Membaca Mushaf Saat Shalat, Bolehkah? Ini Penjelasan MUI

Membaca Mushaf Saat Shalat, Bolehkah? Ini Penjelasan MUI

Membaca mushaf saat shalat menjadi salah satu persoalan fiqih yang sering ditanyakan umat Islam. Sebagian orang ingin membaca surah yang belum mereka hafal ketika shalat. Lalu, apakah tindakan tersebut membuat shalat tidak sah?

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjawab persoalan ini melalui Fatwa MUI Nomor 49 Tahun 2019 tentang Hukum Melihat Mushaf Saat Sholat. Fatwa tersebut menyatakan bahwa melihat Al-Qur’an ketika shalat hukumnya boleh selama tidak mengganggu kekhusyukan shalat.

Hukum Membaca Mushaf Saat Shalat

MUI memperbolehkannya selama seseorang tetap menjaga kekhusyukan. Artinya, seseorang tetap dapat melaksanakan shalat dengan membaca ayat langsung dari mushaf. MUI mendasarkan fatwa tersebut pada hadis dan pendapat ulama. Salah satunya hadis tentang Aisyah radhiyallahu ‘anha yang diimami oleh budaknya, Dzakwan. Dzakwan mengimami Aisyah dengan membaca Al-Qur’an dari mushaf.

وَكَانَتْ عَائِشَةُ يَؤُمُّهَا عَبْدُهَا ذَكْوَانُ مِنَ الْمُصْحَفِ

Hadis tersebut tercantum dalam Shahih al-Bukhari. Ibnu Hajar al-Asqalani juga menjelaskan hadis tersebut dalam Fath al-Bari sebagai salah satu dalil kebolehan melihat mushaf ketika shalat.

tangan memegang quran ilsutrasi memegang mushaf saat shalat
Ilustrasi hukum memegang mushaf saat shalat (foto: freepik.com)

Pendapat Imam Nawawi

Imam Nawawi juga membahas persoalan membaca mushaf saat shalat dalam Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab. Beliau menjelaskan bahwa membaca Al-Qur’an dari mushaf tidak membatalkan shalat, baik seseorang sudah hafal Al-Qur’an maupun belum.

Beliau berkata:

لَوْ قَرَأَ الْقُرْآنَ مِنَ الْمُصْحَفِ لَمْ تَبْطُلْ صَلَاتُهُ

Artinya, “Apabila seseorang membaca Al-Qur’an dari mushaf, shalatnya tidak batal.”

Imam Nawawi juga menjelaskan bahwa seseorang tetap dapat membalik halaman mushaf sesekali ketika shalat tanpa membatalkan shalatnya.

Baca juga: Hukum Ghibah di Media Sosial: Dosanya Lebih Kecil?

Tetap Jaga Kekhusyukan

Meski membaca mushaf saat shalat boleh, seseorang tetap perlu memperhatikan gerakannya. Jangan sampai terlalu sering mencari halaman, mengatur posisi mushaf, atau melakukan gerakan yang tidak diperlukan. Sebaiknya, persiapkan  Al-Qur’an sebelum shalat dan letakkan pada posisi yang mudah dibaca. Cara ini membantu mengurangi gerakan sekaligus menjaga konsentrasi.

Bagi orang yang belum hafal surah tertentu, Al Qur’an dapat membantu mereka membaca ayat dengan lebih lancar. Namun, orang yang sudah menghafalnya dapat membaca tanpa mushaf agar lebih mudah menjaga fokus.

Jadi, membaca mushaf saat shalat hukumnya boleh dan shalat tetap sah. Fatwa MUI Nomor 49 Tahun 2019 memberikan kebolehan tersebut dengan syarat aktivitas membaca mushaf tidak mengganggu kekhusyukan shalat. Karena itu, umat Islam perlu memahami persoalan ini berdasarkan dalil dan penjelasan ulama. Jangan sampai perbedaan praktik dalam masalah fiqih membuat kita mudah menyalahkan orang lain.

Keutamaan Ramadhan yang Istimewa Bagi Umat Muslim

Keutamaan Ramadhan yang Istimewa Bagi Umat Muslim

Kedatangan bulan suci selalu menjadi momen yang paling dinantikan oleh seluruh umat Muslim di penjuru dunia. Hal ini terjadi karena bulan tersebut menyimpan berbagai kemuliaan yang tidak bisa kita temukan pada bulan-bulan lainnya. Memahami setiap keutamaan ramadhan berdasarkan dalil yang jelas akan memotivasi kita untuk menjalankan ibadah dengan lebih maksimal. Melalui kesadaran akan besarnya janji Allah, setiap hamba tentu akan berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan.

Bulan ini bukan sekadar waktu untuk menahan lapar saja, melainkan sarana menyucikan jiwa. Berikut adalah beberapa poin utama mengenai kemuliaan bulan ramadhan beserta dalil pendukungnya.

1. Bulan Turunnya Mukjizat Al-Qur’an

Salah satu keutamaan ramadhan yang paling mendasar adalah terpilihnya bulan ini sebagai waktu turunnya kitab suci Al-Qur’an. Allah SWT menegaskan kemuliaan ini dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 185 yang berbunyi:

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).”

Ayat ini menunjukkan bahwa ramadhan merupakan Syahrul Qur’an atau bulan Al-Qur’an. Oleh karena itu, Islam sangat menganjurkan untuk memperbanyak tadarus dan mengkaji makna ayat-ayat suci selama bulan ini berlangsung. Jadi, menjadikan ramadhan sebagai momentum untuk kembali kepada petunjuk Allah merupakan langkah terbaik untuk meraih keberkahan hidup.

gambar al quran ilustrasi keutamaan ramadhan sebagai bulan Al Qur'an
Meningkatkan kualitas membaca Al-Qur’an sangat dianjurkan selama Ramadhan

2. Penghapusan Dosa dan Pintu Ampunan

Selanjutnya, keutamaan ramadhan terletak pada luasnya ampunan yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya. Kesempatan untuk membersihkan diri dari noda hitam di masa lalu terbuka lebar melalui ibadah puasa yang tulus. Rasulullah SAW memberikan kabar gembira dalam sebuah hadis shahih riwayat Bukhari dan Muslim:

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah), maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Janji ini menjadi motivasi besar bagi setiap mukmin untuk menjaga kualitas puasanya dari hal-hal yang dapat membatalkan pahala. Selain ampunan, setiap amal kebajikan juga akan mendapatkan balasan yang berlipat ganda. Oleh sebab itu, sangat disayangkan jika waktu-waktu berharga di bulan suci terlewatkan tanpa aktivitas yang bernilai ibadah di sisi Allah.

Baca juga: Persiapan Puasa Ramadhan agar Ibadah Lebih Optimal

3. Kemuliaan Malam Lailatul Qadar

Puncak dari segala keutamaan ramadhan adalah kehadiran satu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Allah SWT menjelaskan keistimewaan malam ini secara khusus dalam surat Al-Qadr ayat 3:

“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.”

Meskipun tanggal pastinya dirahasiakan, kita diperintahkan untuk mencarinya pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir. Strategi terbaik untuk meraih malam ini adalah dengan meningkatkan intensitas ibadah seperti i’tikaf dan zikir. Dengan mendapatkan keutamaan malam tersebut, seorang Muslim seolah-olah telah beribadah selama puluhan tahun lamanya. Jadi, fokuslah untuk menghidupkan malam-malam terakhir ramadhan demi meraih anugerah yang luar biasa ini.

Secara keseluruhan, keutamaan Ramadhan yang bersumber dari dalil-dalil tersebut membuktikan betapa besarnya kasih sayang Allah kepada umat manusia. Bulan ini merupakan anugerah agar kita dapat kembali kepada fitrah yang suci dan meraih derajat takwa. Oleh karena itu, mari kita persiapkan diri dengan sebaik mungkin untuk menyambut bulan mulia ini dengan semangat ibadah yang tinggi. Melalui pemanfaatan waktu yang efektif, semoga kita semua bisa meraih ampunan dan keberkahan yang sempurna.