Hadits Arbain Ke-22: Shalat, Puasa, dan Menjauhi yang Haram

Hadits Arbain Ke-22: Shalat, Puasa, dan Menjauhi yang Haram

Hadits Arbain ke-22 menjelaskan amalan yang dapat mengantarkan seorang Muslim menuju surga. Dalam hadits ini, seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kewajiban dalam Islam. Ia kemudian berkomitmen untuk menjalankan kewajiban tersebut dan meninggalkan perkara yang Allah haramkan.

Hadits ini mengajarkan bahwa seorang Muslim perlu membangun ketaatan dari perkara yang paling mendasar. Ia tidak cukup hanya memperbanyak amalan sunnah, tetapi juga harus menjaga kewajiban dan menjauhi larangan Allah. Karena itu, hadits ini menjadi salah satu pembahasan penting dalam memahami dasar-dasar kehidupan seorang Muslim.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ الْمَكْتُوبَاتِ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ، وَأَحْلَلْتُ الْحَلَالَ، وَحَرَّمْتُ الْحَرَامَ، وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئًا، أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ؟ قَالَ: «نَعَمْ». قَالَ: وَاللَّهِ لَا أَزِيدُ عَلَى ذَلِكَ شَيْئًا.

Artinya: “Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ﷺ. Ia berkata, ‘Bagaimana pendapatmu jika aku melaksanakan shalat wajib, berpuasa Ramadan, menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram, dan aku tidak menambah sedikit pun dari itu, apakah aku akan masuk surga?’ Beliau menjawab, ‘Ya.’ Laki-laki itu berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan menambah sedikit pun dari itu.’” (HR. Muslim)

Hadits tersebut menunjukkan jawaban Rasulullah ﷺ terhadap pertanyaan seorang sahabat mengenai jalan menuju surga. Pembahasannya terlihat sederhana, tetapi kandungannya sangat luas.

1. Menjaga Shalat Wajib

Hal pertama yang disebutkan dalam hadits Arbain ke-22 adalah melaksanakan shalat wajib. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa shalat lima waktu termasuk kewajiban utama seorang Muslim. Karena itu, seorang Muslim perlu memberikan perhatian besar terhadap shalat, mulai dari waktunya hingga pelaksanaannya.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu merupakan kewajiban yang waktunya telah ditentukan atas orang-orang mukmin.”
(QS. An-Nisa: 103)

Ayat tersebut menegaskan bahwa shalat memiliki waktu yang telah Allah tentukan. Jadi, seorang Muslim tidak boleh menjadikan kesibukan sebagai alasan untuk meninggalkan shalat wajib. Dengan demikian, menjaga shalat menjadi langkah utama dalam membangun kehidupan yang taat kepada Allah.

2. Menjalankan Puasa Ramadan

Selain shalat, hadits ini menyebutkan kewajiban berpuasa pada bulan Ramadan. Puasa tidak hanya mengajarkan seseorang untuk menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih pengendalian diri. Melalui ibadah tersebut, seorang Muslim belajar meningkatkan ketakwaannya.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat tersebut menjelaskan tujuan utama puasa, yaitu membentuk ketakwaan. Karena itu, seorang Muslim tidak seharusnya memandang Ramadan hanya sebagai perubahan pola makan. Lebih jauh, Ramadan menjadi kesempatan untuk melatih hati dan perilaku agar semakin dekat dengan Allah.

Baca juga: Tips Produktif bagi Muslim agar Hari Lebih Bermakna

3. Menghalalkan Apa yang Allah Halalkan

Laki-laki dalam hadits tersebut mengatakan, “Aku menghalalkan yang halal.” Pernyataan ini menunjukkan sikap menerima perkara yang Allah izinkan dan tidak menganggap sesuatu yang halal sebagai perkara yang terlarang tanpa dasar syariat.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا

“Wahai manusia! Makanlah dari makanan yang halal dan baik yang terdapat di bumi.”
(QS. Al-Baqarah: 168)

Dalam kehidupan sehari-hari, seorang Muslim perlu mempelajari batas antara halal dan haram. Pengetahuan tersebut membantu seseorang memilih makanan, pekerjaan, transaksi, dan berbagai aktivitas dengan lebih hati-hati. Oleh sebab itu, memahami perkara halal menjadi bagian dari ketaatan kepada Allah.

4. Meninggalkan Perkara yang Haram

Selanjutnya, laki-laki tersebut mengatakan bahwa ia akan “mengharamkan yang haram”. Maksudnya, ia berkomitmen meninggalkan perkara yang memang Allah dan Rasul-Nya tetapkan sebagai sesuatu yang haram.

Allah Ta’ala berfirman:

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا

“Itulah batas-batas Allah, maka janganlah kamu mendekatinya.”
(QS. Al-Baqarah: 187)

Ayat ini memberikan peringatan agar seorang Muslim tidak sekadar menghindari perbuatan haram, tetapi juga menjauhi jalan yang dapat menyeretnya menuju keharaman. Dengan kata lain, menjaga diri dari dosa membutuhkan kehati-hatian dalam memilih lingkungan, kebiasaan, dan aktivitas.

gambar pria memegang kartu kredit dan gadget ilustrasi contoh perkara haram dalam hadits arbain ke-22
Kartu kredit merupakan salah satu contoh perkara haram yang umum di masyarakat (foto: freepik.com)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Apa yang aku larang kepada kalian, maka jauhilah. Apa yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah sesuai kemampuan kalian.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits tersebut semakin menguatkan pentingnya meninggalkan larangan Rasulullah ﷺ. Seorang Muslim perlu menunjukkan ketaatan bukan hanya dengan mengerjakan perintah, tetapi juga dengan menjauhi perkara yang dilarang.

5. Kewajiban Menjadi Prioritas

Hadits Arbain ke-22 tidak berarti seorang Muslim hanya boleh mengerjakan shalat wajib dan puasa Ramadan. Amalan sunnah tetap memiliki keutamaan yang besar. Namun, hadits ini menunjukkan bahwa kewajiban memiliki kedudukan yang sangat penting dalam perjalanan seorang hamba menuju surga.

Dalam hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman:

“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya.”
(HR. Bukhari)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa amalan wajib memiliki kedudukan utama. Karena itu, seorang Muslim sebaiknya memperbaiki kewajibannya terlebih dahulu sebelum terlalu sibuk mengejar berbagai amalan tambahan.

Misalnya, seseorang perlu memastikan shalat lima waktunya terjaga sebelum memperbanyak amalan sunnah. Setelah kewajiban semakin kuat, ia dapat menambahkan berbagai ibadah sunnah sesuai kemampuan. Dengan urutan tersebut, seorang Muslim dapat membangun ibadah secara lebih kokoh.

6. Jalan Menuju Surga Tidak Harus Rumit

Pertanyaan sahabat dalam hadits ini menunjukkan keinginan untuk mengetahui amalan yang dapat mengantarkannya ke surga. Rasulullah ﷺ kemudian memberikan jawaban yang sederhana dan jelas. Ia perlu menjalankan kewajiban dan meninggalkan perkara yang haram.

Namun, kesederhanaan bukan berarti perkara tersebut mudah dilakukan tanpa perjuangan. Menjaga shalat membutuhkan disiplin, menjalankan puasa membutuhkan kesabaran, sedangkan meninggalkan dosa membutuhkan pengendalian diri. Karena itu, seorang Muslim perlu membangun kebiasaan tersebut secara konsisten.

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
(QS. Al-‘Ankabut: 69)

Ayat tersebut memberikan motivasi bahwa kesungguhan dalam menaati Allah memiliki nilai besar. Oleh karena itu, jangan merasa kecil terhadap usaha memperbaiki satu kewajiban. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju ketaatan.

Baca juga: Hadits Arbain Ke-21: Beriman kepada Allah dan Istiqamah

7. Tidak Berarti Meninggalkan Amalan Sunnah

Ada satu hal penting yang perlu diperhatikan ketika memahami hadits Arbain ke-22. Pernyataan sahabat bahwa ia tidak akan menambah amalan tersebut bukan berarti Rasulullah ﷺ melarang umatnya mengerjakan ibadah sunnah.

Justru, Rasulullah ﷺ banyak mengajarkan berbagai amalan sunnah yang memiliki keutamaan. Shalat sunnah, sedekah, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan berbagai amal kebaikan lainnya dapat menjadi sarana seorang Muslim mendekatkan diri kepada Allah.

Karena itu, hadits ini sebaiknya dipahami sebagai penjelasan tentang kecukupan kewajiban dan meninggalkan keharaman sebagai jalan keselamatan. Setelah itu, seorang Muslim dapat memperbanyak amal sunnah sebagai bentuk kecintaan dan usaha mendekatkan diri kepada Allah.

Pelajaran dari Hadits Arbain Ke-22

Dari hadits Arbain ke-22, kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting. Pertama, seorang Muslim wajib menjaga shalat lima waktu dan menjalankan puasa Ramadan. Kedua, ia harus menerima perkara yang Allah halalkan serta meninggalkan perkara yang Allah haramkan.

Selanjutnya, hadits ini mengajarkan pentingnya menempatkan kewajiban sebagai prioritas. Seorang Muslim tidak seharusnya mengejar banyak amalan sunnah sementara kewajiban masih sering ia tinggalkan.

Pada akhirnya, jalan menuju surga membutuhkan ketaatan yang nyata. Jalankan kewajiban, tinggalkan perkara haram, lalu sempurnakan amalan tersebut dengan berbagai amal kebaikan. Dengan prinsip tersebut, seorang Muslim dapat menjalani kehidupan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Hadits Arbain Ke-21: Beriman kepada Allah dan Istiqamah

Hadits Arbain Ke-21: Beriman kepada Allah dan Istiqamah

Hadits Arbain ke-21 membahas dua perkara penting dalam kehidupan seorang Muslim, yaitu keimanan kepada Allah dan sikap istiqamah. Pesan tersebut terlihat singkat, tetapi memiliki cakupan yang sangat luas. Seorang Muslim tidak cukup hanya mengaku beriman, tetapi juga perlu membuktikan keimanannya melalui ketaatan yang terus dijaga.

Hadits ini diriwayatkan dari Abu ‘Amr—ada yang menyebut Abu ‘Amrah—Sufyan bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu. Ia meminta Rasulullah SAW memberikan nasihat tentang Islam yang dapat menjadi pegangan dalam kehidupannya.

Hadits Arbain Ke-21

Berikut hadits Arbain ke-21 secara lengkap:

الحَدِيْثُ الحَادِي وَالعِشْرِيْنَ

عَنْ أَبِيْ عَمْرٍو، وَقِيْلَ، أَبِيْ عَمْرَةَ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِي فِي الإِسْلامِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدَاً غَيْرَكَ؟ قَالَ: “قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ” رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Artinya:

“Dari Abu ‘Amr—ada yang menyebut pula Abu ‘Amrah—Sufyan bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Aku berkata: Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.’ Beliau bersabda, ‘Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.’” (HR. Muslim, no. 38).

Baca juga: Doa Agar Istiqamah dan Teguh di Jalan Allah

Makna Beriman kepada Allah

Rasulullah SAW memberikan jawaban yang singkat kepada Sufyan bin ‘Abdillah. Beliau mengarahkan umat untuk mengucapkan, “Aku beriman kepada Allah,” kemudian melanjutkannya dengan perintah untuk istiqamah.

Iman kepada Allah berkaitan dengan keyakinan dalam hati. Namun, iman tersebut tidak berhenti sebagai pengakuan, karena seorang Muslim perlu menunjukkan keimanannya melalui amal dan ketaatan. Dengan demikian, hadits ini menghubungkan keyakinan dengan tindakan nyata dalam kehidupan.

Apa Arti Istiqamah?

Setelah beriman, seorang Muslim perlu menjaga istiqamah. Dilansir dari pembahasan dalam laman rumaysho.com, istiqamah berarti tetap berada di jalan ketaatan kepada Allah dan berusaha menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.

Karena itu, istiqamah mencakup berbagai sisi kehidupan. Menjaga shalat, menunaikan zakat, menjaga kehormatan orang lain, serta menghindari penipuan dalam muamalah termasuk bentuk istiqamah. Sebaliknya, meninggalkan kewajiban atau sengaja melakukan keharaman menunjukkan adanya penyimpangan dari jalan istiqamah.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.” (QS. Al-Ahqaf: 13).

Ayat tersebut menunjukkan keutamaan orang yang mampu mempertahankan keimanannya dengan istiqamah. Oleh sebab itu, seorang Muslim perlu terus mengevaluasi dirinya, bukan hanya bersemangat melakukan kebaikan pada waktu tertentu.

gambar balok panah yang beragam ilustrasi istiqomah dalam hadits arbain ke-21
Istiqomah berarti bersedia terus kembali dan memperbaiki diri (foto: freepik.com)

Cara Menjaga Istiqamah

Menjaga istiqamah memang membutuhkan usaha. Ada beberapa kebiasaan yang dapat membantu seseorang bertahan dalam ketaatan.

1. Memilih Teman yang Saleh

Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap perilaku seseorang. Karena itu, memilih teman yang baik dapat membantu menjaga semangat dalam beribadah.

Rasulullah SAW menggambarkan teman yang saleh seperti seseorang yang membawa minyak misk. Jika seseorang tidak mendapatkan minyak tersebut, setidaknya ia masih dapat mencium wanginya. Sebaliknya, teman yang buruk dapat memberikan pengaruh yang merugikan seperti pandai besi. (HR. Bukhari, no. 2101).

2. Rajin Menghadiri Majelis Ilmu

Selain memilih lingkungan yang baik, seorang Muslim juga perlu menjaga hubungan dengan ilmu. Majelis ilmu dapat mengingatkan seseorang kepada Allah ketika kesibukan dunia mulai membuat hati lalai.

Dalam hadits yang dikutip dalam pembahasan ini, Rasulullah SAW mengingatkan Hanzhalah bahwa kondisi keimanan seseorang dapat berubah. Karena itu, beliau mengajarkan agar seseorang terus menjaga amal secara bertahap dan tidak memaksakan diri untuk selalu berada pada satu kondisi spiritual yang sama.

3. Memperbanyak Doa

Terakhir, jangan mengandalkan kemampuan diri sendiri untuk menjaga istiqamah. Hati manusia dapat berubah, sehingga seorang Muslim perlu memohon pertolongan Allah.

Salah satu doa yang dapat diamalkan adalah:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Artinya:

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imran: 8).

Baca juga: Doa Meminta Kemudahan agar Segala Urusan Berjalan Lancar

 

Pelajaran dari Hadits Arbain Ke-21

Hadits Arbain ke-21 mengajarkan bahwa iman dan istiqamah merupakan dua hal yang saling berkaitan. Keyakinan kepada Allah menjadi dasar, sedangkan istiqamah menunjukkan bagaimana seorang Muslim menjalankan keyakinan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, hadits ini mengingatkan bahwa istiqamah tidak hanya berkaitan dengan ibadah ritual. Menjaga amanah, menghormati orang lain, menjauhi penipuan, serta menjalankan kewajiban juga menjadi bagian dari sikap istiqamah.

Pada akhirnya, menjadi istiqamah bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan. Ketika seorang Muslim tergelincir, ia perlu segera mengevaluasi diri, bertaubat, dan kembali kepada jalan Allah. Dengan cara tersebut, keimanan tidak hanya menjadi ucapan, tetapi juga menjadi pedoman yang terus membentuk kehidupan.

 

Hadits Arbain Ke-20: Keutamaan Sifat Malu dalam Islam

Hadits Arbain Ke-20: Keutamaan Sifat Malu dalam Islam

Hadits Arbain ke-20 membahas salah satu akhlak mulia dalam Islam, yaitu sifat malu. Hadis ini menjelaskan bahwa rasa malu bukan sekadar sifat bawaan manusia. Sifat tersebut juga menjadi bagian dari ajaran para nabi terdahulu dan memiliki hubungan erat dengan keimanan.

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa rasa malu dapat menjadi penghalang seseorang dari perbuatan buruk.

Hadits Arbain Ke-20 dan Artinya

Berikut hadits Arbain ke-20 secara lengkap dilansir dari rumaysho.com.

عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرٍو الأَنْصَارِي البَدْرِي – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ”

Artinya: “Sesungguhnya di antara perkataan kenabian terdahulu yang diketahui manusia ialah jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!” (HR. Bukhari, no. 3484 dan 6120)

pria menutupi wajahnya ilustrasi malu dalam kandungan hadits arbain ke-20
Ilustrasi malu (foto: freepik.com)

Kandungan Hadits

1. Malu Merupakan Warisan Para Nabi

Salah satu pesan penting dalam hadits Arbain ke-20 adalah kedudukan sifat malu sebagai ajaran yang telah dikenal sejak masa para nabi terdahulu. Ungkapan an-nubuwwah al-ula merujuk pada ajaran kenabian terdahulu. Artinya, pesan tentang pentingnya rasa malu telah dikenal manusia sejak generasi umat sebelumnya.

Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan bahwa pesan tersebut terus diwariskan dari generasi ke generasi. Hal ini menunjukkan bahwa sifat malu memiliki nilai yang penting dalam kehidupan manusia.

2. Malu Merupakan Bagian dari Keimanan

Islam tidak memandang malu sebagai kelemahan. Rasulullah SAW justru menghubungkan sifat tersebut dengan keimanan. Beliau bersabda:

الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

Artinya: “Malu merupakan bagian dari keimanan.” (HR. Muslim, no. 161)

Rasa malu membuat seseorang mempertimbangkan perkataan dan perbuatannya. Ketika seseorang menyadari bahwa Allah selalu melihat dirinya, ia akan lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Karena itu, sifat malu dapat menjadi benteng dari perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Baca juga: Hadits Arbain Ke-19: Sebab Datangnya Pertolongan Allah

3. Dua Bentuk Sifat Malu

Para ulama menjelaskan bahwa rasa malu memiliki beberapa bentuk. Salah satunya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah SWT. Seseorang yang memiliki rasa malu kepada Allah akan merasa bahwa Allah selalu mengetahui perbuatannya. Kesadaran tersebut mendorongnya untuk menjalankan perintah dan meninggalkan larangan.

Bentuk lainnya berkaitan dengan hubungan antarmanusia. Rasa malu membuat seseorang menjaga ucapan, perilaku, dan sikap ketika berinteraksi dengan orang lain. Dengan demikian, malu bukan berarti seseorang harus selalu diam atau takut berkomunikasi. Islam justru mengajarkan agar rasa malu tetap berjalan bersama keberanian dalam melakukan kebaikan.

3. Berbuatlah Sesukamu Bukan Berarti Bebas Bermaksiat

Bagian akhir hadits Arbain ke-20 sering menimbulkan kesalahpahaman:

“Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!”

Kalimat tersebut bukan ajakan untuk melakukan apa saja tanpa mempertimbangkan halal dan haram.

Para ulama menjelaskan beberapa pemaknaan terhadap kalimat tersebut. Salah satunya memahaminya sebagai bentuk ancaman. Artinya, seseorang yang sudah kehilangan rasa malu akan lebih mudah melakukan berbagai perbuatan buruk dan pada akhirnya menerima akibat dari perbuatannya.

Makna lainnya menunjukkan bahwa rasa malu berfungsi sebagai penghalang dari keburukan. Jika seseorang sudah tidak memiliki rasa malu, ia dapat melakukan perbuatan tercela tanpa merasa bersalah. Karena itu, hadis ini justru menjadi peringatan agar seorang muslim menjaga rasa malunya.

Baca juga: Kisah Sedekah Utsman bin Affan Ketika Masa Paceklik

4. Malu Tidak Boleh Menghalangi Kebaikan

Meskipun Islam memuji rasa malu, seorang muslim tidak boleh menggunakan rasa malu sebagai alasan untuk meninggalkan kewajiban. Misalnya, seseorang tidak seharusnya diam ketika melihat kemungkaran yang memang wajib ia cegah hanya karena takut dianggap ikut campur. Begitu pula seseorang tidak boleh merasa malu untuk bertanya tentang ilmu agama yang belum ia pahami.

Dengan kata lain, malu yang terpuji adalah malu yang mendorong seseorang menjaga kehormatan dan meninggalkan keburukan. Sebaliknya, malu yang membuat seseorang meninggalkan kewajiban atau menolak kebaikan justru perlu diperbaiki.

Cara Menumbuhkan Sifat Malu

Seseorang dapat melatih rasa malu dengan meningkatkan kesadaran terhadap pengawasan Allah SWT. Ketika seseorang memahami kebesaran Allah dan menyadari banyaknya nikmat yang ia terima, ia akan semakin terdorong untuk memperbaiki perilakunya.

Lingkungan juga berpengaruh. Bergaul dengan orang-orang yang menjaga adab dapat membantu seseorang membangun kebiasaan yang baik. Selain itu, seseorang perlu membiasakan diri mengevaluasi perkataan dan perbuatannya. Apakah tindakannya sesuai dengan ajaran Islam? Apakah perkataannya menyakiti orang lain? Pertanyaan semacam ini dapat membantu menjaga akhlak.

Kesimpulan

Hadits Arbain ke-20 mengajarkan bahwa malu merupakan akhlak mulia yang memiliki kedudukan penting dalam Islam. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa sifat tersebut telah terkenal dalam ajaran para nabi terdahulu dan menjadi bagian dari keimanan.

Rasa malu dapat menjaga seseorang dari kemaksiatan dan perilaku yang tidak pantas. Namun, seorang muslim tetap harus berani melakukan kebaikan dan tidak menjadikan malu sebagai alasan untuk meninggalkan kewajiban.

Karena itu, mari menjaga rasa malu sebagai bagian dari akhlak. Semoga kita dapat memiliki rasa malu kepada Allah, menjaga adab kepada sesama, serta menjadikan sifat tersebut sebagai penghalang dari perbuatan yang tidak Allah ridhai.

Hadits Arbain Ke-19: Sebab Datangnya Pertolongan Allah

Hadits Arbain Ke-19: Sebab Datangnya Pertolongan Allah

Pernahkah Anda merasa cemas menghadapi ketidakpastian masa depan? Rasa khawatir semacam itu tentu sangat wajar terjadi. Namun, hadits Arbain ke-19 hadir memberikan panduan terbaik bagi setiap muslim. Melalui hadits ini, kita dapat membangun ketenangan jiwa lewat pemahaman tauhid, kesabaran, dan takdir yang lurus.

Hadits yang sangat monumental ini memuat nasihat mendalam dari Rasulullah SAW. Beliau menyampaikan petuah ini kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma sewaktu ia masih muda. Kalimat pengantar beliau yang hangat menunjukkan betapa pentingnya pesan tersebut. Oleh karena itu, mari kita pelajari lafadz, arti, serta intisari hikmahnya untuk kehidupan sehari-hari.

Dari Abu Al-Abbas Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Suatu hari aku berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda:

يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

“Wahai anak muda, sesungguhnya aku akan mengajarkan beberapa kalimat kepadamu: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau memohon, memohonlah kepada Allah. Jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, bahwa seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat itu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk memudaratkanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat memudaratkanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Tirmidzi).

Baca juga: Hadits Arbain Ke-18 Mengiringi Keburukan dengan Kebaikan

Pelajaran Penting dari Hadits Arbain Ke-19

Pelajaran paling mendasar dari hadits Arbain ke-19 adalah prinsip timbal balik dalam beragama. Dalam Islam, balasan senantiasa sejalan dengan amalan (al-jazaa’ min jinsil ‘amal). Oleh sebab itu, ketika seorang hamba menjaga aturan Allah, maka Allah akan menjamin penjagaan atas dunia dan agamanya. Sebaliknya, orang yang melupakan perintah Allah akan kehilangan perlindungan-Nya. Hal ini ditegaskan secara jelas dalam QS. At-Taubah ayat 67.

اَلْمُنٰفِقُوْنَ وَالْمُنٰفِقٰتُ بَعْضُهُمْ مِّنْۢ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوْفِ وَيَقْبِضُوْنَ اَيْدِيَهُمْۗ نَسُوا اللّٰهَ فَنَسِيَهُمْۗ اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ ۝٦٧
Artinya: Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, satu dengan yang lain (adalah sama saja). Mereka menyuruh (berbuat) mungkar dan mencegah (berbuat) makruf. Mereka pun menggenggam tangannya (kikir). Mereka telah melupakan Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik adalah orang-orang yang fasik.

Di samping itu, hadits ini berfungsi memurnikan tauhid setiap muslim. Beliau mengajarkan agar kita menggantungkan seluruh doa dan isti’anah (permintaan tolong) hanya kepada Allah semata. Melalui petunjuk ini, Rasulullah SAW meluruskan pemahaman kita tentang takdir dan kehendak Allah (masyi’atullah). Sebab, makhluk tidak memiliki daya sedikit pun untuk memberi manfaat ataupun bahaya tanpa izin Sang Pencipta. Segala hal yang Allah kehendaki pasti terjadi. Sebaliknya, apa yang tidak Dia kehendaki tak akan pernah terwujud, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Insan ayat 30.

gambar pria mematikan jam karena bangun kesiangan ilutsrasi konsep takdir dalam hadits arbain ke-19
Ilustrasi takdir berjalan sesuai kehendak Allah, termasuk waktu bangun tidur (foto: freepik.com)

Selanjutnya, petuah ini memberikan kekuatan saat kita menghadapi ujian hidup. Hadits ini mengingatkan bahwa kemenangan senantiasa berpihak pada jiwa-jiwa yang sabar. Lagipula, kesulitan tidak akan pernah menetap selamanya. Allah selalu menyertakan kemudahan di balik setiap kesukaran, sesuai janji-Nya dalam QS. Al Insyirah ayat 5-6. Bahkan, para ulama menggambarkan bahwa seketat apa pun kesulitan mengurung seorang hamba, kemudahan pasti akan datang menembusnya. Pada akhirnya, kemudahan itulah yang akan mengusir kesulitan tersebut.

Pada akhirnya, memahami hadits Arbain ke-19 memberikan kita pegangan hidup yang kokoh. Dengan menjaga syariat Allah dan memurnikan ketergantungan hanya kepada-Nya, kita dapat meyakini takdir dengan lapang dada. Alhasil, kita mampu menjalani kehidupan ini dengan tenang, tangguh, dan penuh keberkahan.

Hadits Arbain Ke-18 Mengiringi Keburukan dengan Kebaikan

Hadits Arbain Ke-18 Mengiringi Keburukan dengan Kebaikan

Setiap muslim membutuhkan pedoman yang jelas dalam menjalani hubungan dengan Sang Pencipta maupun dengan sesama manusia. Imam Nawawi merangkum petunjuk hidup tersebut secara ringkas dalam kitab Hadits Arbain yang sangat monumental. Salah satu hadits yang memuat prinsip mendasar akhlak dan ketaqwaan adalah hadits urutan kedelapan belas. Oleh karena itu, mempelajari hadits arbain ke-18 akan memberikan kita gambaran menyeluruh mengenai cara menjaga kualitas iman dan interaksi sosial.

Hadits shahih ini diriwayatkan oleh Abu Dzarr Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdirrahman Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ جُنْدُبِ بْنِ جُنَادَةَ، وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ» (رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ)

Artinya: Dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdirrahman Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan niscaya kebaikan itu akan menghapusnya, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).

Hadits arbain ke-18 mengandung tiga bahasan pokok, yaitu perintah takwa, mengiringi kejelekan dengan kebaikan, dan berakhlak mulia. Berikut adalah penjelasannya yang didasarkan pada referensi Rumaysho.com.

gambar pria duduk sendiri menghadap laut ilustrasi pengamalan hadits arbain ke-18
Takwa kepada Allah baik dalam keadaan sendiri maupun bersama orang lain (foto: freepik.com)

1. Perintah Bertakwa Kepada Allah di Mana Saja Berada

Wasiat pertama dalam hadits ini menekankan kewajiban bertaqwa kepada Allah tanpa terikat oleh waktu dan tempat. Taqwa berarti menjalankan perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya atas dasar iman dan mengharap pahala. Seseorang harus konsisten menjaga ketaqwaan, baik saat berada di tengah keramaian maupun ketika sendirian di tempat tersembunyi. Kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap gerak-gerik hamba menjadi kunci utama dalam memelihara konsistensi taqwa tersebut.

Oleh sebab itu, ketaqwaan sejati bukan sekadar tampilan luar, melainkan sikap hati yang senantiasa patuh kepada Sang Pencipta.

Baca juga: Hadits Arbain Ke-16: Larangan Marah dan Cara Mengendalikannya

2. Mengiringi Kejelekan dengan Kebaikan Sebagai Penghapus Dosa

Selanjutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan solusi nyata ketika seorang hamba terlanjur melakukan kesalahan. Manusia memang tempatnya lupa dan tidak pernah luput dari perbuatan dosa. Namun, Islam mengajarkan agar kita segera menutupi dan mengiringi perbuatan buruk tersebut dengan amalan-amalan kebaikan. Bentuk kebaikan ini dapat berupa bertaubat, memohon ampunan (istighfar), serta menambah amalan shalat dan sedekah.

Dengan demikian, kebaikan yang kita lakukan secara sungguh-sungguh akan menghapus dosa-dosa kecil yang telah lalu.

3. Berakhlak Mulia dalam Berinteraksi dengan Sesama Manusia

Poin terakhir dalam hadits ini mengatur tata cara berhubungan dengan sesama manusia melalui akhlak terpuji. Hubungan yang baik kepada Allah harus berjalan seimbang dengan sikap yang santun kepada sesama makhluk. Berakhlak mulia mencakup sikap dermawan, menahan diri dari menyakiti orang lain, serta menunjukkan wajah yang berseri-seri. Selain itu, menyebarkan kedamaian dan menyambung tali silaturahmi juga menjadi bagian penting dari pengamalan akhlakul karimah.

Hasilnya, orang yang menerapkan akhlak mulia akan dicintai oleh Allah sekaligus mendapatkan tempat yang terhormat di tengah masyarakat.

Baca juga: Pentingnya Tabayyun Sebelum Menyebarkan Informasi

Kesimpulannya, pengajaran dalam hadits arbain ke-18 merangkum tiga pilar utama kehidupan seorang muslim, yaitu taqwa, taubat, dan akhlak mulia. Menerapkan ketiga prinsip ini secara konsisten akan mendatangkan keselamatan di dunia maupun di akhirat kelak. Mari kita berusaha mengamalkan petunjuk Nabi ini dalam aktivitas harian kita. Semoga Allah senantiasa membimbing kita menjadi pribadi yang bertaqwa dan berakhlak terpuji.

Hadits Arbain ke-17: Perintah Berbuat Baik dan Adab Menyembelih

Hadits Arbain ke-17: Perintah Berbuat Baik dan Adab Menyembelih

Agama Islam merupakan syariat yang penuh dengan rahmat dan kasih sayang bagi seluruh alam. Setiap muslim memiliki kewajiban untuk menampilkan akhlak yang mulia dalam setiap sendi kehidupannya sehari-hari. Salah satu pilar akhlak yang sangat agung dalam Islam adalah prinsip ihsan atau berbuat baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan panduan yang sangat jelas mengenai batasan dan penerapan sikap ihsan ini. Memahami kandungan hadits arbain ke-17 akan membuka mata kita tentang betapa luasnya cakupan kasih sayang dalam syariat Islam.

Berikut adalah redaksi lengkap dari hadits ketujuh belas yang dihimpun oleh Imam An-Nawawi dalam kitab Arbain.

عَنْ أَبِي يَعْلَى شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ اللهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا القِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Artinya: Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan (baik) atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah salah seorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya.” (HR. Muslim).

Syarah Hadits dan Penjelasan Adab Menyembelih Menurut Para Ulama

Berdasarkan referensi terpercaya dari Rumaysho, para ulama memberikan penjelasan mendalam mengenai makna membunuh dan menyembelih dengan baik. Maksud dari perintah tersebut adalah melihat dari sisi cara pengerjaan serta keadaan saat eksekusi berlangsung. Contoh nyata berbuat baik ketika membunuh adalah saat aparat menegakkan hukum qishash atau hukuman mati bagi pembunuh. Penjelasan terperinci mengenai hal ini terdapat dalam kitab Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim jilid 13 halaman 98.

Imam Nawawi rahimahullah juga mencontohkan beberapa cara dalam menyenangkan hewan yang akan disembelih.

  • Penyembelih wajib menajamkan pisau agar proses pemotongan urat leher hewan berlangsung dengan sangat cepat.

  • Kaum muslimin mendapatkan anjuran untuk tidak mengasah pisau tepat di hadapan hewan yang akan disembelih.

  • Siapa pun tidak boleh menyembelih seekor hewan lantas sedangkan hewan-hewan lainnya dapat melihatnya.

  • Seseorang tidak boleh melewatkan atau menyeret hewan yang akan disembelih di tempat penjagalan atau penyembelihannya.

gambar sapi hendak disembelih sesuai kandungan hadits arbain ke-17
Proses persiapan penyembelihan hewan (foto: www.ayojakarta.com)

Kandungan Hadits yang Menguatkan Keimanan Seorang Muslim

Melalui penjelasan materi di atas, kita dapat merangkum sembilan faedah penting yang terkandung di dalam hadits mulia ini.

Pertama, hadits ini menjelaskan bahwa Allah sangat menyayangi hamba-Nya dengan menetapkan kewajiban berbuat baik pada sesama makhluk. Contoh nyatanya adalah memberi petunjuk jalan pada orang tersesat serta memberi makan kepada orang yang membutuhkan. Kedua, teks ini menunjukkan dorongan kuat untuk senantiasa menerapkan sikap ihsan pada segala sesuatu tanpa terkecuali. Ketiga, syariat memerintahkan manusia untuk mengikuti tuntunan Islam saat terpaksa membunuh atau menyembelih hewan.

Baca juga: Proses Pengangkatan Umar bin Khattab sebagai Khalifah Kedua

Keempat, Nabi menggunakan kata kataba yang berarti menetapkan, di mana para ulama membaginya menjadi kitabah qadariyyah dan kitabah syar’iyyah. Kitabah qadariyyah merupakan ketetapan yang pasti terjadi, sedangkan kitabah syar’iyyah adalah aturan yang kadang manusia kerjakan atau abaikan. Kelima, wajib hukumnya berbuat ihsan dalam hal yang wajib seperti menjalankan perintah agama dan meninggalkan perkara haram. Kita juga harus sabar terhadap takdir yang tidak menyenangkan tanpa menggerutu, serta berbuat baik dalam bermuamalah.

Keenam, Rasulullah biasa memberikan contoh konkret yang mudah dipahami saat menjelaskan suatu perkara kepada para sahabat. Ketujuh, cara terbaik dalam menyembelih adalah dengan patuh mengikuti seluruh regulasi syariat Islam. Kedelapan, setiap orang wajib menajamkan pisau atau alat pemotong sebelum menyentuh leher hewan. Kesembilan, kita wajib menyenangkan hewan sembelihan dengan cara mempercepat proses penyembelihan agar hewan tidak tersiksa lama.

Kesimpulannya, hadits arbain ke-17 memberikan pondasi moral yang sangat kokoh mengenai pentingnya berbuat baik dalam setiap keadaan. Islam mengatur segala hal secara detail, bahkan sampai pada urusan menyembelih hewan. Penerapan prinsip ihsan ini membuktikan keindahan Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam semesta. Semoga ulasan mengenai hadits ini dapat memacu kita untuk menjadi pribadi yang lebih berbenah dan penuh kasih sayang.

Hadits Arbain Ke-16: Larangan Marah dan Cara Mengendalikannya

Hadits Arbain Ke-16: Larangan Marah dan Cara Mengendalikannya

Menjaga stabilitas emosi merupakan salah satu tantangan terbesar bagi setiap manusia dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai tekanan sosial dan masalah pribadi sering kali memicu munculnya rasa kesal di dalam dada. Jika tidak terkendali, luapan emosi negatif ini dapat merusak hubungan baik antar-sesama makhluk. Islam sebagai agama yang sempurna memberikan perhatian yang sangat besar terhadap kontrol perilaku ini. Tuntunan mengenai pentingnya menjaga ketenangan jiwa ini terangkum indah dalam sebuah hadits legendaris.

Memahami esensi hadits arbain ke-16 akan membantu Anda menjaga kedamaian hati dari letupan amarah yang merusak.

Baca juga: Hikmah Al Ahzab Ayat 59 Tentang Aturan Jilbab

Dua Makna Utama di Balik Larangan Marah Menurut Penjelasan Ulama

Situs Rumaysho memaparkan bahwa maksud dari kalimat “jangan marah” dalam hadits ini memiliki dua makna mendasar. Makna pertama adalah perintah untuk menahan diri ketika ada sebab yang bisa memicu emosi kita. Kita harus berusaha sekuat tenaga meredam gejolak tersebut sampai rasa kesal itu hilang.

Makna kedua adalah larangan untuk melakukan tindakan lanjutan yang buruk akibat dari luapan amarah. Sebagai contoh, seseorang tidak boleh menuruti egonya hingga tega mentalak istrinya saat sedang emosi. Jika kondisi kritis ini terjadi, maka kita harus menasihatinya untuk bersabar dan menahan diri terlebih dahulu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sengaja mengulangi wasiat ini berkali-kali untuk menunjukkan betapa pentingnya pesan tersebut.

gambar orang marah ilustrasi kandungan hadits arbain ke-16
Larangan marah disebutkan dalam hadits arbain ke-16 (foto: freepik.com)

Berbagai Faedah Penting yang Terkandung di Dalam Hadits Larangan Marah

Teks hadits mulia ini juga menyimpan banyak pelajaran berharga bagi kehidupan moral seorang muslim.

Berikut adalah beberapa faedah besar yang bisa kita petik dari riwayat wasiat Nabi tersebut sebagaimana dilansir dari laman Rumaysho.

  • Menunjukkan semangat tinggi para sahabat Nabi dalam mencari ilmu agama untuk segera mereka amalkan.

  • Memberikan pelajaran bahwa pemberian nasihat harus menyesuaikan dengan kondisi psikologis orang yang kita nasihati.

  • Menegaskan bahwa marah memiliki mafsadat atau dampak kerusakan yang sangat besar bagi kehidupan manusia.

  • Membuktikan secara nyata bahwa syariat Islam melarang keras segala bentuk akhlak yang jelek.

  • Menjelaskan bahwa Islam melarang hal-hal yang dapat memicu pertikaian serta dampak buruknya.

Dampak buruk emosi yang tidak terkontrol bisa membuat seseorang menyesali keputusannya seumur hidup.

Baca juga: Hadits Arbain Ke-15: Adab Muslim Kepada Tetangga dan Tamu

Tips Praktis Cara Mengelola Emosi Agar Hati Tetap Tenang

Mengendalikan luapan amarah tentu membutuhkan latihan fisik dan mental yang konsisten setiap hari.

Berikut adalah beberapa tips sederhana untuk meredam emosi sesuai dengan petunjuk sunnah.

  • Membaca Ta’awudz: Segera memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan saat dada mulai terasa panas.

  • Mengubah Posisi Tubuh: Duduklah jika Anda sedang berdiri, atau berbaringlah jika Anda sedang dalam posisi duduk.

  • Diam dan Menjaga Lisan: Hindari mengeluarkan kata-kata saat emosi agar tidak menimbulkan penyesalan di kemudian hari.

  • Mengambil Air Wudhu: Basuhlah wajah dan anggota tubuh dengan air dingin untuk menurunkan tempo ketegangan saraf.

Menerapkan langkah-langkah ini secara sadar akan menyelamatkan Anda dari kesalahan mengambil keputusan.

Kesimpulannya, menjaga diri dari sifat pemarah merupakan cerminan dari tingkat keimanan seseorang yang matang. Rasulullah memberikan panduan ini agar umatnya terhindar dari kehancuran rumah tangga dan hubungan sosial. Oleh karena itu, mari kita jadikan zikir dan kesabaran sebagai tameng utama menghadapi ujian ego harian. Semoga ulasan mengenai hadits arbain ke-16 ini bermanfaat untuk meningkatkan kualitas akhlak mulia kita semua.

Hadits Arbain Ke-15: Adab Muslim Kepada Tetangga dan Tamu

Hadits Arbain Ke-15: Adab Muslim Kepada Tetangga dan Tamu

Kitab Arbain An-Nawawiyyah merupakan rujukan penting yang menghimpun intisari ajaran islam mengenai hukum dan sosial. Salah satu bagian yang memuat panduan etika bermasyarakat secara spesifik adalah teks riwayat kelima belas dalam kitab tersebut. Jika hadis kedua belas mengajarkan etika umum tentang meninggalkan hal tidak berguna, maka riwayat ini membawa pesan khusus. Rasulullah mengaitkan kesempurnaan iman kepada Allah dan hari akhir dengan tiga bentuk perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari. Tiga aspek tersebut meliputi kontrol ucapan, kepedulian terhadap lingkungan terdekat, serta tata cara menyambut kedatangan seseorang.

Oleh sebab itu, mempelajari hadits arbain ke-15 akan membantu kita memahami konsep kesalehan sosial secara utuh.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ.

رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”

(HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 6018, 6019, 6136, 6475 dan Muslim, no. 47]

gambar orang memberikan makanan ke tetangga contoh penerapan hadits arbain ke-15
Berbagi makanan ke tetangga merupakan contoh penerapan kandungan hadits arbain ke-15 (foto: freepik.com)

Pembagian Dua Macam Kewajiban Menjaga Hak Pencipta dan Hak Makhluk

Hadits ini menegaskan bahwa keimanan seseorang menuntut pemenuhan tanggung jawab yang berdimensi vertikal sekaligus horizontal. Kewajiban pertama yang berkaitan dengan hak Allah adalah keharusan setiap individu untuk selalu mengontrol ucapan mereka. Manusia diperintahkan untuk hanya memproduksi perkataan yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar mereka sendiri.

Namun, jika tidak mampu memunculkan kalimat yang baik, maka pilihan terbaik yang tersisa adalah diam.

Baca juga: Hadits Arbain Ke-14: Hukum Membunuh Sesama Muslim

Prinsip ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 114 yang mengkritik obrolan tanpa faedah. Ayat tersebut menjelaskan bahwa tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan manusia kecuali dalam urusan sosial dan perdamaian.

لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍ ۢ بَيْنَ النَّاسِۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا

Artinya: “Tidak ada kebaikan pada banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali (pada pembicaraan rahasia) orang yang menyuruh bersedekah, (berbuat) kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Siapa yang berbuat demikian karena mencari rida Allah kelak Kami anugerahkan kepadanya pahala yang sangat besar.” (QS. An Nisa’ ayat 14)

Selanjutnya, kontrol terhadap lisan ini memiliki korelasi yang sangat kuat dengan jaminan keselamatan di akhirat. Rasulullah dalam riwayat Imam Bukhari menjanjikan surga bagi siapa saja yang mampu mengendalikan mulut dan kemaluannya. Sebagian besar maksiat manusia bersumber dari ketidakmampuan mereka dalam menjaga dua bagian tubuh yang rawan ini.

Oleh karena itu, keselamatan yang besar akan terwujud jika seseorang mampu membentengi diri dari keburukan keduanya.

Penghormatan Kepada Tetangga dan Tamu

Etika sosial berikutnya yang tertuang dalam riwayat ini adalah perintah untuk memuliakan orang lain dengan sebaik-baiknya. Istilah ikram di dalam teks memiliki makna memberikan penghormatan secara total tanpa adanya rasa terpaksa.

Berikut adalah sepuluh panduan konkret dari Imam Al-Ghazali dalam menunaikan hak masyarakat sekitar secara nyata. Beberapa di antaranya dikutip dari laman Rumaysho.com.

  • Mengawali interaksi harian dengan menyampaikan ucapan salam yang ramah.

  • Meluangkan waktu untuk menjenguk saat ada warga yang jatuh sakit.

  • Menghadiri rumah duka dan menghibur keluarga yang sedang tertimpa musibah.

  • Memberikan ucapan selamat ketika mereka memperoleh kebahagiaan atau rezeki baru.

  • Ikut merasakan kegembiraan atas segala nikmat yang mereka dapatkan.

  • Bersegera menyampaikan permohonan maaf apabila telanjur melakukan kesalahan fatal.

  • Menahan pandangan mata dari melihat anggota keluarga mereka yang bukan mahram.

  • Ikut menjaga keamanan area rumah saat pemiliknya sedang pergi keluar kota.

  • Menampilkan sikap yang lembut dan menyayangi anak-anak mereka.

  • Bersedia membagikan ilmu agama maupun urusan dunia yang belum mereka ketahui.

Selain panduan di atas, Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 36 juga memerintahkan umat untuk berbuat baik kepada tetangga. Larangan berbuat syirik berdampingan langsung dengan kewajiban memuliakan orang tua, anak yatim, hingga tetangga dekat dan jauh.

وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ

Artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak ya tim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnusabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.”

Baca juga: Menghafal Al-Qur’an Terasa Berat, Bagaimana Solusinya?

Kesimpulannya, hadits arbain ke-15 menyajikan standar moral yang sangat tinggi bagi setiap individu yang mengaku beriman. Menjaga tutur kata serta memberikan penghormatan kepada sesama adalah bukti nyata dari kesempurnaan tauhid seseorang. Semua panduan praktis dari para ulama terdahulu harus menjadi cermin bagi perilaku sosial kita hari ini. Oleh karena itu, mari kita praktikkan nilai-nilai luhur ini dalam kehidupan bermasyarakat setiap harinya. Semoga ulasan ini dapat memperbanyak amal kebajikan kita dan mempererat tali persaudaraan antar sesama muslim.

Hadits Arbain ke-13: Kunci Kesempurnaan Iman Seorang Muslim

Hadits Arbain ke-13: Kunci Kesempurnaan Iman Seorang Muslim

Membangun hubungan sosial yang harmonis merupakan salah satu inti ajaran dalam syariat Islam. Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan urusan ibadah ritual melainkan juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan hati sesama manusia. Salah satu panduan utama mengenai etika persaudaraan ini tertuang dalam kitab Arbain Nawawi. Oleh karena itu, memahami hadits arbain ke-13 akan membantu Anda mengevaluasi kualitas ketulusan iman dalam keseharian.

Pesan singkat di dalam riwayat ini memuat fondasi moral yang sangat mendalam bagi kehidupan bermasyarakat. Imam Nawawi menghimpun riwayat ini dari jalur sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu.

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ خَادِمِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُw لِنَفْسِهِ

“Tidaklah sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

Kalimat yang lugas ini menjadi standar utama dalam menilai ketulusan sikap seorang muslim terhadap orang lain.

Syarah dan Kandungan Hadits Arbain Ke-13

Para ulama memberikan ulasan mendalam mengenai rincian faedah hadits arbain ke-13. Berikut adalah poin-poin penting yang wajib menjadi perhatian dalam menjaga hubungan sosial dengan sesama Muslim.

1. Batasan Makna Kesempurnaan Iman

Ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam hadits adalah tidak sempurnanya iman seseorang. Kita wajib mencintai saudara kita sebagaimana mencintai diri sendiri. Di sini dikatakan wajib karena ada kalimat penafian umum di dalam sabda Nabi tersebut. Ibnu Rajab Al-Hambali berkata mengenai hadits di atas.

“Di antara tanda iman yang wajib adalah seseorang mencintai saudaranya yang beriman lebih sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Ia pun tidak ingin sesuatu ada pada saudaranya sebagaimana ia tidak suka hal itu ada padanya. Jika cinta semacam ini lepas, maka berkuranglah imannya.”

gamabr dua wanita berhijab saling berbicara contoh kandungan haditrs arbain ke-13
Berbicara yang baik kepada sesama Muslim adalah salah satu contoh mencintai saudara sesama (foto: freepik.com)

2. Kewajiban Menyingkirkan Sifat Hasad dan Iri Hati

Faktanya, kita wajib meninggalkan hasad karena orang yang hasad pada saudaranya berarti tidak mencintai saudaranya. Bahkan orang yang hasad itu selalu berangan-angan nikmat orang lain itu hilang dari permukaan bumi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah merumuskan pengertian hasad dalam kitab Majmu’ah Al-Fatawa

الْحَسَدَ هُوَ الْبُغْضُ وَالْكَرَاهَةُ لِمَا يَرَاهُ مِنْ حُسْنِ حَالِ الْمَحْسُودِ

“Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang dihasad.”

Baca juga: Hadits tentang Meninggalkan Keraguan: Hadits Arbain ke-11

3. Sikap Menasihati Saat Melihat Kesalahan Saudara

Sikap seorang muslim ketika melihat saudaranya yang melakukan kesalahan adalah menasihatinya. Ibnu Rajab Al-Hambali mempertegas peran penting ini dalam kitab Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam.

“Jika seseorang melihat pada saudaranya kekurangan dalam agama, maka ia berusaha untuk menasihatinya (membuat saudaranya jadi baik).”

4. Standar Cinta dan Benci untuk Pelaku Maksiat

Adapun jika muslim tersebut pelaku dosa besar seperti pemakan riba atau rentenir dan suka mengghibah atau menggunjing. Maka orang tersebut dicintai sekadar dengan ketaatan yang ada padanya dan dibenci karena maksiat yang ia terus lakukan. Ibnu Taimiyah rahimahullah menjabarkan keadilan hukum ini secara lebih lengkap.

“Jika ada dalam diri seseorang kebaikan dan kejelekan, dosa dan ketaatan, maksiat, sunnah and bid’ah, maka kecintaan padanya tergantung pada kebaikan yang ia miliki. Ia pantas untuk dibenci karena kejelekan yang ada padanya. Bisa jadi ada dalam diri seseorang kemuliaan dan kehinaan, bersatu di dalamnya seperti itu. Contohnya, ada pencuri yang miskin. Ia berhak dihukumi potong tangan. Di samping itu ia juga berhak mendapat harta dari Baitul Mal untuk memenuhi kebutuhannya.”

Menerapkan formula keimanan ini membutuhkan perjuangan melawan ego pribadi secara konsisten dalam kehidupan nyata.

Baca juga: Sejarah Masa Keemasan Islam yang Mengubah Peradaban Dunia

Mengamalkan isi hadits arbain ke-13 merupakan indikator nyata dari kematangan spiritual seorang mukmin. Islam menginginkan setiap pemeluknya memiliki kepekaan sosial yang tinggi dan saling mendukung dalam kebaikan. Oleh sebab itu, mari kita bersihkan hati dari segala bentuk kebencian dan keegoisan mulai hari ini. Semoga Allah senantiasa menguatkan iman kita agar mampu mencintai sesama muslim dengan tulus ikhlas.

Hadits Arbain Ke-12: Panduan Islam dalam Produktivitas

Hadits Arbain Ke-12: Panduan Islam dalam Produktivitas

Kitab Arbain An-Nawawi susunan Imam An-Nawawi memuat kumpulan hadits-hadits pendek yang menjadi fondasi pokok ajaran Islam. Salah satu pembahasan yang sangat krusial bagi pembentukan karakter dan produktivitas harian seorang muslim adalah hadits arbain ke-12. Oleh karena itu, Anda perlu mempelajari kandungan riwayat ini secara mendalam agar bisa mengelola waktu harian dengan lebih efektif.

Memahami esensi hadits ini akan membantu kita menyaring aktivitas harian yang benar-benar mendatangkan manfaat bagi dunia dan akhirat.

Pondasi adab ini bersumber dari hadits Rasulullah SAW melalui penuturan sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Berikut adalah teks dan makna dari riwayat tersebut:

“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, hadits ini berstatus hasan)

Para ulama mengategorikan hadits arbain ke-12 ini sebagai seperempat dari keseluruhan ajaran agama Islam. Faktanya, kalimat yang ringkas ini memuat kaidah penting dalam manajemen waktu dan produktivitas sebagai seorang Muslim.

gambar tulisan jadwal harian contoh penerapan hadits arbain ke-12
Membuat jadwal agenda harian adalah salah satu cara untuk memaksimalkan kegiatan (foto: freepik.com)

Faedah dan Pengamalan Kandungan Hadits dalam Kehidupan

Untuk menerapkan petunjuk Rasulullah SAW ini secara nyata, para ulama fikih membagi tolok ukur “manfaat” ke dalam beberapa aspek penting berdasarkan pembahasan dalam rumaysho.com.

  • Mengevaluasi Manfaat secara Syar’i dan Duniawi

Sesuatu dinilai bermanfaat jika perkara tersebut mendekatkan diri kepada Allah atau mendukung kelancaran urusan dunia yang halal. Jika suatu aktivitas justru mendatangkan dosa atau merugikan kesehatan, maka muslim wajib meninggikannya.

  • Menjaga Lisan dari Ucapan yang Tidak Perlu

Amalan paling berat dalam hadits ini adalah menahan lidah dari membicarakan urusan orang lain (ghibah) atau bergosip. Mengurangi ucapan yang tidak penting merupakan tanda nyata dari kesempurnaan iman seorang hamba. Sebagaimana hadits dari Al Husain bin ‘Ali bawha Rasulullah SAW.

إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ قِلَّةَ الْكَلاَمِ فِيمَا لاَ يَعْنِيهِ

Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah mengurangi berbicara dalam hal yang tidak bermanfaat.”(HR. Ahmad, 1: 201. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan adanya syawahid –penguat-).

  • Menyaring Aktivitas di Media Sosial

Di era digital, penerapan hadits ini sangat relevan dengan cara kita menggunakan gawai harian. Menghindari perdebatan kusir di kolom komentar dan berhenti menonton konten yang tidak mendidik adalah bentuk pengamalan langsung dari ayat ini.

Baca juga: Hikmah Kekalahan di Perang Uhud yang Mengajarkan Adab Bicara

  • Fokus pada Pengembangan Potensi Diri

Seorang muslim yang cerdas akan menyibukkan dirinya dengan target-target pribadi yang positif. Mereka tidak akan membuang waktu luang untuk mencampuri urusan domestik atau privasi orang lain.

Meskipun demikian, meninggalkan hal yang tidak bermanfaat bukan berarti Anda tidak boleh beristirahat atau melakukan rekreasi. Selanjutnya, Islam tetap mengizinkan hiburan yang proporsional asalkan tidak melanggar batas syariat dan tidak melalaikan kewajiban salat lima waktu.

Relevansi Hadits dalam Membangun Mentalitas Produktif

Mengkaji hadits arbain ke-12 memberikan kita kesimpulan harian bahwa Islam sangat menghargai efisiensi waktu dan energi manusia. Dengan memangkas segala aktivitas yang sia-sia, seorang muslim dapat mengalihkan fokusnya untuk beribadah dan berkarya secara maksimal. Ketaatan terhadap sunnah Nabi ini secara konsisten akan melahirkan ketenangan batin serta menjauhkan diri dari konflik sosial yang tidak perlu. Mari kita jadikan hadits mulia ini sebagai filter utama dalam memilih kegiatan dan pergaulan harian kita.