Para santri baru menunjukkan antusiasme yang semakin membara pada hari kedua Masa Ta’aruf Santri Baru (MATSABA) di PPTQ Al Muanawiyah. Panitia merancang agenda hari kedua ini dengan sangat padat namun tetap seru. Acara hari ini memadukan aktivitas fisik yang menyehatkan dengan pendalaman materi keislaman yang sangat krusial bagi kehidupan santri.
Para peserta memulai pagi hari dengan kegiatan olahraga bersama berupa jalan sehat mengitari lingkungan sekitar Pondok Pesantren Al Muanawiyah. Sembari menghirup udara pagi yang segar, para santri baru saling mengobrol santai untuk mempererat keakraban antar-teman sekamar.
Setelah tubuh mulai panas, mereka langsung melanjutkan agenda dengan senam bersama pengurus organisasi santri. Seluruh peserta tampak makin energik mengikuti setiap gerakan senam yang mengiringi musik dinamis. Gelak tawa dan candaan yang pecah berhasil mencairkan sisa-sisa rasa canggung di antara mereka.
Baca juga: MATSABA Al Muanawiyah Hari Pertama Sambut Santri Baru dengan Meriah
Kupas Tuntas Akhlak dan Thaharah
Para santri segera bergeser ke dalam aula untuk menerima sesi pembekalan materi setelah menyelesaikan salat Dhuha. Di tempat ini, para pengajar mulai membangun fondasi karakter dan keilmuan para santri baru. Pemateri mengisi sesi pertama dengan materi Akhlakul Karimah yang menekankan pentingnya adab kepada guru, kiai, dan orang tua.
Selanjutnya, panitia menghadirkan pembelajaran fiqh untuk santri baru yang sangat mendasar namun krusial mengenai thaharah. Kebersihan lahiriah merupakan syarat mutlak yang menentukan sah atau tidaknya aktivitas ibadah seorang muslim. Oleh karena itu, narasumber memaparkan secara detail mengenai tiga macam najis yaitu mukhaffafah, mutawassitah, dan mugalladah. Para santri juga belajar cara mengidentifikasi keberadaan najis di sekitar lingkungan asrama mereka.
Narasumber sesekali menyelingi pembawaan materi dengan game singkat agar para santri baru tidak merasa bosan. Para santri baru tampak menyimak dengan serius sambil mencatat poin-poin penting di buku catatan masing-masing.

Praktik Fiqh Thaharah untuk Santri Baru
Para peserta tidak lagi sekadar mendengarkan teori setelah menyelesaikan istirahat, salat Zuhur berjamaah, dan makan siang. Siang hari menjadi momen yang paling santri nantikan karena mereka akan melakukan sesi praktik langsung di aula pondok. Ustadzah pendamping bertindak sebagai fasilitator dan membagi para santri baru ke dalam kelompok-kelompok kecil.
Berikut adalah tiga poin utama yang para santri praktikkan dalam agenda siang tersebut.
-
Tata Cara Wudhu Sempurna: Santri menggunakan fasilitas air mengalir untuk memastikan seluruh rukun dan sunnah wudhu berjalan tertib.
-
Praktik Gerakan dan Bacaan Salat: Santri belajar memakai mukena secara benar, meluruskan saf, posisi rukuk sujud yang tumaninah, hingga kefasihan bacaan.
-
Praktik Penyucian Najis: Santri mempraktikkan langsung cara menyucikan lantai atau kain tiruan sesuai jenis najisnya, termasuk penggunaan tanah untuk najis mugalladah.
Melalui praktik langsung ini, panitia ingin memastikan seluruh santri baru tidak hanya menghafal teorinya saja. Panitia membimbing mereka agar mampu mempraktikkan ibadah secara sah sejak hari pertama tinggal di Pondok Pesantren Al Muanawiyah.
Game Menumbuhkan Kekompakan Santri pada Sore Hari
Sore hari menjadi waktu yang paling santri nanti untuk melepas penat dan berbagi tawa bersama. Suasana berubah riuh saat panitia menyelenggarakan sesi permainan seru antarkelompok. Dua permainan unik yang menguji konsentrasi dan kekompakan tim menjadi menu utama pada sore hari itu.
Permainan pertama adalah memasukkan sedotan ke dalam botol tanpa menggunakan tangan secara langsung. Fokus, kesabaran, dan koordinasi antar-anggota tim menjadi kunci utama dalam permainan yang memicu gelak tawa penonton ini. Permainan kedua adalah balon ular, di mana para santri berbaris memanjang membentuk formasi ular yang unik. Mereka harus menjaga balon di barisan belakang sekaligus berusaha memecahkan balon milik kelompok lawan.

Interaksi yang aktif ini berhasil menciptakan kekompakan dan keakraban yang sangat kental di antara mereka. Panitia sengaja memilih permainan ini untuk menumbuhkan rasa persaudaraan atau ukhuwah di antara sesama santri baru. Di pondok, mereka harus saling mendukung layaknya satu tim dan tidak bisa berjuang sendirian.
Panitia menutup rangkaian kegiatan hari kedua yang padat, penuh ilmu, sekaligus menyenangkan ini menjelang waktu ashar. Seluruh peserta MATSABA mengakhiri agenda hari ini dengan senyum puas yang menghiasi wajah mereka. Kini, mereka merasa lebih siap, mandiri, dan semakin akrab untuk memulai kehidupan baru sebagai santri di Pondok Pesantren Al Muanawiyah.
Penulis: Alung (Tim Media Al Muanawiyah)
Editor: Qori Qonitatuz Zahra





