Huru Hara Politik Indonesia: Siapa yang Sebenarnya Bersalah?

Huru Hara Politik Indonesia: Siapa yang Sebenarnya Bersalah?

Pertanyaan besar muncul pasca demonstrasi 28 Agustus 2025 yang berujung huru hara politik di berbagai daerah. Saya dan istri berdiskusi, “Siapa yang salah?” Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Apakah ulama? Umaro? Atau masyarakat sendiri? Jika ditelusuri lebih dalam, akar masalah tidak sesederhana menunjuk satu pihak.

Akar Masalah dari Pemilu hingga Kebijakan

Demonstrasi kemarin dipicu kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak pada rakyat. Namun bila ditarik ke belakang, budaya politik uang dalam pemilu menjadi salah satu cikal-bakalnya. Ungkapan populer seperti “kalau tidak ada amplop, tidak nyoblos” atau “serangan fajar jadi penentu pilihan” mencerminkan rapuhnya demokrasi kita.

Politisi pun sering mengeluhkan bahwa biaya menuju kursi legislatif sangat tinggi. Alhasil, sebagian terjebak pada praktik bagi-bagi uang demi dukungan. Ormas yang seharusnya netral juga sering kali ikut terpolarisasi, hingga marwahnya menurun di mata masyarakat.

huru hara politik Indonesia, demo 28 Agustus 2025, Affan Kurniawan, tunjangan DPR, tuntutan rakyat, demo Indonesia 2025
Potret huru hara politik Indonesia saat demonstrasi di depan gedung DPR Jakarta, 25 Agustus 2025 (foto: tempo.co)

Kesenjangan yang Melebar

Masalah lain terletak pada jurang sosial-ekonomi yang semakin terasa. Peneliti Ray Rangkuti pernah menyinggung perbedaan mencolok antara gaji DPR dengan rata-rata penghasilan rakyat. Bayangkan, rakyat hanya memperoleh Rp100 ribu per hari, sedangkan pejabat bisa mengantongi Rp3 juta per hari. Perbandingan inilah yang menimbulkan kecemburuan sosial sekaligus menumbuhkan ketidakpercayaan pada sistem politik.

Baca juga: Potensi Zakat Tunjangan DPR dan Peluang Kebermanfaatannya

Ulama, Umaro, dan Tanggung Jawab Bersama

Sayangnya, ulama belum sepenuhnya hadir memberi solusi. Banyak kebijakan yang meresahkan umat justru dibiarkan tanpa suara tegas. Akibatnya, petuah keagamaan terdengar kurang sejuk di mata masyarakat. Sementara umaro, atau pemerintah, terikat kepentingan partai dan kekuasaan politik, sehingga sulit berpihak total kepada rakyat.

Belum lagi lembaga yudikatif yang dinilai masih lemah dalam menegakkan hukum dengan adil. Semua ini berujung pada keresahan publik, yang kemudian meledak dalam bentuk demonstrasi, huru hara, bahkan shalat ghaib bersama. Saat demo terjadi yang dinilai menjadi pengayom ikut serta menambah masalah baru terjadinya salah satu Ojol (Ojek Online) terlindas meninggal, ini menjadi letupan menambah besarnya api kemarahan masyarakat. Entah apakah ini murni gerakan rakyat atau ada rekayasa elit politik, faktanya kondisi Indonesia memang tidak baik-baik saja.

Menatap Pemilu dengan Bijak

Masyarakat harus lebih bijak saat pemilu. Jangan tergiur uang Rp20 ribu atau Rp50 ribu yang habis dalam sehari, namun menjerat dalam lima tahun kebijakan yang menekan. Ulama pun jangan tergoda kekuasaan. Mereka harus menjadi penggerak moral, penyejuk, sekaligus pengingat bagi penguasa. Pemerintah juga harus membuka telinga, mendengarkan aspirasi rakyat, bukan justru menutup diri.

Sebagaimana di tulis Gus Nadhirsyah Hosein dan dikutip dari Imam al-Ghazali pernah mengingatkan:

‎وَبِالْجُمْلَةِ، إِنَّمَا فَسَدَتِ الرَّعِيَّةُ بِفَسَادِ الْمُلُوكِ، وَفَسَادُ الْمُلُوكِ بِفَسَادِ الْعُلَمَاءِ، فَلَوْلَا الْقُضَاةُ السُّوءُ وَالْعُلَمَاءُ السُّوءُ لَقَلَّ فَسَادُ الْمُلُوكِ خَوْفًا مِّنْ إِنْكَارِهِمْ

“Secara umum, kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan penguasa. Kerusakan penguasa berakar dari ulama yang rusak. Jika tidak ada hakim dan ulama yang buruk, niscaya kerusakan penguasa akan berkurang karena mereka takut pada kritik ulama.”

Baca juga: Ikhlas vs Pasrah: Polemik Kesejahteraan Guru di Indonesia

Doa untuk Negeri

Huru hara politik Indonesia tidak akan berhenti jika semua pihak saling lempar tanggung jawab. Ulama, umaro, dan rakyat harus introspeksi. Hanya dengan sinergi, kejujuran, dan niat baik, Indonesia bisa keluar dari lingkaran krisis.

اللهم اجعل هذا البلد اندنسيا آمناً مطمئناً وسائر بلاد المسلمين

Semoga Allah menjadikan negeri ini aman, tenteram, dan penuh keberkahan.

A. Muammar Sholahuddin, S.Pd., M.Pd.
Founder Al-Muanawiyah

Ikhlas vs Pasrah: Polemik Kesejahteraan Guru di Indonesia

Ikhlas vs Pasrah: Polemik Kesejahteraan Guru di Indonesia

Al-MuanawiyahIsu kesejahteraan guru di Indonesia kembali menjadi sorotan. Pernyataan pejabat yang menyebut guru sebagai “beban negara” hingga isu tambahan tugas dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuat banyak guru merasa posisi mereka kurang dihargai. Di satu sisi, guru dituntut untuk ikhlas mengajar karena profesi ini dianggap sebagai pengabdian. Namun, sering kali kata ikhlas dipelintir menjadi sikap pasrah terhadap ketidakadilan.

Baca juga: Bahaya Banyak Bicara Bagi Hati dan Kekhusyukan Ibadah

Ikhlas Adalah Menjaga Niat, Bukan Menerima Ketidakadilan

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa ikhlas adalah tentang niat, bukan tentang menerima ketidakadilan. Seorang guru yang ikhlas mengajar karena Allah akan tetap memandang tugasnya sebagai ibadah, terlepas dari tantangan yang dihadapi. Namun, ikhlas tidak berarti diam ketika hak mereka diabaikan. Justru demi menjaga niat tetap murni, guru berhak menyuarakan keadilan agar pengabdiannya tidak diperlakukan semena-mena.

kesejahteraan guru Indonesia, guru honorer gaji tidak layak, guru beban negara, guru sedang mengajar murid SD di kelas
Polemik kesejahteraan guru di Indonesia

Upah Layak adalah Hak Guru

Dalam Islam, upah pekerja adalah hak yang harus ditunaikan tanpa ditunda. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Berikanlah upah kepada pekerja sebelum keringatnya kering.” (HR. Ibnu Majah)

Ini menunjukkan bahwa Islam menaruh perhatian besar pada kelayakan upah, termasuk bagi mereka yang mendidik generasi. Pada masa Rasulullah ﷺ, guru dan pengajar tetap mendapatkan imbalan yang layak dari baitul mal, meskipun profesinya dianggap mulia dan penuh pengabdian. Hal ini membuktikan bahwa penghargaan material tidak menafikan keikhlasan, justru melengkapi semangat pengabdian.

Baca juga: Asbabun Nuzul Al-Qadr yang Menggugah Semangat Beribadah

Guru, Antara Ikhlas dan Kelayakan Hidup

Realitas hari ini sering membuat guru berada pada posisi dilematis: dituntut mengajar dengan ikhlas, tapi kesejahteraan mereka jauh dari layak. Banyak guru honorer yang gajinya bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kondisi ini seharusnya menjadi renungan bersama. Ikhlas tidak boleh dipahami sebagai pasrah menerima gaji rendah, melainkan tetap menjaga niat karena Allah sambil memperjuangkan hak-haknya dengan cara yang benar.

Ikhlas adalah fondasi pengabdian seorang guru, namun ikhlas bukan berarti menerima ketidakadilan dengan pasrah. Islam sendiri menekankan pentingnya kesejahteraan dan kelayakan upah bagi setiap pekerja. Apalagi guru, yang merupakan garda terdepan dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, guru wajar menuntut penghargaan yang lebih baik dari negara, tanpa kehilangan ruh pengabdian. Dengan kesejahteraan yang layak, guru bisa semakin fokus mendidik dan menjaga keikhlasan, demi lahirnya generasi penerus bangsa yang lebih berkualitas.

Kurikulum Pondok Pesantren di Era Digital, Masihkah Relevan?

Kurikulum Pondok Pesantren di Era Digital, Masihkah Relevan?

Kurikulum pondok pesantren sejak dahulu identik dengan tradisi keilmuan Islam yang mendalam. Kajian kitab kuning, metode sorogan, serta bandongan menjadi ciri khas yang melahirkan generasi ulama dan penjaga tradisi keilmuan. Sistem ini terbukti mampu menjaga warisan intelektual Islam dan membentuk karakter santri yang kuat dalam pemahaman agama.

Mengenal kurikulum tempat anak kita bersekolah sangatlah penting. Karena dari sinilah kita bisa memahami arah pendidikan yang diberikan kepada para santri. Kurikulum tidak hanya menentukan metode belajar, tetapi juga membentuk pola pikir, adab, serta keterampilan yang akan dibawa santri dalam kehidupan nyata. Dengan memahami ini, orang tua maupun masyarakat dapat menilai kemampuan pondok pesantren dalam menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga keluruhan tradisi Islam.

santri putri pondok pesantren tahfidz putri Jombang sedang tilawah bersama
Santri tilawah bersama sebagai bentuk penerapan kurikulum pondok pesantren Al Muanawiyah

Seiring berkembangnya zaman, silabus pondok pesantren menghadapi tuntutan modernisasi. Santri tidak hanya dituntut menguasai ilmu agama, tetapi juga harus mampu bersaing dalam bidang akademik dan sosial di era digital. Modernisasi ini tidak berarti meninggalkan tradisi, melainkan memperkaya dan menyesuaikannya dengan kebutuhan masa kini. Penggunaan teknologi, metode pembelajaran interaktif, serta tambahan kurikulum nasional menjadi langkah penting agar pesantren tetap relevan.

Dengan pendekatan tersebut, kurikulum pendidikan  santri mampu menjaga keseimbangan. Santri tetap mendapatkan kekuatan dari tradisi keilmuan salaf, namun juga memiliki keterampilan yang bermanfaat di kehidupan modern. Inilah yang kemudian melahirkan konsep integrasi: tradisi sebagai pondasi, modernisasi sebagai penguat, dan keduanya bersatu demi melahirkan generasi muslim yang berdaya saing.

Perpaduan Kurikulum Pondok Pesantren di Al Muanawiyah

Lalu bagaimana dengan Al Muanawiyah? Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah Jombang telah mengintegrasikan kurikulum tradisional dan modern secara harmonis. Tradisional di sini diwujudkan dalam pengajaran kitab kuning ala salafiyah. Sementara aspek modern hadir melalui program tahfidz dan pemanfaatan alat multimedia yang dioperasikan langsung oleh santri. Lebih jauh, PPTQ Al Muanawiyah Jombang memadukan kurikulum nasional, tahfidz, pesantren, dan IT. Sehingga santri bebas memilih fokus pengembangan sesuai minat serta potensi mereka.

Untuk memahami lebih dalam tentang konsep integrasi kurikulum pondok tradisional dan modern ini, Anda dapat menyimak Podcast Al Muanawiyah yang membahas tema “Kurikulum Pesantren antara Tradisi dan Modernisasi.” Podcast ini memberikan gambaran bagaimana pesantren hari ini mampu menjaga akar tradisinya sekaligus menjawab tantangan zaman modern.

Santri Pramuka, Potret Santri Tangguh Berakhlak Mulia

Santri Pramuka, Potret Santri Tangguh Berakhlak Mulia

Setiap tanggal 14 Agustus, bangsa Indonesia memperingati Hari Pramuka sebagai momentum untuk meneguhkan kembali semangat kebangsaan, kemandirian, dan gotong royong. Bagi para santri pramuka, momen ini memiliki makna yang lebih mendalam. Tidak hanya sebatas pada kegiatan baris-berbaris, tetapi juga berkaitan dengan membentuk akhlak mulia yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Gerakan Pramuka mengajarkan disiplin, keberanian, dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan kehidupan di pesantren yang membentuk santri agar siap menjadi pemimpin umat. Seorang santri tidak hanya dituntut kuat secara fisik, tetapi juga memiliki keteguhan iman, kecerdasan berpikir, serta kepekaan sosial. Inilah yang menjadikan keikutsertaan santri dalam kegiatan Pramuka sebagai sarana pelatihan hidup bermasyarakat sejak dini.

santri pramuka Hari Pramuka. Santri tangguh, disiplin, berakhlak mulia. Murid SMP perempuan berpakaian pramuka
Potret santri pramuka tangguh dan berakhlak mulia SMP Qur’an Al Muanawiyah

Santri Pramuka: Perpaduan Nilai Keislaman dan Kebangsaan

Kegiatan Pramuka di pesantren memberikan ruang kreatif bagi santri untuk mengasah keterampilan hidup (life skill). Mulai dari keterampilan pertolongan pertama, memasak bersama, hingga kerjasama tim dalam kegiatan perkemahan. Semua itu menumbuhkan jiwa kemandirian yang kelak sangat bermanfaat ketika santri terjun langsung di tengah masyarakat. Selaras dengan manfaat mondok, santri pramuka mampu menghadirkan kombinasi antara keilmuan agama dan keterampilan praktis yang seimbang.

Baca juga: Kurikulum Pondok Pesantren di Era Digital, Masihkah Relevan?

Tidak kalah penting, nilai keislaman juga mewarnai kegiatan Pramuka di pesantren. Kegiatan biasanya diawali dengan doa bersama, shalat berjamaah tetap ditegakkan, dan semangat ukhuwah Islamiyah menjadi pondasi dalam setiap aktivitas. Hal ini menunjukkan bahwa kepramukaan di kalangan santri bukanlah sekadar aktivitas duniawi, melainkan ibadah yang bernilai di hadapan Allah Ta’ala.

KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, pernah berpesan:

“Santri harus siap menjadi kader umat dan bangsa, memiliki jiwa yang merdeka, serta berpegang teguh pada agama dan cinta tanah air.”

Pesan ini sejalan dengan nilai kepramukaan yang mengajarkan santri untuk berdisiplin, tangguh, dan siap mengabdi kepada masyarakat.

Momentum ini seharusnya menjadi refleksi bagi santri untuk semakin menguatkan tekad menebar manfaat. Sebagaimana semboyan “Satya Ku Kudarmakan, Darma Ku Kubaktikan”, santri diharapkan mampu mengamalkan ilmunya, menjaga keutuhan bangsa, dan berkontribusi nyata dalam pembangunan umat. Dengan semangat praja muda karana, tercipta generasi muda yang berjiwa Qur’ani, disiplin, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Mengapa Tradisi Keilmuan Salaf Tetap Relevan di Era Digital

Mengapa Tradisi Keilmuan Salaf Tetap Relevan di Era Digital

Tradisi pesantren salaf adalah warisan ulama terdahulu yang tetap bertahan hingga kini, termasuk di pusat pendidikan Islam seperti Jombang. Di tengah kemajuan teknologi dan arus informasi yang begitu cepat, banyak orang mengira bahwa tradisi keilmuan Islam ala ulama salaf sudah tidak relevan. Padahal, justru di era digital inilah nilai-nilai tersebut semakin dibutuhkan. Tradisi ini mengutamakan kedalaman ilmu, ketelitian dalam memahami dalil, dan pengamalan ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah derasnya arus informasi dan kemajuan teknologi, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya justru semakin dibutuhkan sebagai pondasi moral dan intelektual umat.

Salah satu ciri utama tradisi pesantren salaf adalah kajian kitab kuning, yang telah menjadi pilar pendidikan Islam selama berabad-abad. Kitab-kitab karya ulama salaf tidak hanya memuat pengetahuan agama, tetapi juga melatih cara berpikir yang runtut dan kritis. Metode belajar seperti talaqqi, musyawarah, dan hafalan membantu membentuk kesabaran, kedisiplinan, serta rasa hormat kepada guru.

Tradisi Ulama Salaf di Pesantren Jombang

Pesantren di Jombang terkenal sebagai pusat keilmuan Islam yang tetap menjaga tradisi ulama salaf. Beberapa tradisi yang masih dijalankan antara lain sorogan (santri membaca kitab di hadapan kiai untuk mendapatkan koreksi langsung), bandongan (kiai membaca dan menjelaskan kitab, santri menyimak sambil mencatat), serta mujahadah (kegiatan dzikir dan doa bersama untuk memohon keberkahan ilmu). Selain itu, para santri juga terbiasa mengikuti halaqah diskusi, di mana mereka mengkaji masalah keagamaan dengan merujuk pada kitab-kitab klasik. Tradisi ini bukan sekadar rutinitas, tetapi sarana membentuk keilmuan yang mendalam sekaligus akhlak yang mulia.

gambar santri sedang berkumpul mengadakan doa bersama ilustrasi tradisi  pondok pesantren salaf
Tradisi pesantren salaf, membangun keakraban dan jiwa kompetitif dengan doa bersama

Di era digital, tantangan terbesar umat Islam adalah membedakan informasi yang benar dan yang menyesatkan. Tradisi keilmuan salaf mengajarkan verifikasi sumber (tahqiq) sebelum menerima sebuah pendapat. Prinsip ini sangat relevan untuk mencegah tersebarnya hoaks dan pemahaman yang keliru.

PPTQ Al Muanawiyah Jombang menjadi salah satu pesantren yang berkomitmen menjaga dan mengembangkan tradisi keilmuan salaf. Di sini, santri mempelajari berbagai kitab penting, mulai dari ilmu nahwu, sharaf, fiqih, akhlak, hingga tafsir. Pembelajaran tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga pengamalan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Santri juga ditekankan pentingnya mempelajari adab sebelum ilmu.

Selain mengkaji kitab kuning, PPTQ Al Muanawiyah juga memadukan metode pendidikan modern, termasuk penggunaan teknologi untuk mendukung proses belajar. Dengan kombinasi ini, santri mendapatkan bekal ilmu yang mendalam sekaligus kemampuan beradaptasi di era digital.

Jika Anda ingin putra-putri tumbuh menjadi generasi Qur’ani yang berilmu dan berakhlak mulia, memadukan warisan ulama salaf dengan keterampilan era modern, PPTQ Al Muanawiyah Jombang siap menjadi tempat terbaik untuk menimba ilmu.

Pentingnya Mempelajari Kitab Kuning di Pondok Pesantren

Pentingnya Mempelajari Kitab Kuning di Pondok Pesantren

Kitab kuning adalah warisan intelektual para ulama Islam yang telah dipelajari di pesantren sejak berabad-abad lalu. Disebut “kuning” karena pada masa lalu kertas yang digunakan berwarna kekuningan. Kitab-kitab ini berisi ilmu agama yang sangat luas, mulai dari tafsir, hadits, fikih, akhlak, hingga bahasa Arab.

 

Sejarah kitab kuning di Indonesia erat kaitannya dengan perkembangan pesantren sebagai pusat pendidikan Islam tradisional. Para ulama Nusantara yang belajar di Makkah, Madinah, atau Timur Tengah membawa pulang kitab-kitab tersebut, lalu mengajarkannya kepada santri di tanah air. Hingga kini, kitab tersebut tetap menjadi kurikulum inti di banyak pesantren, karena di dalamnya tersimpan metode belajar yang mendalam dan komprehensif.

Baca juga: 4 Kitab Adab Penuntut Ilmu yang Bisa Dipelajari

Kelebihan mempelajari kitab tidak hanya terletak pada kedalaman ilmunya, tetapi juga melatih kemampuan berpikir kritis, membaca teks Arab tanpa harakat, dan memahami langsung pendapat para ulama klasik. Bagi santri, kitab ini adalah bekal berharga untuk menjadi ulama, pendidik, atau tokoh masyarakat yang berilmu dan berakhlak mulia.

Para santri terlihat bahagia saat mengikuti kegiatan mengaji kitab kuning bersama di pondok pesantren, sebagai sarana memperdalam ilmu sekaligus menanamkan adab
Pembelajaran kitab kuning di PPTQ Al Muanawiyah Jombang

 

Kitab Kuning di Pondok

Di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah Jombang, santri tidak hanya fokus menghafal Al-Qur’an, tetapi juga memperdalam ilmu agama melalui berbagai kitab kuning. Berikut beberapa di antaranya:

  • Kitab Amtsilati
    Panduan praktis belajar ilmu nahwu shorof dengan metode yang sistematis. Santri dilatih membaca kitab tanpa harakat dan memahami struktur bahasa Arab.

  • Kitab Mabadi’ Fiqih
    Membahas hukum-hukum dasar ibadah seperti wudhu, shalat, puasa, dan zakat. Cocok untuk memperkuat pemahaman fikih sejak dini.

  • Kitab Alala
    Berisi nasihat akhlak sederhana untuk membentuk karakter santri, seperti menghormati guru, orang tua, dan menjaga lisan.

  • Kitab Akhlaqul Banat
    Membahas pembinaan akhlak khusus bagi remaja putri, meliputi adab berpakaian, bergaul, dan menjaga kehormatan diri.

  • Kitab Risalatul Mahidh
    Mengupas tuntas hukum haid, nifas, dan istihadhah bagi muslimah agar ibadah tetap sah sesuai syariat.

Dengan mempelajari kitab-kitab ini, santri di Al Muanawiyah tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya menguasai hafalan Al-Qur’an, tetapi juga memahami syariat dan akhlak dengan baik.

Khutbah Jumat One Piece dengan Tema Persatuan Umat

Khutbah Jumat One Piece dengan Tema Persatuan Umat

Al MuanawiyahDalam beberapa waktu terakhir, simbol bendera bajak laut dari serial One Piece ramai dikibarkan oleh masyarakat Indonesia sebagai bentuk protes terhadap ketidakadilan sosial dan krisis kepercayaan terhadap pemerintah. Fenomena ini membuka ruang refleksi bagi umat Islam: bagaimana seharusnya menyikapi kondisi bangsa yang penuh dengan gemuruh politik, korupsi, dan ketimpangan sosial. Untuk itu, berikut adalah contoh khutbah Jumat One Piece sebagai media dakwah yang relevan dan menyentuh realitas.

khutbah jumat one piece. gambar bendera one piece di bawah bendera merah putih sebagai simbol protes ketidakadilan dan krisis kepercayaan kepada pemerintah
Khutbah Jumat One Piece dengan tema persatuan umat (katadata.co.id)

Isi Pertama Khutbah Jumat One Piece

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلاَّ اللّٰه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰه، اَللّٰهُـمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَ بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللّٰه، أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللّٰه، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللّٰهُ الْعَظِيمْ.

Kaum muslimin rahimakumullah

Marilah kita memanjatkan Puja dan Puji Syukur kehadirat Allah SWT dengan nikmatnya dan hidayahnya kita dapat berkumpul disini menunaikan solat berjamah Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam yang telah menyampaikan Agama yang sempurna kepada umat manusia. Semoga kita termasuk kedalam golongan orang-orang selalu berpegang teguh dengan sunnah Beliau hingga ajal menjemput kita.

 

Baca juga: Apa Itu Tari Saman, Tari yang Menutup Wisuda Tahfidz II?

 

Kaum muslimin rahimakumullah

Pada kesempatan khutbah ini, izinkan saya mengangkat sebuah fenomena yang sedang ramai diperbincangkan: berkibarnya bendera One Piece di berbagai daerah di Indonesia. Sebagian menganggapnya sebagai pelanggaran, sebagian lagi sebagai simbol perjuangan.

Namun sesungguhnya, bendera itu adalah ekspresi kegelisahan masyarakat—sebuah simbol protes terhadap ketidakadilan sosial yang makin terlihat nyata: korupsi merajalela, anggaran pendidikan dipangkas, keadilan hukum yang tidak merata, kenaikan pajak, dan suara rakyat yang diabaikan.

Seruan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Fenomena ini mengingatkan kita akan pentingnya peran umat Islam sebagai penyeru amar ma’ruf nahi mungkar.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, serta beriman kepada Allah.”
(QS. Ali Imran: 110)

Jamaah yang dirahmati Allah,
Perbedaan dalam menyuarakan pendapat seharusnya tidak menjadikan kita saling mencela. Justru ini menjadi ujian: apakah kita bisa bersatu, atau justru saling menjatuhkan? Apakah kita lebih suka mendiamkan kezaliman, atau berani menyuarakan kebenaran?

Perlu diingat, hak menyampaikan pendapat dijamin dalam Pasal 28E ayat (3) UUD 1945, yang menyatakan:

“Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.”

Maka tidak seharusnya simbol-simbol yang digunakan rakyat untuk bersuara dianggap sebagai ancaman. Yang lebih penting adalah substansi pesan: menolak kezaliman, menuntut keadilan, dan menjaga persatuan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.”
(HR. Muslim)

Ajakan Persatuan Umat

Jamaah Shalat Jumat yang dirahmati Allah,
Kita hidup di era penuh dinamika. Kezaliman bisa datang dari banyak arah. Maka, kita harus waspada dan bersatu. Jangan mudah terpancing untuk mencaci sesama Muslim yang berjuang menyampaikan kebenaran.

Mari kita perkuat ukhuwah Islamiyah. Jangan biarkan umat ini terpecah hanya karena perbedaan ekspresi dan strategi. Karena Allah melarang kita untuk saling berbantah-bantahan:

“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu; dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Anfal: 46)

Mari kita bangun Indonesia dengan cahaya Islam, bukan dengan saling menjatuhkan, tapi dengan semangat persatuan, dakwah dengan adab berbicara yang baik, dan aksi sosial yang nyata.

Wallahu a’lam bish-shawab. Wassalamu’alaikum warahmatullah.

Hikmah Perintah Membaca dalam Surat Al Alaq secara Sosiologis

Hikmah Perintah Membaca dalam Surat Al Alaq secara Sosiologis

Al-Muanawiyah – Perintah membaca yang menjadi inti dari wahyu pertama dalam Islam bukan hanya perintah spiritual atau intelektual semata, tetapi juga memiliki makna sosial yang sangat dalam. Surat Al-‘Alaq ayat 1–5 bukan sekadar seruan untuk membuka lembaran ilmu, namun juga menjadi titik awal revolusi peradaban. Hikmah surat Al Alaq dari sisi sosiologis menunjukkan betapa Islam sejak awal telah menempatkan literasi sebagai dasar transformasi masyarakat.

1. Masyarakat Jahiliyah Menuju Masyarakat Ilmiah

Sebelum Islam datang, masyarakat Arab berada dalam masa jahiliyah. Nilai-nilai yang berlaku saat itu lebih mengutamakan garis keturunan, kekuasaan, dan kekuatan fisik. Dengan turunnya wahyu “Iqra’ bismi rabbika” (Bacalah dengan nama Tuhanmu), terjadi perubahan orientasi sosial. Nilai-nilai materialistik dan hierarki sosial mulai digantikan oleh nilai keilmuan dan takwa. Hikmah perintah membaca dalam konteks ini menjelaskan bahwa kekuatan sejati suatu masyarakat bukan pada kekayaan atau status, tetapi pada ilmu.

hikmah perintah membaca dalam surat al Alaq secara sosiologis. Gambar anak-anak antusias membaca buku
Anak-anak yang antusias membaca sebagai ilustrasi hikmah perintah membaca dari surat Al Alaq

2. Membentuk Budaya Literasi Umat

Secara sosiologis, membaca adalah gerbang perubahan sosial. Masyarakat yang terbiasa membaca akan lebih kritis, sadar akan hak dan kewajiban, serta lebih terbuka terhadap kemajuan. Inilah mengapa Rasulullah ﷺ, meskipun ummi, diutus dengan misi membangun budaya ilmu. Para sahabat pun didorong untuk belajar menulis dan membaca. Dalam waktu singkat, lahirlah komunitas Muslim yang mencintai ilmu dan menjadikan literasi sebagai ciri khas peradaban Islam.

Baca juga: 6 Adab Menuntut Ilmu Menurut Kitab Ta’lim Muta’allim

3. Mengikis Ketimpangan Sosial

Salah satu hikmah perintah membaca adalah membuka akses keadilan sosial. Melalui literasi, Islam menghapuskan batas-batas kelas yang menindas. Siapa pun yang berilmu diberi kedudukan tinggi dalam masyarakat. Tidak lagi orang kaya atau bangsawan yang dihormati, tetapi mereka yang membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an. Inilah langkah awal menciptakan masyarakat yang egaliter.

Perintah “Iqra’” bukanlah sekadar ajakan individual untuk membaca, tetapi menjadi gerakan sosial yang mengakar dalam sejarah Islam. Hikmah perintah membaca sangat terasa dalam upaya membangun masyarakat Muslim yang berilmu, adil, dan penuh kesadaran sosial. Inilah warisan sosiologis yang harus terus dilestarikan dalam kehidupan umat Islam hari ini, khususnya di era digital yang penuh tantangan informasi.

Komitmen dan Capaian Milad ke-5 Pesantren Tahfidz Jombang

Komitmen dan Capaian Milad ke-5 Pesantren Tahfidz Jombang

Al Muanawiyah  Tepat pada momentum milad ke-5, Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Muanawiyah Jombang menorehkan capaian luar biasa dalam dunia pendidikan tahfidz. Berdiri sejak lima tahun lalu, pesantren tahfidz Jombang ini telah berhasil mencetak puluhan penghafal Al-Qur’an mutqin 30 juz dari berbagai angkatan.

Dengan mengusung tagline “The Pesantren of Holding Qur’an,” Al-Muanawiyah dikenal sebagai pesantren tahfidz putri yang menekankan kualitas hafalan, adab terhadap Al-Qur’an, serta pembinaan spiritual yang menyeluruh. Para santri tidak hanya ditargetkan untuk menghafal, tetapi juga menjaga hafalan dalam jangka panjang melalui metode sistematis dan terbukti efektif.

Foto beberapa santri putri sedang tilawah Al-Qur'an saat wisuda tahfidz

Komitmen perwujudan visi misi pesantren tahfidz Jombang Al-Muanawiyah dalam Wisuda Tahfidz I tahun 2023

Metode Tahfidz Efektif di Al-Muanawiyah

Salah satu keunggulan pesantren tahfidz Jombang ini terletak pada metode pembinaan yang terukur dan disiplin. Setiap santri menjalani muroja’ah berkala, evaluasi hafalan mingguan, serta pembiasaan ibadah seperti qiyamullail dan dzikir harian. Semua program itu bertujuan menumbuhkan karakter santri yang tangguh, rendah hati, dan cinta Al-Qur’an.

“Metode Al-Muanawiyah menekankan pada muroja’ah teratur, evaluasi rutin, serta penguatan ruhiyah melalui dzikir dan qiyamullail. Inilah yang membentuk hafidzah yang kuat hafalan dan akhlaknya,” ujar salah satu pembina tahfidz.

Baca juga: Tips Murojaah Hafalan Al-Qur’an Ala Pesantren Tahfidz

Santri dari Berbagai Daerah

Menariknya, para santri Al-Muanawiyah berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Jombang, Sidoarjo, Gresik, hingga luar provinsi. Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem pembinaan yang diterapkan telah dipercaya banyak wali santri yang menginginkan putrinya menjadi hafidzah berakhlak Qurani. Selain itu, suasana pesantren yang hangat dan penuh semangat ukhuwah membuat para santri betah dalam proses belajar. Manfaat mondok di sini tidak hanya dirasakan oleh santri, tetapi juga wali santri dan masyarakat sekitar.

Momentum Syukur dan Komitmen Ke Depan

Milad ke-5 bukan hanya peringatan usia, tetapi juga menjadi ajang muhasabah dan rasa syukur atas karunia Allah SWT. Ke depan, Al-Muanawiyah berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pembinaan, memperluas manfaat dakwah Qurani, dan menjadi pesantren tahfidz Jombang yang unggul dalam mutu dan akhlak.

Sebagai bentuk komitmen dakwah pendidikan, Al-Muanawiyah terus membuka peluang bagi calon santri yang ingin menempuh jalan mulia menghafal Al-Qur’an. Bagi para orang tua yang mendambakan putrinya tumbuh menjadi hafidzah berakhlak Qurani, pesantren ini menjadi pilihan yang tepat.

Pentingnya Adab Sebelum Ilmu di Era Digital

Pentingnya Adab Sebelum Ilmu di Era Digital

Adab mencerminkan kesiapan hati dan jiwa dalam menerima ilmu. Apalagi di era digital seperti sekarang, ilmu bisa didapat dengan cepat. Namun, satu hal sering dilupakan: pentingnya adab sebelum ilmu. Padahal, para ulama terdahulu sangat menekankan bahwa akhlak harus didahulukan sebelum ilmu masuk ke hati. Seorang murid yang mengamalkan adab kepada guru, menjaga sopan santun di majelis ilmu, serta menunjukkan kesungguhan dalam belajar, akan lebih mudah menerima ilmu yang masuk. Sebaliknya, ilmu yang datang kepada orang yang sombong dan tidak beradab seringkali tidak menetap dan tidak membuahkan hikmah.

Imam Malik bin Anas, seorang ulama besar Madinah, menjadi contoh terbaik. Ibunya berkata, “Pergilah ke Rabi’ah, pelajarilah adabnya sebelum kau ambil ilmunya.” Nasihat itu bukan sekadar petuah. Ia menjadi fondasi kesuksesan Imam Malik dalam keilmuannya.

Seorang ulama zuhud yang lain, Abdullah bin Mubarak, pernah berkata,

“Kami mempelajari adab selama 30 tahun dan ilmu selama 20 tahun.”

Itu menunjukkan pentingnya adab sebelum ilmu sebagai bekal utama memperoleh ilmu yang bermanfaat. Contoh lain datang dari Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau tidak hanya belajar dari Imam Syafi’i, tetapi juga sangat menghormatinya. Ia lebih memilih mendengar dan menyimak adab gurunya dibanding langsung bertanya atau mengoreksi.

gambar siswa sekolah membungkuk memberi penghormatan sebagai ilustrasi dari adab sebelum ilmu
Menghormati guru adalah salah satu bentuk pentingnya adab sebelum ilmu

Pentingya Adab di Era Digital

Kini, kita bisa belajar dari video ceramah, e-book, dan kelas daring. Namun, adab tetap penting. Misalnya, tidak memotong penjelasan guru saat Zoom. Atau, tidak asal menyebar ilmu tanpa memahami isinya. Karena itu, tetap jaga sikap hormat, meski hanya lewat layar.

Adab juga tampak dari kesiapan belajar. Datang tepat waktu, mencatat dengan serius, dan tidak melakukan kegiatan lain saat guru berbicara. Hal-hal kecil ini mencerminkan penghormatan terhadap ilmu dan pengajarnya. Singkatnya, pentingnya adab sebelum ilmu tidak hanya berlaku di pesantren, tetapi juga di dunia digital. Ilmu tanpa adab akan sulit berbekas dan membawa manfaat jangka panjang.

Bagi yang ingin belajar adab dari kitab klasik seperti Ta’lim Muta’allim dan yang lainnya, banyak pondok pesantren yang mengajarkannya secara sistematis. Salah satunya Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah Jombang , untuk membentuk generasi berilmu dan berakhlak mulia.