Keistimewaan Surat Al-A’la yang Dicintai Nabi dan Dibaca saat Shalat Witir

Keistimewaan Surat Al-A’la yang Dicintai Nabi dan Dibaca saat Shalat Witir

Keistimewaan Surat Al-A’la berkaitan dengan kecintaan Rasulullah SAW terhadap surah ini dan penggunaannya dalam salat Witir. Surah ke-87 dalam Al-Qur’an ini terdiri dari 19 ayat dan termasuk golongan Makkiyah. Selain mengenal keutamaannya, umat Islam juga perlu memahami pesan surah ini tentang mengagungkan Allah, menyucikan diri, dan mengutamakan akhirat.

Artikel Bincang Syariah karya Moh Juriyanto menjelaskan tiga keutamaan Surat Al-A’la melalui sejumlah riwayat. Berikut penjelasan dan pelajaran yang dapat kita ambil.

1. Rasulullah SAW Menyukai Surat Al-A’la

Salah satu keistimewaan Surat Al-A’la terletak pada kecintaan Rasulullah SAW terhadap surah ini. Bincang Syariah mengutip riwayat dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang menjelaskan hal tersebut.

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ هَذِهِ السُّورَةَ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

Artinya: “Dari Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi SAW menyukai surah ini, yaitu Sabbihisma rabbikal a‘la.”

Riwayat tersebut menunjukkan kedudukan Surat Al-A’la dalam amalan Rasulullah SAW. Sebagai umatnya, kita dapat meneladani beliau dengan rutin membaca surah ini sekaligus mempelajari maknanya.

Surat Al-A’la mengajak manusia untuk mengagungkan Allah, mengingat-Nya, dan membersihkan diri. Pesan tersebut juga mendorong kita untuk memperbaiki ibadah serta menjauhi perilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam.

gambar wanita berhijab hitam dzikir dengan tasbih contoh keutamaan surat Al-A'la
Muslim women using misbaha to keep track of counting in tasbih

2. Rasulullah SAW Membaca Surat Al-A’la saat Salat Witir

Keistimewaan berikutnya berkaitan dengan salat Witir. Bincang Syariah mengutip riwayat dari Imran bin Hushain yang menyebutkan tiga surah pilihan Rasulullah SAW dalam salat tersebut, yaitu Surat Al-A’la, Al-Kafirun, dan Al-Ikhlas.

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Artinya: “Dari Imran bin Hushain, sesungguhnya Nabi SAW melaksanakan salat Witir dengan membaca Sabbihisma rabbikal a‘la, Qul ya ayyuhal kafirun, dan Qul huwallahu ahad.”

Riwayat ini memberikan contoh bacaan surah untuk shalat witir. Kita dapat mengikuti tuntunan tersebut dengan mempelajari bacaan dan tata cara salat sesuai ajaran Rasulullah SAW.

Salat Witir merupakan salat sunah dengan jumlah rakaat ganjil. Banyak umat Islam mengerjakannya setelah salat Isya, terutama seusai Tarawih pada bulan Ramadan atau sebagai penutup salat malam.

3. Ada Riwayat tentang Keutamaan Pahala Membaca Surat Al-A’la

Bincang Syariah juga mengutip riwayat dari Ubay bin Ka’ab yang menyebutkan keutamaan membaca Surat Al-A’la. Riwayat tersebut mengaitkan pahala membaca surah ini dengan huruf-huruf yang Allah turunkan kepada Nabi Ibrahim, Musa, dan Isa.

Namun, kita perlu memeriksa kualitas riwayat sebelum memastikan keutamaan pahala tertentu. Artikel Bincang Syariah mengambil riwayat tersebut dari kitab Lamahatul Anwar wa Nafahatul Azhar. Kutipan itu saja belum cukup untuk memastikan derajat kesahihannya.

Karena itu, umat Islam tetap dapat membaca Surat Al-A’la sebagai bagian dari tilawah Al-Qur’an tanpa memastikan klaim pahala khusus yang belum jelas kualitas riwayatnya. Kita juga perlu mempelajari makna ayat dan menerapkan petunjuknya dalam kehidupan sehari-hari.

Pelajaran Penting dari Surat Al-A’la

Selain keutamaan yang berkaitan dengan riwayat, Surat Al-A’la mengandung pesan penting tentang penyucian diri dan ibadah. Allah berfirman dalam ayat 14–15:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ ۝ وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ

Qad aflaḥa man tazakkā. Wa żakarasma rabbihī faṣallā.

Artinya: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dari kekafiran), dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat.” (QS. Al-A’la: 14–15)

Ayat ini mengajarkan bahwa keberuntungan berkaitan dengan penyucian diri, zikir, dan salat. Surat Al-A’la juga mengingatkan manusia agar tidak terlalu mengutamakan dunia, sebab kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal (QS. Al-A’la: 16–17).

Oleh karena itu, kita dapat menjadikan tilawah Surat Al-A’la sebagai sarana untuk memperkuat hubungan dengan Al-Qur’an. Jangan hanya mengejar jumlah bacaan. Luangkan waktu untuk memahami maknanya, memperbaiki ibadah, dan mengamalkan ajarannya.

Baca juga: Kandungan Surat Al-A’la dan Pelajaran Penting Bagi Kehidupan

Kesimpulan

Keistimewaan Surat Al-A’la mencakup kecintaan Rasulullah SAW terhadap surah ini, penggunaannya sebagai bacaan salat Witir, serta adanya riwayat tentang pahala membacanya. Meski demikian, kita perlu memeriksa kualitas riwayat sebelum menyampaikan klaim tentang pahala khusus.

Dengan membaca dan memahami Surat Al-A’la, umat Islam dapat memperkuat tilawah sekaligus memperbaiki amal. Semoga surah ini membantu kita semakin mengagungkan Allah, menjaga ibadah, dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *