Menjaga kesucian diri dari berbagai macam kotoran merupakan syarat mutlak yang menentukan keabsahan ibadah seorang muslim. Syariat Islam memberikan panduan yang sangat detail mengenai jenis-jenis kotoran yang dapat membatalkan salat. Oleh karena itu, Anda wajib memahami konsep najis mutawasshithah yang paling sering kita temui dalam aktivitas harian. Pemahaman yang keliru tentang masalah ini dapat menyebabkan pakaian atau tempat ibadah Anda tetap berada dalam kondisi tidak suci.
Secara umum, para ulama fikih mengartikan istilah ini sebagai kelompok kotoran tingkat sedang. Kelompok ini berada di tengah-tengah antara jenis kotoran yang ringan (mukhoffafah) dan jenis kotoran yang berat (mughallazhah).
Mengenal Macam-Macam Najis Muthawassithah
Untuk mengidentifikasi jenis kotoran ini, kita perlu melihat apa saja zat yang masuk ke dalam kategori tersebut menurut para ulama. Benda-benda yang termasuk dalam kelompok najis mutawasshithah adalah air kencing orang dewasa, tinja manusia, kotoran hewan, darah, nanah, madi, serta wadi. Selain itu, muntahan yang keluar dari lambung dan khamr (minuman keras) juga masuk ke dalam tingkatan kotoran yang sama.

Kewajiban untuk membersihkan benda-benda tersebut dijelaskan langsung pada perintah Nabi Muhammad SAW di dalam hadits yang shahih. Saat mengajari sahabat perempuan mengenai cara membersihkan noda darah pada pakaian, Rasulullah SAW memberikan instruksi yang sangat jelas:
“Engkau mengeriknya, lalu menggosoknya dengan air, kemudian menyiramnya, setelah itu engkau boleh menggunakannya untuk salat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Namun, aturan ini tidak berlaku untuk bangkai manusia, bangkai ikan, dan bangkai belalang karena ketiganya berstatus suci, sebagaimana tercantum dalam Bab Bangkai Najis dan Suci. Seluruh jenis kotoran sedang di luar pengecualian tersebut wajib Anda bersihkan secara menyeluruh sebelum mendirikan ibadah salat.
Langkah Menyucikan Benda yang Terkena Najis Muthawassithah
Proses pembersihan kelompok kotoran ini terbagi menjadi dua metode berdasarkan kondisi fisik noda yang menempel pada benda. Jika kotoran tersebut masih basah, memiliki warna, atau mengeluarkan bau (‘ainiyah), Anda wajib membuang zat fisiknya terlebih dahulu menggunakan kain atau tisu. Selanjutnya, Anda harus membasuh area tersebut menggunakan air mengalir sampai warna, bau, dan rasanya hilang secara sempurna.
Namun, jika kotoran tersebut sudah lama mengering dan tidak lagi meninggalkan bau atau warna (hukmiyah), proses bersucinya menjadi lebih mudah. Anda cukup mengalirkan air suci sekali saja tepat di atas permukaan benda atau pakaian yang pernah terkena noda tersebut. Dengan demikian, status benda tersebut otomatis berubah menjadi suci kembali dan siap Anda gunakan untuk beribadah.
Baca juga: Cara Membersihkan Najis di Kasur dengan Benar Sesuai Fiqh
Jika setelah Anda cuci secara maksimal ternyata warna atau bau membandel masih sedikit tersisa, hukumnya dimaafkan dalam syariat Islam. Hal yang paling esensial adalah Anda sudah mengalirkan air bersih di atasnya dan berusaha menghilangkan zat kotoran tersebut.
Menguasai seluk-beluk najis mutawasshithah akan memberikan rasa tenang dan mantap setiap kali Anda akan mendirikan ibadah. Penerapan pola bersuci yang benar juga mencerminkan tingkat kepatuhan seorang hamba terhadap syariat kesucian yang agung. Semoga ulasan fikih praktis ini dapat menambah wawasan keagamaan Anda bersama seluruh anggota keluarga di rumah. Selamat menjaga kebersihan tempat tinggal dan mari kita terapkan gaya hidup suci setiap hari!


















