Sejarah awal perkembangan Islam didominasi oleh strategi pertempuran darat di wilayah padang pasir yang luas. Namun, seiring meluasnya wilayah kekuasaan Islam ke Romawi dan Persia, tantangan geopolitik baru mulai muncul dari wilayah perairan. Oleh karena itu, Khalifah ketiga mengambil langkah geopolitik yang sangat besar demi melindungi wilayah kedaulatan muslim. Pembentukan armada laut Utsman bin Affan menjadi titik balik penting yang mengubah peta kekuatan militer di laut Mediterania.
Sebelum masa kekhalifahan Utsman, umat Islam sama sekali belum memiliki kekuatan militer di sektor kelautan karena larangan dari Khalifah Umar bin Khattab.

Asal-Usul Pembentukan Armada Laut Muslim Pertama
Gagasan mengenai pembuatan armada laut ini sebenarnya sudah muncul sejak masa kepemimpinan Umar bin Khattab. Muawiyah bin Abi Sufyan, yang saat itu menjabat sebagai gubernur Syam, melihat langsung ancaman serangan balik kekaisaran Bizantium (Romawi) melalui jalur laut. Meskipun demikian, Umar bin Khattab menolak usulan tersebut karena beliau sangat mengkhawatirkan keselamatan pasukan muslim yang belum terbiasa dengan medan lautan.
Setelah Utsman bin Affan naik menjadi khalifah, Muawiyah kembali mengajukan permohonan izin untuk membangun kapal perang. Selanjutnya, Utsman memberikan izin tersebut dengan satu syarat yang sangat ketat. Beliau melarang Muawiyah memaksa kaum muslimin untuk naik ke kapal, melainkan hanya merekrut pasukan yang mengajukan diri secara sukarela. Dengan demikian, proyek pembangunan galangan kapal pertama di wilayah Syam dan Mesir resmi berjalan untuk memproduksi kapal-kapal militer.
Baca juga: Kontribusi Khulafaur Rasyidi dalam Perkembangan Islam
Nubuwat Rasulullah SAW Mengenai Perang Laut Pertama
Menariknya, pembentukan armada laut Utsman bin Affan ini merupakan wujud nyata dari nubuwat Rasulullah SAW jauh sebelum peristiwa itu terjadi. Sebagaimana tercatat dalam buku Utsman bin Affan karya Abdul Syukur Al Azizi, dikutip dari laman Republika.
Nabi Muhammad SAW pernah tidur siang di rumah seorang sahabat perempuan bernama Ummu Haram binti Milhan. Setelah terbangun sambil tersenyum, Rasulullah SAW bersabda:
“Beberapa orang dari umatku diperlihatkan kepadaku berperang di jalan Allah, mereka mengarungi lautan ini seperti para raja di atas singgasana.”
Ummu Haram kemudian meminta Nabi SAW untuk mendoakannya agar menjadi bagian dari pasukan tersebut, dan Nabi SAW mengiyakannya. Faktanya, sejarah mencatat bahwa Ummu Haram wafat saat ikut serta dalam ekspansi laut pertama ke pulau Siprus pada masa kekhalifahan Utsman.
Kontribusi Besar Bagi Perkembangan dan Pertahanan Islam
Kehadiran kekuatan maritim ini memberikan kontribusi yang sangat masif bagi stabilitas kekhalifahan Islam pada masa itu:
-
Penaklukan Strategis Pulau Siprus (28 H / sekitar 648-649 M)
Armada ini berhasil menguasai pulau Siprus yang selama ini menjadi pangkalan militer utama bagi pasukan Romawi untuk menyerang wilayah Syam.
-
Kemenangan Besar dalam Perang Dzatus Sawari (35 H / 655 M)
Ini adalah pertempuran laut terbesar pertama dalam sejarah Islam. Pasukan muslim menghadapi ratusan kapal perang Bizantium dan berhasil memenangkan pertempuran di laut Mediterania.
-
Melindungi Wilayah Pesisir Islam secara Total
Kehadiran armada ini berhasil menghentikan dominasi total kekaisaran Romawi di laut. Sehingga wilayah Mesir, Syam, dan Tripoli menjadi aman dari invasi mendadak.
Baca juga: Keteladanan Sunan Muria dalam Sejarah Dakwah Nusantara
Pembentukan armada laut Utsman bin Affan membuktikan bahwa para sahabat nabi memiliki pemikiran taktis yang sangat adaptif terhadap perkembangan zaman. Langkah berani ini berhasil mengamankan wilayah dakwah Islam dari ancaman luar serta mewujudkan nubuwat Rasulullah SAW secara presisi. Mempelajari sejarah maritim ini memberikan kita fkesadaran bahwa kemajuan peradaban Islam dapat tercapai melalui perencanaan matang dan keberanian mengambil keputusan strategis.




