Hukum Mahram Karena Persusuan (Radha’ah) dan Dalilnya

Hukum Mahram Karena Persusuan (Radha’ah) dan Dalilnya

Dalam hukum Islam, hubungan kekeluargaan tidak hanya tercipta melalui garis darah atau pernikahan. Terdapat hubungan istimewa lainnya yang muncul melalui ikatan radha’ah atau persusuan. Memahami hukum mahram karena persusuan sangat penting bagi setiap Muslim agar tidak terjadi kesalahan dalam masalah pernikahan maupun batasan aurat.

Landasan utama hukum ini tertuang secara jelas dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 23 yang berbunyi:

“…(dan diharamkan bagimu) ibu-ibumu yang menyusui kamu serta saudara-saudara perempuan sepersusuanmu…”

Selain itu, Rasulullah SAW mempertegas cakupan hukum ini melalui sabda beliau dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim:

“Persusuan itu menjadikan haram sebagaimana hubungan nasab (darah) menjadikan haram.”

Syarat Lima Kali Persusuan yang Sempurna

Hubungan mahram ini tidak terjadi secara otomatis hanya dengan sekali minum. Mayoritas ulama, termasuk Mazhab Syafi’i, menetapkan bahwa hukum mahram karena persusuan hanya berlaku jika memenuhi frekuensi tertentu. Hal ini berdasar pada hadis dari Aisyah RA yang menyebutkan bahwa minimal harus terjadi lima kali persusuan yang diketahui secara yakin (HR. Muslim no. 1452).

Maksud dari persusuan yang sempurna adalah bayi menyusu hingga merasa kenyang dan melepaskan sendiri hisapaannya secara sukarela. Menurut jumhur ulama, yang dilansir dari konsultasisyariah.com, lima kali persusuan ini hampir sama dengan dua tahun. Sehingga, jika bayi menyusu selama 2 tahun berturut-turut, maka hukum mahram dapat berlaku.

gambar bayi minum susu ilustrasi hukum mahram dengan persusuan
Persusuan dalam lima kali tahap sempurna dapat menyebabkan berlakunya hukum mahram (foto: freepik.com)

Batasan Usia Dua Tahun

Selanjutnya, faktor usia bayi menjadi penentu utama sah atau tidaknya hubungan radha’ah. Persusuan yang menciptakan hukum mahram hanya terjadi jika bayi masih berada dalam masa pertumbuhan awal, yaitu di bawah usia dua tahun. Hal ini sesuai dengan petunjuk dalam Al-Qur’an:

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” (QS. Al-Baqarah: 233).

Oleh karena itu, jika seorang anak sudah melewati usia dua tahun baru mendapatkan ASI dari wanita lain, maka hal tersebut tidak lagi menyebabkan adanya hubungan mahram di antara mereka.

Baca juga: Mahram dalam Islam dan Daftar Lengkapnya

Persoalan Donasi ASI dan Hukum Mahram

Seiring perkembangan zaman, praktik donasi ASI (Air Susu Ibu) menjadi solusi bagi bayi yang membutuhkan nutrisi tambahan. Namun, pemberian donasi ASI ini tetap menyebabkan berlakunya hukum mahram karena persusuan meskipun antara pemberi dan penerima tidak bertemu fisik secara langsung.

Zat air susu yang masuk ke dalam tubuh bayi hingga usia dua tahun menyebabkan berlakunya hukum mahram. Maka dari itu, para orang tua harus mencatat identitas donor ASI dengan sangat teliti. Langkah ini bertujuan untuk menghindari risiko pernikahan antara dua orang yang ternyata bersaudara sepersusuan di masa depan.

Baca juga: Kenapa Anak Perempuan Tidak Nyaman dengan Keluarga?

Ketika hubungan radha’ah ini terbentuk secara sah, maka daftar mahram bagi sang anak menjadi luas sebagaimana hubungan darah. Hal ini mencakup ibu yang menyusui, suami dari ibu tersebut (sebagai ayah susuan), serta seluruh anak kandung dari ibu susuan tersebut.

Memahami hukum mahram karena persusuan membantu kita menjaga kesucian nasab sesuai syariat Islam. Mari kita lebih teliti dalam mendokumentasikan aktivitas persusuan agar hubungan kekeluargaan di masa depan tetap terjaga dalam koridor agama yang benar.

Menu Sahur Sehat agar Tubuh Tetap Bertenaga dan Awet Kenyang

Menu Sahur Sehat agar Tubuh Tetap Bertenaga dan Awet Kenyang

Saat menjalankan ibadah puasa, sahur menjadi kunci utama untuk menentukan energi Anda selama belasan jam ke depan. Banyak orang sering merasa lemas atau perut keroncongan sebelum waktu Dzuhur tiba. Hal ini biasanya terjadi karena pemilihan makanan yang kurang tepat. Menyusun menu sahur sehat bukan berarti harus mewah, melainkan harus seimbang secara nutrisi.

Dengan kombinasi karbohidrat kompleks, serat, dan protein yang pas, Anda bisa menjalani aktivitas harian tanpa hambatan berarti.

1. Pilih Karbohidrat Kompleks, Bukan Karbohidrat Simpel

Langkah pertama dalam menyusun menu sahur sehat adalah memilih sumber energi yang tahan lama. Hindari terlalu banyak nasi putih atau roti putih yang cepat serap. Pilihlah nasi merah, oatmeal, atau ubi jalar. Karbohidrat kompleks ini melepaskan energi secara perlahan ke dalam darah, sehingga Anda tidak akan merasa cepat lapar di pagi hari.

gambar karbohidrat kompleks ubi jalar contoh menu sahur sehat
Contoh karbohidrat kompleks untuk menu sahur sehat, ubi jalar (foto: freepik)

2. Tambahkan Protein Berkualitas

Protein berfungsi sebagai “bahan bakar” otot dan memberikan rasa kenyang yang lebih dalam. Masukkan telur, dada ayam, tempe, atau ikan ke dalam piring sahur Anda. Protein membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna oleh lambung daripada lemak atau karbohidrat. Ini adalah rahasia utama agar perut tetap terasa penuh hingga waktu berbuka tiba.

Baca juga: Persiapan Puasa Ramadhan agar Ibadah Lebih Optimal

3. Perbanyak Serat dari Sayur dan Buah

Jangan lewatkan sayuran hijau dan buah-buahan dalam menu sahur sehat Anda. Serat memiliki kemampuan untuk mengikat air dan memperlambat proses pencernaan. Selain itu, buah-buahan dengan kandungan air tinggi seperti semangka atau melon membantu menjaga hidrasi tubuh. Serat juga sangat penting untuk mencegah gangguan pencernaan selama berpuasa.

4. Batasi Makanan Asin dan Terlalu Manis

Makanan yang terlalu asin akan memicu rasa haus yang berlebihan selama puasa. Sementara itu, makanan yang terlalu manis memicu lonjakan insulin yang diikuti dengan penurunan gula darah secara drastis. Hal inilah yang sering membuat tubuh terasa gemetar dan lemas di siang hari. Sebaiknya, pilih rasa manis alami dari kurma atau buah-buahan segar.

5. Penuhi Kebutuhan Cairan dengan Pola 2-4-2

Selain makanan, pola minum air putih sangat menentukan stamina Anda. Gunakan pola sederhana: 2 gelas saat berbuka, 4 gelas saat malam hari, dan 2 gelas saat sahur. Hidrasi yang cukup mencegah sakit kepala dan menjaga konsentrasi Anda tetap tajam sepanjang hari.

Baca juga: Mengenal Batas Waktu Berpuasa Ramadhan Sesuai Aturan Fiqih

 

Menyiapkan menu sahur sehat adalah investasi terbaik untuk kesehatan Anda selama bulan Ramadhan. Dengan memperhatikan asupan nutrisi yang masuk, Anda tidak hanya mendapatkan pahala, tetapi juga tubuh yang tetap bugar. Mari mulai rutin mengonsumsi makanan bergizi agar puasa kali ini berjalan lebih maksimal dan bermakna.