Cara menyeimbangkan hafalan dan murojaah menjadi hal penting bagi setiap penghafal Al-Qur’an. Menambah hafalan baru memang terasa menyenangkan karena ada target yang ingin dicapai. Namun, hafalan lama juga membutuhkan perhatian agar tidak mudah terlupakan.
Jika terlalu fokus menambah ayat, hafalan sebelumnya bisa melemah. Sebaliknya, jika hanya mengulang hafalan lama tanpa target yang jelas, perkembangan hafalan baru bisa melambat. Karena itu, santri perlu mengatur waktu dan porsi keduanya secara seimbang agar hafalan terus bertambah sekaligus tetap terjaga.
Mengapa Hafalan Baru dan Murojaah Harus Seimbang?
Menghafal Al-Qur’an bukan sekadar mengumpulkan jumlah juz. Seorang penghafal juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga ayat yang sudah dihafalnya. Tanpa pengulangan yang rutin, hafalan yang sebelumnya lancar dapat menjadi sulit diingat kembali.
Rasulullah SAW mengingatkan pentingnya menjaga hafalan dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim:
تَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنَ الْإِبِلِ فِي عُقُلِهَا
Artinya: “Jagalah Al-Qur’an ini dengan terus membacanya. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh Al-Qur’an lebih mudah lepas daripada unta dari ikatannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut mengingatkan penghafal agar tidak mengabaikan murojaah. Hafalan membutuhkan pengulangan agar tetap kuat dalam ingatan. Oleh sebab itu, menambah hafalan dan menjaga hafalan lama perlu berjalan beriringan.
5 Cara Menyeimbangkan Hafalan dan Murojaah
Agar proses menghafal berjalan lebih teratur, penghafal perlu memiliki strategi yang sesuai dengan kemampuan masing-masing. Berikut beberapa cara yang bisa diterapkan.
1. Tentukan Target Hafalan yang Realistis
Langkah pertama adalah menentukan target hafalan baru sesuai kemampuan. Jangan memaksakan diri menghafal terlalu banyak ayat jika waktu dan kemampuan mengingat masih terbatas.
Misalnya, tetapkan target setengah halaman atau satu halaman setiap hari. Jika ayat yang dihafal cukup panjang atau memiliki banyak kemiripan, kurangi target sementara waktu. Target yang realistis membantu penghafal menjaga konsistensi. Dengan begitu, semangat menghafal tetap terjaga tanpa mengorbankan kualitas hafalan sebelumnya.
Baca juga: Cara Memulai Hafalan Al-Qur’an untuk Anak agar Lebih Menyenangkan
2. Sisihkan Waktu Khusus untuk Murojaah
Jangan menunggu hafalan mulai terlupakan untuk mengulangnya. Jadwalkan murojaah setiap hari agar hafalan lama tetap mendapatkan perhatian.
Penghafal dapat memanfaatkan waktu setelah salat Subuh untuk menambah hafalan baru. Kemudian, gunakan waktu setelah salat Zuhur atau Asar untuk mengulang hafalan sebelumnya. Jadwal ini bisa disesuaikan dengan kegiatan sekolah, pesantren, maupun aktivitas harian lainnya.
Kunci utamanya bukan panjangnya waktu belajar, melainkan konsistensi menjalankannya. Pengulangan singkat yang rutin lebih mudah dipertahankan daripada murojaah dalam jumlah besar yang hanya dilakukan sesekali.
3. Atur Porsi Hafalan Baru dan Hafalan Lama
Cara menyeimbangkan hafalan dan murojaah berikutnya adalah membagi waktu berdasarkan kebutuhan. Penghafal yang baru memiliki sedikit hafalan mungkin perlu memberi porsi lebih besar untuk menambah ayat. Sebaliknya, penghafal yang sudah mencapai banyak juz membutuhkan waktu lebih besar untuk menjaga hafalan lama.
Sebagai gambaran, berikut contoh pembagian waktu belajar selama 60 menit.
- 20 menit untuk menambah hafalan baru.
- 30 menit untuk murojaah hafalan lama.
- 10 menit untuk mengulang hafalan terbaru dan memeriksa kesalahan.
Pembagian ini bukan aturan baku. Penghafal dapat mengubah porsinya sesuai tingkat kelancaran, jumlah hafalan, dan target yang ingin dicapai.
4. Gunakan Metode Setoran kepada Guru
Mengulang hafalan sendiri memang penting. Namun, menyetorkan hafalan kepada guru membantu penghafal mengetahui kesalahan yang mungkin tidak kita sadari.

Guru dapat memeriksa ketepatan ayat, makhraj, tajwid, serta urutan bacaan. Selain itu, setoran rutin mendorong penghafal untuk lebih disiplin dalam menjaga hafalan.
Jika menemukan ayat yang sering tertukar, tandai bagian tersebut dan ulangi lebih banyak. Dengan cara ini, waktu murojaah dapat digunakan secara lebih efektif.
5. Evaluasi Hafalan secara Berkala
Jangan hanya mengukur keberhasilan dari jumlah ayat yang berhasil dihafal. Periksa juga kelancaran hafalan lama secara berkala.
Misalnya, lakukan evaluasi mingguan dengan membaca kembali hafalan tanpa melihat mushaf. Catat bagian yang masih lancar dan ayat yang sering terlupa. Setelah itu, berikan porsi pengulangan lebih banyak pada bagian yang belum kuat.
Evaluasi membantu penghafal mengetahui apakah targetnya sudah sesuai kemampuan. Jika hafalan lama mulai melemah, kurangi sementara target hafalan baru sampai kelancarannya kembali membaik.
Kesalahan yang Perlu Dihindari saat Menghafal Al-Qur’an
Beberapa kebiasaan dapat menghambat keseimbangan antara hafalan baru dan murojaah. Salah satunya adalah mengejar jumlah juz tanpa memeriksa kelancaran hafalan sebelumnya.
Selain itu, menunda murojaah sampai waktu luang juga dapat membuat pengulangan menjadi tidak teratur. Penghafal sebaiknya tidak mengandalkan semangat sesaat, tetapi membangun jadwal yang konsisten setiap hari.
Kesalahan lainnya adalah menganggap murojaah sebagai pekerjaan yang tidak menghasilkan kemajuan. Padahal, menjaga hafalan tetap lancar merupakan bagian penting dari proses menghafal Al-Qur’an. Hafalan yang kuat membutuhkan kesabaran dan kedisiplinan, bukan sekadar kecepatan menambah ayat.
Membiasakan Hafalan dan Murojaah Sejak Dini
Kebiasaan menghafal dan murojaah perlu kita bangun sejak awal agar anak memahami bahwa menghafal Al-Qur’an bukan hanya tentang mencapai target. Anak juga perlu belajar menjaga ayat yang sudah dihafal, memperbaiki bacaan, dan mengulang hafalan secara konsisten.
Lingkungan belajar yang mendukung dapat membantu anak membentuk rutinitas tersebut. Pendampingan guru, jadwal yang teratur, serta target yang sesuai kemampuan membuat proses menghafal terasa lebih terarah.
PPTQ Al Muanawiyah Jombang menghadirkan lingkungan pendidikan Al-Qur’an bagi santri putri. Melalui pembelajaran dan pembiasaan tahfidz, santri dapat mengembangkan kedisiplinan dalam menambah sekaligus menjaga hafalan.
Kesimpulan
Cara menyeimbangkan hafalan dan murojaah dapat kita mulai dengan menentukan target yang realistis, menyediakan waktu khusus untuk mengulang, serta mengevaluasi kelancaran hafalan secara berkala. Penghafal juga perlu menyesuaikan porsi hafalan baru dan hafalan lama berdasarkan kemampuan masing-masing.
Menambah hafalan memang menjadi pencapaian yang membanggakan. Namun, menjaga hafalan agar tetap melekat merupakan tanggung jawab yang tidak kalah penting. Dengan rutinitas yang konsisten dan pendampingan yang tepat, proses menghafal Al-Qur’an dapat berjalan lebih terarah.
Ingin putri Anda belajar menghafal sekaligus menjaga hafalan Al-Qur’an di lingkungan pesantren? Hubungi admin pendaftaran PPTQ Al Muanawiyah melalui WhatsApp untuk mengenal programnya lebih lanjut.


