Hikmah Kisah Iman Nabi Nuh AS dari Membangun Kapal

Hikmah Kisah Iman Nabi Nuh AS dari Membangun Kapal

Iman Nabi Nuh AS menjadi contoh nyata tentang bagaimana keyakinan mutlak kepada Allah melampaui segala batasan logika manusia. Sebagai seorang Nabi Ulul Azmi, beliau menerima tugas yang sangat berat dan tampak mustahil bagi akal sehat kaumnya pada masa itu. Beliau harus membangun sebuah kapal raksasa di atas bukit yang gersang, jauh dari perairan mana pun.

Kisah ini memberikan pelajaran berharga bagi kita di masa modern tentang saat yang tepat untuk menundukkan logika di bawah otoritas iman.

Menantang Logika Manusia dengan Ketaatan

Setelah berdakwah ratusan tahun tanpa banyak pengikut, Nabi Nuh menerima perintah Allah untuk membangun bahtera (al-fulk). Tantangannya bukan hanya ukuran kapal, melainkan lokasinya. Tidak ada sungai besar, laut, maupun tanda-tanda banjir yang akan datang di wilayah tersebut.

Setiap hari, para pemuka kaum melewati tempat Nabi Nuh bekerja dan melontarkan ejekan pedas. Mereka berkata, “Wahai Nuh, kemarin engkau mengaku nabi, sekarang engkau beralih profesi menjadi tukang kayu?” Namun, iman Nabi Nuh AS menjaga hatinya tetap teguh. Beliau membalas ejekan tersebut dengan tenang dan meyakini bahwa Allah akan menunjukkan kebenaran-Nya saat air bah benar-benar tiba.

Baca juga: Pelajaran Kesabaran Nabi Nuh AS Ditolak 950 Tahun

Menempatkan Ilmu Allah di Atas Akal Sehat

Secara logika, manusia memandang pembangunan kapal di tempat tanpa air sebagai kesia-siaan belaka. Namun, kacamata iman memandang perintah Allah sebagai kepastian yang jauh lebih nyata daripada hukum alam.

Ada tiga hal yang kita pelajari dari iman Nabi Nuh AS terkait prinsip ini:

  1. Iman Melihat Masa Depan: Logika bekerja berdasarkan kejadian masa lalu, sementara iman bersandar pada janji Allah yang pasti terwujud.

  2. Ketaatan Tanpa Syarat: Nabi Nuh tidak mempertanyakan alasan pemilihan lokasi pembangunan kapal. Beliau segera mengeksekusi perintah tersebut dengan penuh kesungguhan.

  3. Persiapan Dini: Beliau membangun kapal saat cuaca masih cerah. Hal ini mengajarkan kita untuk mengumpulkan amal shalih sebelum badai ujian hidup benar-benar menerjang.

gambar sedia payung sebelum hujan ilustrasi hikmah iman nabi Nuh AS
Ilustrasi hikmah kisah Nabi Nuh AS, melaksanakan perintah sebelum bencana tiba (sumber: freepik)

Kemenangan Iman yang Membungkam Keraguan

Ketika kapal selesai, Allah menurunkan perintah-Nya. Langit mencurahkan air dan bumi memancarkan mata air yang dahsyat. Logika kaum Nabi Nuh yang merasa aman di puncak gunung seketika runtuh. Gunung yang mereka anggap sebagai pelindung terbaik ternyata tidak mampu membendung kuasa Allah.

Pada momen inilah iman Nabi Nuh AS membuktikan kebenarannya secara mutlak. Kapal yang semula menjadi bahan tertawaan justru menjelma menjadi satu-satunya sarana keselamatan. Peristiwa ini menunjukkan bahwa keselamatan hanya berpihak pada mereka yang taat, meski ketaatan tersebut sering mendapat pandangan sebelah mata dari dunia.

Baca juga: Hadits Arbain ke-2: Makna Islam, Iman, dan Ihsan

Hikmah: Menghidupkan Iman di Tengah Dunia Modern

Sering kali, kita merasa ragu menjalankan prinsip agama karena takut terlihat tertinggal atau tidak logis di mata lingkungan. Melalui iman Nabi Nuh AS, kita belajar bahwa memegang teguh kebenaran adalah sebuah kemuliaan sejati.

Percayalah pada janji Allah dan teruslah membangun “bahtera” ketaatanmu, meskipun orang lain tidak melihat tanda-tanda banjir di depan mata. Karena pada akhirnya, hanya iman yang mampu membawa kita berlabuh di pantai keselamatan yang hakiki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *