Semarak HUT RI Ke-80 Al Muanawiyah Jombang

Semarak HUT RI Ke-80 Al Muanawiyah Jombang

Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia selalu menjadi momen penuh makna bagi seluruh rakyat. Hal ini juga terasa di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Al Muanawiyah Jombang. Tahun 2025 ini, pesantren ikut merayakan HUT RI Ke-80 Al Muanawiyah dengan semangat kebersamaan yang luar biasa. Bagi para santri, momentum ini bukan sekadar perayaan, melainkan cara untuk mengenang jasa para pahlawan. Lebih dari itu, santri juga belajar menghayati arti kemerdekaan dalam kehidupan sehari-hari.

Rangkaian kegiatan di pesantren berlangsung meriah sekaligus mendidik. Para santri mengikuti berbagai acara dengan penuh antusias. Ada malam kebersamaan dengan bakar-bakar, upacara bendera, hingga lomba-lomba kreatif yang mengasah kerja sama. Selain itu, kegiatan seperti lomba tongkat sahabat, tebak surat, puzzle ayat, balap sarung, dan sendok kelereng membuat suasana semakin hangat.

Tidak berhenti di situ, santri juga diajak memperkuat nilai religius melalui doa dan tahlil bersama. Kemudian, ada pula nonton bareng film bertema nasionalisme yang memberikan pelajaran berharga. Dengan demikian, seluruh kegiatan menghadirkan suasana menyenangkan, penuh tawa, sekaligus mengandung nilai pendidikan.

Peringatan HUT RI Ke-80 pondok pesantren tahfidz putri JOmbang Al Muanawiyah
Semarak peringatan HUT RI ke-80 PPTQ Al Muanawiyah Jombang

Pesan Pengasuh dalam HUT RI Ke-80 Al Muanawiyah

Dalam momen HUT RI Ke-80 Al Muanawiyah, Pengasuh pesantren menyampaikan pesan inspiratif. Pertama, beliau menekankan pentingnya bersatu sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 103:

“وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا”

yang artinya “Berpeganglah kalian semuanya pada tali Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.”

Selain itu, santri juga diajak untuk memahami arti berdaulat. Menurut beliau, rakyat harus berani menegakkan kebenaran serta menolak kebatilan, bahkan saat pemimpin tidak bersikap adil. Kemudian, beliau menekankan peran santri dalam menjadi bagian dari Indonesia maju. Hal ini bisa diwujudkan dengan cara terbaik sesuai peran masing-masing. Seorang guru mendidik dengan penuh dedikasi. Seorang pemimpin membawa keadilan. Sementara seorang murid berusaha menjadi insan luar biasa yang kelak berkontribusi bagi bangsa.

Selanjutnya, beliau menegaskan bahwa kemerdekaan yang diperjuangkan para pahlawan harus dijaga dengan sungguh-sungguh. Beliau mengutip sebuah pesan: “When one generation tolerates one sin, the next generation celebrates the sin, then the generation after did not know that it’s sin.” Oleh karena itu, santri diingatkan untuk tidak menormalisasi kesalahan. Sebab, jika hal itu dibiarkan, akan menimbulkan bahaya besar di masa depan.

Peringatan HUT RI Ke-80 Al Muanawiyah menjadi momen penuh hikmah. Di satu sisi, kegiatan menghadirkan keceriaan. Namun di sisi lain, ia juga menanamkan rasa syukur dan tanggung jawab. Harapannya, para santri tidak hanya mampu menjaga nilai kemerdekaan, tetapi juga merawatnya dengan ilmu dan akhlak mulia. Dengan semangat belajar serta tekad kuat, santri Al Muanawiyah siap menjadi generasi penerus bangsa. Mereka diharapkan tumbuh menjadi insan berilmu, berakhlak, dan mampu membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.

Alasan Di Balik Penyebutan Hari Jumat Sayyidul Ayyam

Alasan Di Balik Penyebutan Hari Jumat Sayyidul Ayyam

Hari Jumat sayyidul ayyam adalah sebutan yang diberikan Rasulullah ﷺ untuk menegaskan kemuliaan hari ini di atas hari-hari lainnya. Istilah sayyidul ayyam berarti “penghulu hari-hari”, yaitu hari yang memiliki keutamaan besar bagi umat Islam. Dalam sebuah hadits yang dihasankan oleh Al-Albani dalam Sahih al-Jami’ no. 2279. Riwayat Ibnu Majah no. 1084 dan An-Nasa’i no. 1374, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ سَيِّدُ الأَيَّامِ، وَأَعْظَمُهَا عِنْدَ اللَّهِ، وَهُوَ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ يَوْمِ الأَضْحَى وَيَوْمِ الْفِطْرِ، فِيهِ خَمْسُ خِلَالٍ: خَلَقَ اللَّهُ فِيهِ آدَمَ، وَأَهْبَطَ اللَّهُ فِيهِ آدَمَ إِلَى الأَرْضِ، وَفِيهِ تَوَفَّى اللَّهُ آدَمَ، وَفِيهِ سَاعَةٌ لاَ يَسْأَلُ اللَّهَ فِيهَا الْعَبْدُ شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ مَا لَمْ يَسْأَلْ حَرَامًا، وَفِيهِ تَقُومُ السَّاعَةُ، وَمَا مِنْ مَلَكٍ مُقَرَّبٍ، وَلاَ سَمَاءٍ وَلاَ أَرْضٍ وَلاَ رِيحٍ وَلاَ جِبَالٍ وَلاَ بَحْرٍ إِلاَّ وَهُنَّ يُشْفِقْنَ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ

Artinya:
“Sesungguhnya hari Jumat adalah pemimpin hari-hari (sayyidul ayyam) dan yang paling agung di sisi Allah, bahkan lebih agung daripada hari Idul Adha dan Idul Fitri. Pada hari itu ada lima peristiwa: Allah menciptakan Adam, menurunkannya ke bumi, mewafatkannya, pada hari itu ada satu waktu yang tidaklah seorang hamba memohon kepada Allah sesuatu melainkan Allah memberinya selama ia tidak meminta yang haram, dan pada hari itu Kiamat akan terjadi. Tidaklah ada malaikat yang dekat (kepada Allah), langit, bumi, angin, gunung, atau laut kecuali mereka khawatir pada hari Jumat.”

gambar kalender hari Jumat ilustrasi sayyidul ayyam
Keutamaan hari Jumat sebagai sayyidul ayyam

Keistimewaan hari Jumat tidak hanya terkait dengan sejarah penciptaan manusia, tetapi juga karena hari ini menjadi waktu khusus untuk beribadah. Allah ﷻ memerintahkan kaum muslimin untuk meninggalkan segala aktivitas dunia ketika adzan Jumat berkumandang, dan bersegera menuju dzikir kepada-Nya (QS. Al-Jumu’ah: 9). Perintah ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan hari Jumat di sisi Allah.

Amalan Utama di Sayyidul Ayyam

Selain shalat Jumat, terdapat banyak amalan sunnah yang dianjurkan, seperti membaca surah Al-Kahfi, memperbanyak shalawat, mandi sunnah sebelum berangkat shalat, dan memperbanyak doa di waktu mustajab antara ashar dan maghrib. Para ulama menegaskan, amalan di hari Jumat akan dilipatgandakan pahalanya.

Tradisi ulama salaf juga menempatkan hari Jumat sebagai momentum utama untuk memperbanyak sedekah. Mereka meyakini bahwa sedekah di hari yang mulia ini membawa keberkahan berlipat, sesuai dengan semangat memuliakan sayyidul ayyam. Di berbagai pesantren di Jombang, para santri terbiasa mengisi hari Jumat dengan khataman Al-Qur’an, kajian kitab kuning, dan doa bersama untuk umat Islam.

Dengan segala keutamaannya, wajar jika hari Jumat disebut sebagai penghulu segala hari. Ini bukan sekadar penamaan simbolis, tetapi sebuah pengakuan atas kedudukan spiritualnya yang istimewa. Mari kita isi hari Jumat dengan amal terbaik, sehingga setiap pekan kita mendapatkan keberkahan yang dijanjikan Allah ﷻ.

Bagi Anda yang ingin menghidupkan sunnah sedekah di hari Jumat sekaligus mendukung pendidikan para santri, Pondok Pesantren Al-Mu’anawiyah Jombang membuka peluang donasi dan wakaf pendidikan. Kunjungi website resminya untuk informasi lebih lanjut.

KH Ahmad Dahlan: Perintis Pendidikan Modern di Indonesia

KH Ahmad Dahlan: Perintis Pendidikan Modern di Indonesia

KH Ahmad Dahlan adalah tokoh pembaharu Islam yang meninggalkan jejak penting dalam sejarah pendidikan di Indonesia. Beliau lahir di Yogyakarta pada 1 Agustus 1868 dan dikenal sebagai pendiri Muhammadiyah, sebuah organisasi Islam yang fokus pada dakwah dan pendidikan. Pemikirannya yang progresif membuat sistem pendidikan Islam menjadi lebih relevan dengan perkembangan zaman.

KH Ahmad Dahlan, yang memiliki nama kecil Muhammad Darwis, berasal dari keluarga ulama yang taat beragama. Ayahnya, KH Abu Bakar bin Kiai Sulaiman, adalah seorang khatib di Masjid Agung Yogyakarta. Sedangkan ibunya, Siti Aminah, berasal dari keluarga yang juga mendalami ilmu agama. Lingkungan keluarga yang terbuka terhadap diskusi keagamaan membentuk kecerdasan kritis beliau sejak muda. Pendidikan awal diperoleh dari ayahnya, kemudian dilanjutkan di berbagai pesantren di Jawa. Pada usia 15 tahun, beliau menunaikan ibadah haji dan menetap di Mekkah selama lima tahun untuk memperdalam ilmu agama. Di sana, KH Ahmad Dahlan berinteraksi dengan ulama dari berbagai negara dan mempelajari pemikiran pembaruan Islam yang berkembang di dunia Muslim. Pengalaman inilah yang menumbuhkan kemampuannya menimbang tradisi dengan nalar kritis, sehingga kelak mampu merumuskan gagasan pendidikan Islam yang relevan dengan tantangan zaman.

foto KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah
KH Ahmad Dahlan

Pada awal abad ke-20, KH Ahmad Dahlan melihat keterbatasan sistem pendidikan tradisional yang hanya mengajarkan ilmu agama tanpa keterampilan praktis. Beliau memandang penting menggabungkan ilmu agama dengan pengetahuan umum agar umat Islam mampu bersaing di era modern. Pandangan ini menginspirasi pendirian Muhammadiyah pada 18 November 1912 di Yogyakarta.

Baca juga: Sejarah KH Hasyim Asy’ari dan Jejak Perjuangannya di Jombang

Lahirnya Organisasi Pendidikan Muhammadiyah

Muhammadiyah berdiri sebagai gerakan pembaruan yang memadukan pendidikan agama dan pendidikan umum. KH Ahmad Dahlan mendirikan sekolah-sekolah yang mengajarkan Al-Qur’an, hadits, bahasa Arab, serta ilmu pengetahuan modern seperti matematika, sejarah, dan ilmu alam. Langkah ini tergolong revolusioner pada masanya, karena mampu mematahkan pandangan bahwa pendidikan Islam harus terpisah dari ilmu duniawi. Istrinya, Siti Walidah, juga turut membersamai sepak terjang dakwah beliau dengan mendirikan organisasi perempuan Muhammadiyah bernama ‘Aisyiyah.

Selain itu, sistem pendidikan Muhammadiyah juga menekankan kedisiplinan, kebersihan, dan keteraturan administrasi sekolah. KH Ahmad Dahlan mengadopsi metode pengajaran yang lebih interaktif dibandingkan sistem pesantren tradisional pada masa itu. Hasilnya, lulusan sekolah Muhammadiyah tidak hanya menguasai ilmu agama tetapi juga memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk mengabdi kepada masyarakat.

Baca juga: Sejarah HOS Tjokroaminoto dan Perannya dalam Dakwah Islam

 

Warisan Pendidikan KH Ahmad Dahlan yang Terus Hidup

Kini, Muhammadiyah telah berkembang menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Ribuan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan panti asuhan menjadi bukti nyata keberlanjutan visi beliau. Prinsip amar ma’ruf nahi munkar yang beliau pegang teguh menjadi landasan seluruh kegiatan organisasi ini.

Perjuangan beliau membuktikan bahwa pendidikan adalah kunci kemajuan umat. Dengan memadukan nilai-nilai Islam dan ilmu pengetahuan, beliau berhasil membangun fondasi kuat bagi generasi penerus. Semangat pembaruan ini menjadi teladan agar pendidikan selalu relevan menghadapi tantangan zaman.

Mengulas Sejarah Jombang Kota Santri yang Bermakna

Mengulas Sejarah Jombang Kota Santri yang Bermakna

Sejarah Jombang Kota Santri bermula dari akhir abad ke-19. Saat itu, KH. Hasyim Asy’ari mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng pada tahun 1899. Pesantren ini menjadi titik awal kebangkitan pendidikan Islam modern di Jombang. Tidak lama kemudian, pesantren lain seperti Tambakberas, Darul Ulum Rejoso, dan Denanyar tumbuh subur. Masing-masing membawa misi yang sama, yaitu mencetak generasi berilmu dan berakhlak mulia.

Ketika fajar menyingsing di Jombang, suara lantunan ayat suci terdengar dari berbagai sudut kota. Dentingan bedug bersahutan, seolah mengabarkan kepada dunia bahwa Jombang bukan sekadar sebuah kabupaten di Jawa Timur, melainkan sebuah pusat peradaban Islam yang telah melahirkan banyak ulama besar.

Para santri berdatangan dari berbagai penjuru nusantara. Mereka belajar kitab kuning, murojaah hafalan Al-Qur’an, dan mendalami ajaran Islam di bawah bimbingan para kiai kharismatik. Kehidupan sederhana di pesantren membentuk karakter disiplin, sabar, dan tawadhu.

sejarah Jombang kota santri, pondok pesantren Jombang. Foto tulisan Jombang Santri di Alun-Alun Jombang sebagai ikon Kabupaten Jombang Jawa Timur
Ikon sejarah Jombang Kota Santri yang terletak di Alun-Alun Jombang

Dari Pondok Mengakar ke Masyarakat

Budaya religius pun meresap ke masyarakat Jombang. Tradisi tahlilan, manaqiban, hingga peringatan Maulid Nabi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Di pasar, di sawah, hingga di jalanan, nilai-nilai keislaman terasa kental. Bahkan, alumni pesantren Jombang banyak mendirikan pesantren baru di daerah asal mereka, sehingga pengaruh Jombang menyebar luas.

Peran ulama Jombang juga melampaui batas lokal. KH. Hasyim Asy’ari dan tokoh-tokoh pesantren lainnya turut memimpin perjuangan kemerdekaan Indonesia melalui dakwah dan pendidikan. Identitas keislaman yang kuat ini membuat Jombang dijuluki Kota Santri.

Baca juga: 7 Manfaat Mondok untuk Menciptakan Generasi Islami dan Mandiri

Hingga kini, sebutan itu tetap melekat. Pemerintah dan masyarakat bersama-sama menjaga warisan ini melalui perayaan Hari Santri, lomba MTQ, dan festival keagamaan. Setiap acara menjadi pengingat bahwa Jombang memiliki sejarah panjang dalam membina umat.

Sejarah Jombang Kota Santri bukan hanya deretan tanggal dan nama. Ia adalah kisah tentang ketekunan para kiai, semangat para santri, dan kekuatan sebuah kota yang menjadikan agama sebagai napas kehidupan.

Bagi siapa pun yang berkunjung, Jombang menawarkan lebih dari sekadar wisata religi. Ia menawarkan pelajaran hidup: bahwa ilmu dan akhlak adalah pondasi peradaban yang sesungguhnya.

Bagi Anda yang ingin merasakan suasana khas pendidikan di Jombang, Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah hadir sebagai pilihan tepat. Pesantren khusus putri ini fokus pada pembinaan hafalan Al-Qur’an dengan lingkungan yang nyaman, program terstruktur, serta bimbingan guru berpengalaman.

Motivasi Penghafal Al-Qur’an: Hafal 18 Juz di Usia 14 Tahun

Motivasi Penghafal Al-Qur’an: Hafal 18 Juz di Usia 14 Tahun

Al-Muanawiyah – Di usia yang masih sangat muda, Syafa’ah Putri Rahmawan sudah memberikan motivasi penghafal Al-Qur’an yang menginspirasi. Santri asal Lamongan ini kini duduk di kelas 9 SMP dan telah menghafal 18 juz Al-Qur’an. Perjalanan ini dimulai dua tahun lalu, ketika ia memutuskan untuk mondok di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah Jombang.

Sebelum mondok, Syafa’ah sudah menghafal 2 juz. Motivasi awalnya datang dari acara hafidz cilik di televisi. Ia kagum melihat anak-anak seusianya mampu menghafal Al-Qur’an. Keinginan itu semakin kuat ketika menemukan pondok khusus putri dengan biaya terjangkau.

gambar santri putri yatim di Pondok Pesantren Tahfidz Putri Al Muanawiyah Jombang
Syafa’ah, sosok santriwati pondok tahfidz putri Al Muanawiyah Jombang yang memotivasi penghafal Al-Qur’an

Perjuangan terbesarnya adalah melawan rasa malas. Target pribadinya satu juz per bulan. “Kalau mulai malas, ingat target. Jalani terus aja, nanti perlahan akan sampai,” kenangnya, mengulang pesan motivasi dari salah satu pembimbing. Hidup di pondok juga membuatnya merasa tidak sendirian, karena dikelilingi teman seperjuangan dan rutin mendapatkan motivasi penghafal Al-Qur’an dari ustadz dan ustadzah.

Baca juga: Tips Murojaah Hafalan Al-Qur’an Ala Pesantren Tahfidz

Syafa’ah juga aktif sebagai petugas ubudiyah dan sekretaris kamar. Meski pernah menghadapi konflik kecil dalam pertemanan, hal itu tak sampai mengganggu hafalan. Kehilangan sosok ayah di akhir kelas 6 SD justru menjadi titik tekadnya untuk lebih bersungguh-sungguh, apalagi keluarga mendukung penuh langkahnya.

Tips hafalan versinya sederhana: sering-sering nderes. Setoran setelah Subuh, murojaah sore, dan mengulang sebelum tidur. Target setoran satu halaman, murojaah dua halaman. Ia juga menyukai program Jumat malam yang beragam—dari manakiban, diba’an, hingga sesi motivasi—yang menjadi penyemangat tambahan.

Baca juga: 5 Alasan Kenapa Kita Harus Menghafal Al-Qur’an

Menjelang Wisuda Tahfidz 2025

Syafa’ah adalah satu dari 20 an santri yang akan mengikuti wisuda tahfidz 2025 dalam kategori wisuda binadzor. Kategori tersebut diperuntukkan bagi santri yang telah menuntaskan membaca Al-Qur’an 30 juz selama mondok di PPTQ Al Muanawiyah Jombang. Tidak hanya telah selesai membaca 30 juz, bacaannya juga harus dipastikan benar secara tajwid, makhorijul huruf, dan indikator pelafalan lainnya. Berikutnya, santri juga harus lolos tes dan menyetorkan hafalan surat dan doa-doa penting.

Menjelang Wisuda Tahfidz 2025, ia mempersiapkan diri dengan mempelajari tajwid, makhorijul huruf, serta menuntaskan hafalan surat-surat penting seperti Al-Kahfi dan Ar-Rahman. “Rasanya senang sekali bisa sampai di titik ini,” ungkapnya penuh syukur.

Untuk teman-teman yang sedang berjuang, Syafa’ah berpesan,

“Tetap semangat, kita sama-sama berjuang sampai tujuan.”

Sebuah pesan sederhana, namun sarat makna bagi siapa pun yang ingin menapaki jalan mulia para penghafal Al-Qur’an. Baca kisah inspiratif dari ketua OSIS penghafal Al-Qur’an.

Mbah Bolong dan Warga Meriahkan Kajian Milad ke-5

Mbah Bolong dan Warga Meriahkan Kajian Milad ke-5

Mbah Bolong hadir sebagai pemateri kajian milad ke-5, Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Al Muanawiyah Jombang. Acara tersebut dilaksanakan pada Jumat malam, 8 Agustus 2025. Kegiatan berlangsung di halaman pondok mulai pukul 19.15 hingga 20.35 WIB, dengan dihadiri warga sekitar.

KH Nur Hadi — atau yang akrab disapa Mbah Bolong — menyampaikan pesan penuh makna tentang pentingnya mensyukuri nikmat, khususnya nikmat lima tahun berdirinya pondok ini. Beliau menekankan bahwa betapa beruntungnya (bejo) orang yang hidupnya dihinggapi Al-Qur’an.

Dalam kajiannya, KH Nur Hadi menguraikan bahwa keberkahan Al-Qur’an datang melalui jalur mulia. Dibawa oleh malaikat terbaik, Malaikat Jibril; diambil dan disebarkan oleh manusia terbaik, Nabi Muhammad ﷺ; pada bulan terbaik, Ramadhan. “Semoga pondok ini bejo, keluarga ini bejo, dan dusun ini bejo karena Qur’an,” ujar beliau, seraya berharap momentum milad ini membawa keberkahan dan barokah bagi semua.

Kajian Mbah Bolong, KH Nur Hadi. Pondok Pesantren Tahfidz Putri Al Muanawiyah Jombang. Kajian warga
Kajian Mbah Bolong semarakkan milad ke-5 PPTQ Al Muanawiyah Jombang

Lebih lanjut, beliau mengajak jamaah memahami makna barokah. “Barokah itu apa? Tambah apik, manfaat,” tuturnya. Artinya, keberkahan adalah sesuatu yang terus bertambah kebaikannya dan memberikan manfaat luas bagi sekitar.

Acara ini dihadiri oleh sekitar 150 undangan yang merupakan warga dari kurang lebih 3 RT di sekitar pondok, dengan jumlah hadirin mencapai sekitar 140 orang. Suasana penuh kekeluargaan dan kehangatan terlihat jelas sepanjang acara, menguatkan ikatan antara pondok dan masyarakat sekitar.

Baca juga: Musabaqoh Syahril Qur’an Meriahkan Milad ke-5 Al Muanawiyah

Pengasuh pondok, A. Mu’ammar Sholahuddin, S. Pd, M. Pd, turut memberikan sambutan dan menyampaikan rasa syukur atas perjalanan lima tahun ini.

“5 tahun Al-Muanawiyah ini sudah luar biasa memberikan banyak manfaat besar untuk walisantri, untuk santri, untuk guru dan warga sekitar. Semoga kebermanfaatan ini langgeng sampai nanti hingga mati,” ujarnya.

Kajian ini adalah rangkaian acara milad yang tak hanya berisi perayaan, tetapi juga penguatan nilai-nilai keislaman. Dengan kehadiran warga, santri, dan pengasuh, kajian Mbah Bolong menjadi momentum mempererat ukhuwah. Selain itu, kegiatan ini turut meneguhkan komitmen bersama dalam membumikan Al-Qur’an di tengah masyarakat.

Saksikan rekaman ulang kajian melalui kanal YouTube Al-Muanawiyah.

Puasa Ayyamul Bidh: Definisi dan Manfaatnya

Puasa Ayyamul Bidh: Definisi dan Manfaatnya

Al-Muanawiyah – Puasa ayyamul bidh adalah puasa sunnah yang dilakukan setiap bulan Hijriah pada tanggal 13, 14, dan 15. Kata “ayyamul bidh” secara harfiah berarti “hari-hari putih”, karena pada malam-malam tersebut bulan purnama bersinar terang di langit.

Puasa ini memiliki keutamaan yang besar dan dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ dalam banyak hadits. Selain sebagai bentuk ibadah dan pengendalian diri, puasa ini juga membawa banyak manfaat spiritual dan kesehatan.

Dalil tentang Puasa Ayyamul Bidh

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

“Puasa tiga hari setiap bulan seperti puasa sepanjang tahun.”
(HR. Al-Bukhari no. 1976, Muslim no. 1159)

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ memberikan wasiat kepada sahabat Abu Hurairah:

“Kekasihku (Rasulullah ﷺ) mewasiatkan kepadaku tiga hal: puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat dhuha, dan shalat witir sebelum tidur.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan berbagai riwayat, puasa tiga hari itu dilaksanakan pada hari ke-13, 14, dan 15 dalam kalender Hijriah.

puasa ayyamul bidh, bulan purnama penuh yang menggambarkan puasa 3 hari di tengah bulan
Definisi dan manfaat puasa ayyamul bidh

Baca juga: Keutamaan Shalat Tepat Waktu dan Dampaknya pada Kehidupan

 

Keutamaan dan Manfaat Puasa Tiga Hari Setiap Tengah Bulan Hijriah

  1. Seperti puasa sepanjang tahun

    Dalam hadits disebutkan bahwa siapa yang puasa tiga hari setiap bulan, maka seakan-akan ia puasa sepanjang tahun, karena satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat.

    “Tiga hari dalam setiap bulan sama dengan puasa sepanjang tahun.”
    (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    Karena setiap amal baik dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat, maka 3 hari puasa x 10 = 30 hari, yang artinya seperti puasa sebulan penuh.

    2. Melatih Konsistensi Ibadah

    Puasa ini menjadi latihan menjaga komitmen dan memperkuat disiplin spiritual. Bagi yang belum terbiasa puasa sunnah Senin-Kamis, ayyamul bidh bisa jadi awal yang ringan dan teratur.

    3. Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental

    Dari sisi medis, puasa secara berkala membantu sistem detoksifikasi tubuh dan memperbaiki sistem metabolisme. Banyak studi menunjukkan bahwa puasa dapat meningkatkan fokus, kualitas tidur, dan memperbaiki suasana hati.

    4. Penyegar Ruhani di Tengah Kesibukan Dunia

    Dengan menjadikan tiga hari ini sebagai momen khusus dalam setiap bulan, seorang Muslim bisa “berhenti sejenak” dari rutinitas duniawi dan mengisi kembali spiritualitasnya.

Kapan Puasa Ayyamul Bidh Dilaksanakan?

Puasa ini dilakukan setiap bulan Hijriah pada tanggal 13, 14, dan 15. Misalnya, jika 1 Muharram jatuh pada tanggal 7 Juli, maka puasa pada bulan tersebut akan jatuh pada 19, 20, dan 21 Juli (disesuaikan dengan penanggalan Hijriah).

Mari jadikan puasa ini sebagai amalan rutin setiap bulan, sebagai bentuk cinta kita kepada sunnah Rasulullah ﷺ sekaligus upaya memperbaiki diri secara ruhiyah dan jasmaniah.

Kisah Penghafal Al-Qur’an Gaza yang Menginspirasi dari Rashad

Kisah Penghafal Al-Qur’an Gaza yang Menginspirasi dari Rashad

Di tengah gempuran konflik dan keterbatasan hidup, Gaza tidak pernah kehilangan cahaya Al-Qur’an. Justru dari tanah yang terluka itu, lahir banyak hafiz dan hafizah muda yang membuktikan bahwa firman Allah bisa menetap di dada siapa saja, tak terbatas oleh usia, tempat, atau keadaan. Salah satu kisah penghafal Al-Qur’an Gaza yang menginspirasi berasal dari Rashad Nimr Abu Ras, seorang anak yang berhasil menghafal 30 juz Al-Qur’an di usia 7 tahun.

Menghafal di Tengah Suara Ledakan

Kisah ini bukan sekadar kisah pencapaian biasa. Rashad hidup dalam lingkungan yang serba terbatas. Gaza, seperti yang dunia tahu, adalah wilayah yang setiap hari menghadapi blokade, kelangkaan listrik, dan ancaman serangan. Namun, Rashad tidak menyerah dengan keadaan. Sejak kecil, ia sudah dibiasakan menghadiri halaqah tahfidz di masjid lingkungan tempat tinggalnya. Setiap hari, ia menyetorkan hafalannya kepada para ustadz, meski kadang harus menunggu giliran tanpa fasilitas layak.

Ia tidak memiliki aplikasi canggih, tidak ada rekaman murotal profesional di rumahnya. Yang ia miliki hanyalah semangat dan kesungguhan yang dibimbing oleh cinta kepada Al-Qur’an. Dalam waktu singkat, ia mampu menyetorkan hafalan 30 juz dan lulus dalam ujian tasmi’ yang dihadiri oleh para penguji lokal.

“Rashad adalah bukti nyata bahwa siapa pun bisa menjadi penghafal jika sungguh-sungguh. Bahkan dari Gaza yang penuh luka, kami bisa melahirkan generasi Al-Qur’an,” ungkap gurunya dalam wawancara bersama IQNA (International Quran News Agency).

Rashad Nimr Abu Ras hafidz muda dari gaza Palestina, kisah motivasi penghafal Al-Qur'an di tengah perang dan konflik
Rashad Nimr Abu Ras, kisah penghafal Al-Qur’an Gaza (iqna.ir)

Gaza dan Semangat Generasi Qur’ani

Kisah penghafal Al-Qur’an Gaza seperti Rashad bukanlah satu-satunya. Ada banyak anak-anak lain yang mengikuti jejaknya. Di tengah keterbatasan, mereka mengisi hari-hari dengan murojaah, memperbaiki tajwid, dan saling menyimak satu sama lain.

Fenomena ini tidak lepas dari budaya masyarakat Gaza yang sangat menjunjung tinggi pendidikan Qur’ani. Banyak orangtua yang menjadikan tahfidz sebagai prioritas pendidikan anak. Bahkan beberapa lembaga tahfidz di Gaza memiliki program khusus bagi anak-anak korban perang untuk mendapatkan ketenangan melalui bacaan Al-Qur’an.

Baca juga: Sejarah Masjid Al Aqsa sebagai Kiblat Pertama Umat Islam

Bagi Rashad, menghafal bukan hanya untuk mendapatkan pengakuan, tetapi menjadi sumber kekuatan mental di tengah ujian hidup. Ia merasa lebih tenang saat membaca ayat-ayat Allah, terutama ketika harus menjalani hari-hari di bawah ancaman konflik berkepanjangan.

Pelajaran untuk Kita di Negeri Damai

Apa yang bisa kita pelajari dari kisah penghafal Al-Qur’an Gaza ini? Salah satu hikmah terbesar adalah bahwa menghafal bukan soal waktu luang atau fasilitas, tetapi soal niat dan istiqamah. Rashad dan anak-anak Gaza lainnya menunjukkan bahwa keterbatasan justru bisa menjadi pendorong lahirnya keberkahan. Bukan hanya di Gaza, kisah ini seharusnya memotivasi kita semua—terutama di negeri yang lebih damai—untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan menanamkan Al-Qur’an dalam hati.

Baca juga: Motivasi Penghafal Al-Qur’an: Hafal 18 Juz di Usia 14 Tahun

Jika anak-anak di Gaza bisa menghafal di tengah sirine dan runtuhan bangunan, lalu apa alasan kita yang hidup di tempat aman untuk tidak meluangkan waktu membaca dan menghafal ayat-ayat suci?

Buah-Buahan yang Disebut Al-Qur’an dan Manfaatnya

Buah-Buahan yang Disebut Al-Qur’an dan Manfaatnya

Al-Qur’an bukan hanya kitab petunjuk, tetapi juga mengandung banyak isyarat tentang ciptaan Allah yang bermanfaat bagi manusia, termasuk buah-buahan. Tidak sedikit buah-buahan yang Allah sebutkan langsung dalam ayat-ayat-Nya, baik sebagai simbol kenikmatan surga maupun anjuran konsumsi yang sehat di dunia. Mengetahui buah-buahan yang disebut Al Quran dapat menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk menjaga kesehatan dan mengenal lebih dalam makna penciptaan-Nya.

buah-buahan yang disebut al quran mencakup pisang, anggur, kurma, zaitun, tin yang bermanfaat bagi kesehatan
Sebagian ilustrasi buah-buahan yang disebut Al Quran

Buah-Buahan yang Disebut Al Quran

1. Buah Tin (QS. At-Tin: 1)

Allah membuka surah At-Tin dengan sumpah: “Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun…”
Buah tin kaya akan serat, antioksidan, dan mineral. Dalam ilmu kedokteran modern, buah ini dikenal membantu melancarkan pencernaan, menjaga kesehatan jantung, dan menstabilkan gula darah.

2. Buah Zaitun (QS. An-Nur: 35)

Zaitun disebut sebagai pohon yang diberkahi. Minyak zaitun dikenal memiliki kandungan lemak tak jenuh yang baik untuk kesehatan jantung, anti-inflamasi, dan menjaga daya tahan tubuh.

3. Anggur (QS. Yasin: 34, QS. An-Nahl: 11)

Anggur adalah buah surga yang juga dikonsumsi di dunia. Mengandung vitamin C, K, dan antioksidan, anggur membantu menjaga sistem imun, kesehatan otak, dan jantung.

4. Kurma (QS. Maryam: 25, QS. Al-An’am: 99)

Kurma sangat dianjurkan dalam Islam, terutama saat berbuka puasa. Kandungan glukosa dan seratnya sangat bermanfaat sebagai sumber energi instan, mencegah sembelit, dan menjaga stamina.

5. Delima (QS. Ar-Rahman: 68, QS. Al-An’am: 99)

Buah delima disebut sebagai buah surga. Dalam dunia kesehatan, delima dikenal menyehatkan jantung, menurunkan tekanan darah, dan mengandung antioksidan tinggi yang mencegah kerusakan sel.

6. Pisang (QS. Al-Waqi’ah: 29 – “thalhin mandūd”)

Menurut sebagian ulama tafsir, thalḥan diartikan sebagai pisang. Pisang kaya akan potasium dan serat yang bermanfaat untuk kesehatan pencernaan dan sistem saraf.

Dengan mengetahui buah-buahan yang disebut Al Quran, kita dapat lebih mencintai ciptaan Allah dan menjaga kesehatan tubuh yang diamanahkan kepada kita. Mengajarkan anak-anak tentang buah-buahan ini juga bisa menjadi cara menyenangkan untuk memperkenalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Sekaligus dapat meningkatkan kesehatan tubuh jika mengonsumsinya dalam jumlah yang cukup dan rutin.

Mari jadikan pola makan sehat sebagai bagian dari ibadah, karena menjaga tubuh termasuk dalam bentuk rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan.