Doa Naik Pesawat: Bacaan Arab, Latin, Arti, dan Adab Perjalanan

Doa Naik Pesawat: Bacaan Arab, Latin, Arti, dan Adab Perjalanan

Doa naik pesawat menjadi salah satu bacaan yang dapat diamalkan umat Islam sebelum memulai perjalanan udara. Melalui doa, seorang muslim memohon perlindungan Allah SWT agar perjalanan berlangsung aman dan sampai ke tujuan dengan selamat. Salah satu bacaan yang berkaitan dengan perjalanan menggunakan kapal ialah Bismillāhi majrēhā wa mursāhā, inna rabbī laghafūrur raḥīm.

Bacaan tersebut terdapat dalam Surah Hud ayat 41 dan berkaitan dengan perintah Nabi Nuh kepada kaumnya untuk menaiki bahtera. Meski konteks ayatnya adalah perjalanan laut, kandungannya mengingatkan umat Islam untuk menyebut nama Allah ketika memulai perjalanan. Selain membaca doa, penumpang juga perlu menjaga adab dan mematuhi aturan keselamatan selama perjalanan.

1. Doa Naik Pesawat dari Surah Hud Ayat 41

Doa yang dapat kita baca sebelum bepergian menggunakan kapal ini terdapat dalam Al-Qur’an, tepatnya Surah Hud ayat 41. Dalam ayat tersebut, Nabi Nuh mengajak kaumnya menaiki bahtera dengan menyebut nama Allah ketika berlayar dan berlabuh.

وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا ۚ إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Dia (Nuh) berkata, ‘Naiklah kamu semua ke dalamnya (bahtera) dengan (menyebut) nama Allah pada waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Hud: 41)

Meskipun ayat ini menceritakan perjalanan bahtera, seorang muslim dapat mengambil pelajaran tentang pentingnya mengingat Allah ketika memulai perjalanan.

pesawat terbang contoh doa naik pesawat
Ilustrasi pesawat terbang (foto: freepik.com)

2. Doa Naik Kendaraan untuk Memohon Kemudahan Perjalanan

Selain bacaan dari Surah Hud, Islam mengajarkan doa ketika menaiki kendaraan untuk bepergian. Doa ini memuat permohonan agar Allah memberikan kemudahan, menyertai perjalanan, dan menjaga keluarga yang ditinggalkan.

بِسْمِ اللَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

Artinya: “Dengan nama Allah. Segala puji bagi Allah. Mahasuci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Sungguh, kepada Tuhan kami, kami akan kembali.”

Doa ini merujuk pada bacaan dalam Surah Az-Zukhruf ayat 13–14 yang juga dianjurkan dalam doa naik kendaraan. Dengan membacanya, penumpang diingatkan bahwa kemampuan manusia untuk bepergian merupakan nikmat dari Allah.

Setelah itu, jamaah dapat melanjutkan dengan doa perjalanan yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ

Artinya: “Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kebaikan dan ketakwaan dalam perjalanan ini serta amal yang Engkau ridai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah jaraknya bagi kami. Ya Allah, Engkaulah pendamping dalam perjalanan dan penjaga keluarga yang kami tinggalkan.”

Doa perjalanan tersebut diriwayatkan dalam hadis sahih, di antaranya dalam Sahih Muslim. Jamaah dapat membacanya setelah berada di kendaraan atau ketika memulai perjalanan.

Baca juga: Olahraga Persiapan Sebelum Haji: Jenis Latihan dan Durasi yang Dianjurkan

3. Adab Naik Pesawat dan Kendaraan Lainnya

Membaca doa merupakan salah satu bentuk ikhtiar batin sebelum bepergian. Namun, seorang muslim juga perlu menerapkan adab yang baik agar perjalanan terasa nyaman bagi diri sendiri maupun orang lain.

a. Mendahulukan kaki kanan saat masuk

Saat masuk ke pesawat, bus, atau kendaraan lain, sebagian muslim membiasakan mendahulukan kaki kanan sebagai bagian dari adab mendahulukan anggota tubuh kanan dalam perkara yang baik. Ketika turun, sebagian membiasakan kaki kiri terlebih dahulu.

Namun, kebiasaan ini perlu disesuaikan dengan kondisi dan keselamatan. Ikuti petunjuk awak kabin atau petugas, gunakan pegangan jika tersedia, dan jangan memaksakan urutan kaki apabila keadaan tidak memungkinkan.

b. Membaca takbir dan tasbih saat perjalanan menanjak atau menurun

Dalam hadis perjalanan, Rasulullah SAW mengajarkan zikir ketika melewati jalan yang menanjak dan menurun. Ketika berada di tempat tinggi atau menanjak, beliau bertakbir. Sementara itu, ketika turun ke tempat yang lebih rendah, beliau bertasbih.

Bacaan ketika menanjak:

اللَّهُ أَكْبَرُ

Artinya: “Allah Mahabesar.”

Bacaan ketika menurun:

سُبْحَانَ اللَّهِ

Artinya: “Mahasuci Allah.”

Dzikir ini berkaitan dengan kondisi jalan yang naik dan turun, bukan aturan khusus saat menaiki atau turun dari pesawat. Meski demikian, bacaan tersebut mengajarkan agar seorang muslim tetap mengingat Allah selama perjalanan.

Baca juga: Dzikir Dengan Al-Qur’an Beserta Ayat-Ayat yang Dibaca

c. Menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan

Penumpang hendaknya menjaga kebersihan kabin pesawat, terminal, kapal, maupun kendaraan umum lainnya. Simpan sampah di tempat yang tersedia dan hindari meninggalkan sisa makanan di kursi atau lantai.

Selain itu, gunakan fasilitas umum dengan bertanggung jawab. Kebiasaan sederhana ini menunjukkan kepedulian terhadap kenyamanan penumpang lain dan petugas yang menjaga kebersihan.

d. Tidak mengganggu ketenangan penumpang lain

Perjalanan dapat berlangsung selama beberapa jam. Oleh sebab itu, setiap penumpang perlu menghormati orang lain yang ingin beristirahat atau beribadah.

Hindari berbicara terlalu keras, memutar audio tanpa perangkat pribadi, atau melakukan aktivitas yang mengganggu penumpang lain. Saat menggunakan telepon genggam, ikuti pula aturan yang berlaku pada moda transportasi tersebut.

e. Mematuhi aturan keselamatan

Adab perjalanan juga mencakup kepatuhan terhadap aturan keselamatan. Penumpang pesawat perlu memperhatikan instruksi awak kabin, menggunakan sabuk pengaman sesuai arahan, serta menyimpan barang bawaan di tempat yang telah ditentukan.

Jangan mengabaikan petunjuk keselamatan hanya karena merasa sudah terbiasa bepergian. Tindakan yang ceroboh dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Prinsip ini sejalan dengan kaidah hadits:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

Artinya: “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain. (Hasan, HR. Ibnu Majah)”

Hadis ini dikenal dalam pembahasan kaidah fikih dan diriwayatkan melalui sejumlah jalur, antara lain dalam Sunan Ibnu Majah. Prinsipnya mengingatkan umat Islam agar tidak melakukan tindakan yang menimbulkan bahaya bagi diri sendiri maupun orang lain.

f. Menghormati hak penumpang lain

Setiap orang memiliki hak yang sama untuk merasa aman dan nyaman selama perjalanan. Karena itu, jangan mengambil ruang penumpang lain tanpa izin, menyerobot antrean, atau memaksakan barang bawaan melebihi kapasitas sesuai aturan.

Apabila bepergian bersama anak-anak atau lansia, bantu mereka sesuai kebutuhan tanpa menghalangi jalur penumpang. Sikap saling menghormati membuat perjalanan lebih tertib dan menyenangkan.

4. Tips agar Perjalanan Pesawat Lebih Nyaman

Selain menjaga adab, penumpang dapat mempersiapkan beberapa hal sebelum berangkat. Persiapan sederhana membantu mengurangi kerepotan dan membuat perjalanan lebih teratur.

  • Datang ke bandara sesuai waktu yang telah terjadwalkan.
  • Siapkan identitas, tiket, dan dokumen perjalanan sebelum tiba di bandara.
  • Perhatikan batas bagasi serta aturan barang yang boleh dibawa ke kabin.
  • Bawa obat pribadi jika perlu sesuai ketentuan penerbangan.
  • Ikuti instruksi petugas sejak proses pemeriksaan hingga pesawat mendarat.
  • Berdoa dan bertawakal kepada Allah setelah melakukan ikhtiar.

Dengan persiapan tersebut, penumpang dapat menjalani perjalanan dengan lebih tenang. Doa menjadi bentuk pengharapan kepada Allah, sedangkan kepatuhan terhadap aturan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia.

Kesimpulan

Doa naik pesawat dapat berupa bacaan dari Surah Hud ayat 41 maupun doa naik kendaraan yang bersumber dari tuntunan Islam. Selain berdoa, penumpang hendaknya menjaga kebersihan, menghormati orang lain, dan mematuhi aturan keselamatan. Dengan demikian, perjalanan tidak hanya menjadi aktivitas berpindah tempat, tetapi juga kesempatan untuk menerapkan adab Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *