Perjalanan dakwah Islam pada masa awal mengalami proses bertahap yang penuh perjuangan. Setelah tiga tahun Rasulullah SAW menyampaikan risalah secara sembunyi-sembunyi, Allah SWT menurunkan wahyu yang menjadi titik balik perjuangan Islam. Wahyu tersebut memuat perintah dakwah terang-terangan untuk menyiarkan agama Allah secara terbuka kepada seluruh masyarakat Makkah.
Perubahan strategi dakwah ini menjadi momen krusial yang menguji keteguhan iman para sahabat sekaligus membentuk benteng syiar Islam yang lebih luas.
Baca juga: Cara Menentukan Target Hafalan Al-Qur’an yang Realistis dan Konsisten
Tafsir QS Al-Hijr Ayat 94
Landasan utama dari perintah dakwah terang-terangan ini tertuang secara jelas dalam Al-Qur’an surah Al-Hijr ayat 94:
فَٱصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْمُشْرِكِينَ
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. Al-Hijr: 94).
Melansir penjelasan Tafsir Tahlili, ayat ini merupakan instruksi tegas dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW agar beliau menyiarkan agama Islam secara terbuka. Beliau tidak lagi menyampaikan dakwah secara bersembunyi-sembunyi. Sebaliknya, Rasulullah SAW mendapatkan perintah untuk menyampaikannya kepada orang-orang musyrik tanpa perlu mempedulikan omongan atau ancaman mereka. Beliau juga tidak boleh merasa takut terhadap siapa pun yang mencoba menghalangi syiar agama Allah. Pasalnya, Allah SWT telah menjamin perlindungan bagi beliau dari segala bentuk gangguan mereka.
Lebih lanjut, sebagian ahli tafsir menjelaskan makna dari frasa “berpalinglah dari orang-orang musyrik”. Maksud dari kalimat tersebut adalah perintah agar Rasulullah SAW tidak menghiraukan segala tindak-tanduk kaum musyrikin yang senantiasa mendustakan, memperolok-olok, dan menentang ajaran Islam. Perlakuan buruk mereka tidak boleh menjadi penghambat dalam menyebarkan syariat Allah, karena Allah SWT sendiri yang memelihara dan menjaga beliau dari bahaya musuh.

Hikmah di Balik Perintah Dakwah Terang-Terangan
Turunnya perintah ini tentu menyimpan berbagai hikmah mendalam bagi perkembangan Islam dan strategi dakwah umat muslim hingga hari ini. Beberapa hikmah utama yang dapat kita petik antara lain:
-
Menunjukkan Kebenaran dan Keberanian Akidah: Dakwah secara terbuka membuktikan bahwa Islam adalah ajaran yang benar dan tidak memiliki hal yang perlu disembunyikan. Hal ini melatih mental keimanan para sahabat agar berani menunjukkan identitas keislaman mereka di tengah tekanan publik.
-
Memperluas Jangkauan Syiar Islam: Saat dakwah dilakukan secara terbuka, pesan-pesan Al-Qur’an dapat terdengar oleh berbagai lapisan masyarakat. Strategi ini membuka jalan bagi suku-suku di luar Makkah untuk mengenali dan memeluk agama Islam.
-
Menguji Keteguhan dan Keikhlasan Iman: Perubahan metode dakwah ini memicu reaksi keras dari para pembesar Quraisy. Situasi ini menjadi medan ujian nyata untuk menyaring siapa saja pengikut yang memiliki loyalitas dan keimanan yang sejati.
-
Penguatan Tawakal Kepada Janji Allah: Kepasrahan total Rasulullah SAW dalam menjalankan perintah ini memberikan pelajaran bahwa keselamatan dan keberhasilan perjuangan sepenuhnya berada di bawah perlindungan Allah SWT.
Baca juga: Tahajud Tetapi Tidak Shalat Subuh, Bagaimana Hukumnya?
Memahami perintah dakwah terang-terangan melalui QS Al-Hijr ayat 94 memberikan gambaran tentang keteguhan prinsip dalam menyampaikan kebenaran. Dengan memegang teguh perintah Allah, kebenaran Islam pada akhirnya mampu menyebar luas dan memberikan cahaya bagi seluruh alam.




