Surat Al-Lail merupakan salah satu surat dalam Al-Qur’an yang menegaskan bahwa usaha manusia di dunia ini sangat bervariasi. Allah mengawali surat ini dengan sumpah demi malam, siang, serta penciptaan laki-laki dan perempuan. Setiap manusia menempuh jalan hidup yang berbeda, baik menuju kebaikan maupun keburukan. Oleh karena itu, memahami latar belakang turunnya ayat ini sangat penting agar kita tidak salah dalam memahami konsep takdir. Memahami asbabun nuzul Al Lail secara benar akan mendorong umat Islam untuk terus beramal saleh tanpa sifat pasrah yang keliru. Berikut adalah penjelasannya berdasarkan Tafsir Ibnu Katsir.
Peristiwa Baqi Al Gharqad dan Dialog Rasulullah Bersama Para Sahabat
Sebab turunnya ayat 5 hingga 10 dalam Surat Al-Lail terekam secara shahih dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Ali bin Abi Thalib. Peristiwa ini bermula saat Rasulullah dan para sahabat sedang melayat dalam pengurusan jenazah di pemakaman Baqi’ Al-Gharqad. Rasulullah duduk memegang tongkat lalu bersabda bahwa Allah telah mencatat tempat duduk setiap jiwa di surga atau neraka.
Baca juga: Adab Bermedia Sosial yang Bijak Sesuai Anjuran Islam
Mendengar ucapan tersebut, para sahabat lantas bertanya mengenai kewajiban beramal. Mereka bertanya apakah umat Islam sebaiknya pasrah saja pada takdir dan meninggalkan seluruh amal usaha. Rasulullah langsung membantah pemikiran tersebut dan memerintahkan mereka untuk tetap terus beramal. Beliau menjelaskan bahwa Allah memudahkan setiap orang menuju takdir yang telah ditetapkan bagi dirinya.
Setelah memberikan penjelasan tersebut, Rasulullah membacakan firman Allah dalam Surat Al-Lail ayat 5 sampai 10.

Perbedaan Jalan Kemudahan dan Jalan Kesukaran Menurut Tafsir Ibnu Katsir
Melalui ayat-ayat yang turun tersebut, Allah membagi manusia ke dalam dua kelompok utama berdasarkan amal perbuatannya.
-
Kelompok Pertama (Jalan Kemudahan): Golongan ini adalah orang-orang yang suka menginfakkan hartanya di jalan Allah, bertakwa, dan meyakini balasan pahala surga. Ibnu Abbas menjelaskan bahwa mereka secara aktif mengeluarkan harta untuk menjalankan perintah Allah. Oleh karena itu, Allah akan melapangkan dan memudahkan langkah mereka menuju ketaatan dan kebahagiaan.
-
Kelompok Kedua (Jalan Kesukaran): Golongan ini merupakan orang-orang yang kikir (bakhil), merasa tidak membutuhkan pahala Allah, dan mendustakan balasan akhirat. Akibat kesombongan tersebut, Allah mengarahkan jalan hidup mereka menuju kebinasaan dan kesengsaraan.
Ibnu Katsir menegaskan bahwa harta melimpah yang ditimbun secara kikir tidak akan memberi manfaat sedikit pun ketika pemiliknya telah binasa.
Baca juga: Hadits Arbain ke-17: Perintah Berbuat Baik dan Adab Menyembelih
Kesimpulannya, asbabun nuzul Al Lail memberikan pelajaran penting agar kita tidak bersikap pasrah tanpa berusaha. Setiap kebaikan yang kita kerjakan hari ini merupakan tanda bahwa Allah sedang memudahkan langkah kita menuju surga-Nya. Mari kita terus gemar bersedekah dan melatih ketaatan agar tergolong ke dalam kelompok yang Allah berikan jalan kemudahan. Semoga ulasan tafsir ini dapat memperkuat keimanan dan semangat beramal kita semua.


















