Penghafal Al-Qur’an yang Maksiat: Ketika Ilmu Tidak Diamalkan

Penghafal Al-Qur’an yang Maksiat: Ketika Ilmu Tidak Diamalkan

Penghafal Al-Qur’an yang maksiat sering menjadi sorotan karena masyarakat berharap hafalan Al-Qur’an membentuk akhlak dan perilaku. Harapan tersebut memang sejalan dengan tujuan mempelajari ilmu agama. Namun, kita perlu berhati-hati agar tidak sibuk mencari kesalahan orang lain sambil melupakan kewajiban untuk mengamalkan ilmu yang kita miliki.

Hafalan Al-Qur’an merupakan kemuliaan, tetapi hafalan juga membawa tanggung jawab. Semakin banyak ilmu yang seseorang pelajari, semestinya semakin bertambah pula keimanan, rasa takut kepada Allah, dan dorongan untuk beramal. Jika ilmu hanya berhenti pada ingatan, seseorang perlu mengevaluasi kembali tujuan belajarnya.

Ilmu Seharusnya Menambah Keimanan

Belajar ilmu agama bukan sekadar menambah pengetahuan. Ilmu seharusnya membimbing seseorang untuk mengenal Allah, memperbaiki ibadah, dan membentuk akhlak.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا لَمْ يَعْمَلْ بِهِ لَمْ يَزِدْهُ إِلَّا كِبْرًا

“Siapa yang belajar ilmu (agama) lantas ia tidak mengamalkannya, maka hanya kesombongan pada dirinya yang terus bertambah.” Disebutkan oleh Imam Adz Dzahabi dalam Al Kabair, hal. 75

Nasihat ini berlaku bagi siapa saja yang belajar ilmu, termasuk orang yang mempelajari dan menghafal Al-Qur’an. Karena itu, seorang penghafal Al-Qur’an perlu bertanya kepada dirinya sendiri. Apakah hafalan membuatnya semakin dekat kepada Allah? Apakah ayat yang ia hafal memengaruhi sikapnya kepada orang tua, guru, teman, dan orang lain?

gambar beberapa orang berhijab sedang belajar Al Quran pencegahan penghafal Al-Qur'an yang maksiat
Ilustrasi keutamaan menuntut ilmu dan mengamalkannya (sumber: freepik)

Kecerdasan Tidak Cukup Tanpa Amal

Seseorang dapat memiliki kemampuan menghafal yang luar biasa. Ia mungkin mampu mengingat banyak juz dalam waktu singkat dan membaca ayat dengan lancar. Namun, kemampuan tersebut belum cukup jika ilmu yang ia miliki tidak mendorongnya melakukan kebaikan.

Ilmu yang bermanfaat seharusnya menghasilkan amal. Pengetahuan tentang kewajiban shalat, misalnya, mendorong seseorang menjaga shalat. Pengetahuan tentang larangan ghibah juga seharusnya membuatnya lebih berhati-hati ketika berbicara.

Begitu pula dengan hafalan Al-Qur’an. Seorang penghafal perlu berusaha menjadikan ayat yang ia hafal sebagai pedoman dalam kehidupan. Dengan begitu, hafalan tidak hanya memenuhi ingatan, tetapi juga membentuk perilaku.

Jangan Menghafal untuk Mencari Pengakuan

Selain mengamalkan ilmu, seorang Muslim juga perlu menjaga niat. Belajar Al-Qur’an seharusnya tidak bertujuan mencari pujian, kedudukan, atau pengakuan manusia.

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

لاَ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ وَلاَ لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ وَلاَ تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ

“Janganlah belajar ilmu agama untuk berbangga diri di hadapan para ulama atau untuk mendebat orang-orang bodoh, dan jangan mengelilingi majelis untuk maksud seperti itu. Karena barangsiapa yang melakukan demikian, maka neraka lebih pantas baginya, neraka lebih pantas baginya.” (HR. Ibnu Majah no. 254. Syaikh Al-Albani menilainya sahih).

Pesannya relevan bagi siapa pun yang belajar agama. Hafalan yang banyak tidak semestinya menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sebaliknya, ilmu perlu membuat seseorang semakin rendah hati dan semakin takut kepada Allah.

Jangan Mudah Menghakimi Penghafal Al-Qur’an

Lalu, bagaimana ketika kita melihat penghafal Al-Qur’an yang masih melakukan maksiat? Pertanyaan tersebut perlu kita jawab dengan introspeksi, bukan sekadar kecaman.

Kita tentu tidak boleh membenarkan maksiat. Seorang Muslim tetap perlu menghindari dosa dan memperbaiki diri. Namun, kita juga perlu mengingat bahwa setiap manusia memiliki ujian dan kekurangan.

Sebelum menghakimi penghafal Al-Qur’an yang bermaksiat, mari bertanya kepada diri sendiri. Sudahkah kita mengamalkan ilmu yang kita pelajari? Sudahkah nasihat yang kita sampaikan kepada orang lain kita terapkan dalam kehidupan sendiri?

Baca juga: Cara Menghafal Al-Qur’an Sambil Sekolah, Inspirasi dari Sherin

Bahaya Menyuruh Kebaikan tetapi Melakukannya Sendiri

Rasulullah ﷺ juga memberikan peringatan keras tentang orang yang menyerukan kebaikan tetapi tidak mengerjakannya. Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda:

يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِى النَّارِ ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِى النَّارِ ، فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ ، فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ ، فَيَقُولُونَ أَىْ فُلاَنُ ، مَا شَأْنُكَ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ

“Ada seseorang yang didatangkan pada hari kiamat lantas ia dilemparkan dalam neraka. Usus-ususnya pun terburai di dalam neraka. Lalu dia berputar-putar seperti keledai memutari penggilingannya. Lantas penghuni neraka berkumpul di sekitarnya lalu mereka bertanya, ‘Wahai fulan, ada apa denganmu? Bukankah kamu dahulu yang memerintahkan kami kepada kebaikan dan melarang kami dari kemungkaran?’ Dia menjawab, ‘Memang betul, aku dulu memerintahkan kalian kepada kebaikan tetapi aku sendiri tidak mengerjakannya. Dan aku dulu melarang kalian dari kemungkaran tetapi aku sendiri yang mengerjakannya.’” (HR. Bukhari no. 3267 dan Muslim no. 2989).

Peringatan ini tidak hanya berlaku bagi penghafal Al-Qur’an. Setiap orang yang belajar agama perlu mengingatnya. Semakin banyak ilmu yang kita miliki, semakin besar pula tanggung jawab untuk mengamalkannya.

Menghafal Al-Qur’an Sekaligus Belajar Mengamalkannya

Karena itu, pendidikan tahfidz idealnya tidak berhenti pada target jumlah hafalan. Santri juga perlu mendapat kesempatan untuk mempraktikkan ilmu yang mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari.

PPTQ Al Muanawiyah Jombang berusaha membangun kebiasaan tersebut dalam pendidikan santri. Selain menghafal Al-Qur’an, santri mendapat kesempatan mengamalkan ilmu dengan mengajar TPQ di masjid sekitar pondok.

foto bersama santri Al Muanawiyah dan murid TPQ Darussalam Ceweng dalam artikel penghafal Al-Qur'an yang maksiat
Perayaan Maulid Nabi di TPQ Darussalam Ceweng, salah satu tempat mengajar santri Al Muanawiyah

Pengalaman mengajar membuat santri belajar menyampaikan ilmu kepada orang lain. Mereka juga belajar menghadapi karakter dan kemampuan murid yang berbeda. Dengan begitu, hafalan dan ilmu agama tidak hanya tersimpan dalam diri, tetapi mulai hadir dalam aktivitas yang bermanfaat bagi masyarakat.

Santri juga mendapat pengalaman menjadi guru penyimak hafalan. Mereka dapat membantu menyimak bacaan dan hafalan santri lain. Selain itu, santri juga dapat berperan sebagai guru pengajar kitab pelajaran diniyah.

Membiasakan Diri Menjadi Pembelajar dan Pengajar Al-Qur’an

Kegiatan tersebut selaras dengan sabda Rasulullah ﷺ:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 5027).

Hadis ini mengajarkan bahwa hubungan dengan Al-Qur’an tidak berhenti pada proses belajar. Setelah memperoleh ilmu, seorang Muslim juga dapat membagikan manfaatnya kepada orang lain.

Dengan demikian, proses pendidikan penghafal Al-Qur’an perlu menghubungkan hafalan, pemahaman, dan amal. Santri belajar menjaga ayat dalam ingatan, memahami kandungannya, lalu berusaha menghadirkan nilai Al-Qur’an dalam perilaku.

Menjadikan Hafalan sebagai Jalan untuk Memperbaiki Diri

Pada akhirnya, pembahasan tentang penghafal Al-Qur’an yang maksiat seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua. Kita tidak boleh menjadikan kesalahan seseorang sebagai alasan untuk meremehkan Al-Qur’an. Sebaliknya, kita perlu menjadikan Al-Qur’an sebagai cermin untuk mengevaluasi diri.

Hafalan yang semakin banyak seharusnya mendorong seseorang untuk semakin rajin beribadah dan memperbaiki akhlak. Ilmu yang semakin luas juga seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati. Dengan begitu, ilmu menjadi bekal yang mengantarkan seseorang kepada amal yang bermanfaat.

Pendidikan tahfidz yang baik bukan hanya mengejar berapa banyak ayat yang masuk ke dalam ingatan. Pendidikan tersebut juga perlu membentuk kebiasaan untuk memahami, mengamalkan, dan mengajarkan Al-Qur’an.

Jika Anda ingin putri Anda belajar menghafal sekaligus membiasakan diri mengamalkan ilmu, segera daftar di PPTQ Al Muanawiyah atau konsultasikan programnya melalui WhatsApp admin pendaftaran.

Hadits Bersih Sebagian dari Iman dan Pentingnya Thaharah bagi Muslim

Hadits Bersih Sebagian dari Iman dan Pentingnya Thaharah bagi Muslim

Hadits bersih sebagian dari iman menunjukkan betapa pentingnya thaharah dalam kehidupan seorang Muslim. Rasulullah ﷺ menyebut bersuci sebagai bagian besar dari kesempurnaan iman. Bahkan, thaharah berkaitan langsung dengan ibadah utama, yaitu shalat.

Dalam Islam, bersuci bukan sekadar menjaga tubuh agar tetap bersih. Thaharah juga mencakup upaya menghilangkan hadats dan najis sesuai ketentuan syariat. Karena itu, seorang Muslim perlu memahami tata cara bersuci dengan benar agar ibadahnya berlangsung sesuai tuntunan.

Hadits Bersih Sebagian dari Iman

Pembahasan tentang keutamaan bersuci terdapat dalam hadits Abu Malik Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah ﷺ bersabda:

الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمَانِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلأُ الْمِيزَانَ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلآنِ مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ، وَالصَّلَاةُ نُورٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ، وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ، وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ…

Artinya:

“Bersuci itu sebagian dari iman, ucapan alhamdulillah memenuhi timbangan, ucapan subhanallah dan alhamdulillah memenuhi antara langit dan bumi, shalat adalah cahaya, sedekah adalah bukti, kesabaran adalah sinar, dan Al-Qur’an adalah hujjah yang membelamu atau menuntutmu…” (HR. Muslim no. 223).

Hadits tersebut tidak hanya menerangkan keutamaan bersuci. Rasulullah ﷺ juga menyandingkannya dengan sejumlah amal penting seperti shalat, sedekah, sabar, dan membaca Al-Qur’an. Dengan demikian, thaharah memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang Muslim.

Apa yang Dimaksud dengan Thaharah?

Secara umum, thaharah berarti bersuci. Dalam pembahasan fikih, thaharah berkaitan dengan bersuci dari hadats dan najis sehingga seorang Muslim dapat melaksanakan ibadah yang mensyaratkan keadaan suci.

Bersuci dari hadats kecil dengan wudhu. Sementara itu, hadats besar membutuhkan mandi wajib. Dalam kondisi tertentu ketika seseorang tidak dapat menggunakan air karena alasan yang dibenarkan syariat, Islam juga memberikan keringanan melalui tayamum.

Karena itu, memahami thaharah menjadi kebutuhan dasar bagi setiap Muslim. Pengetahuan tersebut membantu seseorang mengetahui kapan harus berwudhu, kapan perlu mandi wajib, bagaimana membersihkan najis, serta kapan tayamum diperbolehkan.

tembok berdebu dengan cat putih mengelupas untuk tayamum contoh hadits bersih sebagian dari iman
Debu suci yang menempel pada tembok dapat digunakan sebagai media tayamum, bagian dari thaharah (foto: freepik.com)

Thaharah Menjadi Syarat Sah Shalat

Salah satu alasan pentingnya mempelajari thaharah adalah kaitannya dengan shalat. Seorang Muslim tidak cukup hanya mengetahui gerakan dan bacaan shalat. Ia juga harus memperhatikan syarat-syarat yang mendahului ibadah tersebut, termasuk kesucian dari hadats.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلاَ صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ

Artinya:

“Tidak diterima shalat tanpa bersuci dan tidak diterima sedekah dari harta yang diperoleh secara khianat.” (HR. Muslim no. 224).

Hadits ini menunjukkan hubungan yang sangat erat antara thaharah dan shalat. Seseorang yang hendak melaksanakan shalat perlu memastikan dirinya telah bersuci dari hadats sesuai keadaan. Oleh sebab itu, bersuci bukan sekadar persiapan tambahan, melainkan bagian penting yang menentukan sahnya ibadah.

Mengapa Muslim Perlu Memahami Thaharah?

Memahami thaharah membantu seorang Muslim menjalankan ibadah dengan lebih benar. Kesalahan dalam bersuci bisa berdampak pada ibadah yang dikerjakan setelahnya, terutama shalat yang dilakukan dalam keadaan berhadats.

Selain itu, pembelajaran thaharah melatih seorang Muslim untuk memperhatikan kesucian sebelum menghadap Allah. Kebiasaan berwudhu dengan benar, menjaga kebersihan dari najis, dan memahami kondisi yang mewajibkan mandi membentuk sikap disiplin dalam beribadah.

Pemahaman tersebut juga penting bagi anak dan remaja Muslim. Sejak dini, mereka perlu mengenal perbedaan antara hadats dan najis serta memahami cara bersuci yang sesuai tuntunan. Dengan bekal tersebut, mereka tidak sekadar terbiasa berwudhu, tetapi juga mengetahui alasan dan ketentuan di balik ibadah tersebut.

Hadits Bersih Sebagian dari Iman Mengajarkan Kedisiplinan

Hadits bersih sebagian dari iman memberikan pelajaran bahwa kesucian memiliki tempat penting dalam ajaran Islam. Bersuci menjadi bagian dari persiapan seorang Muslim sebelum melakukan sejumlah ibadah, khususnya shalat.

Karena itu, mempelajari thaharah adalah bagian penting dari pembelajaran seorang Muslim. Pengetahuan tentang wudhu, mandi wajib, tayamum, dan najis justru menjadi bekal dasar agar seorang Muslim dapat menjalankan ibadah dengan benar.

Pada akhirnya, thaharah mengajarkan bahwa ibadah membutuhkan persiapan. Sebelum menghadap Allah dalam shalat, seorang Muslim terlebih dahulu memastikan kesucian dirinya. Inilah salah satu makna penting dari sabda Rasulullah ﷺ bahwa “bersuci adalah sebagian dari iman.”

Hadits Arbain Ke-23: Ajaran Pokok untuk Muslim

Hadits Arbain Ke-23: Ajaran Pokok untuk Muslim

Hadits Arbain ke-23 memuat banyak pelajaran tentang amalan yang dapat memperkuat keimanan seorang Muslim. Hadis ini menjelaskan keutamaan bersuci, dzikir, shalat, sedekah, sabar, dan Al-Qur’an. Selain itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan kehidupan manusia sebagai perjalanan yang menentukan keselamatan atau kebinasaannya sendiri.

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Malik Al-Harits bin ‘Ashim Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu. Imam Muslim meriwayatkannya dalam Shahih Muslim dengan nomor 223. Karena memuat banyak prinsip penting dalam kehidupan seorang Muslim, hadis ini menjadi salah satu hadis yang penting untuk dipelajari.

Hadits Arbain Ke-23

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيْمَانِ، وَالحَمْدُ للهِ تَمْلأُ المِيْزَانَ، وَسُبْحَانَ اللهِ والحَمْدُ للهِ تَمْلآنِ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ، وَالصَّلاةُ نُورٌ، والصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ، وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ، وَالقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ، كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَو مُوْبِقُهَا

Artinya:

“Bersuci itu sebagian dari iman, ucapan alhamdulillah memenuhi timbangan. Ucapan subhanallah dan alhamdulillah memenuhi antara langit dan bumi. Shalat adalah cahaya, sedekah adalah bukti nyata, kesabaran adalah sinar, Al-Qur’an adalah hujjah yang membelamu atau hujjah yang menuntutmu. Setiap manusia berbuat, seakan-akan ia menjual dirinya, ada yang memerdekakan dirinya sendiri, ada juga yang membinasakan dirinya sendiri.” (HR. Muslim no. 223).

Hadis tersebut menyatukan beberapa amalan dalam satu rangkaian nasihat. Rasulullah tidak hanya menjelaskan keutamaan ibadah secara terpisah, tetapi juga menunjukkan hubungan antara ibadah lahir, ibadah hati, dan hubungan manusia dengan Al-Qur’an. Karena itu, hadits Arbain ke-23 dapat menjadi pengingat untuk membangun kehidupan yang lebih dekat dengan Allah.

Baca juga: Hadits Arbain Ke-22: Shalat, Puasa, dan Menjauhi yang Haram

Bersuci Menjadi Bagian dari Keimanan

Hadis ini diawali dengan pernyataan bahwa bersuci merupakan bagian dari iman. Makna bersuci dapat mencakup membersihkan diri dari kesyirikan, dosa, dan maksiat. Dalam konteks ibadah, bersuci juga berkaitan dengan wudhu yang menjadi syarat sah shalat.

Kebersihan lahir dan kesucian batin memiliki hubungan dalam kehidupan seorang Muslim. Wudhu tidak hanya mempersiapkan tubuh sebelum shalat, tetapi juga mengingatkan seseorang untuk menjaga kesucian dirinya. Karena itu, bersuci seharusnya tidak berhenti sebagai rutinitas sebelum beribadah.

gambar tangan mengambil air ilustrasi bersuci kandungan hadits arbain ke-23
Ilustrasi wudhu sebagian dari bersuci

Alhamdulillah dan Subhanallah Memiliki Keutamaan Besar

Selanjutnya, Rasulullah menjelaskan keutamaan membaca alhamdulillah. Kalimat tahmid tersebut memiliki kedudukan yang besar hingga memenuhi timbangan amal. Hadis ini juga menyebut tasbih dan tahmid sebagai amalan yang memenuhi ruang antara langit dan bumi.

Tasbih berarti menyucikan Allah dari berbagai kekurangan. Sementara itu, tahmid berarti memuji Allah dengan berbagai sifat kesempurnaan-Nya. Dengan demikian, kedua dzikir tersebut mengajarkan seorang Muslim untuk mengenal kesempurnaan Allah sekaligus mensyukuri nikmat-Nya.

Shalat Menjadi Cahaya bagi Seorang Muslim

Hadits Arbain ke-23 kemudian menyebut shalat sebagai cahaya. Cahaya tersebut dapat dipahami sebagai petunjuk bagi hati dan wajah seorang Muslim. Selain itu, cahaya dari shalat juga menjadi bekal bagi seorang hamba pada hari kiamat.

Shalat karena itu tidak sekadar kewajiban yang perlu ditunaikan. Ibadah ini juga membantu seseorang menjaga hubungan dengan Allah di tengah berbagai kesibukan. Ketika seseorang menjaga shalat dengan baik, ia memiliki pengingat yang terus mengarahkannya kepada ketaatan.

Baca juga: Larangan Bermalas-malasan dalam Islam dan Pentingnya Menjadi Produktif

Sedekah Menjadi Bukti Keimanan

Rasulullah menyebut sedekah sebagai burhan atau bukti. Seseorang biasanya memiliki kecenderungan mencintai harta, sehingga mengeluarkannya untuk orang lain membutuhkan keikhlasan. Ketika seseorang bersedekah karena Allah, ia menunjukkan bahwa kecintaannya kepada Allah dapat mengalahkan kecintaannya terhadap harta.

Sedekah juga tidak hanya memberikan manfaat kepada penerimanya. Amalan tersebut melatih seseorang untuk tidak dikuasai sifat kikir dan cinta dunia. Karena itu, kebiasaan berbagi dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga kepekaan sosial sekaligus memperkuat keimanan.

Sabar Adalah Cahaya dalam Menghadapi Ujian

Bagian berikutnya menjelaskan bahwa sabar merupakan dhiya’, yaitu cahaya yang memberikan penerangan. Sabar tidak berarti hanya menahan kesedihan ketika menghadapi masalah. Dalam penjelasan hadis ini, sabar mencakup keteguhan dalam menjalankan ketaatan, menjauhi maksiat, serta menghadapi takdir yang tidak menyenangkan.

Setiap bentuk kesabaran membutuhkan kekuatan iman. Seseorang perlu bersabar ketika menjalankan ibadah yang terasa berat, menahan diri dari sesuatu yang haram, maupun menerima ujian kehidupan. Dengan kesabaran tersebut, seorang Muslim dapat menghadapi ujian tanpa kehilangan arah dalam menjalankan ketaatan.

Al-Qur’an Bisa Menjadi Pembela atau Penuntut

Hadis ini juga memberikan perhatian besar kepada Al-Qur’an. Rasulullah menjelaskan bahwa Al-Qur’an dapat menjadi hujjah yang membela seseorang atau justru menjadi hujjah yang menuntutnya. Perbedaan tersebut bergantung pada bagaimana seseorang memperlakukan kitab Allah dalam kehidupannya.

Seseorang dapat menjadikan Al-Qur’an sebagai pembela dengan membenarkan isinya, menjalankan perintah, menjauhi larangan, membaca, serta berusaha memahami dan mengamalkannya. Sebaliknya, seseorang dapat menghadapi tuntutan Al-Qur’an ketika ia berpaling dari petunjuknya. Karena itu, mempelajari Al-Qur’an seharusnya berjalan bersama usaha untuk mengamalkannya.

Kedudukan Orang yang Dekat dengan Al-Qur’an

Perhatian terhadap Al-Qur’an juga terlihat dalam kisah Ibnu Abza yang disebut dalam penjelasan hadis. Umar bin Khattab menerima informasi bahwa Ibnu Abza mendapat tugas mengurus penduduk Al-Wadi. Ketika Umar mengetahui bahwa Ibnu Abza merupakan bekas budak, ia mempertanyakan keputusan tersebut.

Nafi’ kemudian menjelaskan bahwa Ibnu Abza memahami Al-Qur’an dan ilmu faraidh. Umar lalu mengingat sabda Rasulullah bahwa Allah mengangkat derajat suatu kaum melalui Al-Qur’an dan merendahkan kaum lainnya melalui kitab tersebut. Kisah ini menunjukkan bahwa ilmu dan kedekatan dengan Al-Qur’an memiliki kedudukan yang tinggi.

Setiap Orang Menentukan Keselamatan Dirinya

Pada bagian akhir, Rasulullah memberikan gambaran tentang kehidupan manusia. Setiap orang seolah-olah menjual dirinya melalui amal yang ia kerjakan setiap hari. Ada orang yang membebaskan dirinya dengan ketaatan, sementara yang lain justru membinasakan dirinya melalui dosa dan maksiat.

Gambaran tersebut mengajarkan bahwa waktu tidak pernah benar-benar kosong. Setiap hari, manusia memilih bagaimana menggunakan kesempatan yang Allah berikan. Karena itu, amal saleh dapat menjadi jalan keselamatan, sedangkan dosa yang terus dilakukan dapat membawa seseorang menuju kebinasaan.

Pelajaran dari Hadits Arbain Ke-23

Hadits Arbain ke-23 memberikan rangkaian pelajaran yang saling berkaitan. Bersuci mengajarkan pentingnya kesucian, dzikir menghidupkan hati, shalat memberikan cahaya, sedekah menunjukkan keimanan, dan sabar membantu seseorang menghadapi perjalanan hidup. Sementara itu, Al-Qur’an menjadi petunjuk yang dapat membela manusia apabila ia mempelajari dan mengamalkannya.

Hadis ini juga mengingatkan bahwa ibadah tidak hanya berkaitan dengan satu aspek kehidupan. Seorang Muslim perlu menjaga kebersihan, ibadah, hubungan sosial, kesabaran, serta kedekatannya dengan Al-Qur’an. Dengan menjalankan berbagai amalan tersebut, seorang Muslim berusaha menggunakan hidupnya untuk memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat.

Referensi: 

Hadits Arbain #23: Keutamaan Bersuci, Shalat, Sedekah, Sabar, Shahibul Quran – Rumaysho.Com

Hadits Arbain Ke-22: Shalat, Puasa, dan Menjauhi yang Haram

Hadits Arbain Ke-22: Shalat, Puasa, dan Menjauhi yang Haram

Hadits Arbain ke-22 menjelaskan amalan yang dapat mengantarkan seorang Muslim menuju surga. Dalam hadits ini, seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kewajiban dalam Islam. Ia kemudian berkomitmen untuk menjalankan kewajiban tersebut dan meninggalkan perkara yang Allah haramkan.

Hadits ini mengajarkan bahwa seorang Muslim perlu membangun ketaatan dari perkara yang paling mendasar. Ia tidak cukup hanya memperbanyak amalan sunnah, tetapi juga harus menjaga kewajiban dan menjauhi larangan Allah. Karena itu, hadits ini menjadi salah satu pembahasan penting dalam memahami dasar-dasar kehidupan seorang Muslim.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ الْمَكْتُوبَاتِ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ، وَأَحْلَلْتُ الْحَلَالَ، وَحَرَّمْتُ الْحَرَامَ، وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئًا، أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ؟ قَالَ: «نَعَمْ». قَالَ: وَاللَّهِ لَا أَزِيدُ عَلَى ذَلِكَ شَيْئًا.

Artinya: “Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ﷺ. Ia berkata, ‘Bagaimana pendapatmu jika aku melaksanakan shalat wajib, berpuasa Ramadan, menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram, dan aku tidak menambah sedikit pun dari itu, apakah aku akan masuk surga?’ Beliau menjawab, ‘Ya.’ Laki-laki itu berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan menambah sedikit pun dari itu.’” (HR. Muslim)

Hadits tersebut menunjukkan jawaban Rasulullah ﷺ terhadap pertanyaan seorang sahabat mengenai jalan menuju surga. Pembahasannya terlihat sederhana, tetapi kandungannya sangat luas.

1. Menjaga Shalat Wajib

Hal pertama yang disebutkan dalam hadits Arbain ke-22 adalah melaksanakan shalat wajib. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa shalat lima waktu termasuk kewajiban utama seorang Muslim. Karena itu, seorang Muslim perlu memberikan perhatian besar terhadap shalat, mulai dari waktunya hingga pelaksanaannya.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu merupakan kewajiban yang waktunya telah ditentukan atas orang-orang mukmin.”
(QS. An-Nisa: 103)

Ayat tersebut menegaskan bahwa shalat memiliki waktu yang telah Allah tentukan. Jadi, seorang Muslim tidak boleh menjadikan kesibukan sebagai alasan untuk meninggalkan shalat wajib. Dengan demikian, menjaga shalat menjadi langkah utama dalam membangun kehidupan yang taat kepada Allah.

2. Menjalankan Puasa Ramadan

Selain shalat, hadits ini menyebutkan kewajiban berpuasa pada bulan Ramadan. Puasa tidak hanya mengajarkan seseorang untuk menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih pengendalian diri. Melalui ibadah tersebut, seorang Muslim belajar meningkatkan ketakwaannya.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat tersebut menjelaskan tujuan utama puasa, yaitu membentuk ketakwaan. Karena itu, seorang Muslim tidak seharusnya memandang Ramadan hanya sebagai perubahan pola makan. Lebih jauh, Ramadan menjadi kesempatan untuk melatih hati dan perilaku agar semakin dekat dengan Allah.

Baca juga: Tips Produktif bagi Muslim agar Hari Lebih Bermakna

3. Menghalalkan Apa yang Allah Halalkan

Laki-laki dalam hadits tersebut mengatakan, “Aku menghalalkan yang halal.” Pernyataan ini menunjukkan sikap menerima perkara yang Allah izinkan dan tidak menganggap sesuatu yang halal sebagai perkara yang terlarang tanpa dasar syariat.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا

“Wahai manusia! Makanlah dari makanan yang halal dan baik yang terdapat di bumi.”
(QS. Al-Baqarah: 168)

Dalam kehidupan sehari-hari, seorang Muslim perlu mempelajari batas antara halal dan haram. Pengetahuan tersebut membantu seseorang memilih makanan, pekerjaan, transaksi, dan berbagai aktivitas dengan lebih hati-hati. Oleh sebab itu, memahami perkara halal menjadi bagian dari ketaatan kepada Allah.

4. Meninggalkan Perkara yang Haram

Selanjutnya, laki-laki tersebut mengatakan bahwa ia akan “mengharamkan yang haram”. Maksudnya, ia berkomitmen meninggalkan perkara yang memang Allah dan Rasul-Nya tetapkan sebagai sesuatu yang haram.

Allah Ta’ala berfirman:

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا

“Itulah batas-batas Allah, maka janganlah kamu mendekatinya.”
(QS. Al-Baqarah: 187)

Ayat ini memberikan peringatan agar seorang Muslim tidak sekadar menghindari perbuatan haram, tetapi juga menjauhi jalan yang dapat menyeretnya menuju keharaman. Dengan kata lain, menjaga diri dari dosa membutuhkan kehati-hatian dalam memilih lingkungan, kebiasaan, dan aktivitas.

gambar pria memegang kartu kredit dan gadget ilustrasi contoh perkara haram dalam hadits arbain ke-22
Kartu kredit merupakan salah satu contoh perkara haram yang umum di masyarakat (foto: freepik.com)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Apa yang aku larang kepada kalian, maka jauhilah. Apa yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah sesuai kemampuan kalian.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits tersebut semakin menguatkan pentingnya meninggalkan larangan Rasulullah ﷺ. Seorang Muslim perlu menunjukkan ketaatan bukan hanya dengan mengerjakan perintah, tetapi juga dengan menjauhi perkara yang dilarang.

5. Kewajiban Menjadi Prioritas

Hadits Arbain ke-22 tidak berarti seorang Muslim hanya boleh mengerjakan shalat wajib dan puasa Ramadan. Amalan sunnah tetap memiliki keutamaan yang besar. Namun, hadits ini menunjukkan bahwa kewajiban memiliki kedudukan yang sangat penting dalam perjalanan seorang hamba menuju surga.

Dalam hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman:

“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya.”
(HR. Bukhari)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa amalan wajib memiliki kedudukan utama. Karena itu, seorang Muslim sebaiknya memperbaiki kewajibannya terlebih dahulu sebelum terlalu sibuk mengejar berbagai amalan tambahan.

Misalnya, seseorang perlu memastikan shalat lima waktunya terjaga sebelum memperbanyak amalan sunnah. Setelah kewajiban semakin kuat, ia dapat menambahkan berbagai ibadah sunnah sesuai kemampuan. Dengan urutan tersebut, seorang Muslim dapat membangun ibadah secara lebih kokoh.

6. Jalan Menuju Surga Tidak Harus Rumit

Pertanyaan sahabat dalam hadits ini menunjukkan keinginan untuk mengetahui amalan yang dapat mengantarkannya ke surga. Rasulullah ﷺ kemudian memberikan jawaban yang sederhana dan jelas. Ia perlu menjalankan kewajiban dan meninggalkan perkara yang haram.

Namun, kesederhanaan bukan berarti perkara tersebut mudah dilakukan tanpa perjuangan. Menjaga shalat membutuhkan disiplin, menjalankan puasa membutuhkan kesabaran, sedangkan meninggalkan dosa membutuhkan pengendalian diri. Karena itu, seorang Muslim perlu membangun kebiasaan tersebut secara konsisten.

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
(QS. Al-‘Ankabut: 69)

Ayat tersebut memberikan motivasi bahwa kesungguhan dalam menaati Allah memiliki nilai besar. Oleh karena itu, jangan merasa kecil terhadap usaha memperbaiki satu kewajiban. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju ketaatan.

Baca juga: Hadits Arbain Ke-21: Beriman kepada Allah dan Istiqamah

7. Tidak Berarti Meninggalkan Amalan Sunnah

Ada satu hal penting yang perlu diperhatikan ketika memahami hadits Arbain ke-22. Pernyataan sahabat bahwa ia tidak akan menambah amalan tersebut bukan berarti Rasulullah ﷺ melarang umatnya mengerjakan ibadah sunnah.

Justru, Rasulullah ﷺ banyak mengajarkan berbagai amalan sunnah yang memiliki keutamaan. Shalat sunnah, sedekah, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan berbagai amal kebaikan lainnya dapat menjadi sarana seorang Muslim mendekatkan diri kepada Allah.

Karena itu, hadits ini sebaiknya dipahami sebagai penjelasan tentang kecukupan kewajiban dan meninggalkan keharaman sebagai jalan keselamatan. Setelah itu, seorang Muslim dapat memperbanyak amal sunnah sebagai bentuk kecintaan dan usaha mendekatkan diri kepada Allah.

Pelajaran dari Hadits Arbain Ke-22

Dari hadits Arbain ke-22, kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting. Pertama, seorang Muslim wajib menjaga shalat lima waktu dan menjalankan puasa Ramadan. Kedua, ia harus menerima perkara yang Allah halalkan serta meninggalkan perkara yang Allah haramkan.

Selanjutnya, hadits ini mengajarkan pentingnya menempatkan kewajiban sebagai prioritas. Seorang Muslim tidak seharusnya mengejar banyak amalan sunnah sementara kewajiban masih sering ia tinggalkan.

Pada akhirnya, jalan menuju surga membutuhkan ketaatan yang nyata. Jalankan kewajiban, tinggalkan perkara haram, lalu sempurnakan amalan tersebut dengan berbagai amal kebaikan. Dengan prinsip tersebut, seorang Muslim dapat menjalani kehidupan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Hadits Arbain Ke-21: Beriman kepada Allah dan Istiqamah

Hadits Arbain Ke-21: Beriman kepada Allah dan Istiqamah

Hadits Arbain ke-21 membahas dua perkara penting dalam kehidupan seorang Muslim, yaitu keimanan kepada Allah dan sikap istiqamah. Pesan tersebut terlihat singkat, tetapi memiliki cakupan yang sangat luas. Seorang Muslim tidak cukup hanya mengaku beriman, tetapi juga perlu membuktikan keimanannya melalui ketaatan yang terus dijaga.

Hadits ini diriwayatkan dari Abu ‘Amr—ada yang menyebut Abu ‘Amrah—Sufyan bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu. Ia meminta Rasulullah SAW memberikan nasihat tentang Islam yang dapat menjadi pegangan dalam kehidupannya.

Hadits Arbain Ke-21

Berikut hadits Arbain ke-21 secara lengkap:

الحَدِيْثُ الحَادِي وَالعِشْرِيْنَ

عَنْ أَبِيْ عَمْرٍو، وَقِيْلَ، أَبِيْ عَمْرَةَ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِي فِي الإِسْلامِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدَاً غَيْرَكَ؟ قَالَ: “قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ” رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Artinya:

“Dari Abu ‘Amr—ada yang menyebut pula Abu ‘Amrah—Sufyan bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Aku berkata: Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.’ Beliau bersabda, ‘Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.’” (HR. Muslim, no. 38).

Baca juga: Doa Agar Istiqamah dan Teguh di Jalan Allah

Makna Beriman kepada Allah

Rasulullah SAW memberikan jawaban yang singkat kepada Sufyan bin ‘Abdillah. Beliau mengarahkan umat untuk mengucapkan, “Aku beriman kepada Allah,” kemudian melanjutkannya dengan perintah untuk istiqamah.

Iman kepada Allah berkaitan dengan keyakinan dalam hati. Namun, iman tersebut tidak berhenti sebagai pengakuan, karena seorang Muslim perlu menunjukkan keimanannya melalui amal dan ketaatan. Dengan demikian, hadits ini menghubungkan keyakinan dengan tindakan nyata dalam kehidupan.

Apa Arti Istiqamah?

Setelah beriman, seorang Muslim perlu menjaga istiqamah. Dilansir dari pembahasan dalam laman rumaysho.com, istiqamah berarti tetap berada di jalan ketaatan kepada Allah dan berusaha menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.

Karena itu, istiqamah mencakup berbagai sisi kehidupan. Menjaga shalat, menunaikan zakat, menjaga kehormatan orang lain, serta menghindari penipuan dalam muamalah termasuk bentuk istiqamah. Sebaliknya, meninggalkan kewajiban atau sengaja melakukan keharaman menunjukkan adanya penyimpangan dari jalan istiqamah.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.” (QS. Al-Ahqaf: 13).

Ayat tersebut menunjukkan keutamaan orang yang mampu mempertahankan keimanannya dengan istiqamah. Oleh sebab itu, seorang Muslim perlu terus mengevaluasi dirinya, bukan hanya bersemangat melakukan kebaikan pada waktu tertentu.

gambar balok panah yang beragam ilustrasi istiqomah dalam hadits arbain ke-21
Istiqomah berarti bersedia terus kembali dan memperbaiki diri (foto: freepik.com)

Cara Menjaga Istiqamah

Menjaga istiqamah memang membutuhkan usaha. Ada beberapa kebiasaan yang dapat membantu seseorang bertahan dalam ketaatan.

1. Memilih Teman yang Saleh

Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap perilaku seseorang. Karena itu, memilih teman yang baik dapat membantu menjaga semangat dalam beribadah.

Rasulullah SAW menggambarkan teman yang saleh seperti seseorang yang membawa minyak misk. Jika seseorang tidak mendapatkan minyak tersebut, setidaknya ia masih dapat mencium wanginya. Sebaliknya, teman yang buruk dapat memberikan pengaruh yang merugikan seperti pandai besi. (HR. Bukhari, no. 2101).

2. Rajin Menghadiri Majelis Ilmu

Selain memilih lingkungan yang baik, seorang Muslim juga perlu menjaga hubungan dengan ilmu. Majelis ilmu dapat mengingatkan seseorang kepada Allah ketika kesibukan dunia mulai membuat hati lalai.

Dalam hadits yang dikutip dalam pembahasan ini, Rasulullah SAW mengingatkan Hanzhalah bahwa kondisi keimanan seseorang dapat berubah. Karena itu, beliau mengajarkan agar seseorang terus menjaga amal secara bertahap dan tidak memaksakan diri untuk selalu berada pada satu kondisi spiritual yang sama.

3. Memperbanyak Doa

Terakhir, jangan mengandalkan kemampuan diri sendiri untuk menjaga istiqamah. Hati manusia dapat berubah, sehingga seorang Muslim perlu memohon pertolongan Allah.

Salah satu doa yang dapat diamalkan adalah:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Artinya:

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imran: 8).

Baca juga: Doa Meminta Kemudahan agar Segala Urusan Berjalan Lancar

 

Pelajaran dari Hadits Arbain Ke-21

Hadits Arbain ke-21 mengajarkan bahwa iman dan istiqamah merupakan dua hal yang saling berkaitan. Keyakinan kepada Allah menjadi dasar, sedangkan istiqamah menunjukkan bagaimana seorang Muslim menjalankan keyakinan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, hadits ini mengingatkan bahwa istiqamah tidak hanya berkaitan dengan ibadah ritual. Menjaga amanah, menghormati orang lain, menjauhi penipuan, serta menjalankan kewajiban juga menjadi bagian dari sikap istiqamah.

Pada akhirnya, menjadi istiqamah bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan. Ketika seorang Muslim tergelincir, ia perlu segera mengevaluasi diri, bertaubat, dan kembali kepada jalan Allah. Dengan cara tersebut, keimanan tidak hanya menjadi ucapan, tetapi juga menjadi pedoman yang terus membentuk kehidupan.

 

Hadits Arbain Ke-20: Keutamaan Sifat Malu dalam Islam

Hadits Arbain Ke-20: Keutamaan Sifat Malu dalam Islam

Hadits Arbain ke-20 membahas salah satu akhlak mulia dalam Islam, yaitu sifat malu. Hadis ini menjelaskan bahwa rasa malu bukan sekadar sifat bawaan manusia. Sifat tersebut juga menjadi bagian dari ajaran para nabi terdahulu dan memiliki hubungan erat dengan keimanan.

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa rasa malu dapat menjadi penghalang seseorang dari perbuatan buruk.

Hadits Arbain Ke-20 dan Artinya

Berikut hadits Arbain ke-20 secara lengkap dilansir dari rumaysho.com.

عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرٍو الأَنْصَارِي البَدْرِي – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ”

Artinya: “Sesungguhnya di antara perkataan kenabian terdahulu yang diketahui manusia ialah jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!” (HR. Bukhari, no. 3484 dan 6120)

pria menutupi wajahnya ilustrasi malu dalam kandungan hadits arbain ke-20
Ilustrasi malu (foto: freepik.com)

Kandungan Hadits

1. Malu Merupakan Warisan Para Nabi

Salah satu pesan penting dalam hadits Arbain ke-20 adalah kedudukan sifat malu sebagai ajaran yang telah dikenal sejak masa para nabi terdahulu. Ungkapan an-nubuwwah al-ula merujuk pada ajaran kenabian terdahulu. Artinya, pesan tentang pentingnya rasa malu telah dikenal manusia sejak generasi umat sebelumnya.

Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan bahwa pesan tersebut terus diwariskan dari generasi ke generasi. Hal ini menunjukkan bahwa sifat malu memiliki nilai yang penting dalam kehidupan manusia.

2. Malu Merupakan Bagian dari Keimanan

Islam tidak memandang malu sebagai kelemahan. Rasulullah SAW justru menghubungkan sifat tersebut dengan keimanan. Beliau bersabda:

الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

Artinya: “Malu merupakan bagian dari keimanan.” (HR. Muslim, no. 161)

Rasa malu membuat seseorang mempertimbangkan perkataan dan perbuatannya. Ketika seseorang menyadari bahwa Allah selalu melihat dirinya, ia akan lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Karena itu, sifat malu dapat menjadi benteng dari perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Baca juga: Hadits Arbain Ke-19: Sebab Datangnya Pertolongan Allah

3. Dua Bentuk Sifat Malu

Para ulama menjelaskan bahwa rasa malu memiliki beberapa bentuk. Salah satunya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah SWT. Seseorang yang memiliki rasa malu kepada Allah akan merasa bahwa Allah selalu mengetahui perbuatannya. Kesadaran tersebut mendorongnya untuk menjalankan perintah dan meninggalkan larangan.

Bentuk lainnya berkaitan dengan hubungan antarmanusia. Rasa malu membuat seseorang menjaga ucapan, perilaku, dan sikap ketika berinteraksi dengan orang lain. Dengan demikian, malu bukan berarti seseorang harus selalu diam atau takut berkomunikasi. Islam justru mengajarkan agar rasa malu tetap berjalan bersama keberanian dalam melakukan kebaikan.

3. Berbuatlah Sesukamu Bukan Berarti Bebas Bermaksiat

Bagian akhir hadits Arbain ke-20 sering menimbulkan kesalahpahaman:

“Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!”

Kalimat tersebut bukan ajakan untuk melakukan apa saja tanpa mempertimbangkan halal dan haram.

Para ulama menjelaskan beberapa pemaknaan terhadap kalimat tersebut. Salah satunya memahaminya sebagai bentuk ancaman. Artinya, seseorang yang sudah kehilangan rasa malu akan lebih mudah melakukan berbagai perbuatan buruk dan pada akhirnya menerima akibat dari perbuatannya.

Makna lainnya menunjukkan bahwa rasa malu berfungsi sebagai penghalang dari keburukan. Jika seseorang sudah tidak memiliki rasa malu, ia dapat melakukan perbuatan tercela tanpa merasa bersalah. Karena itu, hadis ini justru menjadi peringatan agar seorang muslim menjaga rasa malunya.

Baca juga: Kisah Sedekah Utsman bin Affan Ketika Masa Paceklik

4. Malu Tidak Boleh Menghalangi Kebaikan

Meskipun Islam memuji rasa malu, seorang muslim tidak boleh menggunakan rasa malu sebagai alasan untuk meninggalkan kewajiban. Misalnya, seseorang tidak seharusnya diam ketika melihat kemungkaran yang memang wajib ia cegah hanya karena takut dianggap ikut campur. Begitu pula seseorang tidak boleh merasa malu untuk bertanya tentang ilmu agama yang belum ia pahami.

Dengan kata lain, malu yang terpuji adalah malu yang mendorong seseorang menjaga kehormatan dan meninggalkan keburukan. Sebaliknya, malu yang membuat seseorang meninggalkan kewajiban atau menolak kebaikan justru perlu diperbaiki.

Cara Menumbuhkan Sifat Malu

Seseorang dapat melatih rasa malu dengan meningkatkan kesadaran terhadap pengawasan Allah SWT. Ketika seseorang memahami kebesaran Allah dan menyadari banyaknya nikmat yang ia terima, ia akan semakin terdorong untuk memperbaiki perilakunya.

Lingkungan juga berpengaruh. Bergaul dengan orang-orang yang menjaga adab dapat membantu seseorang membangun kebiasaan yang baik. Selain itu, seseorang perlu membiasakan diri mengevaluasi perkataan dan perbuatannya. Apakah tindakannya sesuai dengan ajaran Islam? Apakah perkataannya menyakiti orang lain? Pertanyaan semacam ini dapat membantu menjaga akhlak.

Kesimpulan

Hadits Arbain ke-20 mengajarkan bahwa malu merupakan akhlak mulia yang memiliki kedudukan penting dalam Islam. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa sifat tersebut telah terkenal dalam ajaran para nabi terdahulu dan menjadi bagian dari keimanan.

Rasa malu dapat menjaga seseorang dari kemaksiatan dan perilaku yang tidak pantas. Namun, seorang muslim tetap harus berani melakukan kebaikan dan tidak menjadikan malu sebagai alasan untuk meninggalkan kewajiban.

Karena itu, mari menjaga rasa malu sebagai bagian dari akhlak. Semoga kita dapat memiliki rasa malu kepada Allah, menjaga adab kepada sesama, serta menjadikan sifat tersebut sebagai penghalang dari perbuatan yang tidak Allah ridhai.

Hadits Arbain Ke-19: Sebab Datangnya Pertolongan Allah

Hadits Arbain Ke-19: Sebab Datangnya Pertolongan Allah

Pernahkah Anda merasa cemas menghadapi ketidakpastian masa depan? Rasa khawatir semacam itu tentu sangat wajar terjadi. Namun, hadits Arbain ke-19 hadir memberikan panduan terbaik bagi setiap muslim. Melalui hadits ini, kita dapat membangun ketenangan jiwa lewat pemahaman tauhid, kesabaran, dan takdir yang lurus.

Hadits yang sangat monumental ini memuat nasihat mendalam dari Rasulullah SAW. Beliau menyampaikan petuah ini kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma sewaktu ia masih muda. Kalimat pengantar beliau yang hangat menunjukkan betapa pentingnya pesan tersebut. Oleh karena itu, mari kita pelajari lafadz, arti, serta intisari hikmahnya untuk kehidupan sehari-hari.

Dari Abu Al-Abbas Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Suatu hari aku berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda:

يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

“Wahai anak muda, sesungguhnya aku akan mengajarkan beberapa kalimat kepadamu: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau memohon, memohonlah kepada Allah. Jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, bahwa seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat itu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk memudaratkanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat memudaratkanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Tirmidzi).

Baca juga: Hadits Arbain Ke-18 Mengiringi Keburukan dengan Kebaikan

Pelajaran Penting dari Hadits Arbain Ke-19

Pelajaran paling mendasar dari hadits Arbain ke-19 adalah prinsip timbal balik dalam beragama. Dalam Islam, balasan senantiasa sejalan dengan amalan (al-jazaa’ min jinsil ‘amal). Oleh sebab itu, ketika seorang hamba menjaga aturan Allah, maka Allah akan menjamin penjagaan atas dunia dan agamanya. Sebaliknya, orang yang melupakan perintah Allah akan kehilangan perlindungan-Nya. Hal ini ditegaskan secara jelas dalam QS. At-Taubah ayat 67.

اَلْمُنٰفِقُوْنَ وَالْمُنٰفِقٰتُ بَعْضُهُمْ مِّنْۢ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوْفِ وَيَقْبِضُوْنَ اَيْدِيَهُمْۗ نَسُوا اللّٰهَ فَنَسِيَهُمْۗ اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ ۝٦٧
Artinya: Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, satu dengan yang lain (adalah sama saja). Mereka menyuruh (berbuat) mungkar dan mencegah (berbuat) makruf. Mereka pun menggenggam tangannya (kikir). Mereka telah melupakan Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik adalah orang-orang yang fasik.

Di samping itu, hadits ini berfungsi memurnikan tauhid setiap muslim. Beliau mengajarkan agar kita menggantungkan seluruh doa dan isti’anah (permintaan tolong) hanya kepada Allah semata. Melalui petunjuk ini, Rasulullah SAW meluruskan pemahaman kita tentang takdir dan kehendak Allah (masyi’atullah). Sebab, makhluk tidak memiliki daya sedikit pun untuk memberi manfaat ataupun bahaya tanpa izin Sang Pencipta. Segala hal yang Allah kehendaki pasti terjadi. Sebaliknya, apa yang tidak Dia kehendaki tak akan pernah terwujud, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Insan ayat 30.

gambar pria mematikan jam karena bangun kesiangan ilutsrasi konsep takdir dalam hadits arbain ke-19
Ilustrasi takdir berjalan sesuai kehendak Allah, termasuk waktu bangun tidur (foto: freepik.com)

Selanjutnya, petuah ini memberikan kekuatan saat kita menghadapi ujian hidup. Hadits ini mengingatkan bahwa kemenangan senantiasa berpihak pada jiwa-jiwa yang sabar. Lagipula, kesulitan tidak akan pernah menetap selamanya. Allah selalu menyertakan kemudahan di balik setiap kesukaran, sesuai janji-Nya dalam QS. Al Insyirah ayat 5-6. Bahkan, para ulama menggambarkan bahwa seketat apa pun kesulitan mengurung seorang hamba, kemudahan pasti akan datang menembusnya. Pada akhirnya, kemudahan itulah yang akan mengusir kesulitan tersebut.

Pada akhirnya, memahami hadits Arbain ke-19 memberikan kita pegangan hidup yang kokoh. Dengan menjaga syariat Allah dan memurnikan ketergantungan hanya kepada-Nya, kita dapat meyakini takdir dengan lapang dada. Alhasil, kita mampu menjalani kehidupan ini dengan tenang, tangguh, dan penuh keberkahan.

Hadits Arbain Ke-18 Mengiringi Keburukan dengan Kebaikan

Hadits Arbain Ke-18 Mengiringi Keburukan dengan Kebaikan

Setiap muslim membutuhkan pedoman yang jelas dalam menjalani hubungan dengan Sang Pencipta maupun dengan sesama manusia. Imam Nawawi merangkum petunjuk hidup tersebut secara ringkas dalam kitab Hadits Arbain yang sangat monumental. Salah satu hadits yang memuat prinsip mendasar akhlak dan ketaqwaan adalah hadits urutan kedelapan belas. Oleh karena itu, mempelajari hadits arbain ke-18 akan memberikan kita gambaran menyeluruh mengenai cara menjaga kualitas iman dan interaksi sosial.

Hadits shahih ini diriwayatkan oleh Abu Dzarr Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdirrahman Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ جُنْدُبِ بْنِ جُنَادَةَ، وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ» (رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ)

Artinya: Dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdirrahman Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan niscaya kebaikan itu akan menghapusnya, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).

Hadits arbain ke-18 mengandung tiga bahasan pokok, yaitu perintah takwa, mengiringi kejelekan dengan kebaikan, dan berakhlak mulia. Berikut adalah penjelasannya yang didasarkan pada referensi Rumaysho.com.

gambar pria duduk sendiri menghadap laut ilustrasi pengamalan hadits arbain ke-18
Takwa kepada Allah baik dalam keadaan sendiri maupun bersama orang lain (foto: freepik.com)

1. Perintah Bertakwa Kepada Allah di Mana Saja Berada

Wasiat pertama dalam hadits ini menekankan kewajiban bertaqwa kepada Allah tanpa terikat oleh waktu dan tempat. Taqwa berarti menjalankan perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya atas dasar iman dan mengharap pahala. Seseorang harus konsisten menjaga ketaqwaan, baik saat berada di tengah keramaian maupun ketika sendirian di tempat tersembunyi. Kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap gerak-gerik hamba menjadi kunci utama dalam memelihara konsistensi taqwa tersebut.

Oleh sebab itu, ketaqwaan sejati bukan sekadar tampilan luar, melainkan sikap hati yang senantiasa patuh kepada Sang Pencipta.

Baca juga: Hadits Arbain Ke-16: Larangan Marah dan Cara Mengendalikannya

2. Mengiringi Kejelekan dengan Kebaikan Sebagai Penghapus Dosa

Selanjutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan solusi nyata ketika seorang hamba terlanjur melakukan kesalahan. Manusia memang tempatnya lupa dan tidak pernah luput dari perbuatan dosa. Namun, Islam mengajarkan agar kita segera menutupi dan mengiringi perbuatan buruk tersebut dengan amalan-amalan kebaikan. Bentuk kebaikan ini dapat berupa bertaubat, memohon ampunan (istighfar), serta menambah amalan shalat dan sedekah.

Dengan demikian, kebaikan yang kita lakukan secara sungguh-sungguh akan menghapus dosa-dosa kecil yang telah lalu.

3. Berakhlak Mulia dalam Berinteraksi dengan Sesama Manusia

Poin terakhir dalam hadits ini mengatur tata cara berhubungan dengan sesama manusia melalui akhlak terpuji. Hubungan yang baik kepada Allah harus berjalan seimbang dengan sikap yang santun kepada sesama makhluk. Berakhlak mulia mencakup sikap dermawan, menahan diri dari menyakiti orang lain, serta menunjukkan wajah yang berseri-seri. Selain itu, menyebarkan kedamaian dan menyambung tali silaturahmi juga menjadi bagian penting dari pengamalan akhlakul karimah.

Hasilnya, orang yang menerapkan akhlak mulia akan dicintai oleh Allah sekaligus mendapatkan tempat yang terhormat di tengah masyarakat.

Baca juga: Pentingnya Tabayyun Sebelum Menyebarkan Informasi

Kesimpulannya, pengajaran dalam hadits arbain ke-18 merangkum tiga pilar utama kehidupan seorang muslim, yaitu taqwa, taubat, dan akhlak mulia. Menerapkan ketiga prinsip ini secara konsisten akan mendatangkan keselamatan di dunia maupun di akhirat kelak. Mari kita berusaha mengamalkan petunjuk Nabi ini dalam aktivitas harian kita. Semoga Allah senantiasa membimbing kita menjadi pribadi yang bertaqwa dan berakhlak terpuji.

Hadits Arbain ke-17: Perintah Berbuat Baik dan Adab Menyembelih

Hadits Arbain ke-17: Perintah Berbuat Baik dan Adab Menyembelih

Agama Islam merupakan syariat yang penuh dengan rahmat dan kasih sayang bagi seluruh alam. Setiap muslim memiliki kewajiban untuk menampilkan akhlak yang mulia dalam setiap sendi kehidupannya sehari-hari. Salah satu pilar akhlak yang sangat agung dalam Islam adalah prinsip ihsan atau berbuat baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan panduan yang sangat jelas mengenai batasan dan penerapan sikap ihsan ini. Memahami kandungan hadits arbain ke-17 akan membuka mata kita tentang betapa luasnya cakupan kasih sayang dalam syariat Islam.

Berikut adalah redaksi lengkap dari hadits ketujuh belas yang dihimpun oleh Imam An-Nawawi dalam kitab Arbain.

عَنْ أَبِي يَعْلَى شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ اللهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا القِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Artinya: Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan (baik) atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah salah seorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya.” (HR. Muslim).

Syarah Hadits dan Penjelasan Adab Menyembelih Menurut Para Ulama

Berdasarkan referensi terpercaya dari Rumaysho, para ulama memberikan penjelasan mendalam mengenai makna membunuh dan menyembelih dengan baik. Maksud dari perintah tersebut adalah melihat dari sisi cara pengerjaan serta keadaan saat eksekusi berlangsung. Contoh nyata berbuat baik ketika membunuh adalah saat aparat menegakkan hukum qishash atau hukuman mati bagi pembunuh. Penjelasan terperinci mengenai hal ini terdapat dalam kitab Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim jilid 13 halaman 98.

Imam Nawawi rahimahullah juga mencontohkan beberapa cara dalam menyenangkan hewan yang akan disembelih.

  • Penyembelih wajib menajamkan pisau agar proses pemotongan urat leher hewan berlangsung dengan sangat cepat.

  • Kaum muslimin mendapatkan anjuran untuk tidak mengasah pisau tepat di hadapan hewan yang akan disembelih.

  • Siapa pun tidak boleh menyembelih seekor hewan lantas sedangkan hewan-hewan lainnya dapat melihatnya.

  • Seseorang tidak boleh melewatkan atau menyeret hewan yang akan disembelih di tempat penjagalan atau penyembelihannya.

gambar sapi hendak disembelih sesuai kandungan hadits arbain ke-17
Proses persiapan penyembelihan hewan (foto: www.ayojakarta.com)

Kandungan Hadits yang Menguatkan Keimanan Seorang Muslim

Melalui penjelasan materi di atas, kita dapat merangkum sembilan faedah penting yang terkandung di dalam hadits mulia ini.

Pertama, hadits ini menjelaskan bahwa Allah sangat menyayangi hamba-Nya dengan menetapkan kewajiban berbuat baik pada sesama makhluk. Contoh nyatanya adalah memberi petunjuk jalan pada orang tersesat serta memberi makan kepada orang yang membutuhkan. Kedua, teks ini menunjukkan dorongan kuat untuk senantiasa menerapkan sikap ihsan pada segala sesuatu tanpa terkecuali. Ketiga, syariat memerintahkan manusia untuk mengikuti tuntunan Islam saat terpaksa membunuh atau menyembelih hewan.

Baca juga: Proses Pengangkatan Umar bin Khattab sebagai Khalifah Kedua

Keempat, Nabi menggunakan kata kataba yang berarti menetapkan, di mana para ulama membaginya menjadi kitabah qadariyyah dan kitabah syar’iyyah. Kitabah qadariyyah merupakan ketetapan yang pasti terjadi, sedangkan kitabah syar’iyyah adalah aturan yang kadang manusia kerjakan atau abaikan. Kelima, wajib hukumnya berbuat ihsan dalam hal yang wajib seperti menjalankan perintah agama dan meninggalkan perkara haram. Kita juga harus sabar terhadap takdir yang tidak menyenangkan tanpa menggerutu, serta berbuat baik dalam bermuamalah.

Keenam, Rasulullah biasa memberikan contoh konkret yang mudah dipahami saat menjelaskan suatu perkara kepada para sahabat. Ketujuh, cara terbaik dalam menyembelih adalah dengan patuh mengikuti seluruh regulasi syariat Islam. Kedelapan, setiap orang wajib menajamkan pisau atau alat pemotong sebelum menyentuh leher hewan. Kesembilan, kita wajib menyenangkan hewan sembelihan dengan cara mempercepat proses penyembelihan agar hewan tidak tersiksa lama.

Kesimpulannya, hadits arbain ke-17 memberikan pondasi moral yang sangat kokoh mengenai pentingnya berbuat baik dalam setiap keadaan. Islam mengatur segala hal secara detail, bahkan sampai pada urusan menyembelih hewan. Penerapan prinsip ihsan ini membuktikan keindahan Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam semesta. Semoga ulasan mengenai hadits ini dapat memacu kita untuk menjadi pribadi yang lebih berbenah dan penuh kasih sayang.

Hadits Arbain Ke-16: Larangan Marah dan Cara Mengendalikannya

Hadits Arbain Ke-16: Larangan Marah dan Cara Mengendalikannya

Menjaga stabilitas emosi merupakan salah satu tantangan terbesar bagi setiap manusia dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai tekanan sosial dan masalah pribadi sering kali memicu munculnya rasa kesal di dalam dada. Jika tidak terkendali, luapan emosi negatif ini dapat merusak hubungan baik antar-sesama makhluk. Islam sebagai agama yang sempurna memberikan perhatian yang sangat besar terhadap kontrol perilaku ini. Tuntunan mengenai pentingnya menjaga ketenangan jiwa ini terangkum indah dalam sebuah hadits legendaris.

Memahami esensi hadits arbain ke-16 akan membantu Anda menjaga kedamaian hati dari letupan amarah yang merusak.

Baca juga: Hikmah Al Ahzab Ayat 59 Tentang Aturan Jilbab

Dua Makna Utama di Balik Larangan Marah Menurut Penjelasan Ulama

Situs Rumaysho memaparkan bahwa maksud dari kalimat “jangan marah” dalam hadits ini memiliki dua makna mendasar. Makna pertama adalah perintah untuk menahan diri ketika ada sebab yang bisa memicu emosi kita. Kita harus berusaha sekuat tenaga meredam gejolak tersebut sampai rasa kesal itu hilang.

Makna kedua adalah larangan untuk melakukan tindakan lanjutan yang buruk akibat dari luapan amarah. Sebagai contoh, seseorang tidak boleh menuruti egonya hingga tega mentalak istrinya saat sedang emosi. Jika kondisi kritis ini terjadi, maka kita harus menasihatinya untuk bersabar dan menahan diri terlebih dahulu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sengaja mengulangi wasiat ini berkali-kali untuk menunjukkan betapa pentingnya pesan tersebut.

gambar orang marah ilustrasi kandungan hadits arbain ke-16
Larangan marah disebutkan dalam hadits arbain ke-16 (foto: freepik.com)

Berbagai Faedah Penting yang Terkandung di Dalam Hadits Larangan Marah

Teks hadits mulia ini juga menyimpan banyak pelajaran berharga bagi kehidupan moral seorang muslim.

Berikut adalah beberapa faedah besar yang bisa kita petik dari riwayat wasiat Nabi tersebut sebagaimana dilansir dari laman Rumaysho.

  • Menunjukkan semangat tinggi para sahabat Nabi dalam mencari ilmu agama untuk segera mereka amalkan.

  • Memberikan pelajaran bahwa pemberian nasihat harus menyesuaikan dengan kondisi psikologis orang yang kita nasihati.

  • Menegaskan bahwa marah memiliki mafsadat atau dampak kerusakan yang sangat besar bagi kehidupan manusia.

  • Membuktikan secara nyata bahwa syariat Islam melarang keras segala bentuk akhlak yang jelek.

  • Menjelaskan bahwa Islam melarang hal-hal yang dapat memicu pertikaian serta dampak buruknya.

Dampak buruk emosi yang tidak terkontrol bisa membuat seseorang menyesali keputusannya seumur hidup.

Baca juga: Hadits Arbain Ke-15: Adab Muslim Kepada Tetangga dan Tamu

Tips Praktis Cara Mengelola Emosi Agar Hati Tetap Tenang

Mengendalikan luapan amarah tentu membutuhkan latihan fisik dan mental yang konsisten setiap hari.

Berikut adalah beberapa tips sederhana untuk meredam emosi sesuai dengan petunjuk sunnah.

  • Membaca Ta’awudz: Segera memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan saat dada mulai terasa panas.

  • Mengubah Posisi Tubuh: Duduklah jika Anda sedang berdiri, atau berbaringlah jika Anda sedang dalam posisi duduk.

  • Diam dan Menjaga Lisan: Hindari mengeluarkan kata-kata saat emosi agar tidak menimbulkan penyesalan di kemudian hari.

  • Mengambil Air Wudhu: Basuhlah wajah dan anggota tubuh dengan air dingin untuk menurunkan tempo ketegangan saraf.

Menerapkan langkah-langkah ini secara sadar akan menyelamatkan Anda dari kesalahan mengambil keputusan.

Kesimpulannya, menjaga diri dari sifat pemarah merupakan cerminan dari tingkat keimanan seseorang yang matang. Rasulullah memberikan panduan ini agar umatnya terhindar dari kehancuran rumah tangga dan hubungan sosial. Oleh karena itu, mari kita jadikan zikir dan kesabaran sebagai tameng utama menghadapi ujian ego harian. Semoga ulasan mengenai hadits arbain ke-16 ini bermanfaat untuk meningkatkan kualitas akhlak mulia kita semua.