Adab Mengetuk Pintu dalam Islam Saat Bertamu

Adab Mengetuk Pintu dalam Islam Saat Bertamu

Adab mengetuk pintu termasuk perkara sederhana yang perlu diperhatikan seorang Muslim. Ketika bertamu, seseorang tidak hanya perlu mengucapkan salam. Ia juga harus menjaga privasi dan kenyamanan penghuni rumah.

Islam mengajarkan tata krama dalam berbagai keadaan, termasuk saat mendatangi rumah orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan contoh tentang cara bertamu yang menghormati pemilik rumah.

Ketuk Pintu dengan Cara yang Tidak Mengganggu

Salah satu adab mengetuk pintu ialah memberikan ketukan secara wajar. Tamu tidak perlu mengetuk dengan suara keras atau berkali-kali hingga mengganggu penghuni rumah.

Ketukan yang terlalu keras dapat membuat penghuni rumah terkejut. Suara tersebut juga dapat mengganggu orang yang sedang tidur, beribadah, belajar, atau beristirahat.

Anas bin Malik radhiallahu’anhu menceritakan kebiasaan pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ أَبْوَابَ النَّبِي صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ تَقْرَعُ بِالْأظَافِيرِ

“Kami di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetuk pintu dengan kuku-kuku.”

(HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod bab Mengetuk Pintu)

Riwayat tersebut menggambarkan ketukan yang lembut dan tidak mengganggu. Tamu cukup memberikan tanda bahwa dirinya berada di luar rumah. Jika belum mendapatkan respons, ia tidak perlu langsung mengetuk dengan lebih keras. Sikap ini juga menunjukkan kepekaan terhadap keadaan orang lain. Penghuni rumah mungkin sedang melakukan aktivitas yang membutuhkan ketenangan.

Baca juga: Mengetuk Rumah Tiga Kali adalah Mitos? Berikut Penjelasan Hadits

Berdiri di Samping Pintu

Cara berdiri juga termasuk bagian dari adab bertamu. Tamu sebaiknya tidak berdiri tepat di depan pintu dengan posisi menghadap ke bagian dalam rumah.

Posisi tersebut dapat membuat tamu langsung melihat isi rumah ketika penghuni membuka pintu. Padahal, pemilik rumah memiliki hak untuk menjaga privasinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan contoh dalam perkara ini. Abdullah bin Bisyr radhiallahu’anhu berkata,

كَانَ رَسُولُ الله إِذَا أَتَى بَابَ قَوْمٍ لَمْ يَسْتَقْبَلُ اْلبَابَ مِنْ تِلْقَاءِ وَ جْهِهِ وَ لَكِنْ ركنها الأيمن أَوِ الْأَيْسَر وَ يَقُولُ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ اَلسَّلاَمُ عَلَيكُمْ

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mendatangi pintu suatu kaum, beliau tidak menghadapkan wajahnya di depan pintu, tetapi berada di sebelah kanan atau kirinya dan mengucapkan assalamu’alaikum… assalamu’alaikum…”

(HR. Abu Dawud, shohih – lihat majalah Al-Furqon)

Berdiri di samping pintu memberikan ruang bagi pemilik rumah untuk membuka pintu tanpa langsung memperlihatkan kondisi di dalam rumah. Dengan begitu, tamu tetap menjaga batas privasi penghuni rumah.

Tidak Mengintip ke Dalam Rumah

Rasa penasaran tidak boleh mendorong seseorang untuk mengintip ke dalam rumah. Seseorang mungkin ingin memastikan apakah ada orang di dalam rumah. Namun, ia tetap harus menunggu izin dari pemilik rumah.

Islam memberikan perhatian besar terhadap privasi seseorang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan memberikan peringatan keras mengenai orang yang melihat ke dalam rumah tanpa izin.

Beliau bersabda,

لو أنّ امرأ اطلع عليك بغير إذن فخذفته بحصاة ففقأت عينه لم يكن عليك جناح

“Andaikan ada orang melihatmu di rumah tanpa izin, engkau melemparnya dengan batu kecil lalu kamu cungkil matanya, maka tidak ada dosa bagimu.”

(HR. Bukhari Kitabul Isti’dzan)

Hadis tersebut menunjukkan kerasnya larangan mengintip. Karena itu, tamu tidak boleh melihat melalui celah pintu, jendela, atau bagian lain untuk mengetahui keadaan di dalam rumah.

anak kecil mengintip lewat pintu contoh larangan adab mengetuk pintu
Salah satu larangan dalam adab mengetuk pintu adalah mengintip tanpa izin (foto: freepik)

Kisah Rasulullah tentang Orang yang Mengintip

Terdapat pula kisah lain yang menunjukkan perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap privasi rumah. Anas bin Malik radhiallahu’anhu meriwayatkan,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِك أَنَّ رَجُلًا اطَّلَعَ مِنْ بَعْضِ حُجَرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِشْقَصٍ أَوْ بِمَشَاقِصَ فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِ يَخْتِلُ الرَّجُلَ لِيَطْعُنَهُ

“Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu sesungguhnya ada seorang laki-laki mengintip sebagian kamar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu nabi berdiri menuju kepadanya dengan membawa anak panah yang lebar atau beberapa anak panah yang lebar, dan seakan-akan aku melihat beliau menanti peluang ntuk menusuk orang itu.”

(HR. Bukhari Kitabul Isti’dzan)

Kisah ini semakin memperjelas bahwa rumah memiliki batas privasi yang harus dihormati. Orang yang berada di luar tidak boleh mencari tahu keadaan di dalam tanpa izin.

Baca juga: Cara Meluangkan Waktu untuk Tilawah di Tengah Kesibukan

Jangan Memaksa Saat Tidak Mendapat Respons

Mengetuk pintu tidak otomatis memberikan hak kepada seseorang untuk masuk. Pemilik rumah tetap memiliki hak untuk menerima atau tidak menerima tamu.

Karena itu, tamu perlu menghormati respons penghuni rumah. Jika tidak ada jawaban, ia sebaiknya menunggu dengan sabar. Bisa jadi penghuni rumah sedang tidur, sedang melakukan aktivitas lain, atau belum dapat membuka pintu.

Tamu juga tidak perlu mengetuk dengan keras hanya karena ingin segera mendapatkan jawaban. Jika tetap tidak ada respons, ia dapat meninggalkan rumah tersebut.

Sikap ini menunjukkan penghormatan terhadap keadaan pemilik rumah. Bertamu seharusnya menghadirkan hubungan yang baik, bukan membuat penghuni merasa terganggu.

Adab Mengetuk Pintu Perlu Diajarkan Sejak Dini

Adab mengetuk pintu dapat diterapkan dalam berbagai situasi, baik ketika mengunjungi keluarga, teman, guru, maupun tetangga. Kebiasaan ini juga dapat orang tua ajarkan kepada anak sejak dini.

Anak dapat belajar mengetuk pintu dengan lembut, mengucapkan salam, dan menunggu izin sebelum masuk. Mereka juga perlu memahami bahwa rasa penasaran tidak membolehkan seseorang mengintip ke dalam rumah.

Dari cara bertamu, seorang Muslim belajar menghormati privasi orang lain. Ketukan yang lembut menunjukkan sikap tidak mengganggu. Berdiri di samping pintu menjaga pandangan, sedangkan tidak mengintip menunjukkan penghormatan terhadap batas pribadi.

Dengan demikian, bertamu bukan sekadar mendatangi rumah orang lain. Kunjungan juga menjadi kesempatan untuk menerapkan akhlak Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Referensi: Adab Bertamu dalam Islam Sesuai Contoh Nabi

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *