Kisah Sedekah Utsman bin Affan Ketika Masa Paceklik

Kisah Sedekah Utsman bin Affan Ketika Masa Paceklik

Kisah sedekah Utsman bin Affan menjadi salah satu teladan kedermawanan yang patut dipelajari umat Islam. Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu merupakan salah satu Khulafaur Rasyidin yang memimpin umat Islam setelah Rasulullah SAW. Ia dikenal sebagai sahabat yang kaya sekaligus sangat dermawan.

Utsman tidak menjadikan kekayaannya untuk kepentingan pribadi. Ia justru menggunakan hartanya untuk membantu umat. Selain terkenal karena wakaf Sumur Raumah, Utsman memiliki banyak kisah sedekah yang menunjukkan kepeduliannya terhadap masyarakat yang membutuhkan.

Utsman bin Affan dan Kedekatannya dengan Abu Bakar

Utsman memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Abu Bakar menjadi salah satu orang yang mengajak Utsman mengenal Islam hingga akhirnya Utsman memeluk Islam. Ketika Abu Bakar terpilih sebagai khalifah, Utsman menjadi salah satu sahabat yang memberikan kesetiaan kepadanya. Selama Perang Ridda, Utsman tetap berada di Madinah dan membantu Abu Bakar sebagai penasihat. Bahkan, ketika Abu Bakar berada di ranjang kematian, ia menyampaikan keinginannya kepada Utsman dan mendiktekan bahwa Umar bin Khattab akan menjadi penggantinya. Keterangan tersebut bersumber dari Muhammad Raji Hassan Kinas dalam Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi dari laman Wikipedia.

Salah satu kisah sedekah Utsman bin Affan terjadi ketika kaum muslimin menghadapi paceklik dan kekeringan pada masa pemerintahan Abu Bakar. Penduduk Madinah kemudian mendengar kabar bahwa sebuah kafilah dagang dari Syam telah tiba. Kafilah tersebut membawa sekitar seribu ekor unta yang mengangkut gandum dan berbagai bahan makanan. Ternyata, Utsman bin Affan memiliki kafilah tersebut.

Para pedagang Madinah segera mendatangi Utsman untuk membeli bahan makanan. Mereka menawarkan harga tinggi karena masyarakat sedang membutuhkan bahan pangan. Utsman berkata “Tawarlah dengan harga yang lebih tinggi!” Para pedagang kemudian menaikkan tawaran menjadi dua kali lipat. Namun, Utsman kembali berkata “Tidak mau, Beri aku harga yang lebih tinggi lagi!” Mereka menaikkan tawaran menjadi tiga kali lipat. Utsman tetap tidak mau menerimanya “Tidak mau! Beri aku harga yang lebih dari itu.”

Baca juga: Hukum Qiyamul Lail Berjamaah, Bolehkah dalam Islam?

Para pedagang kemudian bermusyawarah dan menawarkan harga lima kali lipat. Utsman tetap menolaknya. “Tidak! Beri aku harga yang lebih dari itu.” Para pedagang Madinah akhirnya berkata “Kami para pedagang Madinah, tak seorang pun yang mampu membayarmu dengan harga lebih dari yang telah kami tawarkan.”

Utsman kemudian menjelaskan alasan dirinya terus menolak tawaran tersebut. “Ketahuilah, Allah telah memberiku untuk setiap dirham sepuluh kali lipat keuntungan. Adakah di antara kalian yang sanggup memberi lebih?” Para pedagang menjawab bahwa mereka tidak sanggup memberikan harga yang lebih tinggi. Utsman kemudian berkata “Kalau begitu, harta ini semuanya kusedekahkan karena Allah.”

Setelah itu, Utsman membagikan bahan makanan tersebut kepada masyarakat yang membutuhkan. Pada saat itu, masyarakat miskin di Madinah mendapatkan bagian sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pelajaran dari Kisah Sedekah Utsman bin Affan

Ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah sedekah Utsman bin Affan.

  1. Kekayaan dapat menjadi sarana kebaikan. Utsman memiliki harta yang banyak, tetapi ia tidak membiarkan kekayaannya hanya memberikan manfaat bagi dirinya sendiri.
  2. Utsman memiliki keyakinan kuat terhadap balasan Allah. Ketika para pedagang menawarkan keuntungan besar, ia memilih sedekah karena percaya bahwa Allah akan memberikan balasan yang lebih baik.
  3. Utsman peka terhadap kebutuhan masyarakat. Ia tidak menunggu orang-orang meminta bantuan. Ketika paceklik membuat masyarakat kesulitan mendapatkan bahan makanan, ia segera memberikan hartanya.
  4. Sedekah dapat membantu menyelesaikan persoalan sosial. Utsman tidak sekadar memberikan harta. Ia menyediakan bahan makanan yang masyarakat butuhkan pada saat kondisi sulit.

Kedermawanan Utsman tidak hanya terlihat dalam satu peristiwa. Ia juga terkenal karena membeli dan mewakafkan Sumur Raumah untuk kepentingan masyarakat Madinah. Ketika masyarakat kesulitan mendapatkan air, Utsman menggunakan hartanya untuk membeli sumur tersebut. Setelah memilikinya, ia memberikan akses air kepada masyarakat secara cuma-cuma dan kemudian mewakafkannya.

gambar Sumur Raumah peninggalan wakaf sumur Utsman bin Affan
Sumur Raumah di Madinah (foto: alarabiya,net dalam republika.co.id)

Kisah tersebut menunjukkan bahwa Utsman memahami berbagai bentuk kebaikan. Ia membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pangan melalui sedekah dan memenuhi kebutuhan air melalui wakaf.

Meneladani Kedermawanan Utsman bin Affan

Kisah sedekah Utsman bin Affan mengajarkan bahwa kekayaan akan semakin berarti ketika seseorang menggunakannya untuk membantu orang lain. Utsman tidak menunggu sampai memiliki sedikit harta untuk berbagi. Ia justru menggunakan kekayaan yang Allah berikan untuk memberikan manfaat kepada umat.

Kita mungkin tidak memiliki harta sebanyak Utsman bin Affan. Namun, kita tetap dapat meneladaninya dengan berbagi sesuai kemampuan. Kita dapat bersedekah dengan uang, makanan, ilmu, tenaga, maupun waktu. Yang terpenting bukan besar kecilnya pemberian, melainkan keikhlasan dan manfaat yang kita berikan. Semoga kisah kedermawanan Utsman bin Affan mendorong kita untuk lebih peduli kepada sesama dan tidak ragu berbagi ketika memiliki kesempatan.

Mari meneladani Utsman bin Affan dengan menjadikan harta dan apa pun yang kita miliki sebagai jalan untuk menghadirkan manfaat bagi orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *