Kisah Abdul Muthalib Hampir Menyembelih Ayah Rasulullah

Kisah Abdul Muthalib Hampir Menyembelih Ayah Rasulullah

Sejarah Islam mencatat berbagai peristiwa besar yang mengiringi kelahiran Nabi Muhammad SAW. Salah satu kisah paling menggetarkan hati adalah saat Abdul Muthalib menyembelih ayah Rasulullah demi memenuhi nazarnya. Peristiwa ini bukan sekadar cerita pengorbanan, melainkan bukti nyata penjagaan Allah terhadap garis keturunan sang pembawa risalah.

Mari kita simak kronologi lengkapnya berdasarkan catatan para ulama sirah terkemuka.

1. Nazar di Balik Penemuan Sumur Zamzam

Syafiyyurrahman al-Mubarakfuri dalam kitab Ar-Rahiqul Makhtum menjelaskan bahwa kisah ini bermula saat Abdul Muthalib menggali kembali sumur Zamzam. Karena hanya memiliki satu putra saat itu, ia merasa kesulitan menghadapi tekanan kaum Quraisy yang menghalanginya. Kondisi inilah yang memicu Abdul Muthalib untuk bernazar kepada Allah.

Ia berjanji jika Allah memberinya sepuluh putra laki-laki, maka ia akan menyembelih salah satunya di depan Ka’bah sebagai bentuk syukur. Ibnu Hisyam dalam As-Sirah an-Nabawiyyah mencatat bahwa setelah keinginan tersebut terkabul, Abdul Muthalib segera mengumpulkan kesepuluh putranya untuk menunaikan sumpah yang pernah ia ucapkan.

gambar segerombolan unta di padang pasir ilustrasi Abdul Muthalib menyembeli ayah Rasulullah
Abdul Muthalib hendak menyembeli ayah Rasulullah, Abdullah, yang kemudian tergantikan dengan seratus ekor unta (foto: freepik.com)

2. Undian yang Memunculkan Nama Abdullah

Guna menentukan siapa yang akan menjadi kurban, Abdul Muthalib melakukan undian anak panah di hadapan berhala Hubal sebagaimana tradisi Arab saat itu. Ibnu Hisyam menceritakan bahwa dalam setiap undian, nama Abdullah—putra bungsunya yang paling ia cintai—selalu muncul secara berulang kali. Meskipun hatinya hancur, Abdul Muthalib tetap bersiap menjalankan aksinya karena ketaatannya pada janji.

Rencana Abdul Muthalib menyembelih ayah Rasulullah ini segera memicu protes keras dari para pemuka Quraisy dan saudara-saudara Abdullah. Mereka khawatir tindakan tersebut akan menjadi tradisi buruk di masa depan, sehingga mereka mendesak Abdul Muthalib untuk mencari jalan penebusan lain.

3. Penebusan Seratus Ekor Unta yang Bersejarah

Atas saran para tokoh Quraisy, Abdul Muthalib kemudian melakukan undian antara nyawa Abdullah dengan sepuluh ekor unta. Syafiyyurrahman al-Mubarakfuri merinci bahwa setiap kali nama Abdullah keluar, jumlah unta harus ditambah sepuluh ekor lagi. Proses ini berlangsung hingga jumlah unta mencapai seratus ekor, barulah undian tersebut jatuh kepada hewan-hewan tersebut.

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari memberikan penjelasan tambahan bahwa peristiwa penebusan ini menjadi dasar hukum diyat (denda nyawa) dalam Islam. Melalui penebusan seratus ekor unta yang disembelih di antara Bukit Shafa dan Marwah, nyawa Abdullah akhirnya terselamatkan dari maut atas izin Allah.

Baca juga: Perjanjian Hudaibiyah, Strategi Diplomasi Cerdas Ala Rasulullah

4. Hikmah di Balik Penjagaan Cahaya Kenabian

Seluruh catatan dalam kitab-kitab tersebut menunjukkan bagaimana Allah menjaga Abdullah agar cahaya kenabian tetap berlanjut. Rasulullah SAW sendiri sering membanggakan silsilahnya ini dengan bersabda bahwa beliau adalah “anak dari dua orang yang disembelih,” merujuk pada Nabi Ismail AS dan ayahnya, Abdullah.

Singkatnya, keberanian Abdul Muthalib dan kebijakan masyarakat Quraisy menjadi wasilah penting bagi lahirnya sang penutup para Nabi. Sejarah yang tertulis dalam As-Sirah an-Nabawiyyah maupun Ar-Rahiqul Makhtum ini membuktikan bahwa setiap langkah menuju kelahiran Rasulullah selalu berada dalam lindungan Ilahi.

Kitab Fathul Bari dan Keistimewaannya dalam Tradisi Pesantren

Kitab Fathul Bari dan Keistimewaannya dalam Tradisi Pesantren

Al Muanawiyah – Di banyak pondok pesantren di Indonesia, para santri mempelajari beragam kitab kuning yang menjadi rujukan ulama Ahlussunnah. Salah satu kitab paling masyhur adalah Fathul Bari, sebuah karya besar yang menjadi penjelasan (syarah) paling otoritatif atas Shahih al-Bukhari. Kehadiran kitab ini bukan hanya memperkaya khazanah keilmuan pesantren, tetapi juga membantu umat Islam memahami sunnah Nabi ﷺ secara lebih mendalam dan komprehensif.

Identitas dan Latar Belakang Kitab Fathul Bari

Kitab Fathul Bari memiliki judul lengkap “Fathul Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari”. Kitab ini disusun oleh ulama besar abad ke-9 H, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani (773–852 H), seorang ahli hadits yang sangat dihormati dalam dunia Islam. Penyusunan kitab ini memakan waktu lebih dari 25 tahun, dan rampung sekitar tahun 842 H.

Kitab ini terdiri dari 13 jilid besar, berisi penjelasan terperinci terhadap seluruh hadits dalam Shahih Bukhari. Kitab ini juga membahas sanad, perbedaan versi riwayat, makna bahasa, fiqih, hingga penjelasan para ulama terdahulu. Karena kelengkapan dan ketelitian ilmunya, Fathul Bari dianggap sebagai syarah Shahih Bukhari terbaik sepanjang sejarah.

gambar semua jilid kitab fathul bari
Kitab Fathul Bari (sumber: www.alkhoirot.org)

Kandungan dalam Kitab Fathul Bari

Kitab ini mencakup beragam disiplin ilmu yang sangat luas. Para santri dan peneliti hadits mempelajari Kitab Fathul Bari karena menyajikan:

1. Penjelasan mendalam setiap hadits dalam Shahih Bukhari
Ibnu Hajar menguraikan makna, konteks, sebab munculnya hadits, dan pendapat para ulama klasik.

2. Analisis sanad dan jalur periwayatan
Kitab ini memberikan perbandingan antara berbagai versi sanad, serta validitas masing-masing.

3. Kajian fiqih lintas mazhab
Ibnu Hajar menyebutkan pendapat mazhab-mazhab besar, lalu menjelaskan argumentasi masing-masing berdasarkan hadits.

4. Ilmu bahasa dan syarah istilah
Banyak istilah dalam hadits dijelaskan secara bahasa dan makna, membuat pembaca memahami konteks secara utuh.

5. Pendekatan sejarah dan perkembangan hukum Islam
Kitab ini memadukan ilmu hadits, sirah, serta tradisi keilmuan ulama sejak generasi sahabat hingga masa Ibnu Hajar.

Karena kandungannya sangat luas, Fathul Bari menjadi salah satu rujukan penting dalam ilmu hadits, fiqih, pendidikan, dan kajian akademik di seluruh dunia.

Baca juga: 5 Hadits Menuntut Ilmu Shahih dan Maknanya

Penerapan Fathul Bari dalam Kehidupan Sehari-Hari

Walaupun tebal dan ilmiah, isi Fathul Bari dapat diterapkan dalam kehidupan modern. Kitab ini membantu umat Islam memahami:

1. Cara meneladani Nabi ﷺ secara lebih tepat
Syarah yang mendalam membuat seseorang memahami sunnah bukan hanya pada teks, tetapi juga pada konteks. Misalnya, adab pergaulan, akhlak, kesabaran, hingga semangat menuntut ilmu.

2. Sikap moderat dalam beragama
Ibnu Hajar selalu menyebut perbedaan pendapat ulama secara adil. Sikap ini mendorong umat untuk lebih bijaksana, toleran, dan tidak mudah mengklaim pendapat pribadi sebagai satu-satunya kebenaran.

3. Landasan kuat dalam mengambil keputusan fiqih
Pembahasan lintas mazhab membuat umat memahami bahwa hukum Islam itu luas dan penuh hikmah. Ini membantu seseorang memilih pendapat yang paling maslahat dan sesuai kebutuhan.

4. Etika sosial dan keutamaan akhlak
Banyak hadits tentang kasih sayang, persaudaraan, kerja keras, dan kejujuran dijelaskan secara praktis. Nilai-nilai ini sangat relevan bagi pelajar, pekerja, dan masyarakat umum.

5. Penguatan tradisi belajar di pesantren
Bagi para santri, Kitab ini menjadi sumber semangat karena menunjukkan betapa luas dan telitinya ilmu para ulama. Kitab ini mengajarkan disiplin, kesabaran, dan ketekunan dalam menuntut ilmu.

Kitab Fathul Bari bukan sekadar kitab syarah hadits, tetapi karya monumental yang terus hidup dalam tradisi pondok pesantren di Indonesia. Ia mengajarkan ilmu, adab, dan keluasan pandangan dalam memahami agama. Dengan mempelajari kitab ini, santri dan umat Islam dapat mengambil hikmah Nabi ﷺ untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari secara bijak dan penuh kearifan.