Kitab Arbain An-Nawawiyyah merupakan rujukan penting yang menghimpun intisari ajaran islam mengenai hukum dan sosial. Salah satu bagian yang memuat panduan etika bermasyarakat secara spesifik adalah teks riwayat kelima belas dalam kitab tersebut. Jika hadis kedua belas mengajarkan etika umum tentang meninggalkan hal tidak berguna, maka riwayat ini membawa pesan khusus. Rasulullah mengaitkan kesempurnaan iman kepada Allah dan hari akhir dengan tiga bentuk perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari. Tiga aspek tersebut meliputi kontrol ucapan, kepedulian terhadap lingkungan terdekat, serta tata cara menyambut kedatangan seseorang.
Oleh sebab itu, mempelajari hadits arbain ke-15 akan membantu kita memahami konsep kesalehan sosial secara utuh.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ.
رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”
(HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 6018, 6019, 6136, 6475 dan Muslim, no. 47]

Pembagian Dua Macam Kewajiban Menjaga Hak Pencipta dan Hak Makhluk
Hadits ini menegaskan bahwa keimanan seseorang menuntut pemenuhan tanggung jawab yang berdimensi vertikal sekaligus horizontal. Kewajiban pertama yang berkaitan dengan hak Allah adalah keharusan setiap individu untuk selalu mengontrol ucapan mereka. Manusia diperintahkan untuk hanya memproduksi perkataan yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar mereka sendiri.
Namun, jika tidak mampu memunculkan kalimat yang baik, maka pilihan terbaik yang tersisa adalah diam.
Baca juga: Hadits Arbain Ke-14: Hukum Membunuh Sesama Muslim
Prinsip ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 114 yang mengkritik obrolan tanpa faedah. Ayat tersebut menjelaskan bahwa tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan manusia kecuali dalam urusan sosial dan perdamaian.
لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍ ۢ بَيْنَ النَّاسِۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا
Artinya: “Tidak ada kebaikan pada banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali (pada pembicaraan rahasia) orang yang menyuruh bersedekah, (berbuat) kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Siapa yang berbuat demikian karena mencari rida Allah kelak Kami anugerahkan kepadanya pahala yang sangat besar.” (QS. An Nisa’ ayat 14)
Selanjutnya, kontrol terhadap lisan ini memiliki korelasi yang sangat kuat dengan jaminan keselamatan di akhirat. Rasulullah dalam riwayat Imam Bukhari menjanjikan surga bagi siapa saja yang mampu mengendalikan mulut dan kemaluannya. Sebagian besar maksiat manusia bersumber dari ketidakmampuan mereka dalam menjaga dua bagian tubuh yang rawan ini.
Oleh karena itu, keselamatan yang besar akan terwujud jika seseorang mampu membentengi diri dari keburukan keduanya.
Penghormatan Kepada Tetangga dan Tamu
Etika sosial berikutnya yang tertuang dalam riwayat ini adalah perintah untuk memuliakan orang lain dengan sebaik-baiknya. Istilah ikram di dalam teks memiliki makna memberikan penghormatan secara total tanpa adanya rasa terpaksa.
Berikut adalah sepuluh panduan konkret dari Imam Al-Ghazali dalam menunaikan hak masyarakat sekitar secara nyata. Beberapa di antaranya dikutip dari laman Rumaysho.com.
-
Mengawali interaksi harian dengan menyampaikan ucapan salam yang ramah.
-
Meluangkan waktu untuk menjenguk saat ada warga yang jatuh sakit.
-
Menghadiri rumah duka dan menghibur keluarga yang sedang tertimpa musibah.
-
Memberikan ucapan selamat ketika mereka memperoleh kebahagiaan atau rezeki baru.
-
Ikut merasakan kegembiraan atas segala nikmat yang mereka dapatkan.
-
Bersegera menyampaikan permohonan maaf apabila telanjur melakukan kesalahan fatal.
-
Menahan pandangan mata dari melihat anggota keluarga mereka yang bukan mahram.
-
Ikut menjaga keamanan area rumah saat pemiliknya sedang pergi keluar kota.
-
Menampilkan sikap yang lembut dan menyayangi anak-anak mereka.
-
Bersedia membagikan ilmu agama maupun urusan dunia yang belum mereka ketahui.
Selain panduan di atas, Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 36 juga memerintahkan umat untuk berbuat baik kepada tetangga. Larangan berbuat syirik berdampingan langsung dengan kewajiban memuliakan orang tua, anak yatim, hingga tetangga dekat dan jauh.
وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ
Artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak ya tim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnusabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.”
Baca juga: Menghafal Al-Qur’an Terasa Berat, Bagaimana Solusinya?
Kesimpulannya, hadits arbain ke-15 menyajikan standar moral yang sangat tinggi bagi setiap individu yang mengaku beriman. Menjaga tutur kata serta memberikan penghormatan kepada sesama adalah bukti nyata dari kesempurnaan tauhid seseorang. Semua panduan praktis dari para ulama terdahulu harus menjadi cermin bagi perilaku sosial kita hari ini. Oleh karena itu, mari kita praktikkan nilai-nilai luhur ini dalam kehidupan bermasyarakat setiap harinya. Semoga ulasan ini dapat memperbanyak amal kebajikan kita dan mempererat tali persaudaraan antar sesama muslim.




