Penghafal Al-Qur’an yang Maksiat: Ketika Ilmu Tidak Diamalkan

Penghafal Al-Qur’an yang Maksiat: Ketika Ilmu Tidak Diamalkan

Penghafal Al-Qur’an yang maksiat sering menjadi sorotan karena masyarakat berharap hafalan Al-Qur’an membentuk akhlak dan perilaku. Harapan tersebut memang sejalan dengan tujuan mempelajari ilmu agama. Namun, kita perlu berhati-hati agar tidak sibuk mencari kesalahan orang lain sambil melupakan kewajiban untuk mengamalkan ilmu yang kita miliki.

Hafalan Al-Qur’an merupakan kemuliaan, tetapi hafalan juga membawa tanggung jawab. Semakin banyak ilmu yang seseorang pelajari, semestinya semakin bertambah pula keimanan, rasa takut kepada Allah, dan dorongan untuk beramal. Jika ilmu hanya berhenti pada ingatan, seseorang perlu mengevaluasi kembali tujuan belajarnya.

Ilmu Seharusnya Menambah Keimanan

Belajar ilmu agama bukan sekadar menambah pengetahuan. Ilmu seharusnya membimbing seseorang untuk mengenal Allah, memperbaiki ibadah, dan membentuk akhlak.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا لَمْ يَعْمَلْ بِهِ لَمْ يَزِدْهُ إِلَّا كِبْرًا

“Siapa yang belajar ilmu (agama) lantas ia tidak mengamalkannya, maka hanya kesombongan pada dirinya yang terus bertambah.” Disebutkan oleh Imam Adz Dzahabi dalam Al Kabair, hal. 75

Nasihat ini berlaku bagi siapa saja yang belajar ilmu, termasuk orang yang mempelajari dan menghafal Al-Qur’an. Karena itu, seorang penghafal Al-Qur’an perlu bertanya kepada dirinya sendiri. Apakah hafalan membuatnya semakin dekat kepada Allah? Apakah ayat yang ia hafal memengaruhi sikapnya kepada orang tua, guru, teman, dan orang lain?

gambar beberapa orang berhijab sedang belajar Al Quran pencegahan penghafal Al-Qur'an yang maksiat
Ilustrasi keutamaan menuntut ilmu dan mengamalkannya (sumber: freepik)

Kecerdasan Tidak Cukup Tanpa Amal

Seseorang dapat memiliki kemampuan menghafal yang luar biasa. Ia mungkin mampu mengingat banyak juz dalam waktu singkat dan membaca ayat dengan lancar. Namun, kemampuan tersebut belum cukup jika ilmu yang ia miliki tidak mendorongnya melakukan kebaikan.

Ilmu yang bermanfaat seharusnya menghasilkan amal. Pengetahuan tentang kewajiban shalat, misalnya, mendorong seseorang menjaga shalat. Pengetahuan tentang larangan ghibah juga seharusnya membuatnya lebih berhati-hati ketika berbicara.

Begitu pula dengan hafalan Al-Qur’an. Seorang penghafal perlu berusaha menjadikan ayat yang ia hafal sebagai pedoman dalam kehidupan. Dengan begitu, hafalan tidak hanya memenuhi ingatan, tetapi juga membentuk perilaku.

Jangan Menghafal untuk Mencari Pengakuan

Selain mengamalkan ilmu, seorang Muslim juga perlu menjaga niat. Belajar Al-Qur’an seharusnya tidak bertujuan mencari pujian, kedudukan, atau pengakuan manusia.

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

لاَ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ وَلاَ لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ وَلاَ تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ

“Janganlah belajar ilmu agama untuk berbangga diri di hadapan para ulama atau untuk mendebat orang-orang bodoh, dan jangan mengelilingi majelis untuk maksud seperti itu. Karena barangsiapa yang melakukan demikian, maka neraka lebih pantas baginya, neraka lebih pantas baginya.” (HR. Ibnu Majah no. 254. Syaikh Al-Albani menilainya sahih).

Pesannya relevan bagi siapa pun yang belajar agama. Hafalan yang banyak tidak semestinya menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sebaliknya, ilmu perlu membuat seseorang semakin rendah hati dan semakin takut kepada Allah.

Jangan Mudah Menghakimi Penghafal Al-Qur’an

Lalu, bagaimana ketika kita melihat penghafal Al-Qur’an yang masih melakukan maksiat? Pertanyaan tersebut perlu kita jawab dengan introspeksi, bukan sekadar kecaman.

Kita tentu tidak boleh membenarkan maksiat. Seorang Muslim tetap perlu menghindari dosa dan memperbaiki diri. Namun, kita juga perlu mengingat bahwa setiap manusia memiliki ujian dan kekurangan.

Sebelum menghakimi penghafal Al-Qur’an yang bermaksiat, mari bertanya kepada diri sendiri. Sudahkah kita mengamalkan ilmu yang kita pelajari? Sudahkah nasihat yang kita sampaikan kepada orang lain kita terapkan dalam kehidupan sendiri?

