Tafsir Al Fajr Ayat 11-20: Kesombongan, Harta, dan Kemuliaan Muslim

Tafsir Al Fajr Ayat 11-20: Kesombongan, Harta, dan Kemuliaan Muslim

Tafsir Al Fajr ayat 11-20 membahas kesombongan kaum terdahulu, azab yang menimpa mereka, serta cara manusia memandang harta dan kemuliaan. Setelah menyebut kaum ‘Ad, Tsamud, dan Fir’aun pada ayat sebelumnya, Surat Al-Fajr menjelaskan sifat-sifat yang membawa mereka kepada kebinasaan. Selanjutnya, pembahasan beralih kepada kesalahan manusia ketika menjadikan harta sebagai ukuran kemuliaan.

Melalui ayat 11 hingga 20, Al-Qur’an mengingatkan bahwa kekuatan, kekayaan, dan kedudukan tidak menentukan kedudukan seseorang di sisi Allah. Sebaliknya, manusia perlu melihat keimanan dan ketakwaan sebagai ukuran utama kemuliaan.

Baca juga: Tafsir Al-Fajr Ayat 1-10: Sumpah Allah dan Kisah Kaum yang Dibinasakan

Ayat 11: Melampaui Batas di Negeri

الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ

Artinya:

“Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri.”

Ayat ini menjelaskan sifat kaum ‘Ad, Tsamud, dan Fir’aun. Mereka melampaui batas, melakukan kezaliman, serta menyombongkan diri di negeri-negeri mereka. Kesombongan sering mendorong seseorang untuk bertindak sewenang-wenang.

Ketika seseorang merasa memiliki kekuatan dan kekuasaan, ia dapat mengabaikan batas yang telah Allah tetapkan. Oleh karena itu, thughyan atau sikap melampaui batas tidak hanya merusak diri sendiri. Sikap tersebut juga dapat menjadi awal munculnya kezaliman terhadap orang lain.

Ayat 12: Kesombongan Melahirkan Kerusakan

فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ

Artinya:

“Lalu mereka banyak berbuat kerusakan dalam negeri itu.”

Setelah melampaui batas, kaum-kaum tersebut kemudian melakukan banyak kerusakan. Hal ini menunjukkan bahwa kesombongan dan kekuasaan yang tidak dikendalikan dapat membawa dampak buruk bagi masyarakat. Seseorang yang bertindak sewenang-wenang sering kali tidak lagi memperhatikan hak orang lain. Akibatnya, kezaliman berkembang dan kerusakan semakin meluas.

Dengan demikian, ayat ini menunjukkan hubungan antara kesombongan dan kerusakan. Ketika manusia tidak lagi tunduk kepada aturan Allah, ia dapat menggunakan kekuatan untuk memenuhi kepentingannya sendiri.

Ayat 13: Cemeti Azab bagi Orang yang Berbuat Kerusakan

فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ

Artinya:

“Karena itu Tuhanmu menuangkan cemeti azab kepada mereka.”

Karena mereka terus melakukan kerusakan, azab pun menimpa kaum-kaum tersebut. Dalam penjelasan Ustadz Firanda Andirja terkait tafsir Al Fajr,  penggunaan kata “cemeti” menunjukkan bahwa azab dunia yang mereka terima masih ringan dibandingkan dengan azab akhirat.

Kaum ‘Ad menerima azab melalui angin yang menghancurkan mereka. Kaum Tsamud menerima azab berupa suara yang sangat keras. Sementara itu, Fir’aun dan bala tentaranya binasa karena tenggelam di laut. Semua bentuk azab tersebut sangat mudah bagi Allah.

Fir’aun dan Laut yang Terbelah

Kisah Fir’aun menjadi salah satu gambaran tentang bagaimana kekuasaan manusia tidak mampu melawan ketetapan Allah. Nabi Musa membawa Bani Israil keluar pada malam hari. Kemudian, Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya ke laut.

laut merah terbelah dalam kisah nabi musa
Ilustrasi laut merah, tempat Nabi Musa dan umatnya melarikan diri dari kejaran Fir’aun (sumber: SS Youtube/Daftar Populer)

Dalam Surat Thaha ayat 77 disebutkan:

وَلَقَدْ أَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ يَبَسًا لَّا تَخَافُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَىٰ

Artinya:

“Dan sungguh telah Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pergilah bersama hamba-hamba-Ku pada malam hari dan buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu. Engkau tidak perlu takut akan tersusul dan tidak perlu khawatir.’”

Atas izin Allah, laut terbelah dan Bani Israil berhasil melewatinya. Setelah itu, Nabi Musa tidak menutup kembali laut tersebut. Dalam Surat Ad-Dukhan ayat 23–24, Allah memerintahkan Nabi Musa untuk membiarkan laut tetap terbelah.

Fir’aun kemudian melanjutkan pengejaran bersama pasukannya. Namun, ketika mereka berada di tengah laut, Allah menutup kembali lautan dan menenggelamkan seluruh pasukan tersebut. Menurut penjelasan tafsir yang menjadi dasar pembahasan ini, penggunaan kata ṣabba atau “menuangkan” juga memberikan gambaran tentang azab yang datang secara cepat dan tiba-tiba.

Kaum ‘Ad melihat awan dan mengira mereka akan mendapatkan hujan. Ternyata, yang datang adalah angin pembawa azab. Kaum Tsamud juga tidak mengetahui bentuk azab yang akan menimpa mereka. Demikian pula Fir’aun yang masuk ke tengah laut tanpa menyadari akhir yang menunggunya.

Ayat 14: Tidak Ada yang Luput dari Pengawasan Allah

إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ

Artinya:

“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.”

Ayat ini menjadi peringatan setelah kisah kebinasaan kaum terdahulu. Allah mengetahui setiap perbuatan manusia. Kesombongan, kekufuran, kezaliman, dan berbagai perbuatan lainnya tidak pernah luput dari pengawasan-Nya. Karena itu, seseorang mungkin dapat menyembunyikan kesalahannya dari manusia. Namun, tidak ada perbuatan yang dapat tersembunyi dari Allah.

Ayat ini juga menjadi peringatan bagi manusia agar tidak merasa aman ketika terus melakukan dosa. Kisah kaum ‘Ad, Tsamud, dan Fir’aun menunjukkan bahwa kekuatan dunia tidak mampu menghalangi keputusan Allah.

Ayat 15: Menganggap Kekayaan sebagai Kemuliaan

فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ

Artinya:

“Maka adapun manusia apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’”

Ayat ini menggambarkan pola pikir manusia yang menjadikan harta sebagai ukuran kemuliaan. Ketika memperoleh kelapangan rezeki, seseorang dapat langsung menganggap bahwa Allah telah memuliakannya. Padahal, kekayaan juga merupakan ujian.

Dalam penjelasan para ulama yang dikutip Ustadz Firanda, kata al-insan dalam sejumlah pembahasan surat Makkiyah dapat merujuk kepada gambaran orang kafir, kecuali terdapat dalil yang menunjukkan makna lain. Pola pikir tersebut menjadikan banyaknya harta sebagai bukti bahwa seseorang memiliki kedudukan tinggi.

Ayat 16: Menganggap Kesempitan sebagai Kehinaan

وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

Artinya:

“Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.’”

Sebaliknya, ketika rezeki seseorang berkurang atau kehidupannya terasa sempit, ia menganggap Allah telah menghinakannya. Cara berpikir tersebut dibantah oleh Al-Qur’an. Kelapangan dan kesempitan sama-sama dapat menjadi ujian. Karena itu, banyaknya harta tidak selalu menunjukkan kemuliaan. Sebaliknya, sedikitnya harta juga tidak berarti seseorang rendah di sisi Allah.

Seorang beriman memiliki ukuran yang berbeda. Ia melihat kemudahan untuk melakukan ketaatan sebagai bentuk nikmat yang besar. Ketika seseorang mendapatkan taufik untuk menjaga shalat, bersedekah, dan melakukan ibadah, ia mendapatkan karunia yang sangat berharga. Sebaliknya, ketika seseorang semakin jauh dari ketaatan, ia perlu mengkhawatirkan keadaan tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan doa:

وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا

Artinya:

“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan musibah yang menimpa kami dalam urusan agama kami.”

Dengan demikian, musibah yang paling perlu ditakuti bukan hanya kehilangan harta. Jauh dari ketaatan kepada Allah juga merupakan musibah yang sangat besar.

Ayat 17: Tidak Memuliakan Anak Yatim

كَلَّا ۖ بَل لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ

Artinya:

“Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim.”

Kata kallā menjadi bantahan terhadap anggapan bahwa harta menentukan kemuliaan seseorang. Seseorang dapat menjadi mulia meskipun hidup dalam kesederhanaan. Sebaliknya, seseorang dapat memiliki banyak harta tetapi tetap rendah di sisi Allah.

Kemuliaan sejati berkaitan dengan keimanan dan ketakwaan. Orang yang hanya mengejar dunia dapat kehilangan kepedulian terhadap anak yatim. Bahkan, ketamakan terhadap harta dapat mendorong seseorang mengambil hak mereka. Karena itu, ayat ini mengingatkan bahwa keimanan seharusnya melahirkan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan.

Tafsir Al-Fajr Ayat 18: Tidak Saling Mengajak Memberi Makan Orang Miskin

وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

Artinya:

“Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin.”

Ayat berikutnya memperlihatkan bentuk lain dari lemahnya kepedulian sosial.

Mereka tidak hanya enggan membantu orang miskin. Mereka juga tidak saling mendorong untuk memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan. Seorang Muslim seharusnya membangun kebiasaan yang berbeda. Selain melakukan kebaikan, ia juga dapat mengajak orang lain untuk peduli kepada sesama. Dengan demikian, kepedulian tidak hanya berhenti sebagai tindakan pribadi. Kebaikan juga dapat tumbuh menjadi budaya dalam keluarga dan masyarakat.

gambar orang sedekah contoh amal dalam tafsir al fajr 11-20
Memberi sedekah kepada sesama termasuk amal yang utama (foto: freepik.com)

Tafsir Al-Fajr Ayat 19: Tamak terhadap Harta Warisan

وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّا

Artinya:

“Sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan yang halal dan yang haram.”

Dalam penjelasan yang dikutip dari para ahli tafsir, aklan lamma menggambarkan seseorang yang mengambil setiap harta yang ditemukannya tanpa mempedulikan apakah harta tersebut halal atau haram. Ia mengambil miliknya dan bahkan mengambil hak orang lain. Sikap tersebut menunjukkan ketamakan terhadap dunia. Keinginan memperoleh harta membuat seseorang tidak lagi memperhatikan batas halal dan haram.

Ayat ini menjadi peringatan agar seseorang menjaga hak dalam urusan harta, terutama dalam persoalan warisan. Keinginan memperoleh bagian yang lebih banyak tidak boleh mendorong seseorang mengambil hak orang lain.

Tafsir Al-Fajr Ayat 20: Mencintai Harta Secara Berlebihan

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

Artinya:

“Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.”

Manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk mencintai harta. Terlebih lagi, seseorang sering memperoleh harta setelah bekerja keras dan menghabiskan banyak tenaga. Namun, kecintaan tersebut dapat menjadi masalah ketika harta berubah menjadi tujuan utama hidup.

Dalam pembahasan tafsir Al Fajr ayat 11-20, harta bukan sesuatu yang tercela pada dirinya. Akan tetapi, kecintaan yang berlebihan dapat membuat seseorang lupa kepada tujuan akhir hidupnya. Seorang Muslim perlu menyadari bahwa harta yang ia tinggalkan di dunia tidak akan ia bawa setelah meninggal. Sebaliknya, harta yang ia gunakan untuk ketaatan dapat menjadi bekal di akhirat.

Hal tersebut sejalan dengan hadis tentang kambing yang dibagikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika ‘Aisyah menyampaikan bahwa hanya bagian pundak yang tersisa, Rasulullah menjelaskan bahwa yang telah dibagikan justru menjadi bagian yang benar-benar tersisa. Artinya, sedekah tidak sekadar mengurangi harta. Sebaliknya, seseorang sedang menyimpan hartanya untuk kehidupan akhirat.

Pelajaran dari Tafsir Al Fajr Ayat 11-20

Rangkaian tafsir Al Fajr ayat 11-20 memberikan peringatan yang saling berkaitan. Kesombongan dapat membawa manusia kepada kezaliman. Kezaliman kemudian melahirkan kerusakan. Jika manusia terus melampaui batas, tidak ada satu pun perbuatannya yang luput dari pengawasan Allah.

Selanjutnya, ayat-ayat tersebut memperbaiki cara manusia memandang kehidupan. Kekayaan bukan jaminan kemuliaan. Kemiskinan juga bukan bukti kehinaan. Yang perlu menjadi perhatian seorang Muslim adalah keimanan dan kedekatannya kepada Allah.

Selain itu, ayat-ayat ini mengajarkan kepedulian terhadap anak yatim dan orang miskin. Manusia juga perlu menjaga diri dari ketamakan serta kecintaan berlebihan terhadap harta. Memahami Al-Qur’an tidak hanya membantu seseorang mengetahui makna ayat. Lebih dari itu, tafsir dapat membantu seorang Muslim menjadikan pesan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan.

