Haji di zaman Rasulullah memiliki sejarah panjang yang penuh perjuangan. Ibadah ini tidak hanya menjadi perjalanan menuju Baitullah, tetapi juga bagian penting dari dakwah Islam. Rasulullah ﷺ menghadapi berbagai rintangan sebelum akhirnya dapat menunaikan haji bersama kaum muslimin.
Pada masa itu, kaum muslimin belum memiliki kebebasan untuk beribadah di Makkah. Mereka menghadapi penolakan dan ancaman dari kaum Quraisy. Namun, perjuangan tersebut tidak menghentikan keinginan Rasulullah untuk mengembalikan pelaksanaan haji sesuai tuntunan tauhid.
Sejarah haji pada masa Rasulullah memperlihatkan bagaimana Islam menghidupkan kembali ajaran Nabi Ibrahim. Selain itu, peristiwa-peristiwa tersebut mengandung pelajaran tentang kesabaran, persaudaraan, dan ketaatan kepada Allah.
1. Haji Sudah Ada Sejak Masa Nabi Ibrahim
Sebelum membahas haji di zaman Rasulullah, penting memahami bahwa ibadah haji telah dikenal jauh sebelum masa kenabian Muhammad ﷺ. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyeru manusia agar melaksanakan haji ke Baitullah.
Allah berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 27:
وَأَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ
“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus. Mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 27).
Sejak saat itu, Baitullah menjadi tempat yang memiliki kedudukan istimewa bagi masyarakat Arab. Mereka mengenal tradisi mengunjungi Ka’bah dan melaksanakan sejumlah ritual haji.
Namun, seiring berjalannya waktu, sebagian masyarakat Arab mengubah ajaran tauhid yang dibawa Nabi Ibrahim. Mereka memasukkan praktik kemusyrikan dan berbagai kebiasaan jahiliah ke dalam pelaksanaan ibadah.
Ketika Rasulullah ﷺ diutus, beliau membawa ajaran Islam untuk mengembalikan manusia kepada tauhid. Salah satu misi dakwah tersebut adalah membersihkan ibadah haji dari praktik yang bertentangan dengan ajaran Allah.

2. Rasulullah Melaksanakan Umrah Sebelum Haji Wada
Sebelum menunaikan haji, Rasulullah ﷺ telah beberapa kali berusaha mengunjungi Baitullah. Namun, kondisi politik dan penolakan kaum Quraisy membuat perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mudah.
Pada tahun keenam Hijriah, Rasulullah bersama para sahabat berangkat menuju Makkah untuk melaksanakan umrah. Akan tetapi, kaum Quraisy menghalangi mereka memasuki kota tersebut. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Perjanjian Hudaibiyah.
Melalui perjanjian tersebut, Rasulullah dan kaum muslimin menerima kesepakatan untuk kembali ke Madinah. Mereka baru dapat melaksanakan umrah pada tahun berikutnya.
Pada tahun ketujuh Hijriah, Rasulullah bersama para sahabat akhirnya memasuki Makkah untuk melaksanakan umrah. Peristiwa ini dikenal sebagai Umratul Qadha atau umrah pengganti.
Perjalanan tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam sejarah haji di zaman Rasulullah. Kaum muslimin mulai memperoleh kesempatan beribadah di Makkah setelah sebelumnya menghadapi berbagai hambatan.
3. Fathul Makkah Membuka Jalan bagi Pelaksanaan Haji
Peristiwa Fathul Makkah pada tahun kedelapan Hijriah menjadi titik penting dalam sejarah Islam. Rasulullah ﷺ bersama kaum muslimin memasuki Makkah dan berhasil menguasai kota tersebut tanpa peperangan besar.
Setelah memasuki Makkah, Rasulullah membersihkan Ka’bah dari berhala-berhala yang selama ini mengelilinginya. Beliau mengembalikan kesucian Baitullah sebagai tempat ibadah kepada Allah semata.
Peristiwa ini mengakhiri dominasi praktik kemusyrikan di sekitar Ka’bah. Dengan demikian, kaum muslimin memiliki kesempatan lebih luas untuk menjalankan ibadah sesuai ajaran tauhid.
Fathul Makkah juga membuka jalan bagi perubahan tata cara haji. Rasulullah kemudian mengutus para sahabat untuk mengatur pelaksanaan ibadah haji sesuai ketentuan Islam.
4. Abu Bakar Memimpin Haji pada Tahun Kesembilan Hijriah
Pada tahun kesembilan Hijriah, Rasulullah ﷺ belum memimpin langsung pelaksanaan haji. Beliau justru menunjuk Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu sebagai pemimpin rombongan haji.
Abu Bakar berangkat bersama kaum muslimin untuk melaksanakan ibadah tersebut. Pada kesempatan itu, Rasulullah juga mengutus Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu untuk menyampaikan beberapa ketentuan penting.
Salah satu pengumuman tersebut berkaitan dengan larangan kaum musyrik melaksanakan haji setelah tahun itu. Selain itu, Rasulullah menetapkan bahwa orang-orang tidak boleh lagi melakukan tawaf tanpa mengenakan pakaian sebagaimana kebiasaan sebagian masyarakat jahiliah.
Pengumuman tersebut menandai perubahan besar dalam pelaksanaan haji. Tradisi yang bertentangan dengan tauhid dan kesucian ibadah mulai dihapuskan. Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa Rasulullah tidak hanya memperbaiki tata cara ibadah secara pribadi. Beliau membangun tatanan sosial yang mendukung pelaksanaan haji sesuai ajaran Islam.
5. Haji Wada Menjadi Haji Pertama dan Terakhir Rasulullah
Pada tahun kesepuluh Hijriah, Rasulullah ﷺ akhirnya memimpin langsung pelaksanaan ibadah haji. Peristiwa ini dikenal sebagai Haji Wada atau haji perpisahan.
Rasulullah mengumumkan rencana keberangkatan haji kepada kaum muslimin. Banyak sahabat kemudian bergabung untuk mengikuti manasik langsung dari beliau.
Perjalanan tersebut menjadi momen bersejarah karena Rasulullah mengajarkan tata cara haji secara langsung. Para sahabat menyaksikan bagaimana beliau melaksanakan ihram, wukuf di Arafah, mabit, melontar jumrah, dan rangkaian manasik lainnya.
Dalam salah satu hadis, Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
لِتَأْخُذُوا مَنَاسِكَكُمْ فَإِنِّي لَا أَدْرِي لَعَلِّي لَا أَحُجُّ بَعْدَ حَجَّتِي هَذِهِ
“Hendaklah kalian mengambil dariku tata cara manasik haji kalian. Karena sesungguhnya aku tidak tahu, barangkali aku tidak berhaji lagi setelah hajiku ini.” (HR. Muslim).
Hadis tersebut menunjukkan pentingnya mengikuti tuntunan Rasulullah dalam menjalankan ibadah haji. Para sahabat menjadikan pelaksanaan Haji Wada sebagai pedoman untuk mengajarkan manasik kepada generasi berikutnya.
6. Khutbah Wada Berisi Pesan Penting bagi Umat Islam
Salah satu peristiwa penting dalam Haji Wada adalah khutbah Rasulullah ﷺ di Arafah. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan pesan-pesan mendasar tentang kehidupan umat Islam.
Rasulullah menegaskan kesucian darah, harta, dan kehormatan sesama muslim. Beliau juga mengingatkan umat agar menjauhi praktik riba dan menjaga amanah.
Selain itu, Rasulullah mengingatkan umat Islam untuk memperlakukan perempuan dengan baik. Pesan tersebut menunjukkan bahwa Islam memberikan perhatian terhadap kehormatan dan hak perempuan.
Beliau juga menegaskan pentingnya berpegang teguh pada ajaran Allah. Umat Islam perlu menjaga pedoman agama agar tidak tersesat dalam menjalani kehidupan.
Khutbah Wada menjadi salah satu warisan penting dari perjalanan haji Rasulullah. Pesan-pesan tersebut tidak hanya relevan bagi jamaah pada masa itu, tetapi juga menjadi pedoman bagi umat Islam hingga sekarang.
7. Hikmah Sejarah Haji pada Masa Rasulullah
Sejarah haji di zaman Rasulullah mengandung banyak pelajaran bagi umat Islam. Perjalanan panjang dari masa penolakan hingga Haji Wada memperlihatkan bagaimana Rasulullah memperjuangkan ibadah sesuai tuntunan Allah.
Berikut beberapa hikmah yang dapat kita ambil dari peristiwa tersebut.
Pertama, menjaga kemurnian tauhid. Rasulullah membersihkan Ka’bah dari berhala dan mengembalikan fungsi Baitullah sebagai tempat beribadah kepada Allah. Hal ini mengajarkan bahwa setiap ibadah harus berlandaskan tauhid.
Kedua, bersabar menghadapi rintangan. Peristiwa Hudaibiyah menunjukkan bahwa Rasulullah menghadapi penolakan dengan kesabaran dan kebijaksanaan. Beliau tidak memaksakan kehendak ketika keadaan belum memungkinkan.
Ketiga, mengikuti tuntunan Rasulullah. Haji Wada menjadi kesempatan bagi para sahabat untuk mempelajari manasik secara langsung. Umat Islam perlu merujuk pada tuntunan Nabi agar pelaksanaan ibadah sesuai syariat.
Keempat, menjaga persaudaraan dan kehormatan sesama manusia. Khutbah Wada mengingatkan umat Islam agar tidak melanggar hak orang lain. Nilai ini juga penting ketika jutaan jamaah berkumpul di Tanah Suci.
Kelima, menjadikan ibadah sebagai sarana memperbaiki diri. Haji bukan sekadar perjalanan fisik. Ibadah ini seharusnya memperkuat ketakwaan, memperbaiki akhlak, dan mendorong seseorang menjalani kehidupan yang lebih baik.
Meneladani Perjalanan Haji Rasulullah
Haji di zaman Rasulullah bukan hanya bagian dari sejarah perkembangan Islam. Peristiwa tersebut memperlihatkan perjuangan mengembalikan ibadah kepada ajaran tauhid, menghapus tradisi jahiliah, dan mengajarkan manasik sesuai tuntunan Allah.
Melalui Haji Wada, Rasulullah ﷺ meninggalkan pedoman penting bagi umat Islam. Beliau mengajarkan bahwa pelaksanaan haji harus mengikuti tuntunan agama sekaligus mencerminkan akhlak yang baik.
Karena itu, setiap muslim perlu mempelajari sejarah dan tata cara haji sebelum berangkat ke Tanah Suci. Pemahaman tersebut membantu jamaah menjalankan ibadah dengan benar serta mengambil hikmah dari setiap rangkaiannya.




