Tafsir Al Ghasyiyah 21-26 membahas tugas Rasulullah dalam menyampaikan peringatan serta kepastian manusia kembali kepada Allah. Setelah mengajak manusia merenungi berbagai ciptaan-Nya pada ayat sebelumnya, Surat Al-Ghasyiyah kembali membahas tanggung jawab Rasul dalam menyampaikan agama. Nabi Muhammad bertugas memberikan peringatan dan petunjuk, tetapi beliau tidak memiliki kuasa untuk memaksa seseorang beriman. Pada akhirnya, semua manusia akan kembali kepada Allah dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Rangkaian ayat ini juga memberikan pelajaran penting bagi para pendakwah. Dakwah membutuhkan kesungguhan, tetapi manusia tidak dapat memaksakan hidayah kepada orang lain. Karena itu, seorang Muslim perlu menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Baca juga: Tafsir Al Ghasyiyah 18-20: Merenungi Kekuasaan Allah melalui Ciptaan-Nya
Tafsir Al Ghasyiyah Ayat 21: Tugas Nabi untuk Memberi Peringatan
Allah berfirman:
فَذَكِّرْ ۗ اِنَّمَآ اَنْتَ مُذَكِّرٌۙ
“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan.”
Ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad untuk terus memberikan peringatan kepada manusia. Beliau menyampaikan agama Allah dengan membawa kabar gembira bagi orang yang beriman dan beramal saleh. Di sisi lain, beliau juga memberikan peringatan tentang akibat yang menanti orang yang mengingkari kebenaran.
Tugas tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah menjalankan amanah dakwah dengan menyampaikan wahyu. Beliau mengajak manusia mengenal Allah, beriman kepada-Nya, serta menjalankan ajaran Islam. Namun, tugas Rasul bukan memaksa manusia menerima keimanan.
Karena itu, ayat ini juga mengajarkan pentingnya menyampaikan nasihat dengan penuh kesungguhan. Seorang Muslim dapat mengingatkan orang lain tentang kebaikan, tetapi ia perlu memahami bahwa hidayah berada dalam kekuasaan Allah.

Ayat 22-24: Nabi Tidak Memaksa Manusia untuk Beriman
Pada ayat berikutnya, Allah menegaskan bahwa Nabi Muhammad bukanlah orang yang berkuasa memaksa manusia agar beriman. Allah berfirman:
لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ ۙ
“Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.”
Ayat ini menunjukkan batas tugas Rasulullah dalam berdakwah. Beliau menyampaikan wahyu dan memberikan peringatan, sedangkan Allah yang memberikan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.
Al-Qur’an juga menegaskan hal tersebut dalam Surah Yunus ayat 99:
وَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ لَاٰمَنَ مَنْ فِى الْاَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًاۗ اَفَاَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتّٰى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ
“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman?”
Ayat tersebut memperjelas bahwa iman tidak lahir dari paksaan. Rasulullah tetap menyampaikan kebenaran, tetapi beliau tidak memegang kendali atas hati manusia.
Dakwah Perlu Menggunakan Cara yang Baik
Kandungan ayat 21-24 juga memberikan pedoman bagi aktivitas dakwah. Seorang dai perlu menyampaikan pesan Al-Qur’an dan hadis sambil mengajak manusia kepada iman dan amal saleh. Namun, dakwah tidak boleh berubah menjadi tindakan memaksa.
Allah berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 125:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.”
Ayat tersebut mengajarkan pentingnya hikmah dan nasihat yang baik dalam menyampaikan ajaran Islam. Cara menyampaikan pesan juga perlu mempertimbangkan keadaan orang yang menerima dakwah. Dengan pendekatan yang baik, seseorang dapat menyampaikan kebenaran tanpa merendahkan atau memaksa orang lain.
Al-Qur’an juga menyebutkan:
لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ
“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat.”
Prinsip tersebut mengingatkan bahwa dakwah memiliki tujuan mengajak dan memberi pemahaman. Seorang Muslim dapat menyampaikan ajaran Islam dengan sungguh-sungguh, tetapi tetap menghormati pilihan manusia dalam menerima atau menolaknya.
Baca juga: Tafsir Al Ghasyiyah 1-10: Gambaran Wajah Manusia di Akhirat
Orang yang Berpaling Akan Mempertanggungjawabkan Perbuatannya
Setelah menjelaskan tugas Rasulullah, ayat-ayat ini juga mengingatkan tentang akibat berpaling dari kebenaran. Orang yang menolak petunjuk Allah akan menghadapi pertanggungjawaban atas perbuatannya.
Allah mengetahui apa yang manusia kerjakan dan katakan. Karena itu, tidak ada perbuatan yang benar-benar luput dari pengetahuan-Nya. Manusia mungkin menghindari nasihat atau menolak peringatan di dunia, tetapi mereka tidak dapat menghindari perhitungan Allah.
Peringatan tersebut menjadi pengingat bahwa kebebasan manusia dalam memilih bukan berarti bebas dari pertanggungjawaban. Setiap pilihan memiliki konsekuensi. Karena itu, manusia perlu menggunakan kesempatan hidup untuk beriman dan memperbanyak amal saleh.
Tafsir Al Ghasyiyah Ayat 25-26: Semua Manusia Kembali kepada Allah
Ayat 25 dan 26 mengakhiri Surat Al-Ghasyiyah dengan pengingat tentang tempat kembali manusia. Allah berfirman:
اِنَّ اِلَيْنَآ اِيَابَهُمْۙ
“Sesungguhnya kepada Kamilah mereka kembali.”
Kemudian Allah melanjutkan:
ثُمَّ اِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ
“Selanjutnya, sesungguhnya kewajiban Kamilah membuat perhitungan atas mereka.”
Ayat ini menegaskan bahwa manusia tidak akan selamanya berada di dunia. Setiap orang akan kembali kepada Allah. Setelah itu, Allah akan menghisab perbuatan yang telah mereka lakukan selama hidup.
Tidak ada tempat bagi manusia untuk melarikan diri dari ketetapan tersebut. Karena itu, kehidupan dunia seharusnya tidak membuat seseorang lupa terhadap kehidupan akhirat. Setiap amal, ucapan, dan pilihan perlu dipertimbangkan karena manusia akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah.
Penghibur bagi Rasulullah dalam Berdakwah
Rangkaian ayat terakhir ini juga menjadi penghibur bagi Nabi Muhammad ketika menghadapi penolakan dari orang-orang yang mengingkari dakwahnya. Rasulullah telah menjalankan tugasnya dengan menyampaikan wahyu dan memberikan peringatan. Beliau tidak perlu memikul beban untuk memastikan semua orang menerima keimanan.
Pesan tersebut memberikan ketenangan bahwa Allah mengetahui seluruh perjuangan Rasulullah. Allah juga mengetahui sikap orang-orang yang menolak kebenaran. Pada akhirnya, mereka akan kembali kepada-Nya dan menghadapi perhitungan atas perbuatannya.
Pelajaran ini juga relevan bagi umat Islam ketika mengajak orang lain kepada kebaikan. Seseorang dapat menyampaikan nasihat dengan cara yang bijaksana, tetapi tidak perlu memaksakan hasil. Kesungguhan dalam menyampaikan kebaikan merupakan bagian dari ikhtiar, sedangkan hidayah dan hasil akhirnya berada dalam kehendak Allah.
Pelajaran dari Tafsir Al Ghasyiyah 21-26
Tafsir Al Ghasyiyah 21-26 mengajarkan bahwa dakwah membutuhkan kesungguhan sekaligus kebijaksanaan. Rasulullah mendapatkan tugas untuk memberi peringatan, menyampaikan kabar gembira, dan mengajak manusia kepada jalan Allah. Namun, beliau tidak bertugas memaksa hati manusia agar menerima iman.
Selain itu, ayat-ayat terakhir Surat Al-Ghasyiyah mengingatkan bahwa setiap manusia akan kembali kepada Allah. Dunia menjadi tempat manusia menjalani kehidupan sekaligus mengumpulkan amal. Pada akhirnya, Allah akan memperhitungkan semua perbuatan manusia.
Karena itu, rangkaian penutup Surat Al-Ghasyiyah mengajak kita untuk tidak hanya memikirkan kehidupan dunia. Kita perlu memperbaiki iman, memperbanyak amal saleh, dan menyampaikan kebaikan dengan cara yang bijaksana. Dengan memahami pesan tersebut, kita dapat menjalani kehidupan dengan kesadaran bahwa setiap langkah akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Referensi:
Surat Al-Ghasyiyah Ayat 26: Arab, Latin, Terjemah dan Tafsir Lengkap | Quran NU Online




