapat membaca Ayat Kursi serta surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.
Setelah itu, berbaringlah dengan posisi miring ke sebelah kanan.
Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu seorang Muslim menutup hari dengan mengingat Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.
Mengajarkan Adab Tidur kepada Anak
Orang tua juga dapat mengenalkan sunnah tidur kepada anak sejak dini. Anak tidak harus langsung memahami seluruh hadis dan adab tidur dalam waktu yang bersamaan. Sebagai langkah awal, orang tua dapat mengajarkan anak untuk membaca doa sebelum tidur. Setelah itu, anak dapat memulai tidur dengan posisi miring ke kanan sebagai pembiasaann secara konsisten. Hal ini dapat membantu anak mengenal ajaran Islam melalui kegiatan sehari-hari.
Selain itu, orang tua dapat menjelaskan bahwa mengikuti sunnah tidak selalu membutuhkan amalan yang sulit. Kebiasaan sederhana, termasuk cara memulai tidur, juga dapat menjadi bagian dari upaya seorang Muslim meneladani Rasulullah ﷺ.
Posisi tidur yang terbaik menurut tuntunan Rasulullah ﷺ adalah memulai tidur dengan berbaring miring ke sebelah kanan. Anjuran tersebut bersumber dari hadis Rasulullah ﷺ kepada Al-Bara’ bin Azib. Namun, seorang Muslim tidak perlu memaksakan diri untuk tetap berada dalam posisi tersebut sepanjang malam.
Tidur merupakan aktivitas yang membuat tubuh bergerak secara alami. Karena itu, seseorang dapat memulai tidurnya dengan posisi miring ke kanan, meskipun pada akhirnya akan berubah posisi tanpa sengaja ketika telah tertidur. Dengan membiasakan sunnah ini, seorang Muslim dapat menjadikan aktivitas sederhana seperti tidur sebagai bagian dari upaya mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.
Tidur merupakan kebutuhan setiap manusia. Namun, Islam mengajarkan bahwa seorang Muslim dapat menjadikan waktu istirahat sebagai bagian dari ibadah. Salah satu caranya adalah dengan mengikuti adab tidur menurut Rasulullah sebelum memejamkan mata.
Rasulullah ﷺ memberikan tuntunan yang mencakup persiapan sebelum tidur hingga posisi ketika beristirahat. Adab tersebut mengajarkan kebersihan, perlindungan diri, serta kebiasaan mengingat Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Lalu, apa saja adab tidur menurut Rasulullah yang dapat diamalkan?
1. Berwudhu Sebelum Tidur
Salah satu sunnah sebelum tidur adalah berwudhu seperti wudhu ketika akan melaksanakan shalat.
Artinya, “Apabila kamu hendak menuju tempat tidurmu, maka berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Wudhu membantu seorang Muslim mempersiapkan diri sebelum beristirahat. Selain itu, kebiasaan ini juga mengingatkan kita untuk menutup aktivitas sehari-hari dengan keadaan yang suci.
Ilustrasi wudhu
2. Membersihkan Tempat Tidur
Sebelum berbaring, Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk memeriksa dan membersihkan tempat tidur.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila salah seorang dari kalian menuju tempat tidurnya, hendaklah ia mengibaskan tempat tidurnya dengan bagian dalam kainnya, karena ia tidak mengetahui apa yang terjadi di atasnya setelah ia meninggalkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kebiasaan ini mengajarkan seorang Muslim untuk menjaga kebersihan dan berhati-hati. Selain itu, kita juga dapat memeriksa tempat tidur sebelum menggunakannya.
3. Membaca Dzikir Sebelum Tidur
Membaca dzikir menjadi bagian penting dalam adab tidur menurut Rasulullah. Seorang Muslim dapat mengakhiri aktivitas hariannya dengan mengingat Allah.
Di antara dzikir yang Rasulullah ﷺ ajarkan adalah membaca Subhanallah sebanyak 33 kali, Alhamdulillah sebanyak 33 kali, dan Allahu Akbar sebanyak 34 kali sebelum tidur.
Rasulullah ﷺ mengajarkan dzikir tersebut kepada Fatimah radhiyallahu ‘anha dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Dzikir ini menjadi salah satu amalan yang dapat menguatkan seorang Muslim sebelum beristirahat. Dengan membiasakan dzikir, hati tidak langsung berpindah dari kesibukan dunia menuju tidur. Sebaliknya, seorang Muslim menutup harinya dengan mengingat Allah.
4. Membaca Ayat Kursi
Selain dzikir, seorang Muslim juga dapat membaca Ayat Kursi sebelum tidur. Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa seseorang yang membaca Ayat Kursi sebelum tidur akan mendapatkan penjagaan dari Allah hingga pagi hari.
Rasulullah ﷺ kemudian membenarkan informasi tersebut dengan sabdanya:
“Ia berkata benar kepadamu, padahal ia adalah pendusta.” (HR. Bukhari).
Membaca Ayat Kursi menjadi salah satu amalan yang dapat membantu seorang Muslim memohon perlindungan kepada Allah sebelum tidur.
5. Membaca Tiga Surah Perlindungan
Rasulullah ﷺ juga membiasakan membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas sebelum tidur.
Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ hendak tidur, beliau meniupkan ke kedua telapak tangannya setelah membaca tiga surah tersebut. Setelah itu, beliau mengusapkan kedua tangannya ke bagian tubuh yang dapat dijangkau.
Kebiasaan tersebut menunjukkan pentingnya memohon perlindungan kepada Allah sebelum tidur. Oleh karena itu, orang tua juga dapat mengenalkan tiga surah ini kepada anak sejak dini.
6. Berdoa Sebelum Tidur
Selain membaca Al-Qur’an dan dzikir, Rasulullah ﷺ juga mengajarkan doa sebelum tidur. Salah satu doa yang dapat dibaca adalah:
بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا
Bismikallāhumma amūtu wa ahyā.
Artinya, “Dengan nama-Mu, ya Allah, aku mati dan aku hidup.” (HR. Bukhari).
Doa tersebut mengingatkan seorang Muslim bahwa kehidupan dan kematian berada dalam kekuasaan Allah. Karena itu, tidur tidak hanya menjadi waktu untuk memulihkan tenaga. Seorang Muslim juga dapat menjadikannya sebagai kesempatan untuk memperbarui kesadaran tentang ketergantungan kepada Allah.
Rasulullah ﷺ mengajarkan umat Islam untuk memulai tidur dengan berbaring miring ke sebelah kanan.
Dalam hadis Al-Bara’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila engkau mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah seperti wudhu untuk shalat. Kemudian berbaringlah di atas sisi kananmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Posisi ini menjadi bagian dari sunnah yang dapat dilakukan ketika seseorang hendak tidur. Namun, Islam tidak menjadikan tidur sebagai aktivitas yang penuh kesulitan. Seseorang dapat berubah posisi ketika sedang tidur. Yang dianjurkan adalah memulai tidur dengan posisi miring ke kanan.
8. Menghindari Tidur Tengkurap
Selain mengajarkan posisi tidur, Rasulullah ﷺ juga memberikan perhatian terhadap posisi tengkurap.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ melihat seseorang tidur dalam keadaan tengkurap. Kemudian beliau menyampaikan bahwa posisi tersebut merupakan posisi yang tidak disukai Allah. Oleh karena itu, seorang Muslim sebaiknya menghindari kebiasaan tidur tengkurap, terutama ketika sengaja memulai waktu tidur dengan posisi tersebut.
Mengajarkan Adab Tidur kepada Anak
Orang tua dapat mulai mengenalkan adab tidur menurut Rasulullah melalui kebiasaan sederhana. Anak tidak harus langsung menghafalkan seluruh doa dan dzikir dalam satu waktu.
Sebagai langkah awal, orang tua dapat mengajak anak berwudhu sebelum tidur. Setelah itu, anak dapat belajar membaca doa tidur dan tiga surah pendek. Seiring bertambahnya usia, orang tua dapat mengenalkan Ayat Kursi, dzikir sebelum tidur, serta sunnah tidur miring ke kanan. Pembiasaan kecil yang dilakukan setiap hari dapat membantu anak mengenal ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, anak juga dapat memahami bahwa ibadah tidak hanya dilakukan ketika berada di masjid atau saat waktu shalat tiba.
Kesimpulan
Adab tidur menurut Rasulullah mengajarkan seorang Muslim untuk menutup hari dengan kebersihan, dzikir, doa, dan tawakal kepada Allah. Beberapa amalan yang dapat dilakukan sebelum tidur antara lain berwudhu, membersihkan tempat tidur, membaca dzikir, membaca Ayat Kursi, membaca tiga surah perlindungan, berdoa, dan memulai tidur dengan posisi miring ke kanan.
Melalui kebiasaan sederhana tersebut, waktu tidur dapat menjadi bagian dari upaya seorang Muslim untuk terus mengingat Allah. Oleh sebab itu, orang tua juga dapat mengenalkan adab-adab tersebut kepada anak sejak dini agar tumbuh menjadi kebiasaan yang mereka bawa hingga dewasa.
Program pendidikan Al Muanawiyah terus mengalami penguatan menjelang tahun 2027. Pengembangan tersebut tidak hanya berfokus pada pendidikan tahfidz. Al Muanawiyah juga memperkuat sumber daya manusia, manajemen, finansial, serta sarana dan prasarana.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun lembaga pendidikan yang semakin kokoh. Melalui penguatan berbagai bidang, Al Muanawiyah ingin mendukung perkembangan santri secara lebih menyeluruh.
Perkuat SDM untuk Mendukung Kebutuhan Santri
Sepanjang tahun 2026, Al Muanawiyah melakukan sejumlah rekrutmen untuk memperkuat tenaga pendidik. Lembaga menghadirkan guru Bahasa Indonesia, guru BK atau psikologi, guru tahsin, serta guru tahfidz. Selain itu, Al Muanawiyah juga membentuk ustadzah pesantren atau majelis asatidz pesantren. Para ustadzah tersebut turut berperan dalam mengelola kehidupan pesantren dan mendampingi santri.
Penguatan SDM ini menunjukkan bahwa pendidikan membutuhkan dukungan dari berbagai bidang. Program tahfidz tetap menjadi salah satu fokus penting. Namun, kebutuhan akademik, psikologis, dan pembinaan kehidupan pesantren juga memerlukan perhatian. Dengan komposisi tenaga pendidik yang semakin lengkap, Al Muanawiyah dapat memberikan pendampingan yang lebih sesuai dengan kebutuhan santri.
Proses setoran hafalan Al-Qur’an santri PPTQ Al Muanawiyah
Manajemen Pendidikan yang Lebih Terarah
Selain menambah tenaga pendidik, Al Muanawiyah juga terus mengembangkan manajemen pendidikan. Setiap santri memiliki kemampuan dan perkembangan yang berbeda. Karena itu, lembaga tidak hanya melihat hasil hafalan sebagai satu-satunya ukuran perkembangan anak.
Ketika seorang santri mengalami perkembangan hafalan yang rendah, pihak lembaga dapat melibatkan guru BK atau bidang psikologi untuk menganalisis kendalanya. Hasil pendampingan tersebut kemudian menjadi bahan evaluasi bagi pihak yang menangani perkembangan santri.Pendekatan ini membantu lembaga memahami kondisi anak dengan lebih baik. Selanjutnya, guru dan pengelola dapat memberikan motivasi serta pendampingan yang sesuai.
Program Tahsin dengan Evaluasi Rutin
Penguatan pendidikan Al-Qur’an juga terus berjalan. Salah satunya melalui ujian kenaikan jilid tahsin yang dilaksanakan setiap hari Senin. Evaluasi rutin tersebut membantu guru memantau perkembangan kemampuan membaca Al-Qur’an. Selain itu, santri yang telah menguasai materi dapat segera melanjutkan ke tahap berikutnya.
Melalui sistem yang lebih terukur, Al Muanawiyah ingin menjalankan program tahsin secara efektif. Santri tidak perlu terlalu lama berada pada satu tahap apabila mereka telah memenuhi kemampuan yang diperlukan. Tahsin yang baik juga menjadi fondasi penting bagi pembelajaran dan hafalan Al-Qur’an. Oleh sebab itu, penguatan program ini menjadi bagian dari pengembangan pendidikan secara keseluruhan.
Pengembangan lembaga juga membutuhkan dukungan finansial yang kuat. Saat ini, Al Muanawiyah mampu menopang sekitar 45 guru yang mengajar di pondok dan sekolah. Selain tenaga pendidik, dukungan tersebut juga mencakup pegawai nonakademik serta kebutuhan pembangunan. Al Muanawiyah juga terus mendukung berbagai program untuk meningkatkan keterampilan dan pengalaman belajar santri.
Dukungan finansial membantu lembaga menjalankan berbagai kebutuhan pendidikan secara berkelanjutan. Dengan demikian, guru, pegawai, program, dan pembangunan dapat saling mendukung dalam perkembangan lembaga.
Tambah Ruang Belajar untuk SMP
Dari sisi sarana dan prasarana, Al Muanawiyah juga mencatat perkembangan penting. Saat ini, empat ruang kelas baru untuk jenjang SMP telah memasuki tahap akhir pembangunan dan finishing.
SMP Al Muanawiyah telah memperoleh akreditasi A. Selama beberapa tahun terakhir, proses pembelajaran masih menggunakan ruang dengan sistem yang menyerupai kursusan. Kehadiran ruang kelas baru diharapkan dapat memberikan fasilitas belajar yang lebih mendukung. Setelah proses finishing selesai, ruangan tersebut akan digunakan untuk kegiatan belajar mengajar siswa SMP.
PPDB 2027 Mulai Terisi
Menjelang tahun ajaran 2027, kuota penerimaan peserta didik baru juga mulai terisi. Saat ini, jenjang SMP telah mencapai sekitar 30 persen dari kuota. Sementara itu, jenjang MA telah mencapai sekitar 50 persen.
Perkembangan tersebut menjadi semangat untuk terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan. Karena itu, program pendidikan Al Muanawiyah akan terus diperkuat melalui peningkatan kualitas SDM, manajemen, sarana, dan berbagai program pendukung.
Menyongsong Al Muanawiyah yang Semakin Kuat
Menjelang tahun 2027, Al Muanawiyah terus membangun fondasi pendidikan yang lebih kuat. Penguatan tenaga pendidik, sistem pendampingan, program Al-Qur’an, dukungan finansial, dan sarana belajar menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Melalui program pendidikan Al Muanawiyah, lembaga berharap dapat terus memberikan pendidikan yang mendukung perkembangan ilmu, karakter, dan nilai-nilai Islam dalam kehidupan santri.
Mari menjadi bagian dari perjalanan Al Muanawiyah. Daftarkan putri Anda untuk belajar dalam lingkungan pendidikan yang mendukung perkembangan akademik, pendidikan Islam, karakter, serta keterampilan. Daftar sekarang melalui WhastApp admin PPTQ Al Muanawiyah!