Dalam ajaran Islam, hati adalah pusat dari segala perbuatan. Salah satu penyakit hati yang paling nyata bahayanya adalah takabur atau sombong. Istilah takabur dalam Al-Qur’an maknanya adalah sikap menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia. Sifat ini bukan sekadar perilaku sosial yang buruk, melainkan sebuah pembangkangan spiritual yang serius di hadapan Allah SWT.
Melalui ayat-ayat-Nya, Allah memberikan peringatan keras agar kita menjauhi sifat ini. Berikut adalah poin-poin penting untuk memahami apa itu takabur menurut kacamata Al-Qur’an.
Arti Takabur: Menolak Kebenaran
Secara esensi, takabur dalam Al-Qur’an merujuk pada sikap seseorang yang merasa dirinya lebih besar atau lebih hebat sehingga menutup mata dari kebenaran. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa sombong adalah batharul haqq (menolak kebenaran) dan ghamtun naas (merendahkan manusia). Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18).
Kisah Iblis sebagai Pelopor Takabur
Sejarah pertama mengenai takabur dalam Al-Qur’an dimulai dari kisah Iblis yang sombong. Saat diperintahkan untuk sujud penghormatan kepada Nabi Adam AS, Iblis menolak dengan alasan rasisme primordial: “Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah” (QS. Al-A’raf: 12). Sikap merasa “lebih baik” inilah yang menjadi akar dari segala jenis kesombongan hingga hari ini.
Kehancuran Qorun Akibat Kesombongan Harta
Al-Qur’an juga mengabadikan kisah Qorun sebagai contoh takabur dalam hal materi. Qorun merasa bahwa kekayaan melimpah yang ia miliki adalah murni hasil kecerdasannya sendiri, bukan titipan Allah. Akhir kisahnya sangat tragis; Allah menenggelamkan Qarun beserta seluruh hartanya ke dalam bumi. Ini menjadi pelajaran bahwa kebanggaan atas jabatan atau harta adalah fatamorgana yang menghancurkan.

Bahaya Takabur: Terhalang dari Petunjuk
Dampak paling mengerikan dari sifat takabur dalam Al-Qur’an adalah tertutupnya pintu hidayah. Allah berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 146 bahwa Dia akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Nya. Artinya, orang yang sombong akan sulit menerima nasihat dan sulit melihat kebenaran meskipun sudah ada di depan mata.
Cara Mengobati Sifat Takabur
Untuk menghindari penyakit ini, Al-Qur’an mengajarkan kita untuk selalu mengingat asal-usul kejadian manusia yang hanya dari setetes air hina. Menyadari bahwa semua kelebihan—baik itu ilmu, rupa, maupun harta—adalah titipan yang bisa kembali kepada Allah kapan saja akan menumbuhkan sifat tawadhu (rendah hati).
Memahami fenomena takabur dalam Al-Qur’an membuat kita sadar bahwa tidak ada yang pantas sombong kepada sesama makhluk. Kesombongan hanya milik Allah, Sang Maha Besar. Dengan menjaga hati agar tetap rendah hati, kita tidak hanya selamat dari murka Allah, tetapi juga akan mendapatkan ketenangan dalam hubungan antarsesama manusia.




