Menjalankan ibadah di bulan suci menuntut kita untuk memahami waktu berpuasa Ramadhan secara akurat. Penentuan waktu ini bukan sekadar mengikuti jam dinding, melainkan mengikuti siklus alam yang telah Allah tetapkan dalam syariat. Tanpa pemahaman yang benar, seseorang berisiko memulai atau mengakhiri puasa pada saat yang tidak tepat.
Menentukan Tanggal Mulai Puasa dalam Kalender Hijriah
Sebelum membahas jam harian, kita harus memahami kapan puasa itu dimulai secara kalender. Waktu berpuasa Ramadhan selalu merujuk pada tanggal 1 bulan Ramadhan dalam penanggalan Hijriah. Karena kalender Hijriah berbasis pada peredaran bulan (komariah), tanggalnya selalu bergeser 10 hingga 11 hari lebih maju setiap tahunnya dibandingkan kalender Masehi.
Untuk menetapkan tanggal 1 Ramadhan, umat Islam biasanya menggunakan dua metode utama. Pertama, metode rukyatul hilal atau pengamatan langsung terhadap bulan sabit muda. Kedua, metode hisab yang mengandalkan perhitungan astronomis secara presisi. Kedua metode ini memastikan bahwa kita memulai puasa pada waktu yang benar-benar sah secara syar’i.

Batasan Waktu Harian dari Fajar hingga Maghrib
Selanjutnya, setelah mengetahui tanggal mulainya, kita perlu memperhatikan batasan jam harian. Secara prinsip, waktu berpuasa Ramadhan bermula sejak terbitnya fajar shadiq (masuk waktu Subuh) hingga matahari terbenam sepenuhnya (masuk waktu Maghrib).
Allah SWT memberikan panduan yang sangat jelas dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 187 bahwa batas makan sahur adalah hingga “benang putih terlihat jelas dari benang hitam” di ufuk timur. Oleh karena itu, meskipun ada waktu imsak sebagai peringatan untuk bersiap-siap, batas terakhir Anda boleh menelan makanan adalah saat adzan Subuh berkumandang.
Tantangan Berbuka di Wilayah yang Berbeda
Dinamika akan muncul saat seseorang melakukan perjalanan jauh atau safar. Misalnya, saat Anda terbang dari satu zona waktu ke zona waktu lainnya, waktu berpuasa Ramadhan Anda wajib mengikuti lokasi di mana Anda berada saat itu.
Jika Anda terbang menuju arah barat, durasi puasa Anda otomatis menjadi lebih panjang karena Anda seolah-olah “menahan” matahari agar tidak terbenam. Sebaliknya, jika terbang ke arah timur, Anda akan mendapati waktu berbuka yang lebih cepat. Kuncinya bukan pada jam di tangan Anda, melainkan pada penampakan matahari secara visual di tempat pesawat atau kendaraan Anda berada.
Baca juga: Manfaat Menghafal Al-Qur’an Saat Puasa
Solusi Puasa di Negara dengan Siang yang Sangat Panjang
Persoalan lain muncul bagi Muslim yang tinggal di wilayah kutub atau negara Skandinavia, di mana matahari bisa bersinar hingga 20 jam lebih. Dalam situasi ekstrem ini, para ulama memberikan keringanan agar ibadah tetap berjalan tanpa memberatkan.
Beberapa fatwa membolehkan mereka untuk mengikuti jadwal waktu kota Mekah sebagai titik acuan, atau mengikuti jadwal negara terdekat yang memiliki durasi siang dan malam yang normal. Namun, bagi mereka yang tinggal di wilayah dengan durasi siang yang masih wajar (meskipun lama), mereka tetap wajib mengikuti waktu terbit dan terbenamnya matahari setempat selama fisik mereka mampu menanggungnya.
Menjaga Kualitas Ibadah dengan Pengetahuan
Memahami detail waktu berpuasa Ramadhan memberikan ketenangan batin saat kita menjalankan perintah Allah. Dengan mengenali kapan tanggal Hijriah dimulai hingga bagaimana menyikapi perbedaan waktu saat bepergian, kita tidak lagi terjebak dalam keraguan. Pengetahuan inilah yang menjaga kualitas puasa kita agar tidak hanya sekadar menahan lapar, tetapi benar-benar menjadi ibadah yang sempurna dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.




