Kisah Iblis yang Sombong, Menolak Sujud Kepada Nabi Adam

Kisah Iblis yang Sombong, Menolak Sujud Kepada Nabi Adam

Dalam catatan sejarah makhluk ciptaan Allah, terdapat satu peristiwa besar yang menjadi titik balik kehinaan sebuah kaum. Kisah iblis yang sombong bermula di surga, saat Allah SWT menciptakan Nabi Adam AS sebagai khalifah pertama di bumi. Peristiwa ini bukan sekadar cerita masa lalu. Melainkan sebuah peringatan bagi kita tentang betapa berbahayanya sifat merasa lebih baik dari orang lain. Memahami kronologi dan alasan di balik pengusiran iblis akan membuka mata hati kita untuk selalu menjaga kerendahan hati dalam kondisi apa pun.

Berikut adalah uraian mengenai kisah terjadinya pembangkangan iblis serta dalil-dalil yang mengabadikannya.

Pembangkangan di Hadapan Perintah Allah

Awal mula kisah iblis yang sombong terjadi ketika Allah memerintahkan seluruh malaikat dan iblis untuk sujud kepada Nabi Adam AS sebagai bentuk penghormatan. Seluruh malaikat langsung bersujud tanpa ragu karena ketaatan mereka kepada Allah. Namun, iblis justru berdiri tegak dan menolak perintah tersebut dengan penuh keangkuhan. Allah SWT mengabadikan momen pembangkangan ini dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 11:

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: ‘Bersujudlah kamu kepada Adam’, maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud.”

Baca juga: Anak Nabi Nuh yang Berbeda Keimanan dalam Satu Keluarga

Penolakan ini bukanlah karena iblis tidak percaya kepada Allah, melainkan karena hatinya telah tertutup oleh selimut kesombongan. Iblis merasa bahwa kedudukan dan ibadahnya selama ribuan tahun membuatnya lebih mulia dibandingkan makhluk baru yang diciptakan dari tanah tersebut.

gambar api ilustrasi kisah iblis yang sombong
Ilustrasi api yang serupa dengan asal-usul Iblis (sumber: freepik)

Alasan Kesombongan Iblis: Merasa Lebih Mulia secara Asal-Usul

Apa yang sebenarnya membuat iblis begitu congkak? Dalam kisah iblis yang sombong, ia melakukan sebuah kesalahan logika yang fatal dengan membandingkan asal-usul penciptaan. Ketika Allah bertanya mengapa ia enggan bersujud, iblis menjawab dengan nada merendahkan sebagaimana terekam dalam surat Al-A’raf ayat 12:

“Allah berfirman: ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku memerintahkanmu?’ Iblis menjawab: ‘Aku lebih baik daripadanya; Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah’.”

Iblis merasa api memiliki derajat yang lebih tinggi, lebih bercahaya, dan lebih kuat daripada tanah yang dianggapnya rendah dan kotor. Sifat merasa “paling suci” dan “paling baik” inilah yang menjadi akar dari segala dosa. Iblis lupa bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh bahan bakunya, melainkan oleh ketaatannya kepada perintah Sang Pencipta.

Akibat dari Sifat Takabur

Dampak dari kisah iblis yang sombong ini sangatlah mengerikan. Allah secara langsung mengusir iblis dari surga dalam keadaan terhina dan terlaknat hingga hari kiamat. Iblis yang dulunya merupakan ahli ibadah yang tinggal bersama malaikat, kini berubah menjadi makhluk yang paling jauh dari rahmat Allah. Hal ini menunjukkan bahwa pahala dan amal yang setinggi gunung pun bisa hangus seketika jika di dalam hati terselip sifat sombong sebesar biji sawi.

Sejak saat itu, iblis berjanji untuk menyesatkan manusia dari segala arah agar memiliki teman di neraka nanti. Oleh karena itu, kita harus selalu waspada karena benih-benih kesombongan iblis bisa saja muncul dalam bentuk merasa lebih pintar, lebih kaya, atau bahkan lebih saleh daripada orang lain.

Baca juga: Motivasi Hidup Keluarga Islami dari Surat Al Insyirah

Mengapa Kita Harus Menjauhi Sifat Iblis?

Hikmah terbesar dari kisah iblis yang sombong adalah bahwa musuh terbesar manusia bukanlah orang lain, melainkan ego dan kesombongan dalam dirinya sendiri. Berikut adalah beberapa pelajaran penting yang harus kita camkan:

  • Kemuliaan Hanya Milik Allah: Tidak ada alasan bagi makhluk untuk sombong karena semua kelebihan—baik itu kecerdasan, harta, maupun rupa—hanyalah titipan sementara.

  • Waspada terhadap “Penyakit Asal-Usul”: Merasa lebih hebat karena keturunan, suku, atau status sosial adalah warisan sifat iblis yang harus kita hindari.

  • Ketaatan Tanpa Syarat: Ibadah sejati adalah melakukan perintah Allah tanpa perlu mempertanyakan “mengapa” dengan logika yang merendahkan pihak lain.

  • Bahaya Menilai dari Luar: Iblis hanya melihat tanah pada diri Adam, namun ia gagal melihat ruh dan ilmu yang Allah tiupkan ke dalamnya. Janganlah kita meremehkan seseorang hanya dari penampilan fisiknya.

Pelajaran Kesabaran Nabi Nuh AS Ditolak 950 Tahun

Pelajaran Kesabaran Nabi Nuh AS Ditolak 950 Tahun

Kesabaran Nabi Nuh AS adalah salah satu teladan paling luar biasa dalam sejarah kenabian yang menjadi bukti kuat mengapa beliau digelari sebagai Nabi Ulul Azmi. Menghadapi penolakan, hinaan, dan pembangkangan kaumnya selama hampir satu milenium bukanlah hal mudah, namun beliau tetap teguh berdiri di jalan dakwah tanpa rasa putus asa.

Kisah beliau bukan sekadar sejarah, melainkan panduan bagi kita saat ini untuk menghadapi berbagai tekanan hidup. Berikut adalah beberapa poin mendalam yang bisa kita ambil dari perjuangan beliau.

1. Konsistensi Tanpa Batas (950 Tahun Berdakwah)

Al-Qur’an mencatat bahwa Nabi Nuh AS tinggal di tengah kaumnya selama 950 tahun. Sepanjang waktu itu, beliau tidak pernah berhenti mengajak manusia kepada kebenaran. Bayangkan, berapa generasi yang beliau hadapi?

Kesabaran Nabi Nuh AS dalam menjaga konsistensi (istiqomah) mengajarkan kita bahwa keberhasilan sejati bukanlah tentang seberapa cepat kita mencapai garis akhir, melainkan seberapa setia kita pada proses yang benar meskipun dunia seakan melawan kita.

Baca juga: Cara Tazkiyatun Nafs: Langkah Praktis Menuju Hati yang Tenang

2. Menghadapi Hinaan dengan Keteguhan Hati

Ujian Nabi Nuh bukan hanya soal waktu, tetapi juga soal perlakuan kaumnya. Ketika beliau membangun bahtera (kapal besar) di puncak bukit yang gersang atas perintah Allah, kaumnya mengejek beliau sebagai orang gila.

Bagaimana tanggapan beliau? Beliau tidak membalas dengan kemarahan yang meluap-luap, melainkan dengan keteguhan iman. Kesabaran Nabi Nuh AS menunjukkan bahwa fokus pada tujuan (perintah Allah) jauh lebih penting daripada mendengarkan cemoohan orang-orang yang tidak memahami visi kita.

gambar kapal nabi nuh nabi ulul azmi di tengah laut badai
Ilustrasi kapal nabi nuh (sumber: freepik)

3. Rahasia Sabar: Memisahkan Usaha dan Hasil

Salah satu alasan mengapa kita mudah menyerah adalah karena kita merasa “memiliki” hasil. Nabi Nuh AS memahami bahwa tugas beliau hanyalah menyampaikan (tabligh). Beliau tidak merasa gagal meski pengikutnya hanya segelintir orang.

Pelajaran besarnya adalah:

  • Usaha adalah wilayah manusia (dan kita harus maksimal di sana).

  • Hasil (Hidayah) adalah wilayah Allah SWT. Dengan memisahkan keduanya, kesabaran Nabi Nuh AS tetap terjaga karena beliau tidak merasa terbebani oleh sesuatu yang berada di luar kendalinya.

4. Sabar dalam Doa dan Harapan

Meskipun menghadapi penolakan yang luar biasa, Nabi Nuh tetap mendoakan kebaikan bagi kaumnya dalam waktu yang sangat lama. Beliau baru memohon keputusan kepada Allah setelah mendapatkan wahyu bahwa tidak akan ada lagi yang beriman dari kaumnya. Ini mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru menghakimi atau menyerah pada orang lain sebelum kita memberikan usaha dan doa yang maksimal.

Baca juga: Apa Saja Manfaat Makan Sambil Duduk?

Meneladani Nabi Ulul Azmi di Masa Kini

Kisah ini bukan sekadar dongeng masa lalu. Di era modern ini, kita butuh kesabaran Nabi Nuh AS untuk menghadapi ujian karier, pendidikan, hingga masalah keluarga. Sabar bukan berarti diam dan pasrah, melainkan terus bergerak melakukan kebenaran meski dalam tekanan.

Setiap kali Anda merasa ingin menyerah karena impian Anda belum terwujud, ingatlah Nabi Nuh. Beliau menunggu ratusan tahun dengan tetap memegang palu membangun kapal di atas gurun, hingga akhirnya janji Allah berupa air bah datang menyelamatkan yang beriman.

Ulul Azmi: Gelar bagi Para Nabi dengan Kesabaran Luar Biasa

Ulul Azmi: Gelar bagi Para Nabi dengan Kesabaran Luar Biasa

Dalam sejarah kenabian, terdapat 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui oleh umat Muslim. Namun, di antara mereka, ada lima sosok istimewa yang mendapatkan gelar Ulul Azmi. Gelar ini bukan sekadar sebutan, melainkan simbol keteguhan hati dan kesabaran yang melampaui batas manusia biasa dalam menghadapi ujian dakwah.

Apa sebenarnya makna di balik gelar ini dan siapa saja sosok mulia tersebut? Mari kita simak ulasan lengkapnya.

Apa Itu Ulul Azmi?

Secara etimologi, Ulul Azmi berasal dari dua kata dalam bahasa Arab: Ulu (pemilik/orang yang memiliki) dan Al-Azmi (tekad yang kuat atau keteguhan hati).

Secara istilah, Ulul Azmi adalah gelar yang milik para rasul yang memiliki tingkat ketabahan, kesabaran, dan kegigihan yang sangat tinggi dalam menyebarkan ajaran Allah SWT, meskipun menghadapi penolakan dan ujian yang amat berat dari kaumnya.

Gelar ini disebutkan dalam Al-Qur’an, salah satunya dalam Surat Al-Ahqaf:

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati (Ulul Azmi) dari rasul-rasul…” (QS. Al-Ahqaf: 35).

Kriteria Rasul Ulul Azmi

Tidak semua rasul bergelar Ulul Azmi. Ada beberapa kriteria besar yang mereka miliki:

  1. Memiliki kesabaran yang luar biasa dalam berdakwah.

  2. Memiliki keteguhan tekad meski terancam dibunuh atau diusir.

  3. Senantiasa mendoakan kebaikan bagi kaumnya, bukan meminta azab segera turun.

  4. Membawa syariat atau kitab suci yang besar.

Daftar 5 Nabi dan Rasul Ulul Azmi

Untuk memudahkan dalam mengingat, para ulama sering menggunakan singkatan “NIMIM” (Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad). Berikut ulasan singkatnya:

1. Nabi Nuh AS

Beliau berdakwah selama hampir 950 tahun, namun pengikutnya sangat sedikit. Meski mendapat penghinaan dan tuduhan gila saat membangun bahtera (kapal besar) di atas bukit, beliau tetap sabar hingga banjir besar datang sebagai ketetapan Allah.

gambar kapal nabi nuh nabi ulul azmi di tengah laut badai
Ilustrasi kapal nabi nuh (sumber: freepik)

2. Nabi Ibrahim AS

Dikenal sebagai Khalilullah (Kekasih Allah). Keteguhannya teruji saat beliau harus berhadapan dengan Raja Namrud. Beliau mengalami pembakaran hidup-hidup (namun diselamatkan Allah), hingga perintah berat untuk menyembelih putra kesayangannya, Ismail AS.

3. Nabi Musa AS

Beliau menghadapi salah satu diktator terbesar dalam sejarah, yakni Fir’aun. Kesabaran Nabi Musa teruji tidak hanya saat menghadapi musuh, tetapi juga saat menghadapi kaumnya sendiri (Bani Israil) yang seringkali membangkang dan sulit diatur.

4. Nabi Isa AS

Nabi Isa berdakwah dengan penuh kasih sayang meski difitnah, ditolak oleh kaumnya, hingga mendapat pengkhianatan oleh muridnya sendiri. Beliau memperoleh mukjizat luar biasa seperti menghidupkan orang mati dan menyembuhkan penyakit kusta atas izin Allah.

5. Nabi Muhammad SAW

Sebagai penutup para nabi (Khatamul Anbiya), ujian beliau adalah yang paling kompleks karena berhadapan dengan berbagai suku dan karakter manusia. Beliau tidak hanya memperoleh penghinaan, tetapi juga ancaman lemparan batu di Thaif dan peperangan. Namun, beliau tetap memaafkan dan membawa rahmat bagi semesta alam (Rahmatan lil ‘Alamin).

Baca juga: Cara Mendapatkan Syafaat Rasulullah di Hari Kiamat

Hikmah Meneladani Sifat Ulul Azmi di Kehidupan Modern

Mempelajari kisah Ulul Azmi memberikan kita pelajaran berharga untuk diterapkan di masa kini:

  • Pentingnya Konsistensi (Istiqomah): Dalam mencapai cita-cita, kita butuh tekad yang tidak mudah goyah oleh kritik atau kegagalan.

  • Sabar Bukan Berarti Lemah: Sabar adalah kekuatan untuk tetap bertahan dalam kebenaran meski dalam kondisi sulit.

  • Optimisme: Seperti para nabi, kita harus yakin bahwa setiap kesulitan pasti ada jalan keluar dari Allah SWT.

Gelar Ulul Azmi adalah pengingat bagi kita bahwa ujian hidup yang kita alami tidaklah seberapa dengan perjuangan para rasul. Dengan meneladani keteguhan mereka, kita bisa menjadi pribadi yang lebih kuat dan bertaqwa.

Sudahkah kita melatih kesabaran kita hari ini?

Miss Al Muanawiyah 2025, Dari Nazila yang Pemalu Jadi Teladan

Miss Al Muanawiyah 2025, Dari Nazila yang Pemalu Jadi Teladan

Pemilihan Miss Al Muanawiyah pada puncak HSN 2025 menjadi salah satu momen paling berkesan bagi santri Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Al Muanawiyah Jombang. Acara yang digelar pada Kamis, 23 Oktober 2025 itu bukan sekadar ajang penghargaan, melainkan wadah untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan kepemimpinan di kalangan santri. Dari ajang inilah, terpilih Nazila Apriana Zahira Zulfa, santri asal Surabaya, sebagai sosok inspiratif yang membawa semangat baru bagi teman-temannya.

Perjalanan Nazila Menuju Panggung Kepercayaan Diri

Nazila mengaku awalnya sempat ragu untuk mengikuti ajang tersebut. Namun dorongan dari wakil ketua kamarnya, Mbak Oufi, membuatnya berani mencoba.

“Awalnya saya ragu, tapi akhirnya saya beranikan diri ikut,” ucapnya dengan penuh syukur.

Seleksi Miss Al Muanawiyah tidak hanya menilai penampilan. Para peserta juga harus melalui Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ) terbuka untuk juz 29 dan 30, serta ujian argumentasi seputar fiqh, aqidah, dan nahwu. Dari proses itu, para juri mencari figur santri yang tidak hanya cerdas dan berwawasan luas, tetapi juga berakhlak baik dan mampu menjadi contoh bagi sesama.

Baca juga: Pendidikan Pesantren Al Muanawiyah Siapkan Pemimpin Muslim

Santri Qurani yang Berani Tampil dan Berprestasi

Selama tiga tahun belajar di PPTQ Al Muanawiyah, Nazila telah menghafal sepuluh juz Al-Qur’an. Ia juga aktif mengikuti berbagai perlombaan, mulai dari MHQ, MSQ, hingga Cerdas Cermat Islam pada ajang Lomba Keagamaan Islam 2025. Perjalanan ini membentuknya menjadi santri yang berani, disiplin, dan pantang menyerah.

“Yang saya suka dari Al Muanawiyah adalah teman-temannya. Tidak ada circle-circle an di sini, semua berteman bersama. Itu yang membuat saya lebih percaya diri,” ungkap Nazila saat diwawancarai.

Kini, setelah menyandang gelar Miss Al Muanawiyah, ia merasa memiliki tanggung jawab baru untuk menjadi teladan di lingkungan pondok. Ia berkomitmen menjaga sikap dan menjadi inspirasi bagi teman-temannya.

gambar cerdas cermat islam lomba keagamaan islam 2025
Foto Nazila saat menjadi delegasi lomba Cerdas Cermat Islam di Lomba Keagamaan Islam 2025

Ajang yang Menumbuhkan Akhlak dan Kepemimpinan

Pengasuh pondok, Ustadz Amar, menjelaskan bahwa ajang Miss Al Muanawiyah memiliki makna berbeda dari pemilihan Miss pada umumnya. “Kami tidak menekankan pada kecantikan, tetapi pada akhlak dan wawasan santri. Karena santri adalah teladan bagi masyarakat,” ujarnya.

Dengan tagline “The Pesantren of Holding Qur’an”, PPTQ Al Muanawiyah menegaskan bahwa setiap kegiatan harus membawa nilai-nilai Al-Qur’an. Melalui kegiatan seperti Miss Al Muanawiyah, pesantren berusaha menanamkan karakter Qurani, kepemimpinan, dan kepercayaan diri pada santri di era modern.

Ingin tahu lebih banyak tentang program membangun generasi Qurani di PPTQ Al Muanawiyah?
Kunjungi website resmi Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah Jombang dan temukan inspirasi pendidikan yang menumbuhkan ilmu, akhlak, dan semangat juang santri masa kini.

Sumpah Pemuda Pesantren: Semangat Santri Menyatukan Bangsa

Sumpah Pemuda Pesantren: Semangat Santri Menyatukan Bangsa

Peringatan Sumpah Pemuda selalu menjadi momentum penting bagi seluruh elemen bangsa, termasuk kalangan pesantren. Sejak dulu, pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama, tetapi juga wadah lahirnya semangat kebangsaan. Melalui nilai keikhlasan dan perjuangan, santri membuktikan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman — nilai yang sejalan dengan makna Sumpah Pemuda Pesantren hari ini.

Akar Perjuangan Santri dalam Sejarah Kebangsaan

Dalam lintasan sejarah, santri memiliki peran besar dalam membangun kesadaran nasional. Sebelum ikrar Sumpah Pemuda dikumandangkan pada 28 Oktober 1928, para ulama dan santri telah lebih dulu menanamkan semangat persatuan melalui dakwah dan pendidikan.

Salah satu tokoh sentralnya ialah KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang. Beliau menegaskan pentingnya cinta tanah air sebagai bagian dari iman (hubbul wathan minal iman). Dua tahun sebelum Sumpah Pemuda, gagasan beliau sudah menembus sekat-sekat kedaerahan dan mengarah pada cita-cita satu bangsa dan satu tujuan.

Selain itu, KH. Wahab Hasbullah juga dikenal sebagai ulama muda yang aktif dalam pergerakan nasional. Ia menjalin komunikasi dengan para pemuda pergerakan di Surabaya seperti HOS Tjokroaminoto dan Soekarno muda. Melalui organisasi yang ia rintis — Nahdlatul Wathan dan Nahdlatut Tujjar — KH. Wahab menumbuhkan kesadaran ekonomi dan sosial di kalangan santri. Semangatnya sangat dekat dengan roh Sumpah Pemuda: bersatu dalam perbedaan.

foto tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri, KH Hasyim Asy'ari
Teladan sumpah pemuda pesantren, pendiri Nahdlatul Ulama: KH Bisri Syamsuri, KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah (sumber: pngtree)

Teladan Tokoh Pesantren Lain yang Menginspirasi

Dari Yogyakarta, KH. Ahmad Dahlan membawa pembaruan melalui Muhammadiyah. Beliau memadukan pendidikan Islam dan pengetahuan umum agar umat Islam siap menghadapi tantangan zaman. Ajarannya mendorong pemuda Islam menjadi cerdas, terbuka, dan berjiwa sosial.
Begitu pula KH. Mas Mansur, tokoh santri sekaligus nasionalis yang menjadi anggota Empat Serangkai bersama Soekarno dan Hatta. Ia menjadi jembatan antara kaum santri dan gerakan kebangsaan modern, menanamkan nilai toleransi dan tanggung jawab sosial di tengah masyarakat.

