Makna Malam Sepuluh dalam Al Fajr Menurut Dua Pendapat Ulama

Makna Malam Sepuluh dalam Al Fajr Menurut Dua Pendapat Ulama

Makna malam sepuluh dalam Al Fajr menjadi salah satu pembahasan menarik dalam tafsir Surat Al-Fajr. Pada awal surat, Allah bersumpah dengan beberapa tanda kebesaran-Nya, termasuk malam-malam yang sepuluh. Sumpah tersebut menunjukkan kedudukan penting waktu yang disebutkan. Namun, para ulama memiliki dua pandangan utama ketika menjelaskan maksud ayat tersebut.

Ayat yang menjadi dasar pembahasan ini berbunyi:

وَلَيَالٍ عَشْرٍ

Artinya:

“Demi malam-malam yang sepuluh.”

Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc., MA. menjelaskan adanya dua pendapat utama dalam memahami ayat tersebut. Mayoritas ulama mengaitkannya dengan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Sementara itu, sebagian ulama menafsirkannya sebagai sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.

Makna Pertama: Sepuluh Hari Awal Dzulhijjah

Mayoritas ulama memahami malam-malam yang sepuluh sebagai sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Dalam penggunaan bahasa Arab, kata yang berkaitan dengan malam terkadang dapat digunakan untuk menyebut hari secara keseluruhan. Oleh sebab itu, penggunaan kata layālin dalam ayat ini tidak selalu membatasi maknanya pada waktu malam.

Jumhur ulama memilih penafsiran tersebut, termasuk Imam Ath-Thabari dalam kitab tafsirnya. Mereka melihat besarnya keutamaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah sebagai alasan Allah bersumpah dengannya. Hari-hari tersebut memberikan kesempatan besar bagi seorang Muslim untuk memperbanyak amal saleh.

Sepuluh hari awal Dzulhijjah juga memiliki kedudukan istimewa karena mencakup berbagai momentum ibadah. Pada waktu tersebut, kaum Muslimin dapat memperbanyak dzikir, puasa, shalat, membaca Al-Qur’an, dan sedekah. Selain itu, bulan Dzulhijjah juga berkaitan dengan pelaksanaan ibadah haji dan Idul Adha.

gambar jamaah haji duduk di bebatuan untuk wukuf di Arafah dalam ibadah haji
Wukuf di Arafah pada ibadah haji di Bulan Dzulhijjah (foto: detik.com/Rafiq Maqbool)

Amal Saleh Sangat Dicintai pada Sepuluh Hari Dzulhijjah

Keutamaan waktu tersebut mendapat penjelasan langsung melalui hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau menerangkan bahwa amal saleh pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Karena itu, seorang Muslim sebaiknya tidak membiarkan hari-hari tersebut berlalu tanpa meningkatkan ibadah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّوَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ، يَعْنِيْ أَيَّامَ الْعَشْرِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ؟ قَالَ: “وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ”

Artinya:

“Tidak ada hari-hari di mana suatu amal saleh lebih dicintai Allah daripada amal saleh yang dilakukan pada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama Dzulhijjah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama daripada jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Termasuk lebih utama dibanding jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali dengan apa pun.” (HR. Bukhari no. 969)

Hadis tersebut menunjukkan luasnya kesempatan untuk memperbanyak kebaikan. Seorang Muslim dapat meningkatkan kualitas ibadah sesuai kemampuan dan keadaannya. Shalat, puasa, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan sedekah dapat menjadi bagian dari upaya tersebut.

Makna Kedua: Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan

Sebagian ulama memahami ayat ini sebagai isyarat kepada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Dasar utama pendapat ini terletak pada penggunaan kata layl, yang secara asal dalam bahasa Arab berarti malam. Oleh karena itu, penafsiran ini memandang bahwa ayat tersebut secara khusus menunjuk kepada malam, bukan hari.

Sepuluh malam terakhir Ramadhan memang memiliki kedudukan yang sangat mulia. Di antara malam-malam tersebut terdapat Lailatul Qadr, malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Karena itulah, Rasulullah dan para sahabat memberikan perhatian besar terhadap ibadah ketika Ramadhan memasuki bagian akhirnya.

Ustadz Firanda menjelaskan bahwa Ibnu Utsaimin merajihkan penafsiran ini. Penggunaan kata layālin menjadi salah satu alasan yang memperkuat pandangan tersebut. Dengan demikian, ayat ini dapat dipahami sebagai sumpah terhadap malam-malam mulia yang menjadi puncak ibadah pada bulan Ramadhan.

Dua Penafsiran tentang Waktu yang Sama-sama Mulia

Perbedaan ulama dalam menjelaskan makna malam sepuluh dalam Al Fajr tidak mengurangi keutamaan kedua waktu tersebut. Baik sepuluh hari pertama Dzulhijjah maupun sepuluh malam terakhir Ramadhan sama-sama memberikan kesempatan besar untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena itu, seorang Muslim dapat mengambil pelajaran dari kedua pendapat tersebut.

Di Indonesia, banyak kaum Muslimin memusatkan perhatian pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Masjid menjadi lebih ramai dan banyak orang meningkatkan shalat, membaca Al-Qur’an, serta memperbanyak doa. Namun, semangat yang sama terkadang tidak terlihat ketika sepuluh hari pertama Dzulhijjah tiba.

Padahal, hadis Rasulullah menunjukkan besarnya keutamaan amal saleh pada sepuluh hari tersebut. Oleh sebab itu, seorang Muslim perlu mempersiapkan diri ketika Dzulhijjah datang. Kesadaran terhadap keutamaan waktu dapat membantu seseorang memanfaatkannya dengan lebih baik.

Bagaimana Memanfaatkan Waktu-Waktu Mulia?

Seorang Muslim tidak perlu menunggu kondisi yang sempurna untuk meningkatkan ibadah. Ia dapat memulai dari amalan sederhana dan melakukannya dengan konsisten. Yang terpenting, seseorang berusaha memanfaatkan kesempatan ketika Allah memberikan waktu yang memiliki keutamaan khusus.

Baca juga: Larangan Bermalas-malasan dalam Islam dan Pentingnya Menjadi Produktif

Shalat sunnah dapat menjadi salah satu pilihan. Selain itu, seseorang dapat memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan berpuasa sesuai ketentuan syariat. Setiap amal tersebut dapat membantu seorang Muslim meningkatkan kedekatannya kepada Allah.

Namun, ibadah tidak seharusnya hanya meningkat pada waktu-waktu tertentu. Momentum seperti Ramadhan dan Dzulhijjah sebaiknya juga membantu seseorang membangun kebiasaan baik. Setelah waktu utama berlalu, kebiasaan tersebut dapat terus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Pelajaran dari Makna Malam Sepuluh dalam Al Fajr

Pembahasan mengenai makna malam sepuluh dalam Al Fajr mengingatkan bahwa waktu memiliki nilai yang berbeda di sisi Allah. Ada waktu-waktu tertentu yang Allah muliakan dan menjadikannya kesempatan besar bagi manusia untuk memperbanyak amal. Karena itu, seorang Muslim perlu mengenali waktu-waktu tersebut dan mempersiapkan diri sebelum kesempatan berlalu.

Perbedaan pendapat ulama dalam tafsir juga menunjukkan keluasan ilmu Al-Qur’an. Setiap pandangan memiliki argumentasi yang dibangun berdasarkan bahasa, riwayat, dan penjelasan para ulama. Meskipun terdapat perbedaan dalam menentukan makna ayat, kedua pandangan tersebut mengarahkan umat Islam kepada semangat yang sama, yaitu meningkatkan ibadah pada waktu-waktu yang mulia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *