Perjuangan Syurti Menjadi Penghafal Al-Qur’an di Tengah Sakit

Perjuangan Syurti Menjadi Penghafal Al-Qur’an di Tengah Sakit

Suasana haru menyelimuti PPTQ Al Muanawiyah Jombang pada Sabtu, 25 Oktober 2025. Hari itu, Ulfa Malikhatul Azizah, santri asal Ngawi yang akrab disapa Mbak Syurti, resmi menuntaskan setoran hafalan Al-Qur’annya. Ia menjadi santri ke-15 yang khatam Al-Qur’an di PPTQ Al Muanawiyah, menorehkan jejak manis di tengah perjuangan panjang yang penuh ujian.

Perjalanan hafalannya tidak mudah. Mbak Syurti mulai menjadi santri di PPTQ Al Muanawiyah sejak tahun 2021. Sebelumnya, ia telah menimba ilmu di pondok lain dengan fokus pada kitab kuning. Namun, pada tahun 2023, kesehatannya sempat menurun hingga ia harus pulang ke kampung halaman di Ngawi selama beberapa bulan. Meski begitu, semangatnya tidak pernah padam. Di awal tahun 2024, ia kembali ke pondok dengan tekad baru untuk menyelesaikan hafalannya.

foto santri putri sedang setoran hafaln Al Qur'an ke guru
Potret haru menyelimuti setoran terakhir Syurti di PPTQ Al Muanawiyah Jombang

Peran Keluarga Bagi Penghafal Al-Qur’an

Dukungan keluarga menjadi bagian penting dari perjalanannya. Keluarga Mbak Syurti dikenal sebagai keluarga penghafal Al-Qur’an. Ibunya seorang hafidzah, dan adiknya juga tengah menempuh jalan yang sama. Di rumah mereka berdiri sebuah musholla kecil dan TPQ, tempat masyarakat sekitar belajar membaca dan mencintai Al-Qur’an. Dari sanalah, nilai istiqamah dan kecintaan terhadap kalam Allah tumbuh dalam dirinya.

Menjadi penghafal Al-Qur’an bukan sekadar mengingat ayat, tetapi juga menanamkan maknanya dalam hati dan perilaku. Perjalanan Mbak Syurti mengingatkan bahwa setiap ujian hanyalah bagian dari proses menuju kemuliaan. Di saat tubuh lemah, ia tetap kuat karena hatinya dihidupkan oleh ayat-ayat Allah. Itulah makna sejati dari istiqamah—bertahan di jalan kebenaran meski langkah terasa berat.

Baca juga: Motivasi Menghafal Al-Qur’an: Tidak Mondok Bukan Hambatan

Kini, setelah resmi khatam, Mbak Syurti ingin terus menjaga hafalannya dan menjadi pengingat bagi teman-temannya. Ia percaya, menjaga hafalan adalah bagian dari menjaga diri dari kelalaian. “Saya ingin terus muroja’ah dan semoga bisa membantu adik-adik lain agar semangat menghafal juga,” ucapnya penuh tekad.

Semangat dan keteladanan Mbak Syurti menjadi bukti bahwa jalan penghafal Al-Qur’an adalah jalan mulia yang penuh cahaya. Siapa pun yang menapakinya akan selalu dituntun oleh keberkahan, bahkan ketika menghadapi kesulitan sekalipun.

Mari ikuti jejak para penghafal Al-Qur’an seperti Mbak Syurti. Bergabunglah bersama PPTQ Al Muanawiyah Jombang, tempat para santri menumbuhkan iman, ilmu, dan hafalan dengan penuh cinta kepada Al-Qur’an.

Pendidikan Pesantren Al Muanawiyah Siapkan Pemimpin Muslim

Pendidikan Pesantren Al Muanawiyah Siapkan Pemimpin Muslim

Al MuanawiyahHari Santri Nasional 2025 menjadi momentum untuk kembali meneguhkan arah pendidikan pesantren. Di tengah derasnya arus informasi dan konten digital, santri diharapkan mampu menjaga aqidah dan jati diri Islam. Tantangan di era baru ini bukan hanya tentang kemampuan berpikir kritis, tetapi juga keteguhan hati dalam menghadapi pengaruh pemikiran yang menyesatkan.

