Pahala Belajar Al-Qur’an bagi Lansia, Motivasi Semangat Belajar

Pahala Belajar Al-Qur’an bagi Lansia, Motivasi Semangat Belajar

Usia lanjut bukan alasan untuk berhenti belajar Al-Qur’an. Pahala belajar Al-Qur’an bagi lansia tetap terbuka selama seseorang terus berusaha mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan, kesulitan membaca yang muncul karena usia tidak semestinya membuat seseorang malu untuk belajar kembali.

Setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda bersama Al-Qur’an. Ada yang sudah lancar sejak kecil, tetapi ada pula yang baru memiliki kesempatan belajar ketika memasuki usia dewasa atau lansia. Karena itu, jangan menjadikan usia sebagai penghalang untuk memperbaiki bacaan, memahami ayat, dan memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an.

Belajar Al-Qur’an Merupakan Amalan Utama

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kedudukan mulia kepada orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an. Beliau bersabda,

عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Dari Utsman radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Orang terbaik di antara kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

(HR. Bukhari)

Hadis tersebut menunjukkan besarnya keutamaan mempelajari Al-Qur’an. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan menyebut orang yang belajar dan mengajarkannya sebagai orang terbaik. Karena itu, seseorang tidak perlu merasa terlambat untuk kembali belajar meskipun usianya sudah lanjut.

gambar orang tua lansia pria dan wanita ilustrasi pahala belajar al-qur'an bagi lansia
Ilustrasi lansia yang semangat belajar Al-Qur’an (foto: freepik)

Kesulitan Membaca Tetap Mendatangkan Pahala

Sebagian lansia mungkin menghadapi kesulitan ketika membaca Al-Qur’an. Penglihatan yang tidak lagi setajam dahulu atau kemampuan mengingat yang berubah dapat membuat proses belajar terasa lebih lambat. Namun, kesulitan tersebut tidak berarti seseorang kehilangan kesempatan mendapatkan pahala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam justru memberikan kabar gembira bagi orang yang membaca Al-Qur’an dengan kesulitan. Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa beliau bersabda,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

“Dari Aisyah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Orang yang mahir membaca Al-Qur’an bersama malaikat utusan yang mulia lagi berbakti, dan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata serta merasakan kesulitan, maka baginya dua pahala.”

(HR. Muslim)

Hadis ini memberikan motivasi bagi siapa saja yang masih berjuang memperbaiki bacaan. Lansia tidak perlu malu ketika membutuhkan waktu lebih lama untuk mengeja suatu ayat. Teruslah membaca, belajar, dan memperbaiki kesalahan sedikit demi sedikit.

Dengan demikian, kesulitan dalam proses belajar bukan alasan untuk meninggalkan Al-Qur’an. Justru, usaha untuk tetap membaca meskipun terasa sulit memiliki keutamaan tersendiri.

Baca juga: Cara Menghafal Al-Qur’an bagi Lansia agar Lebih Mudah dan Konsisten

Setiap Usaha Membaca Al-Qur’an Bernilai

Ketika seseorang belajar Al-Qur’an, ia tidak hanya mengejar kemampuan membaca dengan lancar. Ia juga membangun kebiasaan berinteraksi dengan kalam Allah dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, lansia dapat menjadikan waktu membaca Al-Qur’an sebagai bagian dari rutinitas harian.

Tidak perlu memasang target yang terlalu berat. Bacalah beberapa ayat sesuai kemampuan, kemudian ulangi secara perlahan. Jika menemukan bacaan yang sulit, mintalah bantuan anak, cucu, atau guru mengaji untuk menyimak dan memperbaikinya.

Kebiasaan sederhana tersebut dapat menjaga hubungan seseorang dengan Al-Qur’an. Selain itu, kegiatan membaca bersama keluarga dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Anak dan cucu pun bisa ikut mendapatkan kesempatan untuk belajar.

Al-Qur’an Menjadi Syafaat bagi Pembacanya

Keutamaan membaca Al-Qur’an juga berkaitan dengan kehidupan akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa Al-Qur’an akan memberikan syafaat bagi orang yang membacanya.

Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Dari Abu Umamahi Al Bahili dia berkata; Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi orang yang membacanya.”

(HR. Muslim)

Hadis tersebut memberikan alasan kuat untuk terus menjaga kebiasaan membaca Al-Qur’an. Lansia yang menghabiskan waktunya dengan membaca ayat-ayat Allah tetap memiliki kesempatan meraih keutamaan tersebut.

Karena itu, jangan menganggap aktivitas membaca Al-Qur’an sebagai kegiatan yang hanya cocok bagi anak-anak atau orang yang sudah lancar membaca. Setiap Muslim dapat terus berinteraksi dengan Al-Qur’an sesuai kemampuannya.

Jangan Malu Belajar Al-Qur’an di Usia Senja

Sebagian orang mungkin merasa malu ketika harus belajar kembali dari dasar. Perasaan tersebut dapat muncul karena melihat anak-anak yang membaca lebih lancar daripada dirinya. Padahal, proses belajar tidak mengenal batas usia.

Lansia justru dapat memberikan teladan kepada keluarga melalui semangatnya belajar Al-Qur’an. Anak dan cucu akan melihat bahwa seseorang tetap mau belajar meskipun menghadapi kesulitan. Sikap tersebut dapat menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu dan Al-Qur’an dalam keluarga.

Karena itu, tidak perlu menunggu sampai mampu membaca dengan sempurna untuk mulai belajar. Ambil mushaf, cari guru yang dapat membimbing, lalu mulailah dari kemampuan yang ada. Setelah itu, lakukan latihan secara konsisten.

poster pendaftaran santri baru pondok tahfidz putri jombang Al Muanawiyah

Ajarkan Kecintaan terhadap Al-Qur’an kepada Generasi Muda

Semangat belajar Al-Qur’an tidak harus berhenti pada diri sendiri. Orang tua dan kakek-nenek juga dapat menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an kepada anak dan cucu.

Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan Al-Qur’an memiliki kesempatan untuk membangun kebiasaan membaca dan menghafal sejak dini. Orang tua dapat mendukungnya dengan memilih lingkungan pendidikan yang memberikan perhatian terhadap pembelajaran Al-Qur’an.

Pendidikan tersebut juga dapat menjadi bentuk ikhtiar keluarga untuk menjaga hubungan generasi muda dengan Al-Qur’an. Dengan begitu, kebiasaan membaca dan menghafal Al-Qur’an dapat terus berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Raih Pendidikan Al-Qur’an untuk Putri Bersama PPTQ Al Muanawiyah

Pahala belajar Al-Qur’an bagi lansia mengingatkan kita bahwa kesempatan mendekat kepada Al-Qur’an selalu terbuka. Namun, kecintaan terhadap Al-Qur’an juga perlu tumbuh sejak usia muda agar anak terbiasa membaca, mempelajari, dan menghafalkannya.

Bagi orang tua yang ingin memberikan lingkungan pendidikan Al-Qur’an kepada putrinya, PPTQ Al Muanawiyah Jombang menyediakan program tahfidz khusus santri putri. Lingkungan pesantren membantu santri membangun rutinitas bersama Al-Qur’an sekaligus mendapatkan pendidikan yang mendukung pembentukan karakter.

Jika Anda memiliki putri yang sedang mencari lingkungan pendidikan tahfidz, Anda dapat mengenal lebih jauh program dan proses pendaftaran PPTQ Al Muanawiyah Jombang. Menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak muda dapat menjadi bagian dari ikhtiar keluarga untuk membentuk generasi muslimah yang dekat dengan Al-Qur’an.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *