Sejarah Shafa dan Marwah menyimpan berbagai peristiwa penting dalam perjalanan dakwah Islam. Kedua bukit ini tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan sa’i dalam ibadah haji dan umrah. Keduanya juga menyaksikan perjuangan Siti Hajar, dakwah Rasulullah SAW, hingga peristiwa pembebasan Kota Makkah.
Bukit Shafa dan Marwah terletak di kawasan Masjidil Haram, Makkah. Jarak antara keduanya sekitar 400 meter. Selain menjadi bagian dari rangkaian manasik, kedua bukit ini mengingatkan umat Islam tentang keteguhan iman, perjuangan, dan pertolongan Allah kepada hamba-Nya.
Shafa dan Marwah sebagai Syiar Allah
Allah SWT menyebut Shafa dan Marwah sebagai bagian dari syiar-Nya dalam Al-Qur’an, tepatnya Surah Al-Baqarah ayat 158.
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ
“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah”.
Ayat tersebut menegaskan kedudukan kedua bukit dalam ajaran Islam. Jamaah haji dan umrah menjalankan sa’i dengan berjalan dari Shafa menuju Marwah sebanyak tujuh perjalanan. Ibadah ini juga mengenang perjuangan Siti Hajar ketika mencari air untuk putranya, Nabi Ismail AS.
Namun, sejarah Shafa dan Marwah tidak berhenti pada kisah sa’i. Suara Muslim mencatat sejumlah peristiwa lain yang memperlihatkan peran Bukit Shafa dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW.
1. Rasulullah Memulai Dakwah Terbuka dari Bukit Shafa
Bukit Shafa menjadi salah satu tempat penting dalam dakwah Rasulullah SAW. Ketika Allah menurunkan Surah Asy-Syu’ara ayat 214 yang memerintahkan beliau memberi peringatan kepada kerabat terdekat, Rasulullah naik ke Bukit Shafa.
Beliau menyeru kaum Quraisy agar beriman kepada Allah, menerima risalah Islam, dan mengingat hari akhir. Rasulullah juga memperingatkan mereka tentang azab neraka. Peristiwa ini menunjukkan keberanian beliau menyampaikan kebenaran secara terbuka, meskipun menghadapi penolakan dari kaumnya.
2. Kaum Quraisy Menantang Rasulullah
Peristiwa berikutnya berkaitan dengan tantangan kaum Quraisy kepada Rasulullah SAW. Mereka meminta beliau memohon kepada Allah agar Bukit Shafa berubah menjadi emas. Mereka menyatakan akan beriman jika Allah mengabulkan permintaan tersebut.
Dalam artikel Suara Muslim, riwayat dari Ibnu Abbas RA menceritakan peristiwa ini:
“Orang-orang Quraisy datang kepada Nabi dan berkata: ‘Mohonlah kepada Tuhanmu agar menjadikan bukit Shafâ ini emas bagi kami, sehingga kami akan beriman.’ ‘Apakah kalian akan melakukannya?’, timpal Rasulullah. Lalu mereka menjawab: ‘Iya’. Kata Ibnu Abbas, setelah itu Nabi memohon sehingga datanglah Malaikat Jibril sambil berkata: ‘Sesungguhnya Tuhanmu memberi salam kepadamu. Jika Aku menghendakinya, niscaya dijadikannya bukit Shafa itu emas buat mereka.
Dan barangsiapa dari mereka ingkar setelah itu, maka Aku akan menyiksanya dengan siksa yang belum pernah Aku timpakan kepada seluruh alam raya ini. Dan jika Aku menghendaki, niscaya Aku bukakan bagi mereka pintu taubat dan rahmat.’ Lalu Nabi Menjawab: ‘Aku ingin pintu taubat dan rahmat’.”
Suara Muslim juga menghubungkan peristiwa ini dengan Surah Al-Isra’ ayat 59. Berikut terjemahan yang dicantumkan dalam rujukan tersebut:
“Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu.”
Kisah ini mengingatkan umat Islam agar tidak menjadikan mukjizat sebagai alasan untuk terus menunda keimanan. Sebaliknya, manusia perlu membuka hati terhadap kebenaran dan menggunakan kesempatan untuk bertobat.
3. Abu Jahal Menyakiti Rasulullah di Bukit Shafa
Bukit Shafa juga menjadi saksi perlakuan buruk Abu Jahal terhadap Rasulullah SAW. Suatu ketika, Abu Jahal melewati Rasulullah di kawasan Shafa. Ia kemudian menyakiti dan memukul kepala beliau dengan batu hingga terluka dan mengeluarkan darah.
Ketika Hamzah bin Abdul Muthalib mengetahui kejadian tersebut, ia segera mendatangi Abu Jahal. Saat itu, Abu Jahal berada di Nadi, yaitu tempat perkumpulan kaum Quraisy di dekat Ka’bah.
Hamzah menyatakan keberpihakannya kepada Rasulullah dan membalas tindakan Abu Jahal dengan memukulnya menggunakan busur panah hingga terluka. Peristiwa ini menggambarkan beratnya tantangan yang Rasulullah hadapi ketika menyampaikan ajaran Islam di Makkah.
4. Bukit Shafa Menjadi Tempat Berkumpul saat Pembebasan Makkah
Setelah dakwah Islam berkembang, Rasulullah SAW kembali ke Makkah untuk membebaskan kota tersebut. Beliau mengarahkan Khalid bin Walid beserta pasukannya memasuki Makkah melalui dataran rendah.
Dalam rangkaian peristiwa itu, kaum Muslim berkumpul di Bukit Shafa. Ketika melihat mereka berkumpul, Rasulullah bersabda, “Tempat kumpul kalian ialah Shafa”.
Peristiwa ini memperlihatkan perubahan besar dalam perjalanan dakwah Islam. Kawasan yang dahulu menyaksikan tekanan terhadap kaum Muslim kemudian menjadi tempat berkumpulnya pasukan Muslim saat pembebasan Makkah.

5. Rasulullah Berdoa di Bukit Shafa setelah Thawaf
Setelah pembebasan Makkah, Rasulullah SAW mencium Hajar Aswad dan mengelilingi Ka’bah untuk melaksanakan tawaf. Setelah menyelesaikan tawaf, beliau menuju Bukit Shafa dan naik ke atasnya hingga dapat melihat Ka’bah.
Di sana, Rasulullah mengangkat kedua tangan, memuji Allah, dan memanjatkan doa. Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana beliau mengisi momen penting dengan zikir dan doa kepada Allah.
Bagi umat Islam, kisah tersebut menjadi pengingat untuk tidak melupakan doa ketika memperoleh pertolongan atau mencapai keberhasilan. Seorang Muslim tetap perlu bersyukur dan menggantungkan harapan kepada Allah dalam setiap keadaan.
6. Rasulullah Menyerukan Pemberian Maaf dan Keamanan
Bukit Shafa juga berkaitan dengan pesan Rasulullah SAW tentang perlakuan terhadap penduduk Makkah setelah pembebasan kota. Beliau berdiri di atas bukit tersebut dan menyampaikan arahan kepada pasukan Muslim mengenai cara memperlakukan penduduk setempat.
Peristiwa ini menjadi bagian penting dari sejarah pembebasan Makkah. Kemenangan tidak hanya menandai berakhirnya penindasan terhadap kaum Muslim, tetapi juga menghadirkan kesempatan untuk menunjukkan akhlak dalam menghadapi pihak yang dahulu memusuhi mereka.
Karena itu, peristiwa di Bukit Shafa mengajarkan bahwa kekuatan tidak seharusnya mendorong seseorang bertindak sewenang-wenang. Sebaliknya, seorang Muslim perlu mengutamakan keadilan dan menjaga perilaku ketika menghadapi orang lain.
7. Penduduk Makkah Berbaiat dan Masuk Islam
Setelah pembebasan Makkah, Bukit Shafa menjadi saksi peristiwa masuk Islamnya sejumlah penduduk yang dahulu memusuhi Rasulullah SAW. Mereka berkumpul di sekitar Shafa untuk berbaiat, mengakui keesaan Allah, dan menerima risalah yang beliau bawa.
Peristiwa ini menunjukkan perubahan keadaan masyarakat Makkah setelah bertahun-tahun dakwah menghadapi penolakan. Orang-orang yang dahulu mengusir, menyakiti, dan memerangi Rasulullah akhirnya datang untuk menyatakan keislaman mereka.
Kisah tersebut juga mengingatkan umat Islam agar tidak berputus asa ketika menghadapi penolakan. Hidayah merupakan milik Allah, sedangkan manusia terus berusaha menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik.
8. Perbedaan Pendapat tentang Tempat Keluarnya Dabbah
Suara Muslim turut membahas Surah An-Naml ayat 82 yang menjelaskan keluarnya dabbah, yaitu makhluk melata dari bumi. Allah SWT berfirman:
“Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami”.
Artikel tersebut juga mengutip sabda Nabi Muhammad SAW:
“Bersegeralah dalam bekerja sebelum terbitnya matahari hingga terbenamnya, dan sebelum datangnya Dajjal dan binatang-binatang melata.”
Dalam pembahasannya, Suara Muslim menyebut beberapa pendapat tentang tempat keluarnya dabbah. Ada pendapat yang menyebut Bukit Shafa di Makkah, ada yang menunjuk Bukit Abu Qubais, dan ada pula yang mengaitkannya dengan Masjidil Haram. Artikel tersebut memandang pendapat-pendapat itu sebagai kemungkinan yang saling melengkapi dan menutup pembahasannya dengan ungkapan wallahu a’lam.
Pembahasan ini menunjukkan bahwa tidak semua informasi mengenai Shafa memiliki tingkat kepastian yang sama. Karena itu, umat Islam perlu membedakan peristiwa yang memiliki landasan riwayat jelas dari perkara yang masih mengandung perbedaan pendapat.
Hikmah dari Sejarah Shafa dan Marwah
Berbagai peristiwa di kedua bukit ini mengandung pelajaran bagi umat Islam. Kisah Siti Hajar mengajarkan ketekunan dalam berikhtiar, sedangkan dakwah Rasulullah di Shafa menunjukkan keberanian menyampaikan kebenaran. Peristiwa pembebasan Makkah juga mengingatkan pentingnya menjaga akhlak ketika memperoleh kemenangan.
Selain itu, kisah Shafa dan Marwah mengajak umat Islam untuk terus berdoa dan tidak mudah berputus asa. Usaha manusia memang penting, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam ketetapan Allah. Oleh karena itu, ikhtiar perlu berjalan bersama iman, kesabaran, dan tawakal.
Memahami sejarah Shafa dan Marwah membuat pelaksanaan sa’i memiliki makna yang lebih mendalam. Jamaah tidak hanya menjalankan rangkaian manasik, tetapi juga mengenang perjuangan para pendahulu dan mengambil pelajaran untuk kehidupan sehari-hari.
Referensi: Peristiwa–Peristiwa Penting di Shafa dan Marwah | Suara Muslim


















