Al Muanawiyah – Hadits ke-3 Arbain Nawawi adalah salah satu hadits paling mendasar dalam ajaran Islam. Hadits ini menegaskan bahwa Islam dibangun di atas lima pilar utama, yang menjadi fondasi dalam ibadah sekaligus panduan menjalani kehidupan. Bunyi dari hadits tersebut adalah:
“Islam dibangun atas lima perkara: bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan berhaji ke Baitullah bagi yang mampu.” (HR. Bukhari & Muslim)
Kelima pilar ini bukan hanya ritual ibadah, tetapi ajaran yang membentuk karakter, moral, dan kepribadian seorang muslim, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.
Makna Inti Hadits ke-3 Arbain Nawawi
1. Syahadat: Fondasi Tauhid
Syahadat merupakan pernyataan iman yang mengikat hati, lisan, dan perbuatan. Maknanya bukan hanya mengenal Allah, tetapi hidup dengan penuh kesadaran bahwa semua keputusan, tujuan, dan nilai berasal dari tuntunan-Nya.
2. Shalat: Penghubung Hamba dengan Allah
Shalat adalah tiang agama yang menjaga hati tetap hidup. Dengan shalat lima waktu, seorang muslim belajar disiplin, kesabaran, dan kontrol diri. Shalat juga menjadi penjaga dari perbuatan buruk, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Ankabut: 45.
3. Zakat: Membersihkan Harta dan Hati
Zakat mengajarkan kepedulian sosial dan keadilan ekonomi. Ia menjadi solusi ketimpangan sosial dan sarana untuk saling membantu. Spirit zakat membentuk pribadi yang tidak kikir, jujur dalam mengelola harta, dan peka terhadap kebutuhan sesama.
4. Puasa: Melatih Kesabaran dan Kendali Diri
Berpuasa di bulan Ramadhan adalah ibadah yang melatih ketahanan mental, pengendalian hawa nafsu, dan empati terhadap orang yang kurang mampu. Ibadah ini menjaga kemurnian hati serta menumbuhkan ketenangan batin. Dalam kehidupan modern yang serba cepat, puasa mengajarkan mindfulness dan kesadaran penuh atas setiap tindakan.
5. Haji: Simbol Persatuan dan Ketundukan Total
Haji merupakan ibadah puncak yang menggambarkan kesetaraan umat manusia. Semua jamaah memakai pakaian yang sama, melakukan ritual yang sama, dan memiliki tujuan yang sama: mendekat kepada Allah. Haji menumbuhkan ketawaduan, rasa syukur, dan komitmen untuk kembali kepada kehidupan yang lebih baik.
Di tengah derasnya arus teknologi, hiburan, dan distraksi, rukun Islam menjadi fondasi moral agar seorang muslim tetap berada pada jalur yang benar. Rukun Islam menanamkan nilai:
kedisiplinan (shalat),
kepedulian sosial (zakat),
kesehatan spiritual (puasa),
tekad dan ketangguhan (haji),
serta komitmen iman (syahadat).
Dengan menghidupkan nilai-nilai ini, seorang muslim mampu menjalani kehidupan modern tanpa kehilangan arah dan prinsip.
Hikmah Hadits ke-3 Arbain Nawawi
Hadits ini mengajarkan bahwa agama tidak boleh dipisahkan dari kehidupan. Nilai rukun Islam menyentuh semua aspek: ibadah, sosial, ekonomi, hingga moral. Ketika kelima pilar dijalankan, seseorang akan memiliki karakter yang kokoh, mental yang stabil, dan akhlak yang baik.
Memahami hadits ke-3 Arbain Nawawi merupakan langkah awal. Namun, yang lebih penting adalah menjadikannya panduan dalam keseharian. Mari menjaga shalat, memperbaiki ibadah, menguatkan iman, dan menebar kebaikan melalui zakat, puasa, serta semangat menunaikan haji bila telah mampu.
Al Muanawiyah – Hadits Arbain ke-2 merupakan salah satu riwayat penting dari kumpulan Arba’in An-Nawawiyah karya Imam Nawawi. Hadits ini dikenal sebagai Hadits Jibril, karena malaikat Jibril datang dalam rupa manusia untuk bertanya kepada Rasulullah SAW tentang Islam, iman, dan ihsan. Banyak ulama menyebut hadits ini sebagai “Ummus Sunnah”, sebab kandungan ilmunya mencakup fondasi ajaran Islam secara lengkap.
Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia berkata : “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata,”Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.
Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”.
Nabi menjawab,”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.”
Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
Lelaki itu berkata lagi : “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?”
Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.”
Dia pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!”
Nabi menjawab,”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.”
Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku : “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?”
Aku menjawab, ”Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui,” Beliau bersabda,”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.” [HR Muslim, no. 8]
Kandungan Pokok Hadits
Dalam hadits ini, Jibril mengajukan tiga pertanyaan pokok. Pertama adalah tentang Islam yang terdiri dari lima rukun, yaitu syahadat, shalat, zakat, puasa Ramadhan, dan haji bagi yang mampu. Pertanyaan kedua mengenai iman yang mencakup enam keyakinan, yaitu beriman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, serta takdir baik dan buruk. Pertanyaan ketiga tentang ihsan yang dijelaskan sebagai ibadah yang dilakukan seakan-akan melihat Allah. Ketiga bagian ini menjadi dasar utama dalam memahami pokok keislaman seorang Muslim.
Hadits Arbain ke-2 juga menjelaskan tanda-tanda kiamat yang menjadi bagian dari dialog tersebut. Rasulullah SAW menyebutkan beberapa ciri seperti hamba sahaya melahirkan tuannya dan para penggembala miskin berlomba membangun gedung tinggi. Para ulama menafsirkan tanda-tanda tersebut dengan berbagai pendekatan, termasuk perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat dari masa ke masa. Kandungannya tidak dimaksudkan untuk menakuti, tetapi untuk mengingatkan agar umat lebih dekat dengan Allah.
Pentingnya Memahami Hadits Iman Islam dan Ihsan
Riwayat hadits Arbain ke-2 ini bersumber dari Umar bin Khattab RA dan tercatat dalam Shahih Muslim. Keotentikan riwayat ini membuatnya menjadi rujukan utama bagi para ulama fikih, akidah, hingga tasawuf. Banyak madrasah, pesantren, dan lembaga pendidikan Islam menjadikan hadits ini sebagai materi wajib karena mencakup prinsip dasar yang harus diketahui setiap Muslim. Pemahaman terhadap hadits ini membantu pelajar mengenali struktur keimanan yang benar dan aplikasinya dalam kehidupan.
Hadits Arbain ke-2 memberikan gambaran utuh tentang bagaimana seorang Muslim seharusnya menjalani agama. Islam mengatur amal lahir. Iman mengatur keyakinan batin. Ihsan menyempurnakan hubungan hamba dengan Allah melalui kualitas ibadah. Ketiga unsur tersebut tidak bisa dipisahkan karena saling melengkapi dalam membentuk pribadi yang kokoh dan bertakwa. Ketika seseorang memahami ketiganya, ia akan mampu menata hidup secara lebih terarah dan bermanfaat.
Contoh penerapan iman dalam kehidupan sehari-hari adalah ketika seseorang mengalami sakit. Ia harus meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang menyembuhkan Ia kemudian berusaha mencari pengobatan, baik dengan obat, istirahat, maupun konsultasi medis, sebagai bentuk ikhtiar yang diajarkan agama. Setelah itu, ia menyerahkan hasilnya kepada Allah, karena hanya Allah yang menentukan sembuh atau tidaknya seseorang. Sikap seperti ini menunjukkan perpaduan antara iman, usaha, dan tawakal.
Ilustrasi penerapan hadits arbain ke-2 dalam kondisi sakit (sumber: freepik)
Dengan memahami hadits Arbain ke-2, umat Islam diharapkan mampu menjalani agama secara lebih seimbang. Pelajaran tentang Islam, iman, dan ihsan menjadi bekal utama dalam menghadapi berbagai permasalahan modern. Hadits ini tetap relevan sepanjang masa karena menyentuh inti ajaran yang tidak berubah. Setiap Muslim dapat menjadikannya sebagai rujukan untuk memperbaiki kualitas hidup dan semakin dekat dengan Allah.
Al-Muanawiyah – Shalat bukan hanya ibadah yang menghubungkan seorang hamba dengan Allah, tetapi juga mengandung hikmah besar bagi kesehatan tubuh. Salah satu gerakan penting di dalamnya adalah rukuk. Jika dilakukan dengan benar sesuai sunnah Rasulullah ﷺ, rukuk dapat memberikan banyak manfaat, baik secara fisik maupun spiritual. Tak heran jika para ulama dan ahli kesehatan menyoroti manfaat rukuk shalat sebagai amalan yang mampu menjaga kelenturan tubuh, melatih konsentrasi, sekaligus menumbuhkan kerendahan hati di hadapan Allah.
Rukuk adalah salah satu rukun shalat yang tidak boleh ditinggalkan. Allah ﷻ berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu, dan perbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. Al-Hajj: 77)
Rasulullah ﷺ juga menegaskan dalam sabdanya:
“Kemudian rukuklah hingga kamu tenang dalam rukuk, lalu bangkitlah hingga kamu berdiri lurus.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari dalil ini, jelas bahwa rukuk tidak hanya sekadar menundukkan badan, tetapi harus dilakukan dengan penuh khidmat agar shalat khusyuk dan tenang serta mendapat keberkahan.
Ilustrasi manfaat rukuk shalat (foto: freepik)
Tata Cara Rukuk yang Benar
Agar gerakan rukuk memberikan manfaat sempurna, berikut tata cara yang diajarkan Rasulullah ﷺ:
Menurunkan badan dengan punggung lurus, sejajar dengan kepala.
Tangan menggenggam lutut, dengan jari-jari merenggang.
Pandangan mengarah ke tempat sujud.
Membaca doa rukuk: سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ Subhaana rabbiyal ‘adhiimi wa bihamdih (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung dan dengan memuji-Nya).
Tenang dalam posisi rukuk, tidak terburu-buru, sampai semua anggota tubuh benar-benar mantap.
Gerakan rukuk tidak hanya memiliki nilai ibadah, tetapi juga memberikan dampak positif bagi tubuh:
Menjaga kelenturan tulang belakang – posisi lurus saat rukuk melatih postur tubuh agar tidak bungkuk.
Melancarkan aliran darah ke otak – posisi kepala sejajar punggung membuat peredaran darah lebih optimal.
Menguatkan otot punggung dan perut – gerakan menahan tubuh di posisi tertentu melatih stabilitas otot inti.
Meregangkan otot paha dan betis – baik untuk fleksibilitas dan mengurangi ketegangan sendi.
Melatih keseimbangan tubuh – dengan tangan menempel pada lutut, tubuh terbiasa stabil.
Mengurangi stres dan memberi ketenangan jiwa – doa yang dibaca dalam rukuk membawa ketenangan batin.
Hikmah Rukuk dalam Kehidupan
Selain manfaat fisik, rukuk juga mengandung pesan spiritual yang mendalam. Gerakan ini mengajarkan manusia untuk merendahkan diri di hadapan Allah ﷻ, menumbuhkan rasa syukur, serta menyingkirkan kesombongan. Rukuk adalah simbol kerendahan hati seorang hamba yang menyadari kelemahannya di hadapan Sang Pencipta.
Rukuk bukan sekadar gerakan dalam shalat, melainkan ibadah yang membawa kebaikan lahir dan batin. Dengan memahami tata cara yang benar, seorang muslim dapat meraih manfaat rukuk shalat secara sempurna, baik untuk kesehatan tubuh maupun ketenangan jiwa.
Shalat merupakan kewajiban utama seorang Muslim dan tiang agama yang harus ditegakkan. Namun, Islam tidak hanya mendorong shalat secara individu, tetapi juga mengajarkan kebersamaan dalam bentuk shalat berjamaah. Ada banyak dalil yang menegaskan keutamaan shalat berjamaah dibandingkan sendiri.
Dalam Islam, shalat berjamaah memiliki hukum yang sangat ditekankan bagi kaum laki-laki. Rasulullah ﷺ bahkan bersabda:
“Sungguh aku berniat memerintahkan shalat didirikan, lalu aku perintahkan seseorang untuk mengimami manusia, kemudian aku pergi bersama beberapa orang membawa kayu bakar menuju orang-orang yang tidak menghadiri shalat berjamaah, lalu aku bakar rumah-rumah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya shalat berjamaah bagi laki-laki, khususnya di masjid. Selain memperoleh pahala yang berlipat ganda, kehadiran laki-laki di masjid juga menjadi tanda kekokohan iman dan simbol persatuan umat Islam. Kehadiran mereka di saf terdepan menumbuhkan kekuatan dan memperlihatkan syiar Islam di tengah masyarakat. Ada keutamaan lain yang akan diperoleh darinya, di antaranya:
1. Pahala Dilipatgandakan
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Shalat berjamaah lebih utama dibandingkan shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjadi dasar utama bahwa shalat berjamaah menghadirkan pahala berlipat ganda. Artinya, satu rakaat berjamaah nilainya jauh lebih besar daripada shalat sendirian. Begitu banyak keutamaan shalat berjamaah dibandingkan shalat sendiri, hingga Rasulullah menyuruh sahabatnya yang buta, Abdullah bin Ummi Maktum, untuk tetap shalat berjamaah. Ketika ia meminta keringanan untuk shalat di rumah, Rasulullah ﷺ bertanya:
Ini menunjukkan betapa tingginya keutamaan shalat berjamaah, hingga seorang sahabat dengan keterbatasan pun tetap dianjurkan menghadirinya.
2. Menumbuhkan Persaudaraan dan Disiplin
Shalat berjamaah menyatukan hati umat Islam tanpa memandang pangkat, kedudukan, atau harta. Semua berdiri sejajar dalam satu saf, menghadap Allah SWT. Selain itu, shalat berjamaah melatih kita untuk disiplin waktu, hadir bersama jamaah, dan menumbuhkan rasa kebersamaan.
Ilustrasi keutamaan shalat berjamaah bagi laki-laki (foto: freepik)
3. Memperbanyak tempat yang akan menjadi saksi
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah seseorang berjalan menuju shalat berjamaah kecuali Allah menulis untuknya satu pahala pada setiap langkahnya, dan menghapus satu dosa darinya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Selain itu, tempat kita bersujud juga akan menjadi saksi di akhirat, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al Zalzalah: 4:
“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”
Keutamaan shalat berjamaah bukan hanya pahala yang berlipat ganda, tetapi juga persaudaraan, disiplin, hingga saksi amal di akhirat kelak. Maka, mari kita jaga shalat berjamaah sebagai amalan utama dalam keseharian, agar kita tidak menyesal di kemudian hari ketika pahala dan kebaikan ini telah kita lewatkan.
Shalat adalah ibadah utama yang diperintahkan Allah Swt. untuk dilaksanakan lima kali sehari. Selain sebagai wujud ketaatan, keutamaan shalat tepat waktu juga menyimpan banyak hikmah yang berhubungan langsung dengan kesehatan fisik dan mental. Rasulullah Saw. bersabda bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah shalat pada waktunya (HR. Bukhari-Muslim). Ini menunjukkan betapa besar keutamaan menjaga waktu shalat.
Shalat tepat waktu merupakan tanda kedisiplinan dan rasa syukur seorang hamba. Allah Swt. memberikan pahala besar bagi orang yang menjaganya, di antaranya:
Mendapat ridha Allah dan dicatat sebagai amal terbaik.
Menjadi cahaya dan penolong di dunia serta akhirat, seperti yang sering diulang dalam doa sapu jagat.
Menjaga hati dari kelalaian dan mendekatkan diri kepada Allah.
Ketika seseorang konsisten menunaikan shalat sesuai waktunya, berarti ia tidak hanya beribadah, tetapi juga sedang melatih diri untuk menghargai waktu.
Keutamaan shalat tepat waktu dan manfaatnya bagi tubuh
Dampak pada Kehidupan Sehari-hari
Menariknya, waktu-waktu shalat bertepatan dengan momen alami tubuh manusia yang membutuhkan jeda. Misalnya, shalat Zuhur datang saat tubuh mulai lelah setelah aktivitas pagi. Dengan berhenti sejenak untuk berwudhu dan shalat, tubuh mendapat relaksasi sekaligus penyegaran pikiran.
Shalat Ashar pun hadir di saat energi mulai menurun menjelang sore. Dengan melaksanakan shalat tepat waktu, seseorang memperoleh semangat baru untuk menyelesaikan pekerjaannya tanpa rasa jenuh. Adapun shalat Maghrib dan Isya menjadi penutup aktivitas siang menuju malam, memberikan ketenangan batin dan menurunkan tingkat stres. Bahkan, shalat Subuh yang dilakukan saat fajar justru memicu hormon positif yang membuat tubuh lebih segar di awal hari.
Dari sisi psikologis, jeda shalat ini bermanfaat seperti “micro-break” dalam dunia kerja modern. Berhenti sejenak untuk ibadah membuat pikiran lebih fokus, mengurangi kelelahan mental, serta meningkatkan efektivitas dalam menyelesaikan tugas. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al-‘Ankabut ayat 45,
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
Pentingnya Menjaga Shalat
Menjaga keutamaan shalat tepat waktu bukan hanya soal ibadah, tetapi juga menyangkut kesehatan dan produktivitas hidup. Dengan menjadikan shalat sebagai jeda alami, tubuh terhindar dari kelelahan, pikiran lebih jernih, dan hati selalu tenang. Mari kita menjaga shalat tepat waktu, karena amalan shalat adalah yang pertama kali dihisab. Pastikan kita memberikan yang terbaik untuk shalat, menerapkan cara shalat khusyuk. Sehingga dapat memperoleh hidup lebih berkah di dunia dan bahagia di akhirat.
Cara shalat khusyuk merupakan dambaan setiap muslim yang ingin mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh ketenangan hati. Apalagi shalat merupakan ibadah yang paling utama dalam Islam. Ia adalah tiang agama, penghubung antara seorang hamba dengan Tuhannya. Namun, seringkali kita merasa pikiran melayang saat melaksanakan shalat, sehingga sulit meraih kekhusyukan. Padahal, Allah memuji orang-orang yang shalat khusyuk dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.”
(QS. Al-Mu’minun: 1–2).
Lalu, bagaimana cara shalat khusyuk agar ibadah ini benar-benar menghadirkan ketenangan jiwa?
Cara shalat khusyuk dan hati tenang
1. Membersihkan Hati dan Niat yang Tulus
Khusyuk dimulai dari hati. Seorang muslim harus menata niat, bahwa shalat dilakukan hanya untuk Allah, bukan karena rutinitas semata. Dengan niat yang tulus, hati akan lebih mudah merasakan kedekatan kepada Allah.
2. Memahami Bacaan Shalat
Salah satu penyebab sulitnya khusyuk adalah karena tidak memahami makna bacaan shalat. Jika kita tahu arti takbir, doa iftitah, dan ayat Al-Qur’an yang dibaca, maka hati akan lebih terikat dengan setiap gerakan. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa memahami bacaan adalah kunci utama kekhusyukan.
Wudhu yang dilakukan dengan khusyuk akan mengantar pada shalat yang khusyuk. Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila seorang hamba berwudhu lalu ia menyempurnakan wudhunya, maka dosa-dosanya keluar dari tubuhnya…” (HR. Muslim). Bersih lahir dan batin akan menenangkan hati dalam ibadah.
4. Shalat di Tempat yang Tenang
Lingkungan sangat berpengaruh terhadap kekhusyukan. Shalat di tempat yang tenang, jauh dari keramaian, akan memudahkan kita untuk fokus. Pahlawan santri dan ulama terdahulu sering mencari masjid yang hening atau ruang khusus agar hatinya tidak terganggu.
5. Mengingat Kematian dan Kehadiran Allah
Khusyuk hadir ketika kita merasa seakan-akan sedang melihat Allah, atau minimal menyadari bahwa Allah melihat kita. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim).
Dengan kesadaran ini, hati akan tunduk dan penuh rasa takut kepada-Nya.
Cara shalat khusyuk memang tidak mudah, namun bisa dilatih dengan menjaga niat, memahami bacaan, menyempurnakan wudhu, memilih tempat yang tenang, serta menghadirkan rasa muraqabah kepada Allah. Dengan menerapkan cara shalat khusyuk, ibadah tersebut bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga sumber ketenangan dan kekuatan spiritual dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Sejarah shalat memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam. Ibadah ini tidak disampaikan melalui perantara malaikat seperti syariat lainnya. Perintah shalat diberikan langsung oleh Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ saat peristiwa Isra’ Mi’raj. Perjalanan agung tersebut terjadi pada masa dakwah di Makkah, tepatnya setelah Nabi mengalami kesedihan mendalam akibat wafatnya Abu Thalib dan Khadijah.
Perjalanan Isra’ dari Masjidil Haram ke Masjid Al Aqsa
Isra’ dimulai ketika Nabi dibawa dari Masjidil Haram menuju Masjid Al Aqsa. Peristiwa ini diabadikan Allah dalam firman-Nya, QS. Al Isra’ ayat 1
Artinya: “Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Masjidil Aqsa, tempat bermulanya sejarah shalat
Perjalanan Mi’raj dari Masjid Al Aqsa ke Langit
Dari sana, beliau naik ke langit dalam peristiwa Mi’raj. Di setiap tingkatan langit, Nabi bertemu dengan para nabi terdahulu. Nabi Adam, Isa, Yahya, Yusuf, Idris, Harun, Musa, hingga Ibrahim menyambut beliau dengan penuh penghormatan. Pertemuan itu menjadi simbol bahwa risalah Nabi Muhammad ﷺ adalah kelanjutan dari risalah para nabi sebelumnya.
Sesampainya di Sidratul Muntaha, Nabi menerima perintah awal untuk melaksanakan shalat lima puluh waktu sehari. Saat kembali, Nabi Musa menasihati agar meminta keringanan kepada Allah. Dengan penuh kasih, Allah mengurangi jumlahnya hingga menjadi lima waktu sehari. Meski jumlahnya berkurang, pahalanya tetap setara lima puluh waktu.
Shalat menjadi tiang agama dan sarana mendekatkan diri kepada Allah. Ibadah ini mengajarkan kedisiplinan waktu, kekhusyukan hati, dan kebersihan jiwa. Perintahnya yang disampaikan langsung kepada Nabi menunjukkan betapa pentingnya kedudukan shalat dibanding ibadah lainnya.
Hingga kini, sejarah shalat menjadi pengingat bahwa ibadah ini adalah anugerah besar. Setiap rakaat yang kita lakukan bukan sekadar rutinitas, melainkan warisan dari peristiwa agung yang menghubungkan bumi dan langit. Menghayati sejarah shalat membantu kita menjalankannya dengan kondisi mental health yang baik dan penuh syukur. Dengan begitu, shalat benar-benar menjadi cahaya dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai seorang Muslim, memahami makna syahadat merupakan fondasi keimanan. Ia bukan hanya sekadar kalimat, tetapi ikrar besar yang mengikat seluruh kehidupan seorang Muslim, termasuk penentu diterimanya sebuah ibadah. Kalimat ini berbunyi:
“Asyhadu an lā ilāha illallāh, wa asyhadu anna Muhammadan rasūlullāh”, yang artinya: “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Makna Syahadat Pertama: Menyembah Hanya kepada Allah
Syahadat yang pertama adalah penegasan bahwa tidak ada yang pantas disembah selain Allah. Kalimat lā ilāha illallāh menolak segala bentuk penyembahan kepada selain Allah dan menegaskan bahwa hanya Allah-lah satu-satunya Tuhan yang berhak menerima ibadah.
Seorang Muslim harus yakin dan mengamalkan syahadat ini dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, kita hanya boleh berharap, berdoa, dan beribadah kepada Allah semata, tidak kepada makhluk lain. Pemahaman ini akan menjauhkan kita dari berbagai bentuk syirik besar dan kecil. Sebagaimana firman Allah,
“Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku …”. [Az-Zukhruf/43 : 26-27]
Ayat sebelumnya menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim mengatakan perkataan tersebut kepada bapaknya dan kaumnya yang menyembah patung, sedangkan Nabi Ibrahim menyembah Allah yang Maha Menciptakan. Hal ini juga menegaskan bahwa Allah tidak dapat diserupakan dalam bentuk apapun, maka segala ibadah yang ditujukan kepada selain-Nya dapat menyalahi makna syahadat yang pertama.
Ilustrasi makna syahadat bagi Muslim agar ibadah menjadi sah
Syahadat kedua adalah keyakinan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah utusan Allah. Beliau adalah manusia biasa yang diberi wahyu, bukan makhluk yang bisa disembah. Oleh karena itu, kita wajib meneladani ajarannya, tidak melebihkan atau meremehkan beliau.
Sebagaimana dalam Al-Qur’an: “Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-Qur’an)…” (QS. Al-Kahfi: 1)
Penting untuk dipahami bahwa Nabi Muhammad adalah manusia biasa yang dimuliakan dengan kerasulan berupa wahyu, bukan makhluk yang boleh disembah. Kesaksian ini menjaga umat dari dua penyimpangan: terlalu memuja hingga menyembah, atau justru meremehkan ajaran beliau.
Dengan memahami makna syahadat, seorang Muslim akan lebih berhati-hati dalam beramal. Syahadat bukan hanya diucapkan di lisan, tetapi perlu dihayati dan diamalkan dalam sikap dan ibadah. Mari terus jaga syahadat kita dengan ilmu, amal, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya.