Kehidupan modern sering kali menghadapkan manusia pada berbagai tekanan yang memicu stres dan kegelisahan batin. Banyak orang mencoba mencari jalan keluar dengan mengejar kebahagiaan materialistik di dunia fana ini. Padahal, pemenuhan kebutuhan fisik semata tidak akan pernah bisa memuaskan dahaga spiritual yang kering. Islam memberikan panduan komprehensif bagi setiap hamba untuk menyembuhkan penyakit mental dan kecemasan jiwa tersebut. Salah satu obat penawar paling mujarab tertuang dalam lembaran suci Surah Ar-Ra’d ayat ke-28.
Memahami secara mendalam hikmah Ar Ra’d ayat 28 akan mengantarkan Anda pada hakikat kedamaian hati yang sejati.
Konteks Sejarah di Balik Surat Ar Ra’d ayat 28
Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin dalam tafsirweb.com menjelaskan konteks ayat ini melalui karya Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim. Beliau memaparkan bahwa kaum musyrik zaman dahulu selalu menuntut mukjizat fisik secara berlebihan kepada Rasulullah. Mereka mempertanyakan mengapa Nabi tidak mendatangkan tanda-tanda kebesaran yang kasatmata sebagaimana para utusan terdahulu. Orang-orang kafir tersebut bahkan meminta Nabi untuk mengubah bukit Shafa menjadi emas murni yang berkilau. Mereka juga menuntut pengaliran mata air baru serta penggeseran bukit-bukit di sekitar kota Makkah.

Menanggapi hal itu, Allah sebenarnya mampu memenangi permintaan tersebut secara langsung jika Dia menghendaki. Allah kemudian memberikan dua pilihan wahyu yang sangat krusial kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pilihan pertama adalah mengabulkan tuntutan tersebut namun dengan risiko azab yang berat jika mereka tetap ingkar. Pilihan kedua yang Allah tawarkan adalah membukakan pintu taubat serta rahmat yang luas bagi mereka. Rasulullah dengan kelembutan hatinya kemudian lebih memilih pembukaan pintu taubat dan rahmat bagi kaumnya.
Melalui peristiwa ini, Allah menegaskan bahwa hidayah petunjuk sama sekali tidak berkaitan dengan urusan mukjizat fisik semata.
Karakteristik Hamba yang Meraih Ketenangan Melalui Aktivitas Mengingat Allah
Tafsir Ibnu Katsir menegaskan bahwa Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang bertaubat. Allah pasti memberikan petunjuk kepada manusia yang mau kembali, memohon pertolongan, serta tunduk pasrah kepada-Nya. Golongan manusia yang mendapatkan petunjuk mulia ini memiliki karakteristik spiritual yang sangat khas dan istimewa. Mereka adalah orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan aktivitas mengingat Allah. Hati kaum mukmin tersebut akan merasa sangat senang dan tenang berada di sisi Allah.
Selanjutnya, mereka juga merasa sangat tenteram ketika melantunkan zikir serta ridha kepada-Nya sebagai Pelindung utama.
Baca juga: Ayat Mutasyabihat Dan Cara Membedakannya Saat Menghafal
Makna Kebahagiaan dan Keindahan Tempat Kembali Bagi Orang yang Beramal Saleh
Allah melanjutkan firman-Nya pada ayat berikutnya mengenai balasan bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Kelompok hamba yang bertakwa ini akan memperoleh kebahagiaan (thuba) serta tempat kembali yang paling baik. Sahabat Ibnu Abbas menafsirkan kata kebahagiaan tersebut sebagai kondisi hati yang gembira dan tenang. Ulama tabiin Ibrahim An-Nakha’i juga menambahkan makna tersebut sebagai bentuk pemberian kebaikan yang berlimpah dari Allah.
Senada dengan hal itu, Qatadah menyebut istilah tersebut sebagai ungkapan bahasa Arab untuk menyatakan perolehan kebaikan. Semua pendapat para ulama tersebut saling mendukung dan tidak memiliki pertentangan makna sama sekali. Mereka sepakat bahwa kedamaian batin di dunia akan berujung pada keindahan surga di akhirat kelak. Oleh karena itu, kita harus senantiasa membasahi lisan kita dengan berzikir kepada Allah setiap waktu.
Baca juga: Dzikir Dengan Al-Qur’an Beserta Ayat-Ayat yang Dibaca
Kesimpulannya, ayat suci ini mengajarkan bahwa ketenangan tidak bersumber dari keajaiban duniawi atau materi fisik. Kedamaian jiwa merupakan hadiah eksklusif dari Allah bagi hamba-Nya yang rajin berzikir dan bertaubat. Mengingat Allah melalui tilawah dan tasbih terbukti mampu mengusir segala bentuk kecemasan dari dalam pikiran. Oleh karena itu, mari kita jadikan zikir sebagai aktivitas utama untuk membentengi kesehatan mental kita. Semoga ulasan mengenai hikmah Ar Ra’d ayat 28 ini dapat meningkatkan kualitas keimanan kita semua.




