Masyarakat Muslim di Indonesia memiliki tradisi yang sangat kuat dalam membaca kitab maulid pada berbagai acara keagamaan. Karya sastra ini berisi sejarah hidup, pujian, serta untaian doa yang tertuju kepada Nabi Muhammad SAW. Membaca kitab maulid bukan hanya sekadar rutinitas budaya bagi umat Islam. Sebaliknya, aktivitas ini merupakan sarana untuk mempertebal rasa cinta serta kerinduan kepada sang teladan agung.
Meskipun terdapat banyak versi yang beredar, setiap kitab memiliki keunikan bahasa dan irama yang berbeda. Berikut adalah ulasan mengenai beberapa kitab yang paling sering dibaca oleh masyarakat dan santri di pesantren.
1. Kitab Al-Barzanji karya Syekh Ja’far
Kitab Al-Barzanji merupakan salah satu kitab maulid yang paling legendaris di tanah air. Syekh Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim Al-Barzanji menyusun karya ini dengan gaya bahasa puitis yang sangat indah. Beliau menuliskan silsilah nabi, masa kecil, hingga perjuangan dakwah beliau dengan sangat mendetail.
Oleh karena itu, masyarakat sering membaca kitab ini saat acara tasyakuran, kelahiran bayi, maupun peringatan hari besar Islam. Selain itu, alur ceritanya yang menyentuh hati mampu membawa pembaca meresapi kemuliaan akhlak Rasulullah. Jadi, tidak heran jika kitab ini tetap menjadi pilihan utama meskipun banyak karya baru yang muncul kemudian.

2. Kitab Simthudduror karya Habib Ali Al-Habsyi
Selanjutnya, kita mengenal kitab Simthudduror yang juga sangat populer di lingkungan habaib dan pesantren. Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi menyusun kitab maulid ini di wilayah Hadramaut, Yaman. Beliau menggunakan pilihan kata yang sangat dalam sehingga mampu membangkitkan emosi spiritual bagi siapa pun yang mendengarnya.
Baca juga: Perbedaan Manaqib, Diba’, dan Barzanji
Keistimewaan kitab ini terletak pada perpaduan syairnya yang sangat harmonis dengan iringan rebana. Oleh sebab itu, kelompok hadrah atau banjari sering menggunakan kitab ini sebagai teks utama dalam penampilan mereka. Dengan demikian, pesan-pesan kecintaan kepada Nabi dapat tersampaikan secara lebih luas melalui nada yang merdu.
3. Kitab Diba’i karya Imam Ad-Diba’i
Selain kedua kitab di atas, kitab Diba’i juga menempati posisi yang sangat istimewa di hati umat Islam. Imam Wajihuddin Abdu Ar-Rahman bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Yusuf bin Ahmad bin Umar ad-Diba’i adalah tokoh di balik karya besar ini. Kitab maulid ini terkenal karena susunan kalimatnya yang ringkas namun memiliki rima yang sangat teratur.
Baca juga: Keutamaan Shalawat yang Dijelaskan Al-Qur’an dan Hadits
Banyak pesantren di Jawa rutin menyelenggarakan kegiatan membaca diba’ setiap malam Jumat. Meskipun waktu terus berlalu, tradisi membaca kitab ini tidak pernah luntur ditelan zaman. Hal ini membuktikan bahwa karya sastra Islami ini memiliki daya tarik spiritual yang sangat kuat bagi generasi muda maupun tua.
Secara keseluruhan, setiap kitab maulid memiliki tujuan yang sama yaitu mengagungkan posisi Rasulullah SAW. Melalui pembacaan karya-karya ini, kita dapat meneladani akhlak mulia beliau dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, mari kita terus melestarikan tradisi membaca kitab-kitab indah ini agar keberkahan selalu menyertai lingkungan kita.
