Terlambat Shalat Berjamaah, Apa yang Harus Dilakukan?

Terlambat Shalat Berjamaah, Apa yang Harus Dilakukan?

Menjalankan shalat berjamaah di masjid merupakan ibadah yang memiliki keutamaan luar biasa. Namun, terkadang aktivitas harian membuat seseorang datang ke masjid saat imam sudah memulai rangkaian ibadah. Kondisi terlambat shalat berjamaah atau yang sering disebut sebagai makmum masbuq memerlukan pemahaman fikih yang tepat agar shalat Anda tetap sah dan tertib sesuai sunnah.

Berikut adalah panduan praktis mengenai langkah yang harus Anda lakukan ketika menyusul imam di tengah shalat.

1. Segera Bergabung dengan Gerakan Imam

Banyak orang memiliki keraguan apakah mereka harus menunggu imam berdiri kembali untuk mulai bergabung. Namun, Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk segera masuk ke dalam saf dan mengikuti gerakan imam apa pun kondisinya:

“Jika kalian mendatangi shalat dan imam sedang dalam suatu keadaan, maka hendaklah kalian melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh imam.” (HR. Tirmidzi).

Oleh karena itu, jika Anda datang saat imam sedang sujud, segeralah melakukan takbiratul ihram sambil berdiri, kemudian langsung mengikuti gerakan sujud tersebut. Selanjutnya, janganlah Anda menunggu imam berdiri ke rakaat berikutnya karena setiap gerakan imam mengandung keberkahan.

gambar orang melaksanakan shalat berjamaah
JIka terlambat shalat berjamaah, makmum langsung mengikuti gerakan imam tanpa menunggu (foto: Wikimedia Commons)

2. Ketentuan Menambah Rakaat: Batasan Ruku’

Pertanyaan yang paling sering muncul saat terlambat shalat berjamaah adalah kapan sebuah rakaat dianggap sah. Batasan utama dalam hal ini adalah gerakan ruku’ sebagaimana sabda Nabi SAW:

“Barangsiapa yang mendapatkan ruku’ (bersama imam), maka ia telah mendapatkan rakaat tersebut.” (HR. Abu Daud).

Jika Anda sempat melakukan ruku’ secara sempurna bersama imam sebelum imam bangkit untuk i’tidal, maka Anda telah mendapatkan rakaat tersebut. Sebaliknya, jika Anda baru bergabung saat imam sudah bangkit dari ruku’, maka Anda wajib menambah rakaat yang tertinggal setelah imam mengucapkan salam.

Baca juga: Hukum Berbicara Ketika Shalat Batal atau Tidak?

3. Tata Cara Membaca Bacaan dan Berjalan Menuju Saf

Meskipun Anda merasa terlambat, Islam melarang Anda terburu-buru atau berlari menuju saf karena hal itu dapat menghilangkan ketenangan. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim agar kita mendatangi shalat dengan tenang; apa yang didapati maka ikutilah, dan apa yang tertinggal maka sempurnakanlah.

Saat bergabung, lakukanlah Takbiratul Ihram dengan niat yang tulus dalam posisi berdiri. Jika imam masih berdiri dan waktu mencukupi, segeralah membaca Al-Fatihah. Namun, jika imam sedang ruku’ atau sujud, Anda cukup melakukan Takbiratul Ihram, lalu berpindah gerakan mengikutinya tanpa perlu membaca doa iftitah atau surat pendek.

4. Bolehkah Menunggu Imam Sampai Berdiri?

Secara hukum asal, menunggu imam sampai berdiri saat Anda datang di tengah gerakan lain adalah tindakan yang kurang tepat. Menunggu di belakang saf tanpa bergabung justru membuat Anda kehilangan keutamaan zikir dalam gerakan tersebut.

Di sisi lain, menyegerakan diri bergabung menunjukkan kesungguhan Anda dalam beribadah. Meskipun gerakan yang Anda ikuti (seperti sujud terakhir) tidak menambah hitungan rakaat, kesertaan Anda dalam sujud bersama jamaah lainnya memiliki nilai kemuliaan tersendiri di hadapan Allah SWT. Selengkapnya baca hadits dalam Kitab Bulughul Maram tentang Cara Mengikuti Imam.

5. Menyelesaikan Shalat Setelah Imam Salam

Setelah imam mengucapkan salam yang kedua, barulah Anda berdiri untuk menyempurnakan rakaat yang kurang. Saat berdiri, Anda tidak perlu membaca takbir lagi jika sebelumnya Anda sudah dalam posisi duduk bersama imam.

Selanjutnya, susunlah sisa rakaat Anda dengan membaca bacaan shalat seperti biasa. Dengan memahami aturan terlambat shalat berjamaah ini, Anda tidak perlu lagi merasa bingung. Ketenangan dalam menjalankan prosedur masbuq akan menjaga kualitas kekhusyukan shalat Anda hingga akhir.

Keutamaan Shalat Berjamaah daripada Shalat Sendirian

Keutamaan Shalat Berjamaah daripada Shalat Sendirian

Shalat merupakan kewajiban utama seorang Muslim dan tiang agama yang harus ditegakkan. Namun, Islam tidak hanya mendorong shalat secara individu, tetapi juga mengajarkan kebersamaan dalam bentuk shalat berjamaah. Ada banyak dalil yang menegaskan keutamaan shalat berjamaah dibandingkan sendiri.

Dalam Islam, shalat berjamaah memiliki hukum yang sangat ditekankan bagi kaum laki-laki. Rasulullah ﷺ bahkan bersabda:

“Sungguh aku berniat memerintahkan shalat didirikan, lalu aku perintahkan seseorang untuk mengimami manusia, kemudian aku pergi bersama beberapa orang membawa kayu bakar menuju orang-orang yang tidak menghadiri shalat berjamaah, lalu aku bakar rumah-rumah mereka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Baca juga: Bahaya Banyak Bicara Bagi Hati dan Kekhusyukan Ibadah

Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya shalat berjamaah bagi laki-laki, khususnya di masjid. Selain memperoleh pahala yang berlipat ganda, kehadiran laki-laki di masjid juga menjadi tanda kekokohan iman dan simbol persatuan umat Islam. Kehadiran mereka di saf terdepan menumbuhkan kekuatan dan memperlihatkan syiar Islam di tengah masyarakat. Ada keutamaan lain yang akan diperoleh darinya, di antaranya:

1. Pahala Dilipatgandakan

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Shalat berjamaah lebih utama dibandingkan shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjadi dasar utama bahwa shalat berjamaah menghadirkan pahala berlipat ganda. Artinya, satu rakaat berjamaah nilainya jauh lebih besar daripada shalat sendirian. Begitu banyak keutamaan shalat berjamaah dibandingkan shalat sendiri, hingga Rasulullah menyuruh sahabatnya yang buta, Abdullah bin Ummi Maktum, untuk tetap shalat berjamaah. Ketika ia meminta keringanan untuk shalat di rumah, Rasulullah ﷺ bertanya:

“Apakah engkau mendengar panggilan adzan?”
Ia menjawab, “Iya.”
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Kalau begitu, penuhilah panggilan itu.”
(HR. Muslim)

Ini menunjukkan betapa tingginya keutamaan shalat berjamaah, hingga seorang sahabat dengan keterbatasan pun tetap dianjurkan menghadirinya.

2. Menumbuhkan Persaudaraan dan Disiplin

Shalat berjamaah menyatukan hati umat Islam tanpa memandang pangkat, kedudukan, atau harta. Semua berdiri sejajar dalam satu saf, menghadap Allah SWT. Selain itu, shalat berjamaah melatih kita untuk disiplin waktu, hadir bersama jamaah, dan menumbuhkan rasa kebersamaan.

gambar para laki-laki Muslim sedang shalat berjmaah menggambarkan ilustrasi keutamaan shalat berjamaah dibanding shalat sendirian
Ilustrasi keutamaan shalat berjamaah bagi laki-laki (foto: freepik)

3. Memperbanyak tempat yang akan menjadi saksi

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah seseorang berjalan menuju shalat berjamaah kecuali Allah menulis untuknya satu pahala pada setiap langkahnya, dan menghapus satu dosa darinya.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Selain itu, tempat kita bersujud juga akan menjadi saksi di akhirat, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al Zalzalah: 4:

“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”

Keutamaan shalat berjamaah bukan hanya pahala yang berlipat ganda, tetapi juga persaudaraan, disiplin, hingga saksi amal di akhirat kelak. Maka, mari kita jaga shalat berjamaah sebagai amalan utama dalam keseharian, agar kita tidak menyesal di kemudian hari ketika pahala dan kebaikan ini telah kita lewatkan.