Pernahkah Anda cemas hafalan Al-Qur’an akan luntur saat datang bulan? Bagi seorang penuntut ilmu dan hafizah, jeda siklus bulanan sering kali memicu kebingungan. Bolehkah wanita haid menghafal Al-Qur’an agar murajaah tetap berjalan lancar?
Kemuliaan Ahli Al-Qur’an
Mencapai derajat sebagai ahli Al-Qur’an merupakan cita-cita mulia setiap muslimah. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga dari kalangan manusia.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka itu?” Beliau menjawab, “Mereka adalah ahli Al-Quran, keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah.” (HR. An-Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ad-Darimi).
Tak hanya itu, Al-Qur’an kelak akan memohonkan mahkota dan pakaian kemuliaan bagi para penghafalnya (HR. At-Tirmidzi). Kemuliaan inilah yang mendorong para perempuan untuk terus mengulang hafalannya setiap saat.
Namun, kendala sering muncul saat siklus haid tiba. Di satu sisi, sebuah hadis melarang wanita haid dan junub membaca Al-Qur’an (HR. At-Tirmidzi). Di sisi lain, jika seseorang membiarkan hafalannya tanpa pengulangan, risiko lupa akan semakin besar. Untuk menjawab keraguan ini, pandangan para ulama dan pakar syariah memberikan jalan keluar yang menentramkan.
Melansir dari penjelasannya di tanyasyariah.com, Ustadzah Husna Hidayati, M.Hi menerangkan bahwa hukum asal membaca Al-Qur’an adalah boleh. Hukum ini berlaku selama tidak ada dalil kuat yang melarangnya. Menurut beliau, melarang wanita haid membaca Al-Qur’an justru akan menghalangi mereka dari pahala tilawah. Selain itu, aturan tersebut berpotensi membuat hafalan mereka hilang. Oleh karena itu, Anda perlu memahami beberapa poin penting mengenai wanita haid menghafal Al-Qur’an berikut ini.

Hukum Wanita Haid Menghafal Al-Qur’an
Sebagian ulama Mazhab Maliki, riwayat Imam Ahmad, serta Ibnu Taimiyyah membolehkan wanita haid membaca Al-Qur’an. Syaratnya, mereka tidak boleh menyentuh mushaf secara langsung. Namun, dalam kondisi mendesak untuk belajar, santri boleh menyentuh mushaf dengan alas atau penghalang.
Dalam kitab Risalah Haidl Nifas dan Istihadloh karya Muhammad Ardani bin Ahmad (mengutip I’anatu at-Thalibin dan Bughyah al-Mustarsyidin), penulis menegaskan bahwa wanita haid tidak berdosa saat membaca Al-Qur’an. Syaratnya, ia tidak berniat tilawah secara sengaja. Jadi, Anda bisa melafalkannya dengan niat berdzikir, berdoa, atau membetulkan bacaan.
Baca juga: Adab Berpakaian Muslimah yang Sesuai Anjuran Syariat
Para penghafal dapat mengulang hafalan di dalam hati. Selain itu, Anda bisa berbisik-bisik tanpa suara keras atau melafalkan ayat doa (seperti doa istirja’ dan doa Rabbana atina fid dunya hasanah) dengan niat mengingat Allah SWT. Meskipun demikian, beberapa pondok pesantren tetap menerapkan prinsip kehati-hatian (ihtiyath). Mereka melarang santrinya membaca Al-Qur’an saat sedang berhadas besar.
Pemahaman fiqih kewanitaan yang benar menjadi kunci utama. Hal ini membuat proses menghafal tetap nyaman dan mendatangkan ridha Allah SWT. Tanpa bimbingan asatidzah yang ahli, seorang muslimah sering kali ragu menentukan batasan murajaah saat haid.
Oleh sebab itu, menuntut ilmu di pesantren tahfizh yang seimbang menjadi langkah yang sangat bijak. Selain fokus mengejar target hafalan, pesantren terbaik juga membekali para santri dengan pemahaman fiqih kewanitaan yang mendalam.
Pentingnya Belajar Fiqh di Pesantren Tahfidz
Apakah Anda ingin menghafal Al-Qur’an dengan metode teruji dan kurikulum seimbang? PPTQ Al Muanawiyah menghadirkan lingkungan asri yang sangat mendukung tumbuh kembang putri Anda.
PPTQ Al Muanawiyah merupakan pesantren khusus putri yang berlokasi di Jombang. Lembaga ini resmi membuka pendaftaran santri baru untuk jenjang SMP Qur’an, MA Qur’an, dan Program Tahfidz Murni.

Alasan Memilih PPTQ Al Muanawiyah:
-
Keseimbangan Kurikulum Modern & Agama: Pesantren memadukan Kurikulum Merdeka dengan pendidikan kepesantrenan intensif. Alhasil, para santri mampu meraih prestasi akademik sekaligus memperkuat benteng spiritual.
-
Fasilitas Pembelajaran Modern: Pesantren menyediakan laboratorium komputer dan fasilitas multimedia. Dengan begitu, para santri tetap menguasai perkembangan teknologi digital.
-
Program Tahfidz & Pembentukan Karakter Khusus: Pengasuh membiasakan rutinitas setoran ziyadah pagi-malam, murajaah panjang, serta shalat Tahajud bersama. Selain itu, pesantren memadukannya dengan kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka dan seni.
-
Lingkungan Asri Khusus Putri: Suasana belajar di pesantren sangat nyaman dan aman. Hal ini membantu santri menjaga hafalan Al-Qur’an secara maksimal.
Oleh sebab itu, jangan tunda kesempatan emas ini. Segera fasilitasi putri Anda untuk meraih kemuliaan sebagai Ahlul Qur’an.
Klik di Sini untuk Pendaftaran PPTQ Al Muanawiyah!
Segera daftarkan putri Anda sekarang juga! Mari wujudkan generasi pencinta Al-Qur’an yang berwawasan luas serta menguasai teknologi.




