Kedermawanan Utsman bin Affan yang Terkenal dalam Sejarah

Kedermawanan Utsman bin Affan yang Terkenal dalam Sejarah

Pengorbanan harta demi kepentingan masyarakat merupakan salah satu bentuk kepedulian sosial yang sangat mulia. Dalam sejarah perjalanan Islam, para sahabat Nabi SAW selalu menunjukkan kedermawanan luar biasa tanpa mengharapkan balasan duniawi. Salah satu sosok sahabat yang paling menonjol dalam menginfakkan hartanya adalah Utsman bin Affan. Oleh karena itu, kita perlu meneladani kedermawanan Utsman bin Affan dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama saat ini.

Biografi Singkat Utsman bin Affan Sang Pemilik Dua Cahaya

Sebelum mendalami kisah pengorbanan beliau, kita perlu mengenal sosok beliau secara lebih dekat. Utsman bin Affan lahir dari suku Quraisy dan tergolong sebagai salah satu sahabat utama Rasulullah SAW. Beliau mendapat julukan Dzun Nurain yang memiliki arti sang pemilik dua cahaya. Julukan istimewa ini beliau dapatkan karena pernah menikahi dua putri Rasulullah SAW secara berurutan. Beliau juga terkenal sebagai seorang pedagang kaya raya yang memiliki sifat sangat pemalu dan rendah hati.

Selain itu, Utsman merupakan sahabat yang kelak dipercaya menjadi khalifah ketiga dalam sejarah Khulafaur Rasyidin. Kepemimpinan beliau berhasil meluaskan wilayah Islam serta membukukan mushaf Al-Qur’an secara resmi. Kekayaan yang melimpah tidak pernah membuat beliau sombong atau kikir kepada sesama. Beliau justru menjadikan hartanya sebagai sarana utama untuk membela agama Allah dan membantu umat Islam. Oleh sebab itu, rekam jejak kehidupan beliau selalu menginspirasi umat Islam di setiap zaman.

Pengorbanan Harta Luar Biasa Saat Menghadapi Perang Tabuk

Pertama, bukti nyata kedermawanan beliau tercatat secara indah dalam peristiwa Perang Tabuk. Mengutip buku Kisah Edukatif 10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga karya Luthfi Yansyah dari laman detik, umat Islam kala itu kekurangan dana perbekalan. Di sisi lain, pasukan Romawi telah bersiap dengan jumlah prajurit yang sangat banyak serta perlengkapan lengkap. Lokasi peperangan yang dekat dengan wilayah Romawi menuntut persiapan matang dari pasukan muslimin.

Rasulullah SAW lantas naik ke atas mimbar dan menganjurkan kaum muslimin untuk menyumbangkan harta mereka. Mendengar seruan tersebut, Utsman segera berdiri dan berjanji memberikan 100 unta lengkap dengan bekalnya. Rasulullah SAW kemudian turun satu anak tangga dan kembali menyerukan anjuran sedekah kepada para sahabat. Utsman berdiri untuk kedua kalinya dan menambah sumbangannya sebanyak 100 unta lagi beserta seluruh bekalnya.

gambar segerombolan unta di padang pasir ilustrasi kedermawanan utsman bin affan
Utsmanbin Affan terkenal atas kedermawanannya menyedekahkan 100 unta saat Perang Tabuk (foto: freepik.com)

Tidak berhenti di situ, Rasulullah SAW turun satu anak tangga lagi dan terus menyerukan anjuran infak. Utsman untuk ketiga kalinya berdiri seraya berjanji memberikan 100 unta lagi lengkap dengan seluruh bekalnya. Rasulullah SAW kemudian mengarahkan tangan beliau kepada Utsman dan mendoakan bahwa Utsman tidak akan pernah kesulitan setelah hari itu. Utsman bahkan langsung berlari ke rumahnya untuk mengambil harta janji tersebut beserta tambahan 1000 dinar emas. Rasulullah SAW menerima bantuan tersebut dan mendoakan ampunan atas segala dosa Utsman hingga hari kiamat.

Baca juga: Kisah Utsman Masuk Islam Menjadi Assabiqunal Awwalun

Pembelian Sumur Rumata Demi Kebutuhan Air Kaum Muslimin di Madinah

Selanjutnya, bentuk kedermawanan Utsman kembali terlihat saat kaum muslimin menetap di Kota Madinah. Mengutip buku Dahsyatnya Ibadah Para Sahabat Rasulullah karya Yanuar Arifin, terdapat sebuah sumur tua bernama Rumata milik seorang Yahudi. Pemilik sumur menjual air tersebut dengan harga sangat tinggi sehingga kaum muslimin kesulitan mendapatkan air bersih. Rasulullah SAW kemudian menjanjikan balasan minuman di hari kiamat bagi siapa saja yang mau membeli sumur tersebut.

Mendengar sabda mulia tersebut, Utsman bin Affan tanpa ragu langsung membeli sumur Rumata dari pemiliknya. Beliau membeli sumur itu dengan harga yang sangat tinggi, yakni sekitar dua puluh lima hingga tiga puluh lima dirham. Setelah proses pembelian selesai, Utsman langsung menyerahkan sumur Rumata sebagai sedekah bebas bagi seluruh kaum muslimin. Hasilnya, seluruh penduduk Madinah dapat mengambil dan memanfaatkan air bersih tersebut secara gratis tanpa beban biaya.

gambar brosur wakaf pendidikan pondok pesantren tahfidzul quran Al Muanawiyah Jombang

Sedekah Seluruh Barang Dagangan Saat Masa Kelabu di Madinah

Tidak berhenti di situ, kedermawanan beliau kembali teruji pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Kota Madinah saat itu mengalami kemarau panjang hingga tahun tersebut terkenal sebagai Amar Ramadah atau tahun abu. Tumbuh-tumbuhan tidak dapat tumbuh dan masyarakat kesulitan mendapatkan bahan pangan untuk bertahan hidup. Pada kondisi kritis tersebut, Utsman bersama rombongan dagangnya datang membawa seribu unta yang memuat bahan makanan.

Setiap unta membawa muatan penuh berupa gandum, minyak, anggur, hingga buah tin yang dikeringkan. Para pedagang lokal di Madinah segera mengerubungi rombongan tersebut untuk membeli dan menawar persediaan pangan itu. Namun, Utsman menolak tawaran negosiasi tersebut bukan karena masalah ketidakcocokan harga barang. Utsman menegaskan bahwa beliau telah berniat menyedekahkan seluruh muatan barang dagangan itu kepada kaum fakir miskin.

Utsman bersaksi kepada Allah bahwa beliau tidak mengharapkan keuntungan dinar maupun dirham dari para penduduk. Beliau hanya mengharapkan pahala yang berlipat ganda serta ridha murni dari Allah SWT.

Kesimpulannya, kedermawanan Utsman bin Affan memberikan teladan nyata mengenai hakikat kepemilikan harta dalam Islam. Beliau membuktikan bahwa kekayaan melimpah seharunya menjadi alat untuk meraih pahala dan meringankan beban sesama. Berbagai kisah pengorbanan harta beliau menjadi pengingat agar kita tidak ragu dalam berbagi kepada yang membutuhkan. Mari kita jadikan kisah inspiratif ini sebagai motivasi untuk terus meningkatkan kepedulian sosial kita sehari-hari.