Adab Menuntut Ilmu dalam Kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa

Adab Menuntut Ilmu dalam Kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa

Pencarian ilmu adalah perjalanan yang tidak mengenal batas usia maupun kedudukan. Salah satu narasi paling ikonik dalam Al-Qur’an mengenai hal ini adalah kisah Nabi Khidir saat bertemu dengan Nabi Musa AS. Pertemuan dua sosok mulia ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah pelajaran besar tentang rahasia takdir dan pentingnya adab dalam belajar.

Awal Mula Pencarian Ilmu

Kisah ini bermula saat Nabi Musa AS merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling berilmu di muka bumi. Allah SWT kemudian menegur beliau dan mengabarkan bahwa ada seorang hamba lain yang memiliki ilmu yang tidak Nabi Musa miliki. Tanpa rasa sombong, Nabi Musa langsung membulatkan tekad untuk mencari sosok tersebut, meskipun harus menempuh perjalanan yang sangat jauh.

Semangat Nabi Musa ini terekam dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahfi ayat 60:

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan terus sampai bertahun-tahun’.”

laut merah terbelah dalam kisah nabi musa
Ilustrasi laut merah, tempat Nabi Musa dan umatnya melarikan diri dari kejaran Fir’aun (sumber: SS Youtube/Daftar Populer)

Adab Seorang Murid terhadap Gurunya

Dalam kisah Nabi Khidir, kita melihat bagaimana seorang Rasul Ulul Azmi memposisikan diri sebagai murid yang sangat santun. Saat bertemu Nabi Khidir, Nabi Musa meminta izin untuk mengikuti dan belajar darinya dengan kalimat yang sangat rendah hati:

“Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS. Al-Kahfi: 66)

Ayat ini mengajarkan kita bahwa setinggi apa pun gelar atau kedudukan seseorang, ia harus tetap memiliki adab yang baik saat berhadapan dengan guru. Mengikuti guru dengan izin dan tujuan yang jelas adalah kunci agar ilmu tersebut menjadi berkah.

Ujian Kesabaran dan Husnuzan

Nabi Khidir memberikan satu syarat berat kepada Nabi Musa: “Janganlah engkau bertanya kepadaku tentang sesuatu pun, sampai aku sendiri menjelaskannya kepadamu.” Sepanjang perjalanan, Nabi Musa menyaksikan tiga peristiwa yang tampak ganjil secara logika: perusakan perahu, pembunuhan seorang anak, dan perbaikan dinding rumah di desa yang penduduknya kikir. Keinginan Nabi Musa untuk segera bertanya menunjukkan bahwa mata manusia sering kali hanya melihat permukaan, sementara ilmu Allah sangatlah mendalam.

Kisah Nabi Khidir mengajarkan bahwa sering kali seorang murid belum mampu memahami langkah-langkah gurunya. Di sinilah pentingnya sikap husnuzan (prasangka baik) dan kesabaran untuk menunggu hingga waktu penjelasan itu tiba.

Baca juga: 6 Adab Menuntut Ilmu Menurut Kitab Ta’lim Muta’allim

Rahasia di Balik Ilmu Hikmah

Di akhir perjalanan, Nabi Khidir menjelaskan alasan di balik tindakannya. Perahu dirusak agar tidak dirampas raja zalim, anak itu dibunuh agar tidak menjerumuskan orang tuanya ke dalam kekafiran di masa depan, dan dinding diperbaiki untuk menjaga harta yatim piatu.

Pelajaran terbesar dari kisah Nabi Khidir adalah bahwa ilmu terbagi dua: ilmu syariat yang tampak dan ilmu hikmah (ladunni) yang berkaitan dengan rahasia takdir. Kita diajak untuk menyadari bahwa keterbatasan akal manusia tidak akan pernah mampu menandingi luasnya samudra ilmu Allah.

Mempelajari kisah Nabi Khidir menyadarkan kita bahwa menjadi pintar saja tidak cukup. Kita memerlukan kerendahan hati untuk mengakui bahwa di atas orang yang berilmu, masih ada Yang Maha Berilmu. Dengan menjaga adab terhadap guru, bersabar dalam proses belajar, dan tidak terburu-buru menghakimi sesuatu yang belum kita pahami, kita telah mengikuti jejak mulia Nabi Musa AS dalam menuntut ilmu.

Meneladani Keteguhan Hati dalam Kisah Nabi Musa Alaihissalam

Meneladani Keteguhan Hati dalam Kisah Nabi Musa Alaihissalam

Dalam jajaran para nabi dan rasul, sosok Nabi Musa AS memiliki tempat yang sangat istimewa. Al-Qur’an menyebutkan nama beliau lebih banyak daripada nabi lainnya karena perjalanan hidupnya penuh dengan pelajaran tentang keberanian, keadilan, dan kesabaran tingkat tinggi. Kisah Nabi Musa memberikan gambaran nyata bagaimana seorang hamba berhadapan dengan ujian kekuasaan yang paling ekstrem di muka bumi.

Perjuangan Menghadapi Keangkuhan Fir’aun

Awal mula dakwah Nabi Musa bermula saat Allah SWT memerintahkan beliau untuk mendatangi istana Fir’aun. Tugas ini bukanlah perkara mudah, mengingat Fir’aun adalah penguasa yang mengaku sebagai tuhan. Namun, Nabi Musa tetap melangkah dengan keyakinan penuh bahwa Allah menyertainya.

Allah SWT mengabadikan perintah ini dalam Al-Qur’an, Surat Thaha ayat 24:

“Pergilah engkau kepada Fir’aun; sungguh, dia telah melampaui batas.”

Nabi Musa tidak datang dengan pedang, melainkan dengan argumen yang kuat dan mukjizat yang nyata. Beliau menunjukkan bahwa kekuasaan manusia memiliki batas, sementara kekuasaan Allah bersifat mutlak. Penolakan Fir’aun yang berujung pada pengejaran di Laut Merah menjadi bukti bahwa kebatilan akan selalu hancur di hadapan kebenaran.

laut merah terbelah dalam kisah nabi musa
Ilustrasi laut merah yang terbelah (sumber: SS Youtube/Daftar Populer)

Kesabaran Menghadapi Pembangkangan Kaumnya

Salah satu sisi unik dalam kisah Nabi Musa adalah kesabaran beliau yang luar biasa saat memimpin Bani Israil. Beliau tidak hanya menghadapi musuh dari luar, tetapi juga harus menghadapi sifat kaumnya yang sering kali membangkang, banyak bertanya, dan sulit untuk bersyukur.

Meskipun berkali-kali mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan, Nabi Musa tetap berdiri tegak menjalankan amanah dakwah. Ketabahan inilah yang menempatkan beliau ke dalam golongan Ulul Azmi, yaitu para rasul yang memiliki keteguhan hati yang luar biasa dalam menghadapi rintangan dakwah.

Mukjizat dan Pertolongan Allah yang Nyata

Puncak dari kisah Nabi Musa terjadi di tepi Laut Merah. Saat Bani Israil merasa terjepit antara lautan dan pasukan Fir’aun yang mengejar dari belakang, Nabi Musa menunjukkan iman yang tidak goyah sedikit pun. Beliau berkata dengan penuh keyakinan:

“Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. Asy-Syu’ara: 62)

Jawaban ini berbuah mukjizat besar. Laut terbelah menjadi jalan keselamatan bagi orang beriman dan menjadi tempat binasanya para penentang. Peristiwa ini menjadi pengingat bagi setiap generasi bahwa bagi Allah, tidak ada yang mustahil untuk menolong hamba-Nya yang bertakwa.

Baca juga: Sejarah Banjir Nabi Nuh Beserta Dalil Al-Qur’an dan Hikmahnya

Meneladani Sifat Ulul Azmi dalam Kehidupan

Mengambil hikmah dari perjalanan hidup Nabi Musa berarti kita belajar untuk berani menyuarakan kebenaran meski di bawah tekanan. Sifat sabar dan tekad kuat yang beliau miliki harus menjadi kompas bagi kita dalam menghadapi berbagai tantangan hidup modern. Memahami kisah Nabi Musa secara mendalam akan menanamkan keyakinan di dalam hati bahwa pertolongan Allah selalu dekat bagi mereka yang memiliki keteguhan iman dan kesediaan untuk berjuang di jalan-Nya.