Pelajaran dari Kisah Qorun dalam Al-Qur’an Akibat Kesombongan

Pelajaran dari Kisah Qorun dalam Al-Qur’an Akibat Kesombongan

Al-Qur’an sering kali menyajikan narasi sejarah sebagai pelajaran bagi generasi setelahnya. Salah satu yang paling fenomenal adalah kisah Qorun dalam Al-Qur’an. Sosok ini mewakili ujian kekayaan dan kecerdasan yang berujung pada kebinasaan akibat hilangnya rasa syukur. Mari kita bedah lebih dalam melalui ayat-ayat suci dan penafsirannya.

Kemegahan yang Menipu Mata

Qorun hidup pada zaman Nabi Musa AS. Meski berasal dari bani Israil yang tertindas, Qorun muncul sebagai sosok yang sangat kaya raya. Allah SWT menggambarkan betapa luar biasa harta benda Qorun dalam Surat Al-Qasas ayat 76:

“Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa, tetapi ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat…”

Secara tafsir, para ulama menjelaskan bahwa “kunci-kunci” tersebut menunjukkan betapa banyaknya gudang harta yang ia miliki. Kekayaan ini bukan hanya membuat Qorun berkuasa, tetapi juga membuatnya bertindak sewenang-wenang dan memandang rendah kaumnya yang miskin.

gambar harta karun emas kisah Qorun dalam Al-Qur'an
Ilustrasi kemegahan yang dimiliki Qorun (sumber: freepik)

Dialog Kesombongan dan Penolakan Nasihat

Melihat gelagat Qorun yang makin melampaui batas, orang-orang saleh di sekitarnya memberikan peringatan. Mereka menasihati agar Qorun tidak terlalu membanggakan diri secara berlebihan. Allah merekam nasihat tersebut dalam ayat selanjutnya:

“(Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, ‘Janganlah engkau terlalu bangga. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang membanggakan diri. Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu…'” (QS. Al-Qasas: 76-77)

Namun, Qorun justru menutup telinga. Ia mengeluarkan pernyataan yang menjadi akar dari segala kehancurannya. Pernyataan ini tertuang dalam ayat 78:

“Qarun berkata, ‘Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku’.”

Menurut beberapa mufasir, “ilmu” di sini merujuk pada keahlian Qorun dalam berdagang, kepintarannya mengelola aset, atau pengetahuan tentang kimia (mengubah logam menjadi emas). Di sinilah letak takabur intelektual; Qorun merasa kesuksesannya adalah murni hasil otaknya sendiri, tanpa ada campur tangan rahmat Allah.

Baca juga: Kisah Iblis yang Sombong, Menolak Sujud Kepada Nabi Adam

Puncak Fitnah dan Azab yang Mengerikan

Puncak dari kisah Qorun dalam Al-Qur’an adalah ketika ia memamerkan kemegahannya di hadapan publik. Banyak orang yang silau dan berharap memiliki nasib seperti Qorun. Namun, Allah ingin menunjukkan bahwa materi tanpa iman adalah kehancuran yang nyata.

Allah SWT berfirman dalam ayat 81:

“Maka Kami benamkan dia (Qarun) bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah, dan ia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri.”

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa bumi “membelah diri” dan menelan seluruh aset serta raga Qorun hingga tak bersisa. Peristiwa ini menjadi bukti bahwa gelar, kepintaran, dan harta sebanyak apa pun tidak akan mampu menahan ketetapan Allah jika seseorang sudah bersikap sombong.

Pelajaran Penting bagi Generasi Modern

Melalui kisah Qorun dalam Al-Qur’an, kita bisa menarik beberapa kesimpulan besar untuk kehidupan saat ini:

  1. Harta dan Ilmu adalah Amanah: Kekayaan materi dan kecerdasan intelektual hanyalah titipan sementara. Keduanya harus menjadi sarana untuk mendekat kepada Sang Pencipta, bukan justru menjadi dinding pemisah.

  2. Bahaya Merasa Paling Berjasa : Kalimat “ini berkat hasil kerja kerasku sendiri” tanpa menyertakan peran Tuhan adalah bentuk bibit kesombongan Qoruniyah yang harus kita hindari.

  3. Harta Karun yang Sebenarnya: Harta sejati bukanlah yang tertimbun di dalam tanah, melainkan amal jariyah dan ilmu yang bermanfaat yang kita bawa hingga ke akhirat.

Kisah ini mengingatkan setiap penuntut ilmu, pengusaha, hingga pemegang jabatan untuk selalu menapak bumi. Setinggi apa pun pencapaian materi atau gelar akademis yang kita raih, semua itu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *