Sejarah Banjari, Mengenal Akar Seni Sholawat yang Merakyat

Sejarah Banjari, Mengenal Akar Seni Sholawat yang Merakyat

Masyarakat Indonesia tentu sudah tidak asing lagi dengan lantunan sholawat yang diiringi tabuhan rebana. Seni ini kita kenal dengan sebutan Al-Banjari atau Banjari. Namun, tahukah Anda bagaimana sejarah banjari ini bermula hingga menjadi sangat populer di pesantren-pesantren tanah air? Memahami sejarahnya akan membuat kita lebih menghargai setiap ketukan yang tercipta dalam seni Islami ini.

Secara umum, seni banjari merupakan bagian dari tradisi seni rebana. Tetapi, ia memiliki ciri khas tersendiri dalam teknik pukulan dan variasi suaranya. Berikut adalah ulasan mendalam mengenai perjalanan dan sejarah banjari di Nusantara.

1. Asal-Usul Nama dan Pengaruh Daerah

Berdasarkan penamaan, banyak ahli sejarah berpendapat bahwa sejarah banjari berkaitan erat dengan daerah Kalimantan Selatan, khususnya suku Banjar. Meskipun alat musik rebana aslinya berasal dari Timur Tengah, masyarakat di Kalimantan berhasil mengembangkan teknik pukulan yang unik. Oleh karena itu, aliran musik ini kemudian disebut dengan nama “Banjari” untuk membedakannya dengan jenis rebana lain seperti Al-Habsy atau terbangan klasik.

Selain itu, penyebaran seni ini terjadi secara masif melalui jalur dakwah para ulama. Para kiai dan santri membawa alat musik ini ke pulau Jawa, sehingga menjadikannya sangat populer di lingkungan pesantren Jawa Timur.

gambar santri putri pondok tahfidz jombang Al Muanawiyah bermain banjari
Potret tampilan banjari PPTQ Al Muanawiyah dalam perayaan Isra’ Mi’raj

2. Karakteristik Alat Musik dan Teknik Pukulan

Dalam sejarah banjari, alat musik utamanya terdiri dari empat buah terbang (rebana) dan satu buah bass. Namun, kekuatan utama seni ini terletak pada variasi pukulan yang saling mengisi. Sebagai contoh, terdapat pukulan “lanangan” (laki-laki) dan “wedokan” (perempuan) yang berpadu membentuk harmoni yang sangat cepat dan dinamis.

Oleh sebab itu, seni banjari sering dianggap sebagai seni sholawat yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Santri harus mampu menjaga tempo yang sangat cepat tanpa kehilangan sinkronisasi dengan pemukul lainnya. Jadi, seni ini tidak hanya mengasah kepekaan telinga, tetapi juga kerja sama tim yang luar biasa.

Baca juga: Sejarah Hadrah: Asal-Usul, Persebaran, dan Tokoh yang Berperan

3. Perkembangan Banjari di Era Modern

Dewasa ini, sejarah banjari terus mencatat babak baru melalui festival dan kompetisi antarpelajar. Selain itu, kesenian ini sering digunakan untuk mengiringi perayaan hari besar Islam, seperti Isra’ Mi’raj. Meskipun tetap mempertahankan pakem klasik, para praktisi banjari mulai menambahkan variasi vokal yang lebih kompleks. Selanjutnya, seni ini bukan lagi sekadar hobi di pesantren, melainkan sudah menjadi bagian dari identitas budaya Islam di Indonesia.

Di tempat-tempat seperti SMPQ dan MA Qur’an Al-Mu’awanawiyah Jombang, grup banjari menjadi salah satu ekstrakurikuler unggulan. Dengan demikian, para santriwati dapat mensyiarkan cinta kepada Rasulullah SAW melalui nada-nada yang indah dan penuh energi.

Secara keseluruhan, sejarah banjari menunjukkan betapa kreatifnya umat Islam dalam melakukan asimilasi budaya. Kita dapat menggunakan alat musik sebagai sarana dakwah yang sangat efektif untuk merangkul generasi muda. Oleh karena itu, mari kita terus melestarikan seni banjari ini sebagai bagian dari kekayaan tradisi Islam Nusantara yang membanggakan.

Jadi, apakah Anda tertarik untuk mendalami seni banjari atau mendengarkan lantunan sholawat yang menenangkan hati ini?

Jejak Terbang Jidor dalam Perkembangan Islam di Mataraman

Jejak Terbang Jidor dalam Perkembangan Islam di Mataraman

Tidak banyak yang tahu bahwa di balik dentuman ritmis terbang jidor tersimpan sejarah dakwah yang strategis dari para wali dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa. Di wilayah Mataraman, alat musik ini bukan sekadar pengiring selawatan atau kirab desa. Tetapi jejak nyata bagaimana budaya Timur Tengah diakulturasikan untuk mendekatkan masyarakat kepada ajaran Islam. Konon, beberapa anggota Walisongo memperkenalkan bentuk awal terbang dan jidor sebagai media syiar. Membungkus pesan dakwah dalam seni yang mudah diterima masyarakat. Namun bagaimana kesenian ini bisa menyebar begitu luas? Siapa ulama yang pertama kali membawanya ke Mataraman, dan bagaimana ia bertahan melewati perubahan zaman? Artikel ini akan membahas selengkapnya.

Jejak Dakwah Islam di Wilayah Mataraman

Wilayah Mataraman memiliki sejarah panjang dalam menerima dakwah Islam, dan salah satu media budaya yang ikut membentuk perjalanan itu adalah terbang jidor. Tradisi tabuhan ini awalnya merupakan perkembangan dari rebana besar (jidr dalam bahasa Arab berarti “gendang besar”). Dibawa para mubaligh dari Timur Tengah dan Gujarat sejak abad ke-14 hingga ke-16. Saat itu, jalur perdagangan Laut Jawa ramai dan kegiatan dakwah berlangsung bersamaan dengan interaksi budaya. Ketika para ulama dari jaringan Walisongo mulai memperluas pengajaran Islam ke wilayah pedalaman Jawa, mereka menggunakan alat musik pukul. Termasuk di dalamnya bentuk awal jidor, untuk menarik perhatian masyarakat dan mempermudah penyampaian pesan keagamaan.

gamabr pedagang Gujarat, cikal bakal persebaran Islam di Nusantara
Para pedagang Gujarat yang turut serta dalam sejarah masuknya Islam di Nusantara (foto: tugassekolah.com)

Dalam catatan tradisi lisan masyarakat Mataraman, terbang jidor mulai dikenal luas pada masa pengaruh Sunan Kalijaga dan para wali penerusnya. Walaupun tidak ada tanggal yang sangat pasti, banyak peneliti seni Jawa memperkirakan terbang jidor mulai menguat sebagai tradisi lokal sekitar abad ke-16 hingga awal abad ke-17. Saat pesantren dan komunitas santri–kiai mulai tumbuh di wilayah Kediri, Nganjuk, Madiun, hingga Ponorogo. Para kiai keliling membawa jidor bersama syair puji-pujian, sehingga seni ini menjadi bagian dari metode dakwah santun yang diteruskan hingga generasi selanjutnya.

Baca juga: Sejarah Hadrah: Asal-Usul, Persebaran, dan Tokoh yang Berperan

Warisan Budaya Terbang Jidor yang Tetap Lestari

Seiring meluasnya jaringan pesantren Mataraman pada abad ke-18 hingga ke-19, terbang jidor berkembang menjadi kesenian komunal. Ia tidak hanya hadir dalam kegiatan dakwah, tetapi juga dalam upacara adat, selametan desa, dan peringatan Maulid. Tabuhannya yang ritmis membuat masyarakat berkumpul, lalu di sela-sela pertunjukan itulah ajaran moral Islam disampaikan. Dengan demikian, terbang jidor berfungsi sebagai jembatan budaya antara nilai-nilai Islam dengan karakter masyarakat Jawa yang lekat dengan seni dan ritual.

Hingga kini, beberapa pesantren dan kelompok seni tradisi tetap melestarikan terbang jidor. Walaupun tidak semasif masa lampau, seni ini masih menjadi simbol cara dakwah. Pesannya mengedepankan kedamaian, kreativitas, dan penghargaan terhadap kearifan lokal. Melalui warisan budaya ini, kita dapat melihat bagaimana Islam di Mataraman tidak hadir secara kaku, melainkan tumbuh dalam irama, bersanding dengan budaya, bukan menggusurnya.