Peristiwa agung di atas bukit Jabal Nur merupakan momentum paling sakral yang mengubah peta peradaban manusia secara total. Di gua yang sunyi tersebut, Nabi Muhammad SAW menerima ketetapan langit untuk mengemban amanah sebagai utusan terakhir Allah SWT. Oleh karena itu, setiap muslim wajib memahami sejarah mengenai wahyu pertama Rasulullah sebagai fondasi keimanan mereka. Kisah yang sarat akan ketegangan spiritual ini memberikan gambaran jelas tentang awal mula Al-Qur’an diturunkan ke dunia.
Sebelum mengemban tugas kerasulan, Nabi memang sering memisahkan diri dari kehidupan sosial masyarakat Makkah yang penuh maksiat. Beliau memilih melakukan tahannuts atau merenung di dalam Gua Hira demi mencari ketenangan jiwa dan kebenaran sejati.
Turunnya Wahyu Pertama di Gua Hira
Ketika Nabi menginjak usia genap empat puluh tahun, datanglah momen yang menjadi puncak pencarian spiritual beliau tersebut. Pada malam hari di bulan Ramadhan, sosok makhluk surgawi yang sangat megah tiba-tiba menampakkan diri di hadapan Nabi. Sosok penjemput wahyu tersebut tidak lain adalah Malaikat Jibril yang membawa firman suci dari Allah SWT.
Baca juga: Tips Hafalan Al-Qur’an Mandiri untuk Pemula
Malaikat Jibril langsung memegang dan memeluk tubuh Nabi dengan sangat erat sebanyak tiga kali hingga beliau merasa kepayahan. Setiap kali melepaskan pelukan, Malaikat Jibril selalu melontarkan satu perintah singkat yang sama, yaitu “Iqra!” (Bacalah!). Selain itu, Rasulullah SAW yang tidak bisa membaca ataupun menulis selalu menjawab dengan tubuh gemetar, “Aku tidak bisa membaca.”
Setelah dekapan yang ketiga, Malaikat Jibril kemudian membacakan lima ayat awal dari Surat Al-Alaq di hadapan beliau. Kelima ayat inilah yang secara resmi menjadi wahyu pertama Rasulullah sekaligus menandai dimulainya era kenabian dalam sejarah Islam.

Landasan Dalil Shahih Berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits
Kisah luar biasa mengenai awal mula kerasulan ini bersandar sangat kuat pada dalil-dalil otentik yang tidak terbantahkan. Berikut adalah landasan dalil dari Al-Qur’an dan teks Hadits Shahih yang mencatat peristiwa agung tersebut:
1. Dalil Al-Qur’an (Surat Al-Alaq Ayat 1–5)
Lima ayat pertama yang berkumandang di dalam kegelapan Gua Hira tersebut memiliki redaksi suci sebagai berikut:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq: 1–5).
2. Dalil Hadits Shahih (Riwayat Imam Bukhari)
Kronologi peristiwa ini tercantum dalam Kitab Shahih Bukhari (Hadits Nomor 3)
Salah satu bagian yang tercantum dalam hadits tersebut adalah ketika Rasulullah menerima wahyu berupa surat Al- ‘Alaq ayat 1-5
فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ: اقْرَأْ. قَالَ: مَا أَنَا بِقَارِئٍ. قَالَ: فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجُهْدَ، ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ: اقْرَأْ. قُلْتُ: مَا أَنَا بِقَارِئٍ. فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجُهْدَ، ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ: اقْرَأْ. فَقُلْتُ: مَا أَنَا بِقَارِئٍ. فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ: {اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ} حَتَّى بَلَغَ {مَا لَمْ يَعْلَمْ}
Artinya:
“Maka Malaikat itu datang kepada Nabi lalu berseru: ‘Bacalah!’ Nabi menjawab: ‘Aku tidak bisa membaca’. Nabi bercerita: ‘Malaikat itu lalu memegangku dan mendekapku dengan sangat erat hingga aku merasa kepayahan, lalu ia melepaskanku dan berseru lagi: ‘Bacalah!’ Aku menjawab: ‘Aku tidak bisa membaca’. Ia lalu memegangku dan mendekapku kembali untuk kedua kalinya hingga aku kepayahan, lalu melepaskanku dan berseru lagi: ‘Bacalah!’ Aku kembali menjawab: ‘Aku tidak bisa membaca’. Ia memegangku dan mendekapku untuk ketiga kalinya kemudian melepaskanku lalu membaca: ‘Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan’ sampai ayat ‘Apa yang tidak diketahuinya’.”
Baca juga: Ciri Anak Baligh yang Menjadi Awal Kewajiban Ibadah Sendiri
Akhir kata, menengok kembali sejarah wahyu pertama Rasulullah akan menumbuhkan rasa cinta yang mendalam pada ajaran Islam. Melalui dalil shahih di atas, kita bisa melihat betapa agungnya proses penyampaian risalah suci kepada umat manusia. Semoga kisah perjuangan di Gua Hira ini memotivasi kita untuk senantiasa membaca, mempelajari, dan mengamalkan Al-Qur’an. Selamat meneladani jejak suci Rasulullah dan jadikanlah Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam kehidupan Anda!




