Hebatnya gunung dalam Al-Qur’an menjadi salah satu tanda kekuasaan Allah yang mengajak manusia untuk berpikir. Dalam Surat Al-Ghasyiyah ayat 19, Allah mengingatkan manusia agar memperhatikan gunung dan bagaimana Dia menegakkannya.
Allah berfirman:
وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ
“Dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan?” (QS. Al-Ghasyiyah: 19).
Ayat tersebut mengajak manusia melihat gunung bukan sekadar sebagai bentang alam. Allah meminta manusia memperhatikan penciptaan dan keberadaan gunung. Karena itu, semakin seseorang mengenal gunung, semakin banyak pula tanda kebesaran Allah yang dapat ia renungkan.
Gunung Berdiri Kokoh di Bumi
Al-Qur’an menggambarkan gunung sebagai bagian penting dari bumi. Dalam Surat An-Naba’ ayat 6–7, Allah berfirman:
أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak?”
Ayat tersebut menggunakan perumpamaan pasak untuk menggambarkan gunung. Pasak menancap pada suatu permukaan dan memiliki bagian yang masuk ke dalamnya. Al-Qur’an mengajak manusia memperhatikan keberadaan gunung sebagai bagian dari tanda kekuasaan Allah dalam penciptaan bumi.
Karena itu, gunung bukan sekadar objek yang menjulang tinggi. Keberadaannya mengingatkan manusia bahwa Allah menciptakan alam dengan aturan dan ketetapan-Nya.

Gunung Menjadi Tanda Kekuasaan Allah
Surat Al-Ghasyiyah ayat 19 berada di antara ayat yang mengajak manusia memperhatikan berbagai ciptaan Allah. Ayat 17 menyebut unta, ayat 18 menyebut langit, ayat 19 menyebut gunung, lalu ayat 20 menyebut bumi.
Rangkaian tersebut menarik karena Allah mengarahkan perhatian manusia dari makhluk yang dekat dengan kehidupan sehari-hari menuju bentang alam yang luas. Manusia dapat melihat gunung dari kejauhan, tetapi ia mungkin tidak selalu memikirkan bagaimana Allah menciptakannya.
Melalui ayat tersebut, Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk mengamati alam dengan kesadaran iman. Pengamatan tidak berhenti pada apa yang terlihat, tetapi membawa hati untuk mengenal kebesaran Allah.
Baca juga: Keistimewaan Unta dalam Al-Ghasyiyah Sebagai Hewan Gurun
Gunung Memiliki Ukuran yang Mengagumkan
Gunung memiliki ukuran yang sangat besar jika dibandingkan dengan manusia. Ketinggiannya dapat mencapai ribuan meter dari permukaan laut. Karena ukurannya, manusia tampak kecil ketika berdiri di hadapan bentang alam tersebut.
Namun, ukuran yang besar bukan satu-satunya hal yang membuat gunung menarik untuk direnungkan. Struktur gunung terbentuk melalui proses geologi yang berlangsung dalam waktu sangat panjang. Pergerakan lempeng bumi, aktivitas vulkanik, erosi, dan berbagai proses alam turut membentuk bentang pegunungan.
Semua proses tersebut menunjukkan kompleksitas bumi. Bagi seorang Muslim, kompleksitas tersebut dapat menjadi sarana untuk merenungkan keteraturan ciptaan Allah.
Gunung Menyimpan Sumber Kehidupan
Gunung juga memiliki peran penting bagi kehidupan manusia. Kawasan pegunungan menjadi daerah tangkapan air yang membantu menjaga ketersediaan sumber air. Air hujan dapat mengalir melalui tanah dan bebatuan sebelum muncul sebagai mata air atau mengisi aliran sungai.
Selain itu, kawasan gunung menjadi habitat bagi berbagai jenis tumbuhan dan hewan. Hutan pegunungan menyediakan tempat hidup bagi banyak organisme dan membantu menjaga keseimbangan ekosistem. Bahkan hasil letusan gunung berapi dapat memberikan manfaat bagi manusia, salah satunya yaitu abu vulkanik yang dapat menyuburkan tanah.
Dengan demikian, keberadaan gunung memberikan manfaat yang jauh lebih luas daripada sekadar pemandangan. Gunung ikut mendukung kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan.
Gunung Mengajarkan Manusia tentang Kebesaran Allah
Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia memperhatikan alam. Gunung menjadi salah satu objek yang menarik perhatian karena bentuknya yang kokoh dan ukurannya yang besar.
Dalam Surat Fathir ayat 27, Allah juga menyebut berbagai warna gunung:
وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ
“Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada pula yang hitam pekat.”
Ayat ini menunjukkan keragaman yang dapat manusia temukan pada gunung. Warna dan bentuknya tidak selalu sama. Perbedaan tersebut menjadi bagian dari tanda kebesaran Allah dalam menciptakan alam.
Gunung Juga Akan Mengalami Perubahan
Meskipun terlihat kokoh, gunung bukan sesuatu yang kekal. Al-Qur’an menggambarkan bahwa gunung akan mengalami perubahan besar pada hari kiamat.
Allah berfirman:
وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ
“Dan apabila gunung-gunung dijalankan.” (QS. At-Takwir: 3).
Al-Qur’an juga menggambarkan gunung pada hari kiamat dalam keadaan yang berbeda dari kondisinya di dunia. Gambaran tersebut mengingatkan manusia bahwa dunia memiliki batas waktu. Karena itu, kekokohan gunung seharusnya tidak membuat manusia merasa kehidupan dunia akan berlangsung selamanya. Sebaliknya, manusia perlu mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat.
Baca juga: Tafsir Al Ghasyiyah 18-20: Merenungi Kekuasaan Allah melalui Ciptaan-Nya
Belajar Merenungi Alam dari Surat Al-Ghasyiyah
Hebatnya gunung dalam Al-Qur’an tidak hanya terletak pada ukuran dan kekokohannya. Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk melihat gunung sebagai tanda yang mengarahkan hati kepada Sang Pencipta.
Surat Al-Ghasyiyah ayat 19 mengajak manusia bertanya tentang bagaimana Allah menegakkan gunung. Pertanyaan tersebut mendorong manusia menggunakan akalnya untuk mengamati alam dan menyadari keterbatasan dirinya.
Karena itu, ketika melihat gunung, seorang Muslim dapat menjadikannya sebagai kesempatan untuk bertafakur. Keindahan, ukuran, struktur, dan manfaatnya bagi kehidupan mengingatkan manusia bahwa Allah menciptakan alam dengan penuh hikmah.
Pada akhirnya, hebatnya gunung dalam Al-Qur’an bukan hanya tentang betapa besar dan kokohnya gunung. Pembahasan tersebut membawa manusia kepada pelajaran yang lebih penting, yaitu mengenali kebesaran Allah, mensyukuri ciptaan-Nya, dan menggunakan kehidupan untuk mempersiapkan bekal akhirat.




