Masyarakat Indonesia sangat akrab dengan berbagai jenis musik rebana yang mengiringi lantunan sholawat. Dari sekian banyak aliran yang ada, banjari dan hadrah menjadi dua jenis yang paling sering kita jumpai di acara keagamaan. Meskipun keduanya terlihat serupa bagi orang awam, sebenarnya terdapat perbedaan banjari dan hadrah yang cukup mendasar. Pemahaman yang benar mengenai kedua seni ini akan membuat kita lebih mengapresiasi kekayaan budaya Islam di Nusantara.
Secara umum, perbedaan ini mencakup aspek teknis maupun jumlah pemain yang terlibat. Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai poin-point utama yang membedakan kedua aliran musik religi tersebut.
1. Perbedaan pada Alat Musik yang Digunakan
Perbedaan banjari dan hadrah yang paling nyata terletak pada susunan alat musiknya. Seni banjari biasanya menggunakan alat musik yang sangat sederhana dan minimalis. Pemain banjari hanya memerlukan empat buah terbang atau rebana serta satu buah bass untuk mengiringi vokal. Karena jumlah alatnya sedikit, setiap pemain memiliki peran yang sangat krusial dalam menjaga keutuhan nada.
Sebaliknya, hadrah atau yang sering dikenal sebagai hadrah habsyi memiliki susunan alat musik yang lebih kompleks. Selain rebana dan bass, kelompok hadrah sering menambahkan alat musik pendukung seperti keplak, tung, hingga tam. Beberapa grup hadrah modern bahkan menyertakan alat musik perkusi tambahan agar suara yang dihasilkan terasa lebih megah dan ramai.

2. Karakteristik Tempo dan Irama
Aspek selanjutnya yang menunjukkan perbedaan banjari dan hadrah adalah tempo permainannya. Seni banjari identik dengan tempo yang cenderung sangat cepat, dinamis, dan penuh energi. Teknik pukulan dalam banjari menggunakan rumus yang saling mengisi antar pemain secara rapat. Oleh karena itu, irama banjari sering kali memberikan kesan semangat yang meluap-luap kepada para pendengarnya.
Namun, hadrah biasanya memiliki tempo yang lebih variatif namun cenderung lebih tenang jika kita bandingkan dengan banjari. Irama hadrah mengikuti pola yang lebih teratur dan memberikan ruang bagi pendengar untuk meresapi setiap lirik sholawat dengan lebih dalam. Jadi, perbedaan kecepatan ketukan ini menjadi salah satu cara termudah bagi kita untuk membedakan keduanya saat mendengar secara langsung.
3. Gaya Vokal dan Variasi Lagu
Selain pada alat musik, gaya vokal juga menjadi pembeda yang signifikan. Dalam seni banjari, vokal biasanya terdengar lebih lugas dan kuat untuk mengimbangi suara terbang yang nyaring dan cepat. Para vokalis banjari dituntut memiliki ketahanan napas yang baik karena jeda antar bait lagu sering kali sangat singkat.
Selanjutnya, seni hadrah memberikan porsi yang lebih luas pada variasi vokal atau cengkok. Vokalis hadrah sering melakukan improvisasi nada yang indah dan mendayu-dayu. Hal ini terjadi karena iringan musik hadrah memang dirancang untuk mendukung keindahan suara penyanyinya secara harmonis. Dengan demikian, hadrah terasa lebih syahdu bagi mereka yang menyukai lantunan sholawat dengan sentuhan seni suara yang tinggi.
Baca juga: Jejak Terbang Jidor dalam Perkembangan Islam di Mataraman
4. Penggunaan dalam Berbagai Acara
Meskipun keduanya bertujuan untuk syiar Islam, penggunaan banjari dan hadrah terkadang menyesuaikan dengan skala acara. Banjari sangat populer di kalangan santri dan sering menjadi ajang perlombaan tingkat sekolah karena kepraktisannya. Sementara itu, hadrah lebih sering menghiasi acara-acara besar seperti pengajian akbar atau peringatan maulid nabi yang melibatkan massa dalam jumlah banyak.
Secara keseluruhan, perbedaan banjari dan hadrah terletak pada kerumitan alat musik, kecepatan tempo, serta karakteristik vokalnya. Banjari unggul dalam hal kecepatan dan semangat, sedangkan hadrah menonjolkan kemegahan serta keindahan harmoni suara. Jadi, kedua seni ini merupakan aset budaya yang luar biasa bagi umat Islam di Indonesia. Melalui pemahaman ini, kita dapat lebih bijak dalam memilih jenis musik sholawat yang sesuai dengan suasana acara yang kita laksanakan.
