Menjaga kesucian lahiriah merupakan salah satu pilar utama yang menentukan keabsahan setiap aktivitas ibadah ritual seorang muslim. Dalam literatur fikih Islam, Anda akan mengenal berbagai tingkatan kotoran spiritual yang memiliki metode penanganan berbeda-beda. Oleh karena itu, Anda harus memahami cara membersihkan najis mukhoffafah atau najis ringan secara tepat dan benar. Pengetahuan dasar thaharah ini sangat penting bagi para orang tua yang memiliki buah hati di lingkungan rumah.
Jenis kotoran ringan ini memiliki kekhasan tersendiri karena mendapatkan keringanan (rukhsah) yang sangat besar dalam proses penyuciannya. Anda tidak perlu melakukan bilasan yang rumit atau mencuci seluruh permukaan kain secara berulang-ulang seperti noda lainnya.
Kriteria Utama Kategori Najis Ringan Menurut Panduan Syariat
Sebelum mempraktikkan proses pensucian, Anda harus memastikan bahwa sumber kotoran tersebut memang termasuk dalam golongan ini. Syariat Islam memberikan batasan yang sangat spesifik mengenai kriteria objek yang masuk dalam kelompok najis ringan. Unsur utama dari golongan ini hanyalah air kencing yang berasal dari bayi laki-laki yang memenuhi dua syarat menurut bincangsyariah.com.
-
Bayi Laki-Laki Belum Menginjak Usia Dua Tahun
Keringanan hukum ini hanya berlaku jika usia sang bayi masih berada di bawah batasan dua tahun qamariyah.
-
Bayi Belum Mengonsumsi Makanan Tambahan
Selain itu, bayi tersebut harus murni hanya mengonsumsi Air Susu Ibu (ASI) sebagai sumber nutrisi utamanya. Jika sang bayi sudah mengonsumsi susu formula atau makanan pendamping, maka status kotorannya otomatis berubah menjadi najis sedang.

Panduan Langkah demi Langkah Cara Membersihkan Najis Mukhoffafah
Prosedur untuk menyucikan permukaan benda atau pakaian yang terkena air kencing bayi laki-laki ini sangatlah mudah. Berikut adalah panduan cara membersihkan najis mukhoffafah yang bisa Anda praktikkan secara langsung di rumah Anda:
-
Menghilangkan Zat Najis yang Kasat Mata
Pastikan Anda mengeringkan atau mengelap sisa air kencing yang masih basah pada permukaan lantai atau pakaian. Langkah awal ini berfungsi agar kadar kontaminasi zat tidak meluas ke area bersih yang berada di sekitarnya.
-
Memercikkan Air Suci ke Area yang Terkena Noda
Anda cukup mengambil air suci kemudian memercikkannya secara merata ke seluruh bagian permukaan yang terkena air kencing. Dalam hal ini, Anda tidak wajib mengalirkan air sampai mengalir deras atau memeras kain pakaian tersebut.
Baca juga: Syarat Air Wudhu yang Layak untuk Mensucikan Najis Sesuai Fiqh
Landasan Dalil Shahih Mengenai Keringanan Bersuci
Kemudahan dalam membasuh kotoran ringan ini bersandar sangat kuat pada petunjuk langsung dari Rasulullah SAW melalui lisan beliau. Nabi Muhammad SAW memberikan pemisah aturan yang jelas antara air kencing bayi laki-laki dan bayi perempuan. Beliau menegaskan hal tersebut melalui sebuah kutipan hadits shahih yang sangat populer di kalangan ulama:
“Air kencing bayi perempuan itu dibasuh (dengan dialirkan air), sedangkan air kencing bayi laki-laki cukup dipercikkan air.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i).
Melalui dalil tersebut, memercikkan air sudah dinilai sah untuk mengangkat status hukum najis dari permukaan sebuah benda. Kemudahan ini menjadi bukti nyata bahwa Islam senantiasa memberikan solusi yang meringankan beban umatnya dalam urusan harian.
Baca juga: Sejarah Perpindahan Kiblat Shalat dari Masjidil Aqsa Ke Ka’bah
Akhir kata, menerapkan cara membersihkan najis mukhoffafah dengan benar akan memberikan rasa tenang saat Anda mengasuh buah hati. Islam menaruh perhatian yang sangat tinggi pada aspek kebersihan tanpa harus memberatkan aktivitas harian para pemeluknya. Semoga ulasan ringkas ini dapat memperluas khazanah keilmuan fikih thaharah praktis Anda di dalam lingkungan keluarga tercinta. Selamat menjaga kebersihan diri dan raihlah kesempurnaan ibadah melalui perilaku hidup yang suci setiap hari!