Baca juga: Cara Menghafal Al-Qur’an Sambil Sekolah, Inspirasi dari Sherin

Bahaya Menyuruh Kebaikan tetapi Melakukannya Sendiri

Rasulullah ﷺ juga memberikan peringatan keras tentang orang yang menyerukan kebaikan tetapi tidak mengerjakannya. Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda:

يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِى النَّارِ ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِى النَّارِ ، فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ ، فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ ، فَيَقُولُونَ أَىْ فُلاَنُ ، مَا شَأْنُكَ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ

“Ada seseorang yang didatangkan pada hari kiamat lantas ia dilemparkan dalam neraka. Usus-ususnya pun terburai di dalam neraka. Lalu dia berputar-putar seperti keledai memutari penggilingannya. Lantas penghuni neraka berkumpul di sekitarnya lalu mereka bertanya, ‘Wahai fulan, ada apa denganmu? Bukankah kamu dahulu yang memerintahkan kami kepada kebaikan dan melarang kami dari kemungkaran?’ Dia menjawab, ‘Memang betul, aku dulu memerintahkan kalian kepada kebaikan tetapi aku sendiri tidak mengerjakannya. Dan aku dulu melarang kalian dari kemungkaran tetapi aku sendiri yang mengerjakannya.’” (HR. Bukhari no. 3267 dan Muslim no. 2989).

Peringatan ini tidak hanya berlaku bagi penghafal Al-Qur’an. Setiap orang yang belajar agama perlu mengingatnya. Semakin banyak ilmu yang kita miliki, semakin besar pula tanggung jawab untuk mengamalkannya.

Menghafal Al-Qur’an Sekaligus Belajar Mengamalkannya

Karena itu, pendidikan tahfidz idealnya tidak berhenti pada target jumlah hafalan. Santri juga perlu mendapat kesempatan untuk mempraktikkan ilmu yang mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari.

PPTQ Al Muanawiyah Jombang berusaha membangun kebiasaan tersebut dalam pendidikan santri. Selain menghafal Al-Qur’an, santri mendapat kesempatan mengamalkan ilmu dengan mengajar TPQ di masjid sekitar pondok.

foto bersama santri Al Muanawiyah dan murid TPQ Darussalam Ceweng dalam artikel penghafal Al-Qur'an yang maksiat
Perayaan Maulid Nabi di TPQ Darussalam Ceweng, salah satu tempat mengajar santri Al Muanawiyah

Pengalaman mengajar membuat santri belajar menyampaikan ilmu kepada orang lain. Mereka juga belajar menghadapi karakter dan kemampuan murid yang berbeda. Dengan begitu, hafalan dan ilmu agama tidak hanya tersimpan dalam diri, tetapi mulai hadir dalam aktivitas yang bermanfaat bagi masyarakat.

Santri juga mendapat pengalaman menjadi guru penyimak hafalan. Mereka dapat membantu menyimak bacaan dan hafalan santri lain. Selain itu, santri juga dapat berperan sebagai guru pengajar kitab pelajaran diniyah.

Membiasakan Diri Menjadi Pembelajar dan Pengajar Al-Qur’an

Kegiatan tersebut selaras dengan sabda Rasulullah ﷺ:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 5027).

Hadis ini mengajarkan bahwa hubungan dengan Al-Qur’an tidak berhenti pada proses belajar. Setelah memperoleh ilmu, seorang Muslim juga dapat membagikan manfaatnya kepada orang lain.

Dengan demikian, proses pendidikan penghafal Al-Qur’an perlu menghubungkan hafalan, pemahaman, dan amal. Santri belajar menjaga ayat dalam ingatan, memahami kandungannya, lalu berusaha menghadirkan nilai Al-Qur’an dalam perilaku.

Menjadikan Hafalan sebagai Jalan untuk Memperbaiki Diri

Pada akhirnya, pembahasan tentang penghafal Al-Qur’an yang maksiat seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua. Kita tidak boleh menjadikan kesalahan seseorang sebagai alasan untuk meremehkan Al-Qur’an. Sebaliknya, kita perlu menjadikan Al-Qur’an sebagai cermin untuk mengevaluasi diri.

Hafalan yang semakin banyak seharusnya mendorong seseorang untuk semakin rajin beribadah dan memperbaiki akhlak. Ilmu yang semakin luas juga seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati. Dengan begitu, ilmu menjadi bekal yang mengantarkan seseorang kepada amal yang bermanfaat.

Pendidikan tahfidz yang baik bukan hanya mengejar berapa banyak ayat yang masuk ke dalam ingatan. Pendidikan tersebut juga perlu membentuk kebiasaan untuk memahami, mengamalkan, dan mengajarkan Al-Qur’an.

Jika Anda ingin putri Anda belajar menghafal sekaligus membiasakan diri mengamalkan ilmu, segera daftar di PPTQ Al Muanawiyah atau konsultasikan programnya melalui WhatsApp admin pendaftaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *