Nama Imam Nawawi hampir selalu disebut ketika umat Islam mempelajari hadits dan fiqih. Bahkan hingga saat ini, karya-karyanya masih menjadi rujukan utama di pesantren, majelis ilmu, dan perguruan tinggi Islam. Oleh karena itu, memahami biografi imam nawawi bukan sekadar mengenal tokoh, tetapi juga meneladani jalan hidup seorang ulama besar.
Imam Nawawi dikenal sebagai sosok yang zuhud, tekun menuntut ilmu, dan sangat produktif dalam menulis. Meski usia beliau terbilang singkat, pengaruh keilmuannya justru melintasi zaman.
Latar Belakang dan Masa Kecil Imam Nawawi
Imam Nawawi memiliki nama lengkap Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Muri bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah. Beliau lahir di Nawa, sebuah desa di wilayah Hauran, Suriah, pada tahun 631 Hijriah. Sejak kecil, Imam Nawawi telah menunjukkan kecenderungan kuat terhadap ilmu agama.
Dahulunya, beliau dikenal sebagai anak yang lebih senang membaca dan menghafal daripada bermain. Bahkan, ayahnya memperhatikan bahwa Imam Nawawi kecil selalu menjaga waktunya untuk belajar. Karena itulah, sang ayah kemudian membawanya ke Damaskus agar mendapatkan pendidikan yang lebih luas.

Perjalanan Menuntut Ilmu yang Penuh Kesungguhan
Setibanya di Damaskus, Imam Nawawi belajar di Madrasah Rawahiyah. Di tempat ini, beliau menghafal kitab-kitab penting dan mendalami berbagai disiplin ilmu Islam. Mulanya, beliau mempelajari fiqih mazhab Syafi’i, ushul fiqih, hadits, bahasa Arab, hingga ilmu tafsir.
Baca juga: Hadits Niat, Hadits ke-1 Arbain Nawawi
Menariknya, Imam Nawawi dikenal sangat menjaga waktu. Dalam biografi imam nawawi disebutkan bahwa beliau belajar hampir sepanjang hari. Bahkan, beliau menghadiri belasan majelis ilmu dalam satu hari tanpa merasa lelah. Kesungguhan inilah yang kemudian membentuk kedalaman ilmunya.
Kepribadian dan Akhlak Imam Nawawi
Selain keilmuannya, Imam Nawawi juga dikenal karena akhlaknya yang luhur. Beliau hidup sederhana, menjauhi kemewahan, dan sangat berhati-hati terhadap urusan dunia. Bahkan, beliau menolak pemberian yang berpotensi mengikat kebebasan ilmunya.
Dalam keseharian, Imam Nawawi terkenal jujur, tegas dalam kebenaran, dan berani menasihati penguasa jika terjadi penyimpangan. Meski demikian, beliau tetap menjaga adab dan tidak bersikap kasar. Sikap inilah yang membuatnya dihormati oleh kawan maupun lawan.
Warisan Karya Imam Nawawi yang Mendunia
Para ulama memperkirakan jumlah karya Imam Nawawi mencapai sekitar 40–50 kitab, meskipun terdapat perbedaan pendapat karena sebagian karya beliau tidak selesai atau berupa risalah singkat. Di antara karya-karya beliau yang paling terkenal dan terus dipelajari hingga kini ialah Al-Arba’in An-Nawawiyyah, Riyadhus Shalihin, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, Minhajut Thalibin, serta At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an. Kitab-kitab tersebut mencakup berbagai disiplin ilmu, terutama hadits, fiqih mazhab Syafi’i, dan adab, yang menunjukkan keluasan keilmuan Imam Nawawi meski beliau wafat dalam usia relatif muda.
Salah satu karya beliau yang paling masyhur adalah Al-Arba’in Nawawiyyah, yang dikenal luas sebagai Kitab Hadits Arbain Nawawi. Kitab ini berisi empat puluh dua hadits pilihan yang menjadi landasan pokok ajaran Islam, meliputi akidah, ibadah, muamalah, hingga akhlak. Imam Nawawi menghimpun hadits-hadits tersebut karena kandungannya bersifat jami’, yaitu merangkum prinsip-prinsip utama agama, sehingga kitab ini sangat dianjurkan untuk dihafal dan dipelajari oleh penuntut ilmu dari berbagai tingkat.
Baca juga: Bahaya Banyak Tidur Bagi Hati Menurut Islam
Wafatnya Imam Nawawi dan Warisan Ilmu
Imam Nawawi wafat pada tahun 676 Hijriah di kampung halamannya, Nawa, dalam usia sekitar 45 tahun. Meski usianya singkat, warisan ilmunya terus hidup hingga kini. Bahkan, hampir tidak ada kajian hadits dan fiqih yang terlepas dari rujukan karya beliau.
Biografi imam nawawi mengajarkan bahwa keikhlasan, disiplin, dan kesungguhan dalam menuntut ilmu akan melahirkan manfaat yang panjang. Sosok beliau menjadi teladan nyata bahwa keberkahan ilmu tidak diukur dari usia, melainkan dari ketulusan dan pengabdian kepada Allah Swt.