Tafsir Al-Fajr Ayat 1-10: Sumpah Allah dan Kisah Kaum yang Dibinasakan

Tafsir Al-Fajr Ayat 1-10: Sumpah Allah dan Kisah Kaum yang Dibinasakan

Tafsir Al-Fajr ayat 1-10 mengajak manusia merenungkan kekuasaan Allah melalui waktu dan perjalanan umat terdahulu. Allah membuka surat ini dengan beberapa sumpah, kemudian mengingatkan manusia tentang kaum ‘Ad, Tsamud, dan Fir’aun. Mereka pernah memiliki kekuatan, kemampuan, dan kekuasaan besar pada zamannya.

Namun, kelebihan tersebut tidak membuat mereka selamat. Kesombongan dan pembangkangan justru membawa mereka menuju kehancuran. Karena itu, ayat-ayat ini mengingatkan manusia agar tidak merasa aman hanya karena memiliki kekuatan dunia.

Baca juga: Tafsir Al Fajr Ayat 11-20: Kesombongan, Harta, dan Kemuliaan Muslim

Ayat 1: Demi Fajar

Allah berfirman:

وَالْفَجْرِ

“Demi fajar.”

Dalam tafsir Al-Fajr ayat 1-10, para ulama menjelaskan bahwa al-fajr memiliki beberapa makna. Salah satunya merujuk pada waktu fajar ketika cahaya pagi mulai menggantikan kegelapan malam. Allah bersumpah dengan waktu tersebut untuk menunjukkan salah satu tanda kebesaran-Nya.

Sebagian ulama juga menghubungkan ayat ini dengan shalat fajar atau shalat Subuh. Waktu Subuh memiliki kedudukan penting bagi seorang Muslim. Oleh sebab itu, seorang Muslim perlu menjaga shalatnya meskipun rasa kantuk sering menjadi tantangan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللهِ

“Barangsiapa yang shalat shubuh maka dia berada di bawah penjagaan Allah.”
(HR Muslim no. 657)

Fajar juga mengingatkan manusia bahwa Allah mampu menggantikan kegelapan dengan cahaya dan membangkitkan makhluk setelah kematian. Selain itu, waktu Subuh merupakan waktu berkumpulnya malaikat, yang merupakan salah satu keutamaan Shalat Subuh.

Ayat 2: Demi Malam yang Sepuluh

Allah berfirman:

وَلَيَالٍ عَشْرٍ

“Demi malam-malam yang sepuluh.”

Para ulama memiliki beberapa pendapat mengenai makna sepuluh malam dalam ayat ini. Mayoritas ulama menafsirkannya sebagai sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Dalam penggunaan bahasa Arab, penyebutan malam terkadang mencakup hari-hari yang menyertainya.

Pendapat lain mengarah kepada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Pendapat tersebut mempertimbangkan kata layāl yang secara langsung berarti malam. Sepuluh malam terakhir Ramadhan juga memiliki keutamaan besar karena di dalamnya terdapat Lailatul Qadar.

Perbedaan pendapat tersebut tidak mengurangi pelajaran utama dari ayat ini. Allah mengajarkan manusia bahwa terdapat waktu-waktu yang memiliki keutamaan khusus. Oleh karena itu, seorang Muslim sebaiknya memanfaatkan kesempatan tersebut dengan meningkatkan ibadah dan amal saleh.

Tafsir Al-Fajr Ayat 3: Demi yang Genap dan yang Ganjil

Allah berfirman:

وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ

“Demi yang genap dan yang ganjil.”

Kata asy-syaf‘ berarti sesuatu yang genap, sedangkan al-watr berarti sesuatu yang ganjil. Para ulama menjelaskan ayat ini melalui beberapa sudut pandang. Salah satu penjelasan menunjukkan bahwa banyak makhluk Allah hadir dalam bentuk pasangan.

Allah berfirman:

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kalian mengingat kebesaran Allah.”
(QS Adz-Dzariyat: 49)

Sementara itu, Allah Maha Esa dan tidak memiliki sekutu maupun pasangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ

“Sesungguhnya Allah itu Witr (Maha Esa) dan menyukai yang ganjil.”
(HR Bukhari no. 6410 dan Muslim no. 2677)

Melalui yang genap dan ganjil, manusia dapat melihat keteraturan ciptaan Allah. Ada siang dan malam, kehidupan dan kematian, serta laki-laki dan perempuan. Semua keteraturan tersebut seharusnya membawa manusia untuk semakin mengenal kebesaran Sang Pencipta.

Tafsir Al-Fajr Ayat 4: Demi Malam Apabila Berlalu

Allah berfirman:

وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ

“Demi malam apabila berlalu.”

Para ulama menjelaskan kata yasri dengan beberapa kemungkinan makna. Sebagian memahaminya sebagai malam ketika datang, sedangkan sebagian lainnya memahaminya sebagai malam ketika berlalu. Kedua penafsiran tersebut sama-sama mengarahkan manusia untuk memperhatikan pergantian waktu.

Allah mengatur datangnya malam dan munculnya siang secara teratur. Tidak ada manusia yang mampu menghentikan atau mempercepat pergantian tersebut sesuai kehendaknya. Keteraturan itu menjadi salah satu bukti kekuasaan Allah atas seluruh alam.

Sebagian ulama juga menghubungkan sumpah pada ayat-ayat awal Surat Al-Fajr dengan rangkaian manasik haji. Dalam penafsiran ini, fajar berkaitan dengan fajar pada hari Nahar, malam-malam yang sepuluh dengan sepuluh hari Dzulhijjah, yang genap dan ganjil dengan hari Nahar dan Arafah, serta malam dengan malam Muzdalifah.

Baca juga: Bulan Haram: Apa yang Boleh dan Tidak Boleh Dilakukan

Tafsir Al-Fajr Ayat 5: Sumpah bagi Orang yang Berakal

Allah berfirman:

هَلْ فِي ذَٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِي حِجْرٍ

“Adakah pada yang demikian itu terdapat sumpah bagi orang-orang yang berakal?”

Kata hijr berkaitan dengan makna akal. Akal yang baik tidak hanya membantu manusia memahami sesuatu, tetapi juga menahannya dari tindakan yang buruk. Oleh sebab itu, orang yang memiliki akal seharusnya mampu mengambil pelajaran dari berbagai tanda kekuasaan Allah.

Lima ayat pertama Surat Al-Fajr menyebut fajar, malam-malam yang sepuluh, yang genap, yang ganjil, serta malam ketika berlalu. Allah mengajak manusia memperhatikan seluruh ciptaan tersebut. Orang yang mau berpikir akan melihat bahwa semua itu berjalan dalam aturan yang sangat teratur.

Selain itu, ayat ini menjadi penghubung menuju pembahasan berikutnya. Setelah menyebut tanda-tanda kekuasaan-Nya, Allah kemudian mengingatkan manusia tentang bangsa-bangsa besar yang pernah hidup. Kisah mereka membuktikan bahwa kekuatan manusia tidak akan mampu melawan ketetapan Allah.

Kaum yang Dibinasakan dalam Tafsir Al-Fajr Ayat 6-10

Setelah mengajak manusia merenungkan waktu dan ciptaan-Nya, Allah mengarahkan perhatian kepada sejarah. Surat Al-Fajr menyebut beberapa kaum yang pernah mencapai puncak kekuatan. Namun, mereka tidak menggunakan kelebihan tersebut untuk tunduk kepada Allah.

Kaum ‘Ad memiliki kekuatan fisik yang besar. Kaum Tsamud memiliki kemampuan memahat batu dan membangun tempat tinggal. Sementara itu, Fir’aun menguasai kekuatan politik dan pasukan yang besar. Meskipun memiliki kelebihan berbeda, mereka memiliki kesamaan dalam kesombongan dan kezaliman. Oleh karena itu, kisah mereka menjadi peringatan bagi setiap generasi.

Tafsir Al-Fajr Ayat 6: Bagaimana Allah Memperlakukan Kaum ‘Ad?

Allah berfirman:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ

“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad?”

Ayat ini mengajak manusia memperhatikan bagaimana Allah menghukum kaum ‘Ad. Mereka merupakan bangsa yang dikenal memiliki kekuatan besar. Namun, mereka memilih membanggakan kekuatan tersebut dan menolak ajakan Nabi Hud ‘alaihis salam.

Allah berfirman tentang kelebihan yang diberikan kepada mereka:

“Ingatlah ketika Dia menjadikan kalian sebagai khalifah-khalifah setelah kaum Nuh, dan Dia lebihkan kalian dalam kekuatan tubuh dan perawakan. Maka ingatlah akan nikmat-nikmat Allah agar kalian beruntung.”
(QS Al-A’raf: 69)

Nikmat berupa kekuatan seharusnya membuat mereka semakin bersyukur. Namun, kaum ‘Ad justru menganggap kekuatan mereka tidak tertandingi. Sikap inilah yang kemudian membawa mereka kepada pembangkangan.

Tafsir Al-Fajr Ayat 7: Iram yang Mempunyai Bangunan Tinggi

Allah berfirman:

إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ

“(Yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi.”

Para ulama menjelaskan kata Iram melalui beberapa pendapat. Sebagian menyebutnya sebagai nama kota atau wilayah tempat tinggal kaum ‘Ad. Pendapat lain menyebut Iram sebagai nama leluhur mereka.

Sementara itu, dzatil ‘imad juga memiliki beberapa penafsiran. Sebagian ulama mengaitkannya dengan tubuh kaum ‘Ad yang tinggi dan kuat. Pendapat lain menghubungkannya dengan kemah atau bangunan yang memiliki tiang-tiang tinggi. Perbedaan penafsiran tersebut menunjukkan bahwa kaum ‘Ad memiliki keistimewaan yang menonjol. Baik dari kekuatan fisik maupun kemampuan membangun, mereka termasuk bangsa yang besar pada masanya.

gambr Kota Iram tempat Pelajaran dari Kaum ‘Ad: Kesombongan yang Berujung Kebinasaan

Tafsir Al-Fajr Ayat 8: Bangsa yang Tidak Ada Bandingannya

Allah berfirman:

الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ

“Yang belum pernah diciptakan seperti itu di negeri-negeri lain.”

Ayat ini menggambarkan keistimewaan yang dimiliki kaum ‘Ad. Mereka memiliki kekuatan dan kemampuan yang membuat mereka berbeda dari banyak bangsa pada zamannya. Namun, kelebihan tidak selalu membawa seseorang kepada kebaikan.

Kaum ‘Ad mulai merasa bahwa tidak ada kekuatan yang dapat menandingi mereka. Allah mengingatkan kesombongan tersebut melalui firman-Nya:

“Tidakkah mereka memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan mereka. Dia lebih hebat kekuatan-Nya dari mereka? Dan mereka telah mengingkari tanda-tanda (kebesaran) Kami.”
(QS Fushshilat: 15)

Ayat tersebut mengingatkan bahwa manusia sering lupa kepada sumber kekuatannya. Allah memberikan kemampuan, kesehatan, dan kedudukan kepada siapa pun yang Dia kehendaki. Karena itu, manusia tidak memiliki alasan untuk menyombongkan diri.

Bagaimana Kaum ‘Ad Dibinasakan?

Ketika Allah mendatangkan azab, kaum ‘Ad tidak segera menyadari apa yang akan terjadi. Mereka melihat sesuatu yang datang menuju lembah mereka dan mengira bahwa itu adalah awan yang membawa hujan.

Allah berfirman:

فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُّسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَٰذَا عَارِضٌ مُّمْطِرُنَا ۚ بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُم بِهِ ۖ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ (24) تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَىٰ إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ (25)

“(24) Maka ketika mereka melihat adzab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata, ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.’ (Bukan!) Tetapi itulah adzab yang kamu minta agar disegerakan datangnya (yaitu) angin yang mengandung adzab yang pedih; (25) yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, sehingga mereka (kaum ‘Ad) menjadi tidak tampak lagi (di bumi) kecuali hanya (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.”
(QS Al-Ahqaf: 24-25)

Allah juga berfirman:

وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ (6) سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ (7)

“(6) Sedangkan kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin; (7) Allah menimpakan angin kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus. Maka kamu melihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk).”
(QS Al-Haqqah: 6-7)

Kaum ‘Ad yang dahulu membanggakan kekuatan akhirnya tidak mampu menghadapi angin yang Allah kirimkan. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa kekuatan manusia tetap terbatas. Sebesar apa pun kemampuan manusia, kekuasaan Allah tetap berada di atas segalanya.

Tafsir Al-Fajr Ayat 9: Kaum Tsamud yang Memahat Batu

Allah berfirman:

وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ

“Dan (terhadap) kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah.”

Kaum Tsamud terkenal karena kemampuan mereka memahat batu. Mereka memanfaatkan kemampuan tersebut untuk membangun tempat tinggal dari batu-batu besar dan gunung. Kemampuan itu menunjukkan kemajuan yang mereka capai pada zamannya. Namun, kemajuan tidak selalu berjalan bersama keimanan. Kaum Tsamud menolak seruan Nabi Shalih ‘alaihis salam. Mereka akhirnya menerima azab sebagai akibat dari pembangkangan tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan umatnya ketika melewati tempat tinggal kaum yang pernah mendapat azab:

لاَ تَدْخُلُوا مَسَاكِنَ الَّذِينَ ظَلَمُوا إِلاَّ أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ، أَنْ يُصِيبَكُمْ مَا أَصَابَهُمْ

“Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang dzalim, kecuali sambil menangis. Karena apa yang menimpa mereka bisa menimpa kalian.”
(HR Ahmad 5466 dan Bukhari 4419)

Nasihat tersebut mengajarkan manusia untuk mengambil pelajaran dari sejarah. Peninggalan besar tidak seharusnya hanya membuat manusia kagum terhadap kemampuan sebuah bangsa. Seorang Muslim juga perlu melihat sebab yang membawa mereka kepada kehancuran.

Tafsir Al-Fajr Ayat 10: Fir’aun yang Mempunyai Pasak-Pasak

Allah berfirman:

وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ

“Dan (terhadap) Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak.”

Kata al-autad memiliki beberapa penafsiran. Sebagian ulama mengaitkannya dengan pasak atau alat yang Fir’aun gunakan untuk menyiksa. Sebagian lainnya memahaminya sebagai gambaran kekuatan, bangunan, atau pasukan yang menopang kekuasaannya.

Baca juga: Perjuangan Nabi Musa Melawan Firaun yang Menegangkan

Fir’aun memiliki kekuasaan besar dan pasukan yang kuat. Akan tetapi, ia menggunakan kekuasaan tersebut untuk menindas manusia dan menolak kebenaran yang dibawa Nabi Musa ‘alaihis salam. Kekuasaan yang seharusnya dapat digunakan untuk mengatur masyarakat justru berubah menjadi alat kezaliman.

Pada akhirnya, Fir’aun tidak mampu melawan ketetapan Allah. Kekuasaan, pasukan, dan kedudukannya tidak dapat menyelamatkannya. Kisah Fir’aun menjadi peringatan bahwa kekuasaan tidak akan bertahan apabila seseorang menggunakannya untuk kesombongan dan kezaliman.

Pelajaran dari Tafsir Al-Fajr Ayat 1-10

1. Waktu Mengingatkan Manusia tentang Kekuasaan Allah

Fajar dan malam terus datang silih berganti tanpa manusia mampu mengendalikan keduanya. Pergantian tersebut menunjukkan keteraturan ciptaan Allah. Karena itu, seorang Muslim dapat menjadikan perubahan waktu sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran kepada Allah.

2. Nikmat dan Kekuatan Membutuhkan Rasa Syukur

Kaum ‘Ad memiliki kekuatan, Tsamud memiliki kemampuan membangun, dan Fir’aun memiliki kekuasaan. Namun, mereka tidak menggunakan kelebihan tersebut untuk semakin tunduk kepada Allah. Sebaliknya, mereka membiarkan kesombongan menguasai diri mereka.

3. Kemajuan Tidak Selalu Menunjukkan Kebaikan

Sebuah bangsa dapat mencapai kemajuan dalam pembangunan dan kekuatan. Namun, kemajuan tersebut tidak menjamin keselamatan apabila manusia meninggalkan kebenaran. Oleh karena itu, manusia perlu menyeimbangkan kemampuan duniawi dengan keimanan dan akhlak.

4. Sejarah Harus Menjadi Pelajaran

Kisah kaum terdahulu bukan sekadar cerita tentang masa lalu. Allah menyampaikan kisah mereka agar manusia mengambil pelajaran. Seorang Muslim perlu melihat keberhasilan dan kehancuran generasi sebelumnya sebagai bahan untuk memperbaiki dirinya.

5. Tidak Ada Kekuatan yang Melebihi Kekuasaan Allah

Kaum ‘Ad merasa kuat, Tsamud memiliki kemampuan besar, dan Fir’aun memiliki kekuasaan yang luas. Namun, semuanya akhirnya berada di bawah ketetapan Allah. Oleh sebab itu, manusia tidak seharusnya menggantungkan rasa aman hanya pada kekuatan yang dimilikinya.

Penutup

Tafsir Al-Fajr ayat 1-10 menunjukkan rangkaian pesan yang saling berkaitan. Allah terlebih dahulu mengajak manusia memperhatikan fajar, malam, serta keteraturan ciptaan-Nya. Setelah itu, Allah membawa manusia melihat sejarah kaum-kaum besar yang pernah hidup dan akhirnya binasa.

Melalui kisah kaum ‘Ad, Tsamud, dan Fir’aun, manusia belajar bahwa kekuatan bukan ukuran keselamatan. Harta, ilmu, kemampuan, teknologi, maupun kekuasaan dapat menjadi nikmat yang membawa kebaikan. Namun, manusia harus menggunakannya dengan rasa syukur dan ketundukan kepada Allah.

Pada akhirnya, ayat-ayat ini mengajak setiap Muslim untuk menggunakan akal sebagaimana yang disebutkan dalam ayat kelima. Seorang yang berakal tidak hanya mengagumi kekuatan dan kemajuan dunia. Ia juga mampu mengambil pelajaran, mengendalikan kesombongan, dan menyadari bahwa seluruh kekuatan berasal dari Allah.

Kandungan Surat Asy Syams dan Identitas Singkatnya

Kandungan Surat Asy Syams dan Identitas Singkatnya

Surat Asy-Syams merupakan urutan surat ke-91 dalam Al-Qur’an dan terdiri atas 15 ayat. Para ulama menggolongkan surat ini ke dalam kelompok surat Makkiyah karena turun sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Nama Asy-Syams sendiri memiliki arti “Matahari” yang terambil dari kata pertama pada ayat pembuka. Meskipun tergolong surat yang ringkas, kandungan isi dan pesan moral di dalamnya sangat mendalam bagi kehidupan manusia. Memahami identitas serta kandungan Surat Asy Syams akan membimbing kita untuk lebih menghargai waktu dan menjaga kebersihan jiwa. Berikut adalan penjelasannya menurut tafsir dari tafsiralquran.id.

gambar matahari di atas laut ilustrasi hikmah Asy Syams
Sumpah Allah di dalam Surat Asy Syams dengan matahari (foto: freepik.com)

1. Makna Sumpah Allah Atas Matahari, Bulan, Siang, dan Malam

Pertama, surat ini membuka pembahasannya melalui deretan sumpah Allah atas fenomena alam semesta. Allah bersumpah atas matahari beserta empat keadaan waktunya, bulan, serta pergantian siang dan malam. Ibnu ‘Asyur menjelaskan bahwa cahaya matahari menggambarkan ajaran Islam yang mengusir kesesatan dan kegelapan hati. Selanjutnya, sumpah atas siang dan malam mengingatkan manusia untuk memanfaatkan waktu beraktivitas dan beristirahat secara seimbang. Dengan demikian, pergantian waktu dan fenomena cahaya ini mengarahkan manusia untuk selalu mencari bimbingan Ilahi.

Baca juga: Hadits Arbain Ke-18 Mengiringi Keburukan dengan Kebaikan

2. Kebesaran Ciptaan Langit dan Bumi Sebagai Sarana Hidup Manusia

Selain fenomena waktu dan cahaya, Allah juga bersumpah atas keagungan bangunan langit serta bentangan bumi. Tafsir Asy-Sya’rawi menerangkan bahwa Allah merancang langit bagaikan atap kubah megah yang menyimpan rahasia ilmu pengetahuan. Di samping itu, Allah membentangkan bumi dan menyiapkan seluruh fasilitas di dalamnya untuk mendukung kehidupan manusia. Oleh sebab itu, keindahan serta keteraturan alam semesta ini menjadi bukti kasih sayang Allah agar manusia senantiasa bersyukur.

3. Hakikat Jiwa Manusia dan Pilihan Penyucian Diri (Tazkiyatun Nafs)

Selanjutnya, seluruh sumpah atas alam semesta tersebut bermuara pada pembahasan jiwa manusia sebagai puncak ciptaan Allah. Wahbah az-Zuhaili menegaskan bahwa Allah memberi manusia kemampuan untuk mengelola alam demi kemajuan kehidupan. Allah menyempurnakan jiwa tersebut dengan mengilhamkan potensi kedurhakaan dan ketaqwaan secara bersamaan. Sayyid Quthb menambahkan bahwa fitrah manusia mampu membedakan hal baik dan buruk, sehingga manusia bertanggung jawab atas pilihannya. Pada akhirnya, surat ini menegaskan keberuntungan besar bagi orang yang menyucikan jiwanya, serta kerugian bagi orang yang mengotorinya.

Baca juga: Pentingnya Tabayyun Sebelum Menyebarkan Informasi

Kesimpulannya, pesan utama dan kandungan Surat Asy Syams mengajari kita untuk menyelaraskan jiwa dengan alam semesta yang selalu bertasbih. Keberadaan potensi baik dan buruk dalam diri menuntut kita untuk selalu memilih jalan ketaatan secara konsisten. Mari kita manfaatkan waktu dan potensi jiwa kita untuk meraih keridhaan Allah SWT setiap hari. Semoga Allah senantiasa membersihkan hati kita dari godaan keburukan dan kemaksiatan.