Pesantren dan Sumpah Pemuda di Era Kini

Kini, semangat Sumpah Pemuda Pesantren terus tumbuh di berbagai lembaga Islam, termasuk di PPTQ Al Muanawiyah Jombang. Para santri tidak hanya belajar Al-Qur’an, tetapi juga mengembangkan wawasan kebangsaan dan kepemimpinan. Melalui kegiatan keorganisasian dan kreativitas, mereka belajar untuk bersatu, berjuang, dan berkontribusi bagi negeri.

Sebagaimana para ulama dahulu memperjuangkan kemerdekaan, santri masa kini pun ditantang menjaga kemerdekaan dengan ilmu, akhlak, dan solidaritas.
Dari pesantren, semangat persatuan itu terus menyala — meneguhkan bahwa santri adalah pewaris nilai Sumpah Pemuda yang sejati.

Perjuangan Syurti Menjadi Penghafal Al-Qur’an di Tengah Sakit

Perjuangan Syurti Menjadi Penghafal Al-Qur’an di Tengah Sakit

Suasana haru menyelimuti PPTQ Al Muanawiyah Jombang pada Sabtu, 25 Oktober 2025. Hari itu, Ulfa Malikhatul Azizah, santri asal Ngawi yang akrab disapa Mbak Syurti, resmi menuntaskan setoran hafalan Al-Qur’annya. Ia menjadi santri ke-15 yang khatam Al-Qur’an di PPTQ Al Muanawiyah, menorehkan jejak manis di tengah perjuangan panjang yang penuh ujian.

Perjalanan hafalannya tidak mudah. Mbak Syurti mulai menjadi santri di PPTQ Al Muanawiyah sejak tahun 2021. Sebelumnya, ia telah menimba ilmu di pondok lain dengan fokus pada kitab kuning. Namun, pada tahun 2023, kesehatannya sempat menurun hingga ia harus pulang ke kampung halaman di Ngawi selama beberapa bulan. Meski begitu, semangatnya tidak pernah padam. Di awal tahun 2024, ia kembali ke pondok dengan tekad baru untuk menyelesaikan hafalannya.

foto santri putri sedang setoran hafaln Al Qur'an ke guru
Potret haru menyelimuti setoran terakhir Syurti di PPTQ Al Muanawiyah Jombang

Peran Keluarga Bagi Penghafal Al-Qur’an

Dukungan keluarga menjadi bagian penting dari perjalanannya. Keluarga Mbak Syurti dikenal sebagai keluarga penghafal Al-Qur’an. Ibunya seorang hafidzah, dan adiknya juga tengah menempuh jalan yang sama. Di rumah mereka berdiri sebuah musholla kecil dan TPQ, tempat masyarakat sekitar belajar membaca dan mencintai Al-Qur’an. Dari sanalah, nilai istiqamah dan kecintaan terhadap kalam Allah tumbuh dalam dirinya.

Menjadi penghafal Al-Qur’an bukan sekadar mengingat ayat, tetapi juga menanamkan maknanya dalam hati dan perilaku. Perjalanan Mbak Syurti mengingatkan bahwa setiap ujian hanyalah bagian dari proses menuju kemuliaan. Di saat tubuh lemah, ia tetap kuat karena hatinya dihidupkan oleh ayat-ayat Allah. Itulah makna sejati dari istiqamah—bertahan di jalan kebenaran meski langkah terasa berat.

Baca juga: Motivasi Menghafal Al-Qur’an: Tidak Mondok Bukan Hambatan

Kini, setelah resmi khatam, Mbak Syurti ingin terus menjaga hafalannya dan menjadi pengingat bagi teman-temannya. Ia percaya, menjaga hafalan adalah bagian dari menjaga diri dari kelalaian. “Saya ingin terus muroja’ah dan semoga bisa membantu adik-adik lain agar semangat menghafal juga,” ucapnya penuh tekad.

Semangat dan keteladanan Mbak Syurti menjadi bukti bahwa jalan penghafal Al-Qur’an adalah jalan mulia yang penuh cahaya. Siapa pun yang menapakinya akan selalu dituntun oleh keberkahan, bahkan ketika menghadapi kesulitan sekalipun.

Mari ikuti jejak para penghafal Al-Qur’an seperti Mbak Syurti. Bergabunglah bersama PPTQ Al Muanawiyah Jombang, tempat para santri menumbuhkan iman, ilmu, dan hafalan dengan penuh cinta kepada Al-Qur’an.

Teladan KH Hasyim Asy’ari Inspirasi Santri di Era Modern

Teladan KH Hasyim Asy’ari Inspirasi Santri di Era Modern

Al MuanawiyahTeladan KH Muhammad Hasyim Asy’ari dimulai dari kelahiran beliau pada 10 April 1871 di Desa Gedang, Jombang, Jawa Timur. Beliau dikenal sebagai ulama besar, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), dan penggerak kebangkitan Islam Nusantara. Sejak muda, KH Hasyim Asy’ari menimba ilmu di berbagai pesantren ternama, seperti Pesantren Wonokoyo, Pesantren Trenggilis, hingga berguru langsung kepada ulama besar di Makkah selama tujuh tahun.

Sepulangnya ke tanah air, beliau mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng pada tahun 1899. Di tempat inilah beliau mengembangkan sistem pendidikan pesantren yang menyeimbangkan ilmu agama dan wawasan sosial. KH Hasyim Asy’ari berjuang melawan kebodohan dan kolonialisme dengan cara mencerdaskan umat.

Pada masa penjajahan, beliau menjadi salah satu tokoh sentral yang menolak keras dominasi Belanda dan Jepang. Ketika Jepang berkuasa, KH Hasyim Asy’ari bahkan pernah dipenjara karena menolak melakukan seikerei (membungkuk ke arah matahari sebagai bentuk penghormatan terhadap Kaisar Jepang), yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam. Sikap tegas itu menunjukkan keteguhan aqidah dan keberanian beliau dalam mempertahankan keyakinan.

gambar petugas lapas dan beberapa orang berdiri di depan penjara
Gambar penjara yang pernah ditempati KH Hasyim Asy’ari di Lapas Mojokerto (sumber: Radar Mojokerto Jawa Pos)

Puncak perjuangan beliau terjadi pada 22 Oktober 1945. Ketika melalui fatwanya yang dikenal sebagai Resolusi Jihad, KH Hasyim Asy’ari menyerukan kewajiban umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman penjajah. Seruan inilah yang kemudian menggerakkan para santri, kiai, dan pejuang rakyat untuk terlibat dalam pertempuran melawan pasukan Belanda di Surabaya.

Peristiwa heroik itu menjadi dasar penetapan Hari Santri Nasional oleh pemerintah pada tahun 2015, sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa ulama dan santri dalam perjuangan kemerdekaan.

Baca juga: Sejarah Sarung yang Jadi Simbol Hari Santri

Relevansi Teladan KH Hasyim Asy’ari di Era Modern

Teladan KH Hasyim Asy’ari tidak hanya relevan di masa perang, tetapi juga di masa kini. Beliau menanamkan tiga nilai utama kepada para santri: ilmu, akhlak, dan keikhlasan. Nilai-nilai inilah yang harus dihidupkan kembali di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi.

Santri masa kini menghadapi tantangan baru berupa krisis moral, arus informasi digital tanpa batas, serta melemahnya semangat kebersamaan. Dalam situasi ini, semangat jihad ilmu ala KH Hasyim Asy’ari menjadi pedoman. Beliau mengajarkan bahwa santri sejati bukan hanya cerdas, tetapi juga harus berakhlak dan bertanggung jawab sosial.

Pesantren hari ini perlu meniru model pendidikan Tebuireng yang integratif: menanamkan nilai agama sekaligus membekali keterampilan menghadapi zaman. Dengan semangat itu, santri tidak hanya menjaga agama, tetapi juga berperan aktif membangun bangsa melalui dunia pendidikan, ekonomi, teknologi, dan sosial kemasyarakatan.

Baca juga: Pentingnya Adab Sebelum Ilmu di Era Digital

Menjadi Santri Kuat dan Tangguh di Era Baru

Perjuangan KH Hasyim Asy’ari adalah inspirasi abadi. Santri era modern harus meneruskan jejak perjuangan ulama terdahulu — memperjuangkan kebenaran, memperdalam ilmu, dan menjaga moral bangsa.

Menjadi santri hari ini berarti siap menghadapi dunia global dengan iman yang kokoh dan semangat belajar tanpa henti. Seperti KH Hasyim Asy’ari yang menolak tunduk pada penjajah, santri modern pun tidak boleh tunduk pada penjajahan gaya baru: kebodohan, kemalasan, dan degradasi akhlak.

Mari jadikan semangat beliau sebagai sumber kekuatan. Karena selama semangat KH Hasyim Asy’ari hidup di dada santri, maka perjuangan Islam dan kemerdekaan akan terus berlanjut. Bukan lagi di medan perang, melainkan di medan ilmu dan amal.

Ketaatan Prajurit Ali bin Abi Thalib di Perang Khaibar

Ketaatan Prajurit Ali bin Abi Thalib di Perang Khaibar

Latar Belakang Sejarah Perang Khaibar

Perang Khaibar adalah salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam yang menceritakan ketaatan prajurit. Perang ini terjadi pada tahun 7 Hijriah, setelah Perjanjian Hudaibiyah. Khaibar merupakan sebuah daerah subur di utara Madinah yang dipenuhi dengan benteng-benteng kokoh milik kaum Yahudi. Kaum Muslimin memandang pentingnya menaklukkan Khaibar karena wilayah tersebut menjadi basis kekuatan musuh yang sering melakukan provokasi dan ancaman terhadap umat Islam di Madinah.

Pada saat itu, pasukan Muslim yang dipimpin langsung oleh Rasulullah ﷺ berjumlah sekitar 1.400 orang. Mereka menghadapi musuh dengan persenjataan lengkap serta pertahanan yang sangat kuat. Di sinilah muncul sebuah kisah yang menggambarkan bukan hanya keberanian, tetapi juga ketaatan prajurit sejati dalam menjalankan perintah Rasulullah ﷺ.

Seorang prajurit berjenggot mengenakan baju perang hitam, tersenyum dengan penuh semangat, menggambarkan ketaatan prajurit muslim dalam sejarah pertempuran.
Ilustrasi ketaatan prajurit yang menunjukkan senyum semangat (foto: freepik)

Perang Khaibar dan Penunjukan Ali bin Abi Thalib

Dalam perjalanan perang, Rasulullah ﷺ menyampaikan sabdanya: “Sungguh, besok aku akan memberikan panji ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah serta Rasul-Nya pun mencintainya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keesokan harinya, panji itu diberikan kepada Ali bin Abi Thalib. Pada waktu itu, beliau sedang sakit mata. Rasulullah ﷺ kemudian meludahi mata Ali dan dengan izin Allah, sakitnya langsung sembuh. Dengan semangat dan iman yang kokoh, Ali menerima tugas besar tersebut untuk memimpin pasukan menghadapi benteng Khaibar.

Keberanian dan Ketangguhan Ali

Ali bin Abi Thalib tidak hanya menunjukkan keteguhan hati, tetapi juga kekuatan fisik yang luar biasa. Beliau mampu merobohkan pintu benteng Khaibar yang beratnya tidak mampu diangkat oleh banyak orang sekalipun. Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa keberanian dan keimanan dapat melahirkan kekuatan yang tidak terbayangkan.

Baca juga: Abdullah bin Ummi Maktum, Teladan Semangat dan Ketaatan

Nilai Ketaatan Prajurit dalam Islam

Kisah Ali bin Abi Thalib di Perang Khaibar adalah contoh yang sangat jelas tentang ketaatan prajurit. Ia tidak meragukan perintah Rasulullah ﷺ, meski kondisi dirinya tidak prima. Ketaatan ini membawanya pada kemenangan besar, sekaligus menjadi teladan sepanjang masa.

Pelajaran Bagi Generasi Kini

Nilai-nilai ketaatan dan disiplin dari kisah ini relevan sepanjang zaman. Dalam kehidupan modern, kita bisa meneladani sikap Ali dengan menaati aturan, menghormati pemimpin, serta tetap sabar dan teguh dalam menghadapi cobaan. Dengan demikian, setiap Muslim dapat menjadi “prajurit” dalam perjuangan hidupnya masing-masing.

Baca juga: Mengapa Tradisi Keilmuan Salaf Tetap Relevan di Era Digital

Dalil Tentang Ketaatan

Allah ﷻ berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 59:

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri di antara kamu…”

Ayat ini menjadi dasar penting bahwa ketaatan seorang Muslim, termasuk prajurit di medan perang, adalah bagian dari ibadah yang mendatangkan ridha Allah.

Peristiwa Perang Khaibar menunjukkan bahwa kemenangan bukan hanya ditentukan oleh strategi dan kekuatan fisik, tetapi juga oleh iman dan ketaatan. Kisah Ali bin Abi Thalib menjadi teladan agung bahwa prajurit sejati adalah mereka yang tunduk penuh kepada Allah dan Rasul-Nya. Semoga semangat ini dapat menginspirasi kita untuk lebih disiplin, taat, dan teguh dalam menghadapi perjuangan hidup sehari-hari.

Sedekah Abu Bakar dan Umar di Perang Tabuk

Sedekah Abu Bakar dan Umar di Perang Tabuk

Dalam sejarah Islam, banyak kisah inspiratif tentang keikhlasan sahabat Nabi ﷺ dalam berinfak di jalan Allah. Salah satunya adalah peristiwa yang terjadi menjelang Perang Tabuk, ketika Rasulullah ﷺ menyeru kaum muslimin untuk bersedekah demi mendukung perjuangan. Pada saat itulah tercatat kisah mulia tentang sedekah Abu Bakar dan Umar.

sedekah harta rampasan perang, harta karun. kisah sedekah Umar bin Khattab dan Abu Bakar di Perang Tabuk
Ilustrasi sedekah harta perang Sayyidina Umar dan Abu Bakar (gambar hanya ilustrasi. foto: freepik)

 

Kisah Sedekah Abu Bakar dan Umar

Ketika Rasulullah ﷺ mengajak para sahabat untuk memberikan harta mereka, Umar bin Khattab r.a. datang dengan membawa setengah dari hartanya. Rasulullah ﷺ kemudian bertanya, “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu, wahai Umar?” Umar menjawab, “Aku tinggalkan sebanyak yang kubawa.”

Tak lama kemudian, Abu Bakar r.a. pun datang dengan membawa seluruh hartanya. Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya, “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu, wahai Abu Bakar?” Ia menjawab, “Aku tinggalkan Allah dan Rasul-Nya.”

Kedua sahabat mulia ini memperlihatkan bagaimana kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya mampu mendorong mereka untuk bersedekah dengan penuh keikhlasan.

Pondok Quran Almuanawiyah Jombang

Sedekah Melipatgandakan Kebaikan

Allah berfirman:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 261).

Allah ﷻ dalam surah Al-Baqarah ayat 261 menjelaskan bahwa sedekah ibarat menanam sebutir biji yang tumbuh menjadi tujuh bulir, dan setiap bulir berisi seratus biji. Artinya, satu amal kebaikan bisa dilipatgandakan hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan lebih sesuai kehendak Allah.

Ayat ini memberi isyarat bahwa harta yang kita keluarkan tidak akan hilang, melainkan justru berkembang menjadi pahala yang berlipat ganda. Sama seperti benih yang ditanam di tanah subur, ia akan tumbuh dan memberi hasil yang berlimpah. Maka, sedekah tidak mengurangi harta, tetapi menambah keberkahan hidup di dunia dan akhirat.

Baca juga: Cerita Teladan Sedekah dari Ummu Umarah

Kisah sedekah Abu Bakar dan Umar dalam Perang Tabuk menjadi teladan bagi umat Islam untuk senantiasa berinfak di jalan Allah sesuai dengan kemampuan masing-masing. Semangat mereka adalah cermin bahwa harta yang kita miliki sesungguhnya hanyalah titipan, dan pengorbanan di jalan Allah akan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda.

Mari kita lanjutkan semangat kedermawanan para sahabat dengan mendukung pendidikan Islam. Melalui program Wakaf Pendidikan Al Muanawiyah, setiap rupiah yang kita sisihkan akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Bergabunglah bersama para pewakaf, insyaAllah menjadi bekal terbaik menuju akhirat.

Sa’ad bin Ubadah yang Terkenal Karena Kedermawanannya

Sa’ad bin Ubadah yang Terkenal Karena Kedermawanannya

Sa’ad bin Ubadah atau Abu Tsabit adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang dikenal luas karena kedermawanannya. Beliau berasal dari kaum Anshar, tepatnya dari Bani Khazraj, dan menjadi pemimpin yang disegani di Madinah. Nama lengkapnya adalah Sa’ad bin Ubadah bin Dulaim bin Haritsah Al-Khazraji. Sejak masuk Islam, Sa’ad selalu menggunakan harta, tenaga, dan ilmunya untuk mendukung perjuangan Rasulullah ﷺ.

Sa’ad bin Ubadah dan Kedermawanannya

Setiap hari, Sa’ad membawa semangkuk besar tsarid (roti yang diremukkan lalu dicampur dengan kuah daging) kepada Rasulullah ﷺ. Hidangan itu kemudian dibagikan bersama Nabi kepada para istri beliau. Kebiasaan ini menunjukkan betapa besar kepedulian Sa’ad kepada Rasulullah dan keluarganya.

Kedermawanannya begitu terkenal hingga rumah Sa’ad selalu menjadi tempat persinggahan kaum Muhajirin. Jika rumah seorang Anshar biasanya hanya menampung beberapa tamu, maka rumah Sa’ad bisa menampung hingga 80 orang Muhajirin sekaligus, dan semuanya mendapatkan jamuan terbaik. Hal ini membuktikan bahwa Sa’ad tidak sekadar membantu dengan harta, tetapi juga dengan hati yang ikhlas.

gambar muslim makan bersama ilustrasi kedermawanan sa'ad bin ubadah
Ilustrasi kedermawanan Sa’ad bin Ubadah (foto: freepik)

Rasulullah ﷺ bahkan mendoakan khusus untuk keluarga Sa’ad dengan doa:

اللَّهُمَّ اجعَلْ صلَواتِكَ ورَحمتَكَ على آلِ سعد بنِ عُبادَةَ
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan rahmat-Mu kepada keluarga Sa’ad bin Ubadah.” (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Baca juga: Teladan Sedekah dari Kedermawanan Asma’ binti Abu Bakar

Kepribadian

Selain dermawan, Sa’ad juga dikenal sebagai pribadi yang ghayyur (pencemburu dalam kebaikan). Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ سَعْدًا غَيُورٌ ، وَأَنَا غَيُورٌ ، وَاللَّهُ أَغْيَرُ مِنِّي
“Sa’ad itu pencemburu, aku lebih pencemburu darinya, dan Allah lebih pencemburu dariku.” (HR Muslim).

Ia juga seorang yang cerdas, pandai menulis, mahir berenang, dan jago memanah. Karena keunggulannya ini, ia diberi gelar al-kamil (yang sempurna). Dalam peperangan, Rasulullah ﷺ selalu memberi baiat bahwa Sa’ad akan berjuang sampai titik darah penghabisan.

Warisan Teladan

Kedermawanannya bukan hanya tentang berbagi makanan, tetapi juga menunjukkan betapa pentingnya mendukung perjuangan Islam dengan segala yang dimiliki. Beliau memberikan teladan bahwa sedekah harta menjadi mulia ketika digunakan untuk menolong agama Allah dan menyejahterakan sesama.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa kedermawanan adalah amalan yang abadi, tidak hanya menolong sesama di dunia tetapi juga menjadi tabungan di akhirat. Semangat beliau dalam memberi dan mendukung perjuangan Rasulullah ﷺ bisa kita teladani dengan cara berbagi sesuai kemampuan kita.

Salah satu bentuk nyata adalah mendukung wakaf pendidikan di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah Jombang. Dengan berpartisipasi, kita ikut mencetak generasi Qur’ani yang cerdas, berakhlak, dan siap menjadi pejuang Islam di masa depan. Mari meneladani kedermawanan Sa’ad bin Ubadah dengan menyalurkan harta di jalan Allah.

Referensi Amalan Saad bin Ubadah yang Memicu Doa Rasulullah SAW | Republika Online