Hadits Arbain Ke-22: Shalat, Puasa, dan Menjauhi yang Haram

Hadits Arbain Ke-22: Shalat, Puasa, dan Menjauhi yang Haram

Hadits Arbain ke-22 menjelaskan amalan yang dapat mengantarkan seorang Muslim menuju surga. Dalam hadits ini, seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kewajiban dalam Islam. Ia kemudian berkomitmen untuk menjalankan kewajiban tersebut dan meninggalkan perkara yang Allah haramkan.

Hadits ini mengajarkan bahwa seorang Muslim perlu membangun ketaatan dari perkara yang paling mendasar. Ia tidak cukup hanya memperbanyak amalan sunnah, tetapi juga harus menjaga kewajiban dan menjauhi larangan Allah. Karena itu, hadits ini menjadi salah satu pembahasan penting dalam memahami dasar-dasar kehidupan seorang Muslim.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ الْمَكْتُوبَاتِ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ، وَأَحْلَلْتُ الْحَلَالَ، وَحَرَّمْتُ الْحَرَامَ، وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئًا، أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ؟ قَالَ: «نَعَمْ». قَالَ: وَاللَّهِ لَا أَزِيدُ عَلَى ذَلِكَ شَيْئًا.

Artinya: “Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ﷺ. Ia berkata, ‘Bagaimana pendapatmu jika aku melaksanakan shalat wajib, berpuasa Ramadan, menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram, dan aku tidak menambah sedikit pun dari itu, apakah aku akan masuk surga?’ Beliau menjawab, ‘Ya.’ Laki-laki itu berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan menambah sedikit pun dari itu.’” (HR. Muslim)

Hadits tersebut menunjukkan jawaban Rasulullah ﷺ terhadap pertanyaan seorang sahabat mengenai jalan menuju surga. Pembahasannya terlihat sederhana, tetapi kandungannya sangat luas.

1. Menjaga Shalat Wajib

Hal pertama yang disebutkan dalam hadits Arbain ke-22 adalah melaksanakan shalat wajib. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa shalat lima waktu termasuk kewajiban utama seorang Muslim. Karena itu, seorang Muslim perlu memberikan perhatian besar terhadap shalat, mulai dari waktunya hingga pelaksanaannya.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu merupakan kewajiban yang waktunya telah ditentukan atas orang-orang mukmin.”
(QS. An-Nisa: 103)

Ayat tersebut menegaskan bahwa shalat memiliki waktu yang telah Allah tentukan. Jadi, seorang Muslim tidak boleh menjadikan kesibukan sebagai alasan untuk meninggalkan shalat wajib. Dengan demikian, menjaga shalat menjadi langkah utama dalam membangun kehidupan yang taat kepada Allah.

2. Menjalankan Puasa Ramadan

Selain shalat, hadits ini menyebutkan kewajiban berpuasa pada bulan Ramadan. Puasa tidak hanya mengajarkan seseorang untuk menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih pengendalian diri. Melalui ibadah tersebut, seorang Muslim belajar meningkatkan ketakwaannya.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat tersebut menjelaskan tujuan utama puasa, yaitu membentuk ketakwaan. Karena itu, seorang Muslim tidak seharusnya memandang Ramadan hanya sebagai perubahan pola makan. Lebih jauh, Ramadan menjadi kesempatan untuk melatih hati dan perilaku agar semakin dekat dengan Allah.

Baca juga: Tips Produktif bagi Muslim agar Hari Lebih Bermakna

3. Menghalalkan Apa yang Allah Halalkan

Laki-laki dalam hadits tersebut mengatakan, “Aku menghalalkan yang halal.” Pernyataan ini menunjukkan sikap menerima perkara yang Allah izinkan dan tidak menganggap sesuatu yang halal sebagai perkara yang terlarang tanpa dasar syariat.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا

“Wahai manusia! Makanlah dari makanan yang halal dan baik yang terdapat di bumi.”
(QS. Al-Baqarah: 168)

Dalam kehidupan sehari-hari, seorang Muslim perlu mempelajari batas antara halal dan haram. Pengetahuan tersebut membantu seseorang memilih makanan, pekerjaan, transaksi, dan berbagai aktivitas dengan lebih hati-hati. Oleh sebab itu, memahami perkara halal menjadi bagian dari ketaatan kepada Allah.

4. Meninggalkan Perkara yang Haram

Selanjutnya, laki-laki tersebut mengatakan bahwa ia akan “mengharamkan yang haram”. Maksudnya, ia berkomitmen meninggalkan perkara yang memang Allah dan Rasul-Nya tetapkan sebagai sesuatu yang haram.

Allah Ta’ala berfirman:

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا

“Itulah batas-batas Allah, maka janganlah kamu mendekatinya.”
(QS. Al-Baqarah: 187)

Ayat ini memberikan peringatan agar seorang Muslim tidak sekadar menghindari perbuatan haram, tetapi juga menjauhi jalan yang dapat menyeretnya menuju keharaman. Dengan kata lain, menjaga diri dari dosa membutuhkan kehati-hatian dalam memilih lingkungan, kebiasaan, dan aktivitas.

gambar pria memegang kartu kredit dan gadget ilustrasi contoh perkara haram dalam hadits arbain ke-22
Kartu kredit merupakan salah satu contoh perkara haram yang umum di masyarakat (foto: freepik.com)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Apa yang aku larang kepada kalian, maka jauhilah. Apa yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah sesuai kemampuan kalian.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits tersebut semakin menguatkan pentingnya meninggalkan larangan Rasulullah ﷺ. Seorang Muslim perlu menunjukkan ketaatan bukan hanya dengan mengerjakan perintah, tetapi juga dengan menjauhi perkara yang dilarang.

5. Kewajiban Menjadi Prioritas

Hadits Arbain ke-22 tidak berarti seorang Muslim hanya boleh mengerjakan shalat wajib dan puasa Ramadan. Amalan sunnah tetap memiliki keutamaan yang besar. Namun, hadits ini menunjukkan bahwa kewajiban memiliki kedudukan yang sangat penting dalam perjalanan seorang hamba menuju surga.

Dalam hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman:

“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya.”
(HR. Bukhari)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa amalan wajib memiliki kedudukan utama. Karena itu, seorang Muslim sebaiknya memperbaiki kewajibannya terlebih dahulu sebelum terlalu sibuk mengejar berbagai amalan tambahan.

Misalnya, seseorang perlu memastikan shalat lima waktunya terjaga sebelum memperbanyak amalan sunnah. Setelah kewajiban semakin kuat, ia dapat menambahkan berbagai ibadah sunnah sesuai kemampuan. Dengan urutan tersebut, seorang Muslim dapat membangun ibadah secara lebih kokoh.

6. Jalan Menuju Surga Tidak Harus Rumit

Pertanyaan sahabat dalam hadits ini menunjukkan keinginan untuk mengetahui amalan yang dapat mengantarkannya ke surga. Rasulullah ﷺ kemudian memberikan jawaban yang sederhana dan jelas. Ia perlu menjalankan kewajiban dan meninggalkan perkara yang haram.

Namun, kesederhanaan bukan berarti perkara tersebut mudah dilakukan tanpa perjuangan. Menjaga shalat membutuhkan disiplin, menjalankan puasa membutuhkan kesabaran, sedangkan meninggalkan dosa membutuhkan pengendalian diri. Karena itu, seorang Muslim perlu membangun kebiasaan tersebut secara konsisten.

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
(QS. Al-‘Ankabut: 69)

Ayat tersebut memberikan motivasi bahwa kesungguhan dalam menaati Allah memiliki nilai besar. Oleh karena itu, jangan merasa kecil terhadap usaha memperbaiki satu kewajiban. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju ketaatan.

Baca juga: Hadits Arbain Ke-21: Beriman kepada Allah dan Istiqamah

7. Tidak Berarti Meninggalkan Amalan Sunnah

Ada satu hal penting yang perlu diperhatikan ketika memahami hadits Arbain ke-22. Pernyataan sahabat bahwa ia tidak akan menambah amalan tersebut bukan berarti Rasulullah ﷺ melarang umatnya mengerjakan ibadah sunnah.

Justru, Rasulullah ﷺ banyak mengajarkan berbagai amalan sunnah yang memiliki keutamaan. Shalat sunnah, sedekah, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan berbagai amal kebaikan lainnya dapat menjadi sarana seorang Muslim mendekatkan diri kepada Allah.

Karena itu, hadits ini sebaiknya dipahami sebagai penjelasan tentang kecukupan kewajiban dan meninggalkan keharaman sebagai jalan keselamatan. Setelah itu, seorang Muslim dapat memperbanyak amal sunnah sebagai bentuk kecintaan dan usaha mendekatkan diri kepada Allah.

Pelajaran dari Hadits Arbain Ke-22

Dari hadits Arbain ke-22, kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting. Pertama, seorang Muslim wajib menjaga shalat lima waktu dan menjalankan puasa Ramadan. Kedua, ia harus menerima perkara yang Allah halalkan serta meninggalkan perkara yang Allah haramkan.

Selanjutnya, hadits ini mengajarkan pentingnya menempatkan kewajiban sebagai prioritas. Seorang Muslim tidak seharusnya mengejar banyak amalan sunnah sementara kewajiban masih sering ia tinggalkan.

Pada akhirnya, jalan menuju surga membutuhkan ketaatan yang nyata. Jalankan kewajiban, tinggalkan perkara haram, lalu sempurnakan amalan tersebut dengan berbagai amal kebaikan. Dengan prinsip tersebut, seorang Muslim dapat menjalani kehidupan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Cara Membersihkan Najis di Karpet Agar Sah untuk Tempat Shalat

Cara Membersihkan Najis di Karpet Agar Sah untuk Tempat Shalat

Karpet menjadi salah satu perlengkapan rumah yang sangat rentan terkena tumpahan benda najis . Mulai dari tetesan urine anak, kotoran hewan peliharaan, hingga muntahan, sering kali mengotori kain tebal penutup lantai ini. Namun, banyak orang tua muslim yang masih keliru saat mencoba menyucikan kembali permukaan karpet tersebut. Oleh karena itu, Anda wajib memahami cara membersihkan najis di karpet dengan benar agar keabsahan ibadah salat seluruh anggota keluarga tetap terjaga.

Memahami langkah penyucian yang sah secara fikih akan memberikan rasa tenang dan menjauhkan rumah dari bau yang tidak sedap.

Tahapan Menyucikan Karpet dari Najis Menurut Hukum Fikih

Islam membagi najis menjadi beberapa tingkatan yang masing-masing membutuhkan penanganan berbeda agar statusnya berubah menjadi suci. Dalam kasus karpet rumah, jenis kotoran yang paling sering menempel adalah kategori najis sedang (najis mutawassithah).

Berikut adalah langkah-langkah konkret untuk menghilangkan benda najis pada permukaan karpet secara sempurna.

1. Membuang Wujud Najis secara Lahiriah terlebih Dahulu

Langkah awal yang paling krusial adalah mengubah status najis ainiyah (yang terlihat) menjadi najis hukmiyah (tidak terlihat). Anda harus mengambil kotoran padat atau menyerap genangan air pipis menggunakan kain lap kering atau tisu pembalut harian terlebih dahulu. Pastikan Anda tidak langsung menyiram air ke atas genangan najis tersebut karena tindakan itu justru akan memperluas area kotoran ke serat karpet yang lain.

gambar busa pada karpet ilustrasi cara membersihkan najis di karpet
Sabun dapat membersihkan noda najis sehingga menjadi hukmiyah (foto: freepik.com)

2. Memastikan Hilangnya Tiga Sifat Utama Najis

Setelah wujud fisiknya hilang, Anda wajib memeriksa tiga indikator kesucian, yaitu warna, bau, dan rasa dari bekas kotoran tersebut. Gosok area luar karpet menggunakan sikat kecil dan sedikit sabun pembersih harian agar sisa lemak atau zat najis benar-benar terangkat. Proses pembersihan menggunakan sabun ini belum dihitung sebagai proses menyucikan, melainkan baru sebatas tahap pembersihan noda dan bau.

Baca juga: Cara Membersihkan Najis di Kasur dengan Benar Sesuai Fiqh

3. Mengalirkan Air Suci ke Area yang Terkena Najis

Inilah inti dari proses pensucian karpet yang benar menurut hukum syariat Islam. Anda harus menyiramkan air suci yang menyucikan (air mutlak) langsung ke atas area karpet yang sebelumnya terkena najis. Ingatlah prinsip fikih bahwa air yang harus mendatangi najis, bukan kain karpet bernajis yang dimasukkan ke dalam wadah air yang sedikit.

4. Menyerap Sisa Air Siraman Hingga Kering

Gunakan alat penyedot air (vacuum cleaner) khusus atau tekan area basah tersebut menggunakan handuk kering yang bersih secara berulang kali. Meskipun demikian, jika setelah proses penyiraman ini masih menyisakan sedikit bau atau warna yang sangat sulit hilang, syariat memberikan kelonggaran hukum bahwa karpet tersebut sudah berstatus suci.

Selanjutnya, Anda tinggal menjemur karpet di bawah terik matahari atau mengeringkannya dengan bantuan kipas angin agar tidak memicu jamur harian.

Mempraktikkan cara membersihkan najis di karpet secara tepat merupakan bagian dari menjaga kesucian tempat tinggal seorang muslim. Kesalahan dalam menyiram air justru bisa menyebabkan seluruh permukaan kain karpet berubah status menjadi terkena najis (mutanajjis). Oleh sebab itu, ketelitian dalam memisahkan zat najis sebelum proses penyiraman adalah kunci utama keabsahan proses ini. Mari kita jaga terus kebersihan dan kesucian setiap sudut rumah agar malaikat rahmat senantiasa betah berkunjung setiap hari.

Hak Kewajiban Suami dalam Keluarga, Salah Satunya Membimbing

Hak Kewajiban Suami dalam Keluarga, Salah Satunya Membimbing

Pernikahan yang kokoh membutuhkan kerja sama yang seimbang antara pasangan suami istri. Dalam syariat Islam, laki-laki memegang posisi sebagai kepala keluarga yang memimpin arah masa depan rumah tangga. Oleh karena itu, memahami hak kewajiban suami dalam keluarga secara mendalam menjadi langkah awal yang sangat krusial. Ketika seorang suami menjalankan perannya dengan baik, kedamaian dan keberkahan akan mengalir di dalam rumah.

Islam memberikan panduan yang sangat adil mengenai pembagian tugas ini agar tidak ada pihak yang merasa terbebani. Memahami tanggung jawab ini juga berfungsi untuk menghindari konflik kedewasaan yang sering memicu keretakan hubungan pernikahan.

Baca juga: Cara Mendidik Anak Shalat Berjamaah Sejak Dini

Kewajiban Utama Suami sebagai Kepala Keluarga

Sebagai pemimpin, suami memikul tanggung jawab besar yang harus ia tunaikan dengan penuh rasa ikhlas. Kewajiban ini merupakan hak yang harus istri dan anak-anak terima secara adil. Berikut adalah beberapa kewajiban utama seorang suami:

1. Menyediakan Nafkah Lahir dan Batin

Suami wajib mencukupi kebutuhan pokok keluarga seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal yang layak sesuai kemampuan finansialnya. Selain itu, suami juga harus memberikan nafkah batin berupa kasih sayang, perhatian, rasa aman, dan pemenuhan kebutuhan biologis. Allah SWT menegaskan perintah memberi nafkah ini dalam Al-Qur’an:

“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya…” (QS. At-Talaq: 7).

2. Membimbing dan Mendidik Agama Keluarga

Tanggung jawab suami tidak hanya sebatas memenuhi materi duniawi semata. Ia memiliki kewajiban besar untuk mendidik istri dan anak-anaknya agar taat kepada syariat Islam. Suami harus mengajarkan tata cara ibadah yang benar dan menjaga moral keluarga dari pengaruh buruk lingkungan luar. Rasulullah SAW bersabda mengenai tanggung jawab kepemimpinan ini:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya…” (HR. Bukhari).

keluarga makan bersama contoh hak kewajiban suami dalam keluarga
Salah satu kewajiban suami dalam keluarga adalah mendidik keluarganya (foto: ilustrasi AI/freepik.com)

3. Membimbing Istri dengan Perilaku yang Baik

Islam melarang keras seorang suami berlaku kasar, baik secara fisik maupun melalui ucapan yang menyakiti hati. Suami harus mencontoh akhlak Nabi SAW yang selalu sabar dan menghargai keberadaan istrinya. Allah SWT berfirman:

“…Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19).

Sebagaimana dilansir dari laman NU Online, suami memiliki kewajiban membimbing istri dan keluarganya. Bimbingan tersebut mencakup banyak aspek, tidak hanya perihal ibadah seperti shalat, namun juga hal-hal yang menunjang kemaslahatan keluarga.

Hak-Hak Suami yang Wajib Istri Penuhi

Setelah menunaikan seluruh tanggung jawabnya, seorang suami juga memiliki hak yang harus ia terima dari sang istri. Hak-hak ini bertujuan untuk menjaga keteraturan dan kepemimpinan di dalam rumah tangga. Dalam hal ini, istri wajib memberikan ketaatan penuh kepada suami selama perintah tersebut tidak melanggar aturan agama.

Baca juga: Hak Kewajiban Istri dalam Keluarga Menurut Islam

Istri juga wajib menjaga kehormatan diri serta mengelola harta benda yang suami amanahkan dengan bijak. Rasa hormat dan pelayanan yang tulus dari istri akan menjadi bahan bakar bagi suami untuk bekerja lebih giat. Keseimbangan pemenuhan hak dan kewajiban inilah yang akan melahirkan keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Akhir kata, menerapkan hak kewajiban suami dalam keluarga bukan sekadar menjalankan status sosial di masyarakat. Aktivitas ini merupakan bentuk ibadah mulia yang mendatangkan pahala besar dan rida dari Allah SWT. Mari kita terus belajar dan memperbaiki diri agar mampu membangun rumah tangga yang harmonis serta penuh keberkahan. Selamat memperkuat pilar keluarga Anda!

Lupa Jumlah Rakaat Shalat? Ini Solusinya Menurut Fiqh!

Lupa Jumlah Rakaat Shalat? Ini Solusinya Menurut Fiqh!

Melakukan ibadah shalat dengan khusyuk merupakan dambaan setiap Muslim. Namun, terkadang gangguan konsentrasi muncul hingga menyebabkan seseorang merasa ragu atau lupa jumlah rakaat shalat. Munculnya keraguan ini adalah hal manusiawi yang bahkan pernah dialami oleh para sahabat Nabi. Oleh karena itu, Islam memberikan panduan praktis agar ibadah Anda tetap sah dan sempurna meskipun terjadi kekeliruan dalam hitungan.

Berikut adalah langkah-langkah sistematis yang harus Anda lakukan saat menghadapi keraguan dalam jumlah rakaat menurut kaidah fiqh.

1. Mengambil Jumlah Rakaat yang Paling Sedikit

Jika Anda merasa ragu apakah sedang berada di rakaat kedua atau ketiga, maka ambillah hitungan yang paling sedikit (yaitu rakaat kedua). Mengambil jumlah terkecil memberikan kepastian hukum dalam ibadah. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis:

“Jika salah seorang di antara kalian ragu dalam shalatnya, sehingga ia tidak tahu sudah berapa rakaat ia shalat, tiga atau empat rakaat, maka hendaknya ia membuang keraguannya dan menetapkan atas apa yang ia yakini (jumlah yang paling sedikit).” (HR. Muslim no. 571).

Dengan menetapkan jumlah terkecil, Anda memastikan bahwa rukun shalat telah terpenuhi sepenuhnya. Selanjutnya, Anda cukup melanjutkan sisa rakaat hingga selesai.

gambar shalat berjamaah ilustrasi solusi dari lupa jumlah rakaat shalat
Sujud sahwi tetap dilakukan jika lupa jumlah rakat shalat, baik sendirian atau berjamaah jika dicontohkan oleh imam shalat

2. Melakukan Sujud Sahwi di Akhir Shalat

Setelah Anda menetapkan jumlah rakaat yang paling sedikit dan menyelesaikan shalat, langkah berikutnya adalah melakukan sujud sahwi. Sujud ini berfungsi untuk menambal kekurangan atau kelebihan yang terjadi akibat lupa jumlah rakaat shalat.

Anda melakukan dua kali sujud tambahan sebelum atau sesudah salam. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa sujud sahwi ini merupakan cara untuk menghinakan setan yang mencoba mengacaukan konsentrasi shalat seorang hamba. Oleh karena itu, sujud sahwi menjadi solusi agar Anda tidak perlu mengulang shalat dari awal. Baca tata cara melaksanakan sujud sahwi di sini.

3. Membangun Keyakinan dan Mengabaikan Was-was

Terkadang, perasaan ragu muncul setelah shalat benar-benar selesai. Jika keraguan baru datang setelah Anda melakukan salam, maka abaikan saja perasaan tersebut. Kaedah fikih menyebutkan bahwa jika ragu datang setelah keyakinan, maka keraguan yang muncul tidak dapat mengalahkannya dan dianggap tidak memengaruhi keabsahan ibadah tersebut.

Kecuali, jika Anda mendapatkan bukti kuat atau diingatkan oleh orang lain dengan kepastian yang nyata. Membiarkan pikiran terus terjebak dalam was-was hanya akan membuat ibadah terasa berat. Maka dari itu, tetaplah tenang dan yakin bahwa Allah SWT Maha Menerima hamba-Nya yang telah berusaha maksimal.

Baca juga: 5 Kesalahan Saat Sujud Shalat yang Sering Dianggap Remeh

4. Tips Menghindari Lupa dalam Shalat

Untuk meminimalisir kejadian lupa jumlah rakaat shalat, Anda dapat melakukan beberapa persiapan sebelum takbiratul ihram. Pertama, pastikan Anda memahami arti dari bacaan shalat yang Anda lafalkan. Memahami makna bacaan membantu pikiran tetap khusyuk pada setiap gerakan shalat.

Kedua, singkirkan hal-hal yang dapat memecah konsentrasi di tempat shalat, seperti suara bising atau barang-barang yang mencolok. Dengan menjaga kekhusyukan sejak awal, Anda dapat menjalankan rukun shalat dengan lebih tertib dan tenang.

Memahami solusi atas keraguan dalam ibadah merupakan bagian dari menuntut ilmu yang wajib bagi setiap Muslim. Dengan menerapkan panduan fiqh di atas, Anda tidak perlu merasa cemas lagi jika suatu saat mengalami kendala dalam ingatan saat berdiri di hadapan Allah SWT.

Hadits Arbain ke-32: Prinsip Tidak Menyakiti dalam Islam

Hadits Arbain ke-32: Prinsip Tidak Menyakiti dalam Islam

Al MuanawiyahIslam hadir sebagai agama rahmat yang menjaga kemaslahatan manusia. Salah satu kaidah besarnya terangkum dalam hadits Arbain ke-32. Hadits ini menjadi fondasi penting dalam muamalah, sosial, dan kehidupan bermasyarakat. Melalui hadits tersebut, Rasulullah Saw. menegaskan larangan menimbulkan bahaya. Karena itu, memahami hadits Arbain ke-32 menjadi kebutuhan setiap Muslim.

Lafadz Hadits Arbain ke-32 dan Artinya

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ سَعْدِ بْنِ مَالِكِ بْنِ سِنَانٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺقَالَ: «لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ»حَدِيْثٌ حَسَنٌ. رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَالدَّارَقُطْنِيُّ وَغَيْرُهُمَا مُسْنَدًا، وَرَوَاهُ مَالِكٌ فِي المُوَطَّأِ مُرْسَلاً عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى عَنْ أَبِيْهِ عَنِ النَّبِيِّ ﷺفَأَسْقَطَ أَبَا سَعِيْدٍ، وَلَهُ طُرُقٌ يُقَوِّي بَعْضُهَا بَعْضًا.

Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh memberikan mudarat tanpa disengaja atau pun disengaja.” (Hadits hasan, HR. Ibnu Majah, no. 2340; Ad-Daraquthni no. 4540, dan selain keduanya dengan sanadnya, serta diriwayatkan pula oleh Malik dalam Al-Muwaththa’ no. 31 secara mursal dari Amr bin Yahya dari ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyebutkan Abu Sa’id, tetapi ia memiliki banyak jalan periwayatan yang saling menguatkan satu sama lain) [Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 250] rumaysho.com

Makna Hadits Arbain ke-32

Hadits ini menegaskan dua larangan utama. Pertama, tidak boleh berbuat yang merugikan orang lain. Kedua, tidak boleh membalas mudarat dengan mudarat. Dengan kata lain, Islam menutup segala pintu kezaliman. Bahkan, kemudaratan kecil tetap harus dihindari.

Para ulama menjadikan hadits Arbain ke-32 sebagai kaidah fikih besar. Kaidah ini digunakan dalam ibadah, muamalah, dan kebijakan sosial. Oleh sebab itu, banyak hukum Islam lahir untuk mencegah kerusakan. Prinsip ini juga menjadi dasar larangan praktik yang merugikan.

gambar bullying karena umpatan dan pencela ilustrasi hadits arbain ke-32
Ilustrasi menyakiti manusia lain dalam bullying (sumber: freepik)

Contoh Penerapan Hadits dalam Kehidupan

Dalam muamalah, riba dilarang karena merugikan pihak lemah. Dalam lingkungan, merusak alam termasuk perbuatan mudarat. Bahkan, dalam rumah tangga, ucapan yang melukai hati juga tercakup larangan ini. Dengan demikian, hadits Arbain ke-32 sangat aplikatif.

Baca juga: Pentingnya Adab Sebelum Ilmu di Era Digital

Saat ini, bentuk mudarat semakin beragam. Hoaks, perundungan digital, dan eksploitasi ekonomi sering terjadi. Hadits Arbain ke-32 mengingatkan agar teknologi digunakan secara bertanggung jawab. Islam tidak menolak kemajuan, tetapi menolak kerusakan.

Hadits Arbain ke-32 mengajarkan keseimbangan antara hak dan kewajiban. Seorang Muslim dituntut menjaga diri sekaligus orang lain. Intinya, Islam tidak membenarkan manfaat yang dibangun di atas kerugian pihak lain. Dengan memahami hadits ini, kehidupan akan lebih adil dan harmonis.