Dalam lembaran sejarah manusia, tidak ada sosok yang mewakili puncak keangkuhan melebihi penguasa Mesir kuno. Kisah Fir’aun dalam Al-Qur’an hadir sebagai peringatan abadi bagi siapa saja yang terlena oleh jabatan dan kekuasaan. Jika Qorun hancur karena kesombongan harta, maka Fir’aun binasa karena merasa dirinya adalah otoritas tertinggi yang tidak tertandingi.
Penguasa yang Melampaui Batas
Fir’aun bukan sekadar pemimpin yang otoriter, ia adalah simbol kesombongan manusia yang paling ekstrem. Kekuasaan mutlak atas Mesir, bala tentara yang kuat, dan kekaguman rakyat membuatnya kehilangan kewarasan spiritual. Ia tidak hanya merasa hebat atau lebih baik dari orang lain, tetapi berani mengklaim posisi yang hanya milik Allah SWT.
Puncak keangkuhannya terekam jelas dalam Al-Qur’an Surat An-Nazi’at ayat 24. Dengan congkak, ia berdiri di hadapan rakyatnya dan berkata:
“Akulah tuhanmu yang paling tinggi.”
Kalimat ini menunjukkan betapa gelap hati seorang manusia ketika kekuasaan sudah membutakan akal sehatnya. Ia merasa bahwa nyawa, rezeki, dan aturan di muka bumi berada sepenuhnya dalam genggamannya.

Penolakan terhadap Kebenaran
Ketika Nabi Musa AS datang membawa dakwah dan mukjizat, Fir’aun menolaknya dengan sinis. Dalam kisah Fir’aun dalam Al-Qur’an, kita melihat bagaimana ia menggunakan retorika untuk merendahkan Nabi Musa. Ia menganggap Nabi Musa hanyalah seorang penyihir yang ingin merebut takhtanya.
Al-Qur’an menggambarkan pembelaan diri Fir’aun yang merasa kerajaannya begitu megah dalam Surat Az-Zukhruf ayat 51:
“Bukankah kerajaan Mesir ini milikku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat?”
Ia merasa bahwa kemajuan ekonomi, pembangunan fisik, dan kestabilan politik di bawah kepemimpinannya adalah bukti bahwa ia benar. Ia menutup mata bahwa semua kejayaan tersebut hanyalah ujian yang bisa Allah cabut kapan saja.
Akhir Tragis di Laut Merah
Pelajaran terbesar dari kisah Fir’aun dalam Al-Qur’an terletak pada cara Allah mengakhiri kekuasaannya. Saat ia mengejar Nabi Musa dan Bani Israil, Allah membelah laut sebagai jalan keselamatan bagi orang beriman. Namun, bagi Fir’aun dan bala tentaranya, laut tersebut justru menjadi kuburan massal.
Allah menenggelamkan Fir’aun di Laut Merah. Pada detik-detik terakhir saat air mulai menyesakkan napasnya, ia sempat menyatakan beriman, namun Allah sudah menutup pintu tobat baginya. Kekuasaan sehebat apa pun, tentara sebanyak apa pun, dan teknologi perang secanggih apa pun tidak mampu menyelamatkannya dari ketentuan Allah.
Baca juga: Pelajaran dari Kisah Qorun dalam Al-Qur’an Akibat Kesombongan
Meski raga Fir’aun telah tiada, dan jasadnya Allah awetkan sebagai pelajaran, sifat-sifat “Firaunisme” masih sering muncul di tengah masyarakat. Sifat ini muncul saat seseorang merasa:
-
Memiliki kuasa penuh untuk menindas atau meremehkan orang lain.
-
Merasa aturan hukum atau aturan Tuhan tidak berlaku bagi dirinya.
-
Mendewakan jabatan hingga mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa jabatan hanyalah titipan singkat. Kekuatan sejati terletak pada ketundukan kepada Sang Pencipta. Jika seseorang menantang ketentuan Allah dengan keangkuhannya, maka ia hanya sedang menunggu waktu untuk menjemput kehancurannya sendiri.