Menjaga Aqidah di Tengah Arus Konten Digital

Di masa kini, konten media sosial berlari begitu cepat. Semua ingin menjadi viral, memburu FYP, namun sering kali kehilangan makna dan konteks. Di sinilah pentingnya peran santri sebagai penjaga keseimbangan. Santri bukan hanya diajarkan untuk membaca dan menghafal, tapi juga memahami nilai-nilai kebenaran agar tidak terbawa arus informasi yang menyesatkan.

gamabr para santri sedang berdoa ilustrasi pendidikan pesantren
Pendidikan pesantren Al Muanawiyah yang mengedepankan adab dan keilmuan

Pendidikan pesantren Al Muanawiyah menanamkan prinsip bahwa ilmu harus dibarengi dengan adab dan aqidah yang lurus. Dengan bekal ini, santri dapat memilah mana pemikiran yang membawa manfaat dan mana yang justru menjauhkan dari kebenaran.

Baca juga: Refleksi Makna Hari Santri Nasional 2025 di Era Digital

Santri Aktif, Zaman Pun Tak Takut Dihadapi

Menjadi santri berarti siap untuk ikut aktif dalam perubahan zaman. Di era kebaruan ini, santri dituntut untuk mampu berpikir luas tanpa meninggalkan akar keislamannya. Di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah, setiap kegiatan dirancang agar santri belajar bertanggung jawab, disiplin, dan mandiri — mulai dari ibadah harian hingga pembelajaran formal. Manfaat mondok bukan hanya untuk mendapatkan ijazah, tetapi juga membiasakan amalan yang baik dalam keseharian santri.

Semangat kebersamaan, kesabaran, dan keikhlasan menjadi bahan bakar utama perjuangan mereka. Di sinilah nilai pendidikan pesantren bersinar: membentuk pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga tangguh secara spiritual dan emosional.

Melangkah Bersama Cahaya Ilmu

Berdirinya Al Muanawiyah bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan gerakan mencetak generasi yang siap memperbaiki kebaharuan. Santri diajak untuk selalu memperbarui diri tanpa kehilangan arah. Mereka belajar bahwa menjaga aqidah bukan berarti menutup diri, tetapi menghadirkan nilai-nilai Islam di tengah kemajuan zaman.

Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan dan kemampuan kepada para santri untuk terus melangkah di jalan ilmu dan perjuangan ini. Karena dari pesantrenlah lahir generasi yang bukan hanya pintar berbicara, tetapi juga berani menjaga kebenaran.

Mencetak Santri Pejuang yang Tangguh dari Al Muanawiyah

Mencetak Santri Pejuang yang Tangguh dari Al Muanawiyah

Menjadi santri pejuang adalah keputusan yang menuntut kesiapan mental dan fisik. Keputusan ini bukan sekadar mengikuti rutinitas belajar, tetapi juga menerima berbagai tantangan yang membentuk karakter. Perjuangan menuntut ilmu di pesantren menuntut kedisiplinan tinggi, kesabaran, dan ketekunan. Santri harus mampu menyeimbangkan waktu antara kegiatan spiritual, akademik, dan sosial.

Pilihan ini juga berarti siap menghadapi hari-hari penuh rutinitas yang padat. Meski terkadang melelahkan, pengalaman tersebut memberi pelajaran berharga tentang keteguhan hati dan dedikasi.

Aktivitas Harian yang Menempa Mental

Kehidupan di pesantren sarat dengan aktivitas yang membentuk karakter. Santri memulai hari dengan tahajud, diikuti dengan kegiatan belajar mengaji, kelas akademik, dan berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Rutinitas ini menanamkan disiplin sejak dini dan menyiapkan mental untuk menghadapi tantangan kehidupan.

Selain belajar, para santri juga terlibat dalam kegiatan kebersihan, organisasi, dan pelayanan sosial. Semua itu menjadi latihan tanggung jawab dan kemandirian. Kehidupan di pesantren memang sederhana, namun di balik kesederhanaan itu tersimpan semangat juang yang luar biasa. Setiap aktivitas menjadi sarana pembentukan karakter yang kuat dan berjiwa ikhlas.

Di PPTQ Al Muanawiyah, misalnya, santri mendapatkan kesempatan belajar berbagai ilmu, mulai dari hafalan Al-Qur’an hingga pengembangan keterampilan sosial. Kegiatan ini bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai kesabaran dan ketekunan. Aktivitas yang padat dan bervariasi membantu mereka memahami Adab Menuntut Ilmu secara lebih mendalam.

gambar santri putri setoran hafalan Al Qur'an
Potret santri pejuang setoran hafalan Al-Qur’an di Al Muanawiyah

Hikmah dari Perjuangan Santri

Setiap perjuangan yang dilalui santri memberi hikmah yang mendalam. Kedisiplinan, kesabaran, dan ketekunan yang dilatih di pesantren menjadi bekal hidup yang sangat berharga. Santri belajar bahwa setiap tetes keringat dan malam yang dilewati dengan tahajud atau hafalan membawa keberkahan.

Selain itu, perjuangan mereka membangun karakter yang tangguh dan berbudi pekerti luhur. Aktivitas di pesantren seperti Program Unggulan Tahfidz di PPTQ Al Muanawiyah tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga menumbuhkan rasa empati, kerja sama, dan kepedulian terhadap sesama. Semua ini menjadikan santri pejuang pribadi yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kaya nilai spiritual dan moral.

Refleksi Makna Hari Santri Nasional 2025 di Era Digital

Refleksi Makna Hari Santri Nasional 2025 di Era Digital

Al MuanawiyahHari Santri Nasional 2025 bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan momentum untuk meneguhkan kembali semangat perjuangan santri di tengah arus globalisasi. Setiap tanggal 22 Oktober, gema shalawat dan pekik takbir mengingatkan bangsa ini pada satu hal: bahwa kemerdekaan Indonesia tak lepas dari kontribusi besar para santri dan ulama.

Nilai perjuangan itu tidak hanya terpatri di masa lalu. Kini, ia menuntut untuk dihidupkan kembali melalui peran santri dalam menghadapi tantangan zaman digital.

Sejarah Hari Santri Nasional

Penetapan Hari Santri Nasional bermula dari peristiwa bersejarah Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 yang dipelopori oleh KH Hasyim Asy’ari. Seruan jihad tersebut membakar semangat rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan.

Melalui perjuangan itulah, santri dikenal bukan hanya sebagai penuntut ilmu agama, tetapi juga sebagai pejuang yang menggabungkan iman, ilmu, dan cinta tanah air. Maka, Hari Santri menjadi simbol sinergi antara keislaman dan keindonesiaan yang tidak terpisahkan.

foto para santri dan guru PPTQ Al Muanawiyah upacara agustus
Ilustrasi semangat juang di hari santri nasional 2025

Santri dan Tantangan Zaman Digital

Di era digital, medan perjuangan santri telah bergeser. Dulu mereka mengangkat bambu runcing, kini mereka mengangkat pena dan gawai. Dunia maya menjadi ruang dakwah baru bagi generasi santri milenial untuk menyebarkan nilai Islam yang damai, jujur, dan berakhlak. Namun, tantangan juga semakin besar. Informasi yang begitu cepat menuntut kecerdasan dalam memilah dan menyaring kebenaran. Santri harus menjadi pelita di tengah gelapnya arus informasi yang menyesatkan.

Baca juga: Mengapa Tradisi Keilmuan Salaf Tetap Relevan di Era Digital

Jihad santri masa kini bukan lagi di medan perang, melainkan di medan ilmu dan teknologi. Mereka dituntut berinovasi, berprestasi, serta berkontribusi nyata bagi masyarakat. Semangat jihad itu diwujudkan dalam ketekunan belajar, etika bermedia, dan keikhlasan dalam setiap langkah pengabdian. Pesantren sebagai rumah ilmu memiliki peran penting untuk menyiapkan generasi santri yang cakap digital sekaligus berakhlakul karimah.

Makna Hari Santri Nasional 2025 adalah ajakan bagi seluruh santri Indonesia untuk terus meneladani semangat perjuangan para ulama terdahulu. Dari pesantren hingga ruang digital, santri harus hadir membawa nilai-nilai kejujuran, kemandirian, dan cinta tanah air. Karena di tangan para santrilah masa depan bangsa akan tetap terjaga dengan cahaya ilmu dan akhlak yang mulia.

Marak di Kalangan Artis, Bagaimana Hukum Operasi Plastik?

Marak di Kalangan Artis, Bagaimana Hukum Operasi Plastik?

Al MuanawiyahBelakangan ini, fenomena operasi plastik semakin marak diperbincangkan, terutama di kalangan artis. Banyak figur publik yang secara terang-terangan mengakui telah melakukan operasi plastik demi alasan penampilan. Namun, sebagai seorang Muslim, tentu muncul pertanyaan: bagaimana hukum operasi plastik dalam Islam?

Pandangan Ulama tentang Operasi Plastik

Dalam forum bahtsul masail NU tahun 2006, para kiai membedakan antara operasi plastik yang dilakukan karena alasan kesehatan dan yang dilakukan murni untuk estetika. Jika operasi dilakukan untuk mengembalikan fungsi tubuh, menghilangkan cacat, atau memperbaiki kerusakan akibat kecelakaan, hukumnya boleh.

Syekh Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan:
“Boleh memindah anggota badan dari satu tempat di tubuh seseorang ke tempat lain, selama manfaatnya lebih besar daripada mudaratnya. Disyaratkan pula operasi itu dilakukan untuk mengembalikan bentuk semula, memperbaiki cacat, atau menghilangkan gangguan fisik dan psikis.” (Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, VIII: 5124).

Dengan kata lain, jika operasi plastik bertujuan menghilangkan rasa sakit, tekanan batin, atau memperbaiki cacat fisik, maka Islam memberikan keringanan.

gambar wajah wanita digambar ilustrasi hukum operasi plastik dalam Islam
Ilustrasi hukum operasi plastik (foto: freepik)

Larangan Operasi Plastik untuk Mengubah Ciptaan Allah

Namun berbeda halnya jika operasi plastik hanya bertujuan mengubah bentuk tubuh agar tampak lebih cantik atau tampan, padahal tidak ada cacat yang mengganggu. Imam Ath-Thabari dalam Fathul Bari menegaskan, mengubah ciptaan Allah untuk sekadar memperindah diri termasuk perbuatan yang terlarang. Misalnya, mencabut alis hingga mengubah bentuk wajah, atau memperbesar bagian tubuh agar sesuai standar kecantikan tertentu.

Baca juga: Potensi Zakat Tunjangan DPR dan Peluang Kebermanfaatannya

Fenomena Artis dan Relevansinya

Kini, tidak sedikit artis yang memilih jalan operasi plastik demi alasan penampilan. Mereka beranggapan bahwa popularitas menuntut kesempurnaan wajah dan tubuh. Namun dari kacamata Islam, tindakan seperti ini perlu dilihat secara hati-hati. Jika hanya didorong oleh tren, gengsi, atau ingin mengikuti standar kecantikan modern, maka hal itu bisa masuk dalam kategori tahrim (terlarang).

Meski demikian, jika operasi tersebut dilakukan karena faktor medis, seperti rekonstruksi akibat kecelakaan atau luka bakar, atau untuk membuka saluran pernafasan yang terhambat, maka hukumnya mubah bahkan bisa bernilai maslahat.

Hikmah yang Bisa Diambil

Fenomena ini memberikan pelajaran bahwa kecantikan sejati bukan sekadar soal fisik. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim).

Artinya, penilaian utama dalam Islam bukanlah pada fisik, melainkan pada hati dan amal. Maka, daripada berfokus pada penampilan luar semata, lebih baik memperindah akhlak dan memperbanyak amal kebaikan.

Kesimpulan

Berdasarkan pandangan para ulama dan hasil bahtsul masail NU, hukum operasi plastik terbagi dua:

  1. Boleh, jika untuk mengembalikan fungsi tubuh, menghilangkan cacat, atau mengatasi gangguan psikis dan fisik.

  2. Haram, jika hanya untuk mengubah ciptaan Allah demi memperindah diri tanpa kebutuhan medis.

Fenomena artis yang ramai melakukan operasi plastik hendaknya menjadi refleksi, bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara menjaga penampilan dan tetap mensyukuri ciptaan Allah.

Referensi: NU Online

Adab Pesantren Fondasi Penting Bagi Santri

Adab Pesantren Fondasi Penting Bagi Santri

Dalam dunia pendidikan, adab pesantren menempati posisi yang sangat penting. Sejak dahulu, ulama selalu menekankan bahwa akhlak dan adab harus menjadi fondasi utama sebelum seseorang menuntut ilmu. Sebab, ilmu tanpa adab bisa menjadi bumerang yang membahayakan, sementara adab akan menjadikan ilmu bermanfaat bagi diri dan masyarakat.

adab pesantren adab belajar adab menuntut ilmu. santri pondok pesantren tahfiz putri Jombang sedang mengaji kitab kuning
Potret adab pesantren saat santriwati PPTQ Al Muanawiyah Jombang sedang mengikuti kajian kitab kuning

Al-Laits bin Sa’ad rahimahullah, seorang ulama besar, ahli fikih terpercaya, dan perawi hadits termasyhur di masa kekuasaan Bani Umayyah, pernah berkata saat melihat murid ilmu hadits:

أَنْتُمْ إِلَى يَسِيْرٍ مِنَ الْأَدَبِ أَحْوَجُ مِنْكُمْ إِلَى كَثِيْرٍ مِنَ الْعِلْمِ

Kalian lebih membutuhkan adab yang baik meski sedikit, dibandingkan ilmu yang banyak
(riwayat al-Khothib dalam kitab al-Jami’ li Akhlaaqir Roowiy wa Aadaabis Saami’)

Pernyataan ini menunjukkan bahwa seorang penuntut ilmu wajib menghiasi dirinya dengan sikap hormat, sopan santun, serta ketundukan kepada guru. Dengan adab yang benar, maka ilmu yang dipelajari akan membawa keberkahan dan tidak menimbulkan kesombongan.

Baca juga: Sejarah KH Hasyim Asy’ari dan Jejak Perjuangannya di Jombang

Pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan Islam yang sejak awal berdiri selalu menekankan pembinaan adab. Di pesantren, santri tidak hanya diajarkan kitab kuning, fiqih, tauhid, atau tafsir, tetapi juga bagaimana bersikap santun kepada guru, teman, dan masyarakat. Tradisi ini diwariskan turun-temurun sehingga menjadikan adab pesantren sebagai ciri khas pendidikan Islam yang membentuk generasi berkarakter mulia.

Seorang santri dilatih untuk disiplin, rendah hati, serta berbakti kepada orang tua. Bahkan, Imam al-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim juga menegaskan 6 adab menuntut ilmu yang sebagian besar menekankan perihal adab.

Menyiapkan Generasi Muslim dengan Adab Pesantren

Di era modern, kebutuhan akan pendidikan karakter semakin mendesak. Banyak lembaga pendidikan menekankan kecerdasan intelektual, tetapi kurang memperhatikan adab dan akhlak. Pesantren hadir sebagai solusi yang menyeluruh: mengajarkan ilmu agama, membentuk karakter, dan menanamkan nilai moral.

Salah satu pesantren yang konsisten dalam menanamkan adab adalah Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah, Jombang. Selain program tahfidzul Qur’an dan kajian kitab klasik, pesantren ini juga menekankan pendidikan akhlak sebagai bagian utama dari proses belajar.

Huru Hara Politik Indonesia: Siapa yang Sebenarnya Bersalah?

Huru Hara Politik Indonesia: Siapa yang Sebenarnya Bersalah?

Pertanyaan besar muncul pasca demonstrasi 28 Agustus 2025 yang berujung huru hara politik di berbagai daerah. Saya dan istri berdiskusi, “Siapa yang salah?” Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Apakah ulama? Umaro? Atau masyarakat sendiri? Jika ditelusuri lebih dalam, akar masalah tidak sesederhana menunjuk satu pihak.

Akar Masalah dari Pemilu hingga Kebijakan

Demonstrasi kemarin dipicu kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak pada rakyat. Namun bila ditarik ke belakang, budaya politik uang dalam pemilu menjadi salah satu cikal-bakalnya. Ungkapan populer seperti “kalau tidak ada amplop, tidak nyoblos” atau “serangan fajar jadi penentu pilihan” mencerminkan rapuhnya demokrasi kita.

Politisi pun sering mengeluhkan bahwa biaya menuju kursi legislatif sangat tinggi. Alhasil, sebagian terjebak pada praktik bagi-bagi uang demi dukungan. Ormas yang seharusnya netral juga sering kali ikut terpolarisasi, hingga marwahnya menurun di mata masyarakat.

huru hara politik Indonesia, demo 28 Agustus 2025, Affan Kurniawan, tunjangan DPR, tuntutan rakyat, demo Indonesia 2025
Potret huru hara politik Indonesia saat demonstrasi di depan gedung DPR Jakarta, 25 Agustus 2025 (foto: tempo.co)

Kesenjangan yang Melebar

Masalah lain terletak pada jurang sosial-ekonomi yang semakin terasa. Peneliti Ray Rangkuti pernah menyinggung perbedaan mencolok antara gaji DPR dengan rata-rata penghasilan rakyat. Bayangkan, rakyat hanya memperoleh Rp100 ribu per hari, sedangkan pejabat bisa mengantongi Rp3 juta per hari. Perbandingan inilah yang menimbulkan kecemburuan sosial sekaligus menumbuhkan ketidakpercayaan pada sistem politik.

Baca juga: Potensi Zakat Tunjangan DPR dan Peluang Kebermanfaatannya

Ulama, Umaro, dan Tanggung Jawab Bersama

Sayangnya, ulama belum sepenuhnya hadir memberi solusi. Banyak kebijakan yang meresahkan umat justru dibiarkan tanpa suara tegas. Akibatnya, petuah keagamaan terdengar kurang sejuk di mata masyarakat. Sementara umaro, atau pemerintah, terikat kepentingan partai dan kekuasaan politik, sehingga sulit berpihak total kepada rakyat.

Belum lagi lembaga yudikatif yang dinilai masih lemah dalam menegakkan hukum dengan adil. Semua ini berujung pada keresahan publik, yang kemudian meledak dalam bentuk demonstrasi, huru hara, bahkan shalat ghaib bersama. Saat demo terjadi yang dinilai menjadi pengayom ikut serta menambah masalah baru terjadinya salah satu Ojol (Ojek Online) terlindas meninggal, ini menjadi letupan menambah besarnya api kemarahan masyarakat. Entah apakah ini murni gerakan rakyat atau ada rekayasa elit politik, faktanya kondisi Indonesia memang tidak baik-baik saja.

Menatap Pemilu dengan Bijak

Masyarakat harus lebih bijak saat pemilu. Jangan tergiur uang Rp20 ribu atau Rp50 ribu yang habis dalam sehari, namun menjerat dalam lima tahun kebijakan yang menekan. Ulama pun jangan tergoda kekuasaan. Mereka harus menjadi penggerak moral, penyejuk, sekaligus pengingat bagi penguasa. Pemerintah juga harus membuka telinga, mendengarkan aspirasi rakyat, bukan justru menutup diri.

Sebagaimana di tulis Gus Nadhirsyah Hosein dan dikutip dari Imam al-Ghazali pernah mengingatkan:

‎وَبِالْجُمْلَةِ، إِنَّمَا فَسَدَتِ الرَّعِيَّةُ بِفَسَادِ الْمُلُوكِ، وَفَسَادُ الْمُلُوكِ بِفَسَادِ الْعُلَمَاءِ، فَلَوْلَا الْقُضَاةُ السُّوءُ وَالْعُلَمَاءُ السُّوءُ لَقَلَّ فَسَادُ الْمُلُوكِ خَوْفًا مِّنْ إِنْكَارِهِمْ

“Secara umum, kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan penguasa. Kerusakan penguasa berakar dari ulama yang rusak. Jika tidak ada hakim dan ulama yang buruk, niscaya kerusakan penguasa akan berkurang karena mereka takut pada kritik ulama.”

Baca juga: Ikhlas vs Pasrah: Polemik Kesejahteraan Guru di Indonesia

Doa untuk Negeri

Huru hara politik Indonesia tidak akan berhenti jika semua pihak saling lempar tanggung jawab. Ulama, umaro, dan rakyat harus introspeksi. Hanya dengan sinergi, kejujuran, dan niat baik, Indonesia bisa keluar dari lingkaran krisis.

اللهم اجعل هذا البلد اندنسيا آمناً مطمئناً وسائر بلاد المسلمين

Semoga Allah menjadikan negeri ini aman, tenteram, dan penuh keberkahan.

A. Muammar Sholahuddin, S.Pd., M.Pd.
Founder Al-Muanawiyah

Ikhlas vs Pasrah: Polemik Kesejahteraan Guru di Indonesia

Ikhlas vs Pasrah: Polemik Kesejahteraan Guru di Indonesia

Al-MuanawiyahIsu kesejahteraan guru di Indonesia kembali menjadi sorotan. Pernyataan pejabat yang menyebut guru sebagai “beban negara” hingga isu tambahan tugas dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuat banyak guru merasa posisi mereka kurang dihargai. Di satu sisi, guru dituntut untuk ikhlas mengajar karena profesi ini dianggap sebagai pengabdian. Namun, sering kali kata ikhlas dipelintir menjadi sikap pasrah terhadap ketidakadilan.

Baca juga: Bahaya Banyak Bicara Bagi Hati dan Kekhusyukan Ibadah

Ikhlas Adalah Menjaga Niat, Bukan Menerima Ketidakadilan

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa ikhlas adalah tentang niat, bukan tentang menerima ketidakadilan. Seorang guru yang ikhlas mengajar karena Allah akan tetap memandang tugasnya sebagai ibadah, terlepas dari tantangan yang dihadapi. Namun, ikhlas tidak berarti diam ketika hak mereka diabaikan. Justru demi menjaga niat tetap murni, guru berhak menyuarakan keadilan agar pengabdiannya tidak diperlakukan semena-mena.

kesejahteraan guru Indonesia, guru honorer gaji tidak layak, guru beban negara, guru sedang mengajar murid SD di kelas
Polemik kesejahteraan guru di Indonesia

Upah Layak adalah Hak Guru

Dalam Islam, upah pekerja adalah hak yang harus ditunaikan tanpa ditunda. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Berikanlah upah kepada pekerja sebelum keringatnya kering.” (HR. Ibnu Majah)

Ini menunjukkan bahwa Islam menaruh perhatian besar pada kelayakan upah, termasuk bagi mereka yang mendidik generasi. Pada masa Rasulullah ﷺ, guru dan pengajar tetap mendapatkan imbalan yang layak dari baitul mal, meskipun profesinya dianggap mulia dan penuh pengabdian. Hal ini membuktikan bahwa penghargaan material tidak menafikan keikhlasan, justru melengkapi semangat pengabdian.

Baca juga: Asbabun Nuzul Al-Qadr yang Menggugah Semangat Beribadah

Guru, Antara Ikhlas dan Kelayakan Hidup

Realitas hari ini sering membuat guru berada pada posisi dilematis: dituntut mengajar dengan ikhlas, tapi kesejahteraan mereka jauh dari layak. Banyak guru honorer yang gajinya bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kondisi ini seharusnya menjadi renungan bersama. Ikhlas tidak boleh dipahami sebagai pasrah menerima gaji rendah, melainkan tetap menjaga niat karena Allah sambil memperjuangkan hak-haknya dengan cara yang benar.

Ikhlas adalah fondasi pengabdian seorang guru, namun ikhlas bukan berarti menerima ketidakadilan dengan pasrah. Islam sendiri menekankan pentingnya kesejahteraan dan kelayakan upah bagi setiap pekerja. Apalagi guru, yang merupakan garda terdepan dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, guru wajar menuntut penghargaan yang lebih baik dari negara, tanpa kehilangan ruh pengabdian. Dengan kesejahteraan yang layak, guru bisa semakin fokus mendidik dan menjaga keikhlasan, demi lahirnya generasi penerus bangsa yang lebih berkualitas.

Kurikulum Pondok Pesantren di Era Digital, Masihkah Relevan?

Kurikulum Pondok Pesantren di Era Digital, Masihkah Relevan?

Kurikulum pondok pesantren sejak dahulu identik dengan tradisi keilmuan Islam yang mendalam. Kajian kitab kuning, metode sorogan, serta bandongan menjadi ciri khas yang melahirkan generasi ulama dan penjaga tradisi keilmuan. Sistem ini terbukti mampu menjaga warisan intelektual Islam dan membentuk karakter santri yang kuat dalam pemahaman agama.

Mengenal kurikulum tempat anak kita bersekolah sangatlah penting. Karena dari sinilah kita bisa memahami arah pendidikan yang diberikan kepada para santri. Kurikulum tidak hanya menentukan metode belajar, tetapi juga membentuk pola pikir, adab, serta keterampilan yang akan dibawa santri dalam kehidupan nyata. Dengan memahami ini, orang tua maupun masyarakat dapat menilai kemampuan pondok pesantren dalam menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga keluruhan tradisi Islam.

santri putri pondok pesantren tahfidz putri Jombang sedang tilawah bersama
Santri tilawah bersama sebagai bentuk penerapan kurikulum pondok pesantren Al Muanawiyah

Seiring berkembangnya zaman, silabus pondok pesantren menghadapi tuntutan modernisasi. Santri tidak hanya dituntut menguasai ilmu agama, tetapi juga harus mampu bersaing dalam bidang akademik dan sosial di era digital. Modernisasi ini tidak berarti meninggalkan tradisi, melainkan memperkaya dan menyesuaikannya dengan kebutuhan masa kini. Penggunaan teknologi, metode pembelajaran interaktif, serta tambahan kurikulum nasional menjadi langkah penting agar pesantren tetap relevan.

Dengan pendekatan tersebut, kurikulum pendidikan  santri mampu menjaga keseimbangan. Santri tetap mendapatkan kekuatan dari tradisi keilmuan salaf, namun juga memiliki keterampilan yang bermanfaat di kehidupan modern. Inilah yang kemudian melahirkan konsep integrasi: tradisi sebagai pondasi, modernisasi sebagai penguat, dan keduanya bersatu demi melahirkan generasi muslim yang berdaya saing.

Perpaduan Kurikulum Pondok Pesantren di Al Muanawiyah

Lalu bagaimana dengan Al Muanawiyah? Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah Jombang telah mengintegrasikan kurikulum tradisional dan modern secara harmonis. Tradisional di sini diwujudkan dalam pengajaran kitab kuning ala salafiyah. Sementara aspek modern hadir melalui program tahfidz dan pemanfaatan alat multimedia yang dioperasikan langsung oleh santri. Lebih jauh, PPTQ Al Muanawiyah Jombang memadukan kurikulum nasional, tahfidz, pesantren, dan IT. Sehingga santri bebas memilih fokus pengembangan sesuai minat serta potensi mereka.

Untuk memahami lebih dalam tentang konsep integrasi kurikulum pondok tradisional dan modern ini, Anda dapat menyimak Podcast Al Muanawiyah yang membahas tema “Kurikulum Pesantren antara Tradisi dan Modernisasi.” Podcast ini memberikan gambaran bagaimana pesantren hari ini mampu menjaga akar tradisinya sekaligus menjawab tantangan zaman modern.

Santri Pramuka, Potret Santri Tangguh Berakhlak Mulia

Santri Pramuka, Potret Santri Tangguh Berakhlak Mulia

Setiap tanggal 14 Agustus, bangsa Indonesia memperingati Hari Pramuka sebagai momentum untuk meneguhkan kembali semangat kebangsaan, kemandirian, dan gotong royong. Bagi para santri pramuka, momen ini memiliki makna yang lebih mendalam. Tidak hanya sebatas pada kegiatan baris-berbaris, tetapi juga berkaitan dengan membentuk akhlak mulia yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Gerakan Pramuka mengajarkan disiplin, keberanian, dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan kehidupan di pesantren yang membentuk santri agar siap menjadi pemimpin umat. Seorang santri tidak hanya dituntut kuat secara fisik, tetapi juga memiliki keteguhan iman, kecerdasan berpikir, serta kepekaan sosial. Inilah yang menjadikan keikutsertaan santri dalam kegiatan Pramuka sebagai sarana pelatihan hidup bermasyarakat sejak dini.

santri pramuka Hari Pramuka. Santri tangguh, disiplin, berakhlak mulia. Murid SMP perempuan berpakaian pramuka
Potret santri pramuka tangguh dan berakhlak mulia SMP Qur’an Al Muanawiyah

Santri Pramuka: Perpaduan Nilai Keislaman dan Kebangsaan

Kegiatan Pramuka di pesantren memberikan ruang kreatif bagi santri untuk mengasah keterampilan hidup (life skill). Mulai dari keterampilan pertolongan pertama, memasak bersama, hingga kerjasama tim dalam kegiatan perkemahan. Semua itu menumbuhkan jiwa kemandirian yang kelak sangat bermanfaat ketika santri terjun langsung di tengah masyarakat. Selaras dengan manfaat mondok, santri pramuka mampu menghadirkan kombinasi antara keilmuan agama dan keterampilan praktis yang seimbang.

Baca juga: Kurikulum Pondok Pesantren di Era Digital, Masihkah Relevan?

Tidak kalah penting, nilai keislaman juga mewarnai kegiatan Pramuka di pesantren. Kegiatan biasanya diawali dengan doa bersama, shalat berjamaah tetap ditegakkan, dan semangat ukhuwah Islamiyah menjadi pondasi dalam setiap aktivitas. Hal ini menunjukkan bahwa kepramukaan di kalangan santri bukanlah sekadar aktivitas duniawi, melainkan ibadah yang bernilai di hadapan Allah Ta’ala.

KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, pernah berpesan:

“Santri harus siap menjadi kader umat dan bangsa, memiliki jiwa yang merdeka, serta berpegang teguh pada agama dan cinta tanah air.”

Pesan ini sejalan dengan nilai kepramukaan yang mengajarkan santri untuk berdisiplin, tangguh, dan siap mengabdi kepada masyarakat.

Momentum ini seharusnya menjadi refleksi bagi santri untuk semakin menguatkan tekad menebar manfaat. Sebagaimana semboyan “Satya Ku Kudarmakan, Darma Ku Kubaktikan”, santri diharapkan mampu mengamalkan ilmunya, menjaga keutuhan bangsa, dan berkontribusi nyata dalam pembangunan umat. Dengan semangat praja muda karana, tercipta generasi muda yang berjiwa Qur’ani, disiplin, dan siap menghadapi tantangan zaman.