Hadits Arbain ke-7, Nasihat Agama sebagai Pondasi

Hadits Arbain ke-7, Nasihat Agama sebagai Pondasi

Dalam khazanah hadits Nabi, Hadits Arbain karya Imam Nawawi menjadi rujukan penting bagi umat Islam. Setiap hadits di dalamnya memuat prinsip dasar ajaran Islam. Salah satu yang sangat fundamental adalah hadits arbain ke-7, yang menekankan makna nasihat dalam agama.

Hadits ini sering dibaca, namun belum tentu dipahami secara utuh. Padahal, pesan yang terkandung di dalamnya menyentuh inti hubungan seorang Muslim dengan Allah, Rasul-Nya, dan sesama manusia.

Bunyi dan Makna Umum Hadits Arbain ke-7

عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِي رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا : لِمَنْ ؟ قَالَ للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin, serta bagi umat Islam umumnya.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 55]

Pernyataan singkat ini menunjukkan bahwa Islam bukan sekadar ritual ibadah. Islam juga menuntut kepedulian, kejujuran, dan tanggung jawab sosial dari seorang Mukmin dan Muslim.

Ilustrasi dua wanita muslimah tersenyum, salah satunya membantu membenahi hijab temannya sebagai simbol saling menasehati kandungan hadits arbain ke-7
Saling menasehati contoh pengamalan hadits arbain nawawi ke-7 (foto: freepik)

Nasihat kepada Allah dan Kitab-Nya

Nasihat kepada Allah bukan berarti memberi masukan kepada Sang Pencipta. Maknanya adalah memurnikan tauhid, menaati perintah-Nya, serta menjauhi larangan-Nya. Sikap ini tercermin dalam keikhlasan beribadah dan menjauhi kemusyrikan.

Sementara itu, nasihat kepada Kitab Allah diwujudkan dengan membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an. Selain itu, menjaga kehormatannya serta tidak menyelewengkan maknanya juga termasuk bentuk nasihat yang nyata.

Baca juga: Hadits Arbain Nawawi Ke-4 Sebagai Dalil Hubungan Sosial

Nasihat kepada Rasul dan Pemimpin Kaum Muslimin

Hadits arbain ke-7 juga menegaskan pentingnya nasihat kepada Rasulullah. Hal ini diwujudkan dengan mencintai beliau, mengikuti sunnahnya, serta membela ajarannya dari penyimpangan.

Adapun nasihat kepada pemimpin kaum Muslimin berarti menginginkan kebaikan bagi mereka. Bentuknya bisa berupa doa, dukungan dalam kebaikan, serta mengingatkan dengan cara yang bijak. Islam tidak mengajarkan provokasi, melainkan perbaikan yang dilandasi adab.

Nasihat untuk Sesama Umat Islam

Bagian terakhir dari hadits ini menekankan kewajiban saling menasihati antar sesama Muslim. Nasihat bukan untuk merendahkan, melainkan untuk menjaga. Dalam praktiknya, nasihat harus disampaikan dengan kelembutan dan niat yang lurus.

Faktanya, banyak konflik sosial bermula dari hilangnya semangat nasihat yang tulus. Kritik berubah menjadi celaan. Kepedulian bergeser menjadi kepentingan pribadi.

Baca juga: Kesalahpahaman Umum tentang Bid’ah di Masyarakat

Relevansi Hadits Arbain ke-7 dalam Kehidupan Modern

Di tengah kehidupan yang serba cepat, nilai nasihat sering dianggap tidak penting. Namun, justru pada masa inilah hadits arbain ke-7 menjadi sangat relevan. Media sosial, misalnya, membutuhkan etika nasihat agar tidak menjadi sarana fitnah.

Hadits ini mengajarkan bahwa kualitas iman tercermin dari kepedulian terhadap kebaikan orang lain. Tanpa nasihat, agama hanya akan menjadi simbol tanpa ruh.

Hadits arbain ke-7 menegaskan bahwa agama berdiri di atas keikhlasan dan kepedulian. Nasihat bukan tugas segelintir orang, melainkan tanggung jawab bersama sesuai kapasitas masing-masing.

Dengan memahami hadits ini secara menyeluruh, seorang Muslim diharapkan mampu menjaga hubungan dengan Allah sekaligus memperbaiki hubungan sosial. Inilah wajah Islam yang rahmatan dan penuh keseimbangan.

Mengapa Waktu Menjadi Nikmat yang Paling Sering Disia-siakan?

Mengapa Waktu Menjadi Nikmat yang Paling Sering Disia-siakan?

Nikmat waktu adalah anugerah Allah yang sangat besar. Banyak orang tidak menyadari nilainya sampai waktu itu hilang. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu karenanya: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)

Hadits ini menunjukkan bahwa waktu sering disia-siakan tanpa kesadaran. Dengan waktu, seorang muslim mampu belajar, beribadah, bekerja, dan berbuat baik. Setiap detik adalah peluang yang tidak bisa diganti.

Waktu menjadi amanah yang harus dijaga. Ketika seseorang memanfaatkannya dengan baik, hidupnya terasa lebih teratur dan penuh makna. Karena itu, menjaga nikmat waktu sama pentingnya dengan menjaga nikmat iman dan kesehatan.

Mengapa Manusia Sering Lalai Mengelola Waktu?

Manusia sering mengira bahwa umurnya masih panjang. Anggapan ini membuat banyak orang menunda ibadah dan kebaikan. Selain itu, distraksi digital membuat waktu habis tanpa manfaat. Media sosial, tontonan, dan informasi cepat menurunkan fokus dan menambah rasa malas.

gambar anak laki laki sedang main gadget malam hari sambil tidur contoh perilaku menyia-nyiakan nikmat waktu
Contoh perilaku menya-nyiakan nikmat waktu: bermain gadget sampai larut malam (sumber: freepik)

Kesibukan juga tidak selalu berarti produktif. Banyak aktivitas yang menghabiskan tenaga, tetapi tidak membawa nilai ibadah. Islam menekankan kualitas, bukan kuantitas. Waktu yang sedikit namun berkah lebih baik daripada aktivitas panjang yang tidak jelas arah.

Bahaya Menunda Kebaikan bagi Keimanan

Menunda dapat melemahkan semangat ibadah. Allah telah mengingatkan dalam Surat Al Asr bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Ayat ini menunjukkan bahwa waktu adalah ujian yang menuntut ketegasan.

Terlambat berbuat baik berarti kehilangan kesempatan. Banyak orang yang ingin kembali ke masa lalu hanya untuk memperbaiki satu kebaikan kecil. Namun, waktu tidak bisa diputar ulang.

Baca juga: Keutamaan Membaca Surat Al Mulk Sebelum Tidur

Cara Memanfaatkan Nikmat Waktu agar Lebih Berkah

Ada langkah sederhana untuk memanfaatkan nikmat waktu. Pertama, luruskan niat sebelum memulai kegiatan. Kedua, buat jadwal harian dengan target realistis. Ketiga, batasi distraksi digital dan gunakan gawai untuk hal bermanfaat.

Biasakan muhasabah setiap malam. Muhasabah membantu seseorang melihat apakah waktunya dipakai untuk kebaikan atau justru terbuang. Kebiasaan refleksi ini membuat hidup lebih terarah dan disiplin.

Baca juga: Adab Membaca Al-Qur’an yang Sering Diabaikan Padahal Penting

Waktu Adalah Investasi Seumur Hidup

Waktu adalah modal terbesar seorang muslim. Setiap detik adalah peluang mendekat kepada Allah. Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, waktu luang sebelum sibuk, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin.”
(HR. Hakim, shahih)

Hadits ini menegaskan bahwa waktu tidak menunggu siapa pun. Karena itu, gunakanlah setiap kesempatan untuk berbuat baik. Mulailah dari hal kecil agar waktu yang Anda miliki menjadi lebih berkah dan bermakna.