Di antara nama besar dalam sejarah perkembangan tasawuf di Nusantara, Syekh Abdul Karim Banten menempati posisi yang sangat penting. Beliau dikenal sebagai penyebar Tarekat Qadiriyah pada abad ke-18, khususnya di wilayah Banten, Jawa, hingga beberapa pusat keilmuan di Nusantara. Pengaruhnya tidak hanya bertahan pada masa hidupnya, tetapi juga diteruskan oleh para murid yang kemudian membentuk jaringan pesantren yang kuat.
Latar Belakang
Syekh Abdul Karim Banten adalah ulama asal Banten yang hidup pada abad ke-18 dan menuntut ilmu di Makkah. Pada masa itu, banyak ulama Nusantara bermukim di Haramain untuk memperdalam fikih, hadis, dan tasawuf. Di Makkah pula beliau mendalami tarekat dan mendapatkan ijazah untuk mengajarkan beberapa disiplin ilmu, termasuk ajaran Tarekat Qadiriyah.
Menurut sejumlah catatan sejarah pesantren, beliau merupakan salah satu murid Syekh Abdul Wahhab Bugis dan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari ketika mereka sama-sama menuntut ilmu di Timur Tengah. Lingkungan keilmuan yang kuat inilah yang melahirkan generasi ulama Nusantara berpengaruh pada masa itu.

Peran Syekh Abdul Karim Banten dalam Penyebaran Tarekat Qadiriyah
Tarekat Qadiriyah merupakan salah satu tarekat tertua dan berasal dari ajaran Syekh Abdul Qodir Jaelani di Baghdad. Pada abad ke-18, ajaran ini berkembang cepat di Nusantara karena dibawa oleh para ulama yang berinteraksi langsung dengan pusat-pusat keilmuan Timur Tengah.
Beliau menjadi tokoh penting dalam penyebaran tarekat ini melalui beberapa langkah berikut.
1. Mengajarkan Qadiriyah sepulang dari Haramain
Setelah kembali ke Nusantara, beliau mulai mengajarkan wirid dan suluk Qadiriyah kepada para santri dan ulama lokal. Metode beliau dikenal sistematis dan mengikuti disiplin spiritual yang diwarisi dari para masyayikh di Makkah.
2. Membentuk jaringan ulama dan pesantren
Beberapa murid Syekh Abdul Karim Banten kelak menjadi penyebar tarekat di daerah mereka masing-masing. Melalui jaringan ini, ajaran Qadiriyah menyebar ke Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga sebagian wilayah Sumatra.
3. Mewariskan disiplin tasawuf yang moderat
Ajaran beliau dikenal sejalan dengan tradisi pesantren: menyeimbangkan antara syariat, ibadah, dan akhlak. Pendekatan ini membantu tarekat diterima oleh masyarakat luas tanpa resistensi budaya.
Baca juga: Pondok Jombang dan Dakwah Moderat Aswaja
Pengaruh dalam Tradisi Keilmuan Nusantara
Pengaruh beliau tidak hanya terbatas pada bidang tasawuf. Syekh Abdul Karim Banten juga berperan dalam:
1. Penguatan tradisi pesantren
Ajaran-ajaran beliau memperkaya kurikulum pesantren pada masa itu, terutama dalam bidang akhlak dan pembinaan spiritual.
2. Melahirkan generasi ulama
Banyak muridnya yang kemudian menjadi ulama berpengaruh di daerah masing-masing. Hal ini membuat ajaran Qadiriyah tersebar secara organik dari satu pesantren ke pesantren lain.
3. Membawa dinamika baru dalam perkembangan tasawuf
Pada abad ke-18, tasawuf di Nusantara mengalami fase penguatan doktrin dan kelembagaan. Beliau adalah salah satu tokoh yang memberi landasan kuat bagi perkembangan tersebut.
Hingga kini, pengaruh Syekh Abdul Karim Banten tetap dirasakan melalui:
-
amalan wirid dan suluk Tarekat Qadiriyah yang masih dipraktikkan,
-
sanad keilmuan di sejumlah pesantren yang merujuk pada ajaran beliau,
-
literatur tasawuf klasik yang memuat penjelasan tentang tarekat yang beliau sebarkan.
Warisan ini menjadikan beliau tokoh penting dalam perjalanan spiritual umat Islam di Indonesia.




