Arti Takabur dan Bahaya Kesombongan bagi Manusia

Arti Takabur dan Bahaya Kesombongan bagi Manusia

Dalam ajaran akhlak Islam, kita sering mendengar istilah penyakit hati yang sangat berbahaya, yaitu takabur. Memahami arti takabur bukan sekadar mengetahui definisinya secara bahasa, melainkan menyadari bagaimana sifat ini dapat merusak amal ibadah seseorang dalam sekejap. Sifat ini sering kali muncul tanpa sadar ketika seseorang merasa memiliki kelebihan daripada orang lain, baik itu berupa harta, kecantikan, jabatan, maupun ilmu agama. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk mengenali hakikat sifat ini agar senantiasa rendah hati di hadapan Sang Pencipta.

Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai makna takabur berdasarkan perspektif syariat dan dalil-dalil yang mendasarinya.

Definisi dan Arti Takabur secara Istilah

Secara bahasa, arti takabur berasal dari kata akbara yang berarti merasa besar atau merasa hebat. Namun, definisi yang paling akurat menurut syariat termaktub dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Beliau bersabda:

“Takabur adalah menolak kebenaran (batarul haqq) dan meremehkan manusia (ghamtun naas).”

Berdasarkan hadis tersebut, takabur memiliki dua pilar utama. Pertama, seseorang termasuk takabur jika ia dengan sengaja menolak nasihat atau kebenaran hanya karena merasa orang yang menyampaikannya lebih rendah darinya. Kedua, ia memandang rendah orang lain dan merasa dirinya jauh lebih mulia. Jadi, seseorang yang merasa dirinya besar namun tidak meremehkan orang lain mungkin hanya memiliki rasa percaya diri, tetapi jika sudah mulai menghina sesama, maka ia telah jatuh ke dalam lubang takabur.

gambar bullying contoh arti takabur dan sombong
Contoh sifat takabur atau sombong, bullying (sumber: freepik)

Dalil Larangan Bersikap Takabur dalam Al-Qur’an

Allah SWT sangat membenci hamba-Nya yang memiliki sifat sombong karena sejatinya keagungan hanyalah milik-Nya semata. Dalam Al-Qur’an, Allah memberikan peringatan keras mengenai arti takabur dan konsekuensinya bagi penghuni akhirat. Salah satunya terdapat dalam Surat Luqman ayat 18:

“Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”

Ayat ini secara eksplisit melarang gerak-gerik fisik yang menunjukkan keangkuhan, seperti memalingkan muka saat berbicara atau berjalan dengan langkah yang berlebihan agar terlihat hebat. Penegasan ini menunjukkan bahwa agama Islam sangat memperhatikan adab lahiriah sebagai cerminan dari kesucian batin. Seseorang yang memahami arti takabur melalui ayat ini tentu akan lebih berhati-hati dalam bersikap kepada siapa pun tanpa memandang status sosial.

Baca juga: Bahaya Banyak Tidur Bagi Hati Menurut Islam

Bahaya dan Ancaman bagi Orang yang Takabur

Memahami arti takabur juga berarti memahami ancaman yang menyertainya. Sifat ini merupakan penghalang utama bagi seseorang untuk memasuki surga Allah. Rasulullah SAW memberikan peringatan yang sangat menggetarkan hati dalam sebuah hadis:

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan (takabur) meskipun hanya sebesar biji sawi.” (HR. Muslim).

Mengapa ancamannya begitu berat? Hal ini karena takabur adalah sifat yang membuat seseorang merasa “setara” atau bahkan mencoba merampas sifat keagungan yang hanya pantas dimiliki oleh Allah. Takabur pulalah yang dahulu menyebabkan Iblis terusir dari surga, meskipun ia telah beribadah selama ribuan tahun. Oleh karena itu, bagi para penuntut ilmu, termasuk para santri, hendaknya menjaga hati agar tidak takabur atas ilmunya.

Baca juga: Kisah Iblis yang Sombong, Menolak Sujud Kepada Nabi Adam

Kesimpulannya, arti takabur adalah penyakit hati yang merusak hubungan manusia dengan Tuhannya dan sesama makhluk. Dengan menolak kebenaran dan meremehkan orang lain, seseorang sebenarnya sedang menghancurkan pondasi amalnya sendiri. Melalui pemahaman dalil-dalil di atas, mari kita berusaha untuk selalu rendah hati (tawadhu) dalam setiap keadaan. Semoga Allah menjauhkan kita dari benih-benih kesombongan dan menghiasi hati kita dengan sifat mulia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *